Ramadhan, haruskah aku berpura-pura merindukan kedatangamu? Kedatanganmu yang disambut dengan gegap gempita seluruh umat āMuslimā di permukaan bumi. Entahlah, nafsu masih memenuhi relung hatiku, aku masih belum bisa menyambutmu dengan ketulusan. Sebuah ketulusan yang bukan hanya sekedar sebuah āRutinitasā belaka. Aku terdiam, saat āMarhaban yaa Ramadhanā di senandungkan dengan merdu dari masjid-masjid yang ada di desaku, āApakah aku benar-benar mengharapkan kedatanganmu?ā Kusimpan kembali pertanyaan itu, kemudian melangkahkan kaki ini menuju masjid yang hanya berjarak 3oo meter dari rumahku. Dan masjid itu, hanya sempat aku datangi saat āRamadhanā tiba. Setelah Ramadhan berlalu pergi meninggalkan umat āMuslimā, aku pun berlalu dari kebiasaan baik saat āRamadhanā datang menghampiri. Masjid itu pun kembali sepi dari āJamaahā. Ah.. Tuhan, sepertinya aku masih belum bisa memaknai āRamadhanā yang di dalamnya Engkau sediakan pahala yang berlipat ganda, di dalamnya Engkau sediaka...