New Post!

Dear Faris

Dear Faris
Buku Terbaru

New Catatan Hati Sang Guru

New Catatan Hati Sang Guru
New CHSG

Selfie Story

Buku Pertama

Buku Kedua

Buku Ketiga

Buku Keempat

Blog Archive

Kategori

Powered by Blogger.

Followers

Warung Blogger

Warung Blogger
Yuk Ngopi Bareng

Total Pageviews

Malaikat Kecil Itu Bernama Faris


saya dan Faris Ersan Arizona

Kenal dengan anak kecil yang ada di foto di atas? Dia adalah Faris, saya yakin, bagi pembaca setia blog saya sudah tidak asing lagi dengan sosok Faris, ada banyak kisahnya yang saya tulis di blog ini. Foto ini adalah satu-satunya foto selfie bareng dia, namun memiliki kesan yang begitu dalam bagi saya. Foto ini diambil sehari sebelum Faris menjalani operasi yang keempat kalinya. Saya tidak bisa menemaninya seperti saat operasi pertama dan kedua. Maaf, ya, fotonya rada burem, maklum, saya belum bisa membeli windows phone ascend W1 dari Smartfren untuk bisa menghasilkan foto selfie yang lebih keren dari ini.
Faris adalah satu dari sekian anak yang memiliki hubungan yang begitu erat dengan saya, dimulai dari perkenalan kami ketika saya menjadi wali kelasnya, sampai musibah itu terjadi, saat dimana Faris mengalami kecelakaan, kehilangan sosok Ayah dari hidupnya dan harus mengalami operasi yang berulang kali.
Kebersamaan yang tidak pernah kami rencanakan ternyata membuat kami semakin dekat satu sama lain, dia sudah saya anggap sebagai adik sendiri. Saya menemaninya sejak pertama kali di Rumah Sakit, hingga dia kembali bisa masuk ke sekolah setelah sekian lama di rumah sakit. Saya memberinya buku “Dear Faris –Catatan Inspirasi si Pahlawan Kecil-” sebagai kenang-kenangan dari saya untuknya. Buku itu berisi kenangan sejak pertama kali saya mengenalnya lengkap dengan hari-hari saya menemaninya berjuang untuk kembali bisa berjalan meski harus tertatih. Ada banyak air mata yang tumpah saat saya menulis tentangnya, namun ada banyak juga bahagia di dalamnya.
Saat kembali bersekolah, Faris kembali harus menyesuaikan diri. Meski di sekolah saya harus mengurus segala keperluannya, namun saya bahagia, mulai dari mengatur tempat duduknya agar dia bisa duduk dengan nyaman karena belum sembuh total pasca operasi, mengalirkan air wudhu ke anggota badannya, atau bahkan harus menemaninya ke toilet untuk buang air kecil maupun besar, semua pernah saya lakukan.
Di sela-sela liburan saya, saya akhirnya bisa bertemu kembali dengan Faris, setelah berpisah beberapa waktu karena saya harus melanjutkan study di Kota Malang. Saya masih ingat dengan baik bulan Desember lalu, Faris selalu menghubungi saya saat dia baru saja menjalani operasi yang ketiga kalinya. Bagi saya dia adalah malaikat kecil yang dikirim Tuhan dalam kehidupan saya, agar saya banyak belajar darinya, tentang betapa pentingnya tetap menjaga harapan itu agar tetap ada. Harapan untuk sembuh itu tetap Faris jaga, dan saya hanya bisa membantu dengan doa-doa di tengah malam nan sunyi.
Ruang operasi rasanya bukanlah hal yang aneh bagi malaikat kecilku ini, operasi pertama dilakukan dua hari setelah ia mengalami kecelakaan, operasi kedua dilakukan dua bulan kemudian, saat ia sudah semakin kuat dan tiba-tiba terjatuh dari tempat tidur dan harus menjalani operasi yang kedua kalinya. Apa Faris sedih? Tentu saja sedih, namun binar-binar harapan itu tetap ada di wajahnya yang mungil. Dia tetap kuat.
Setahun setelah menjalani operasi yang kedua, tepatnya Desember tahun lalu, dia kembali harus masuk ke dalam ruang operasi di Bandung, karena terjadi pengeroposan tulang. Dia kembali harus mengulang pengalaman untuk yang ketiga kalinya, bertemu dengan sekian banyak alat operasi yang tidak bisa saya bayangkan. Saya masih ingat, sehari setelah operasi yang ketiga kalinya, Faris menelpon saya, kemudian bercerita tentang banyak hal. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan berbincang satu sama  lain.
Foto di atas saya ambil saat saya berada di Purwokerto bulan Februari lalu, menjelang operasinya yang keempat kalinya. Saya menemuinya, dan dia menyambut kedatangan saya dengan sangat antusias, saya memeluknya erat, kemudian duduk di sampingnya. Saya melihat ada semacam kekhawatiran di wajahnya, saya berusaha meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Ruang operasi seolah menjadi bagian yang tidak bisa ia lupakan. Dulu, Faris sempat mengalami trauma dengan yang namanya rumah sakit karena harus mengalami proses pemulihan yang tidak sebentar. Saya tersenyum, kemudian memberi dia motivasi untuk tetap bertahan menjalani proses panjang demi sebuah kesembuhan.
“Faris pernah berada di ruang operasi sebelumnya dan Faris berhasil bertahan. Kali ini Faris pasti bisa lebih kuat,” ucap saya di hadapannya, sambil berusaha menenangkannya, memeluknya dan berlalu dari hadapannya.
Setelah operasi yang keempat kalinya, kami kembali bertemu, sehari menjelang saya kembali ke Malang untuk memulai perkuliahan kembali. Faris sudah berada di rumah, dia memang sudah bisa berjalan meski masih memakai alat bantu. Kakinya kini tidak lagi sama seperti dahulu, kaki sebelah kanan menjadi lebih pendek dibandingkan dengan kaki yang sebelah kiri. Jika sedang memakai sepatu, kadang dia harus mengganjal sepatunya biar dia bisa berjalan normal seperti orang lain.
Faris adalah satu sosok yang begitu kuat bagi saya, dia memiliki harapan yang sedemikian besar yang membuatnya tetap kuat, meski tentu saja itu semua tidak lepas dari motivasi dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Saya tahu, ini semua sangat berat baginya, namun bukankah Tuhan sudah berjanji bahwa Ia tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya? Begitulah yang saya lihat dari Faris, meski mengalami cobaan yang bertubi-tubi, namun cahaya yang terpancar dari wajahnya tetap positif. Dia tetap bisa tersenyum meski sekian banyak luka yang menggores tubuhnya, dia tetap ceria meski fisiknya berbeda dengan yang dulu, dia tetap sabar meski harus kehilangan sosok Ayah dari kehidupannya.
Foto di atas sangat berarti bagi saya, menjadi bagian dari sejarah hidup saya. Orang-orang yang hadir dalam kehidupan saya bukanlah secara kebetulan, Tuhan pasti memiliki tujuan tersendiri ketika menghadirkan orang lain dalam kehidupan saya. Pun demikian dengan Faris, saya percaya Tuhan ingin memberi saya kesempatan untuk belajar sebanyak-banyaknya, tentang bagaimana seharusnya menghadapi sebuah cobaan hidup. Faris harus kehilangan Ayah, kehilangan kemampuan berjalan secara normal, harus berulang kali menjalani operasi di usia yang belum genap 15 tahun, namun ia tetap bersinar meski ada banyak tangis yang menemani perjuangannya. Air mata itu berubah menjadi senyuman, karena Faris menjalaninya dengan cahaya, cahaya itu bernama keyakinan dan keyakinan itu membuahkan harapan bahwa semua akan baik-baik saja ketika ia mampu menjalani semua dengan penuh kesabaran. Bukankah demikian yang seharusnya kita lakukan? Bukan malah berprasangka tidak baik pada Tuhan. Percaya pada kuasa-Nya, jaga harapan itu agar tetap ada. Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua.

How much do you earn?

Launching buku Catatan Hati Sang Guru
28 Februari 2015
Akhir-akhir ini pertanyaan ini sering diajukan pada saya, dan berhubung saya tidak punya pekerjaan tetap, tentu saja saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Bagi saya, pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan yang seharusnya tidak perlu menjadi pertanyaan penting yang harus diajukan dalam perbincangan keseharian. Untuk mereka yang memang sudah menjadi teman dekat mungkin saja saya tidak keberatan menjawab terus terang tentang ini, namun bagi mereka yang hanya sekadar kenal biasa saja, kemudian menyinggung pertanyaan how much do you earn? Saya kadang lebih suka tersenyum dan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban sesederhana mungkin.
Hidup saya saat ini hanya mengandalkan uang tabungan yang berhasil saya simpan selama kurang lebih tiga tahun bekerja menjadi guru dan royalti buku-buku yang saya terbitkan secara indie. Tentu saja yang paling besar mengisi tabungan saya adalah uang dari hasil penjualan buku-buku yang saya terbitkan dan saya rasa itu cukup untuk biaya hidup saya saat ini. Dan tentu saja kalian tahu, hidup hanya mengandalkan tabungan dan tanpa melakukan apa-apa agar bisa menjaga tabungan itu tetap terisi bukanlah pilihan tepat. Lama-kelamaan tentu saja akan habis. Kadang, melihat saya melancong kemana-mana, teman-teman rekan guru tempat saya bekerja dulu sering berkomentar, “Uang ente nggak habis-habis, ya,” dan saya hanya tersenyum. Karena nyatanya saya melancong dengan biaya murah, terbantu dengan share cost bersama teman perjalanan, menginap di rumah teman yang kadang sekalian nyediain transportasi dan lain-lain.
Memang banyak perbedaan antara saya yang dulu dengan saya sekarang, jika dulu setiap bulan sudah ada penghasilan tetap, sekarang menjadi tidak tetap, namun ada keyakinan yang luar biasa besar pada diri saya saat ini, bahwa dalam hal kebaikan, dalam hal menuntut ilmu, saya yakin bahwa Tuhan tidak akan menelantarkan saya begitu saja, karena tujuan saya mulia. Yang penting adalah saya mau bekerja keras membiayai kuliah saya saat ini. Dan sampai hari ini, saya masih meyakini itu. Kata Ibu, “Banyak orang yang takut melangkah karena tidak yakin dengan janji Allah, bahwa Ia akan memberi kita rizki dari arah yang tidak kita sangka-sangka,” dan saya tahu itu, bahkan itu tertulis di dalam Al Qur’an. Sekarang pertanyaannya adalah apakah kamu mau meyakini itu juga?
Sekarang, kerjaan saya memang tidak ada yang tetap, kadang saya menjadi penerjemah sekelompok orang-orang asing yang ingin berkeliling Malang, kadang saya menjadi pengajar mahasiswa asing, kadang saya mengajar bahasa Indonesia untuk mahasiswa asing, kadang saya membantu teman-teman yang sedang mengerjakan tugas akhir karena saya suka bergelut dengan literatur dan rela berlama-lama di ruang research, kadang saya ngerjain tugas teman-teman yang super sibuk, dan sejauh ini saya merasa cukup dengan rizki yang Tuhan berikan, saya masih bisa jalan-jalan di tengah-tengah waktu study saya, saya masih bisa sesekali makan bareng teman di tempat yang menurut kantong mahasiswa seperti saya ini termasuk mahal, saya masih bisa mengirimi adik saya uang, masih bisa sesekali mengirimi Ibu uang meski tidak serutin dulu ketika saya masih bekerja tetap. Saya merasa cukup dengan rizki yang Tuhan berikan, saya bersyukur dengan semua itu.
Orangtua saya memang sama sekali tidak pernah mengirimi saya uang sejak saya lulus kuliah S1 sampai hari ini. Saya tidak pernah meminta uang kepada mereka, itu sudah menjadi prinsip saya. Justru saya akan sangat merasa sedih sekali, jika Ayah, Ibu, dan adik-adik saya butuh uang dan saya tidak bisa mengirimi mereka. Dalam hal ini kadang saya merasa sangat sedih. Saya rela berlari-lari di tengah hujan menuju Bank terdekat untuk transfer jika ternyata mobile banking saya tidak bekerja dengan baik, saya rela kabur dari kelas ketika Ayah dan Ibu meminta saya mengirimi uang. Saya selalu berusaha sebisa mungkin mengirimi mereka, karena hanya itulah yang bisa saya lakukan sekarang ini. Meski tidak seberapa, tapi saya merasa bahagia, bisa membantu sedikit keuangan keluarga.
Jadi, jangan pernah malu jika penghasilanmu perbulan lebih rendah ketimbang teman-temanmu, jangan nggak percaya diri, selagi kamu melakukan sesuatu yang halal, Insha Allah berkah. Yang terpenting adalah kita percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita begitu saja, selalu ada jalan yang Tuhan berikan kepada kita dalam menyelesaikan permasalahan kita. Ingat, rizki bukan hanya sekadar uang saja, kesehatan, keluarga, orang-orang terdekat di sekeliling kita adalah bagian dari rizki itu sendiri. Syukuri dan berusahalah sebaik mungkin. Jika ingin hasil yang lebih, tentu saja usahanya harus lebih, bukan? Rizki kita tentu saja berbanding lurus dengan seberapa serius kita meraih rizki yang Tuhan tebar di muka bumi ini. Jadi jangan pernah meragukan kuasa Tuhan.
Saat ini, percaya diri saya mulai meningkat, saya tidak malu berjualan, saya tidak malu melakukan sesuatu yang memang baik meski orang lain beranggapan bahwa seharusnya mahasiswa S2 tidak melakukannya, karena dianggap tidak sesuai dengan gelar sarjana yang sudah saya pegang, hey, sejak kapan gelar kesarjanaan memberi batasan pekerjaan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak? Sesempit itukah pola pikirmu? Come on, guys, grow up! Selagi itu baik, kenapa harus malu? Toh kita tidak melakukan hal yang melanggar perintah Tuhan. Kadang banyak orang yang gengsi melakukan sesuatu karena merasa tidak cocok dengan gelar yang sudah ia sandang, malu, takut ketahuan teman-temannya, dan masih banyak lagi alasan yang lain.
Sini, saya kasih tahu, Allah itu tidak pernah tidur, Ia selalu mengawasi semua yang terbetik di hati kita, dan sebenarnya kamu sudah tahu tentang itu, kan? Jadi, lakukan semuanya sebaik mungkin, Insha Allah rizki akan datang. Tolong agama Allah, dan Allah pun akan menolong kita. Jangan ragu.

Berhenti Menghakimi


Sadar atau tidak, kadang kita sangat mudah menghakimi orang lain, seolah-olah mereka bukanlah orang yang pantas kita jadikan sahabat, kawan, atau hanya sekadar menebar senyum. Iya, kadang kita menjadi seseorang yang angkuh, yang kemudian menjadi seseorang yang tak ubahnya bak hakim yang berhak menghakimi seseorang karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam benak kita.
Sering kali, kita menganggap remeh orang yang melakukan hal yang menurut sudut pandang kita adalah sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, tanpa terlebih dahulu berusaha untuk memahami kondisi seseorang yang sudah kita hakimi tersebut. Sering kali kita merasa bahwa kita adalah orang yang lebih baik dari orang lain, hanya karena mereka tidak memiliki pemahaman yang sama dengan kita. Iya, kadang kita seolah menjadi tukang komentar ulung, yang seolah semua bisa diselesaikan dengan hanya menebar komentar sinis kepada orang-orang yang menurut kita telah gagal menunaikan amanah yang telah diembankan kepada mereka. Iya, kadang kita menjadi sosok yang SOK HEBAT meski hanya sekadar mampu memberi komentar negatif pada orang lain dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Akhir-akhir ini saya jengah, jengah dengan timeline facebook saya yang isinya orang-orang yang seenak udelnya memberi komentar terhadap petinggi bangsa ini, yang mereka anggap telah GAGAL mengemban tugas, menunaikan amanah yang seharusnya dilaksanakan, mewujudkan apa-apa yang pernah mereka janjikan di kala mereka masih berjuang untuk mendapatkan posisi yang sekarang mereka duduki. Sekian banyak caci maki, sekian banyak sumpah serapah, meski ada juga yang berusaha lebih bijak dalam merespon kondisi yang ada, berusaha lebih berempati.
Pernah kalian menyadari, bahwa merubah Jakarta yang sudah turun temurun bersahabat dengan banjir bukanlah pekerjaan sehari dua hari, atau bahkan setahun dua tahun, butuh waktu yang lebih lama dari sekadar jabatan lima tahun menjadi pemimpin Jakarta untuk merubah kondisi Jakarta yang selalu dirundung banjir. Ini adalah masalah turun temurun, bukan permasalahan kemarin sore. Butuh keseriusan bagi semua pihak, terutama masyarakat dalam mewujudkan Jakarta yang nyaman. Kemudian sekarang seenak jidatmu kamu memberi komentar bahwa mereka yang menduduki posisi tinggi di pemerintahan Jakarta adalah mereka yang GAGAL dalam memperbaiki Jakarta agar terbebas dari yang namanya banjir. Dan saya percaya, ketika kamu yang memimpin JAKARTA, kamu pun akan menyadari bahwa merubah kebiasaan buruk warga yang suka seenak hati membuang sampah sembarangan, mendirikan bangunan di tempat yang seharusnya menjadi serapan air tidaklah mudah. Semua itu BUKAN KESALAHAN TOTAL para petinggi pemerintahan Jakarta. Pun demikian dengan Jakarta yang macet, kamu kira bisa dilesesaikan hanya dengan begitu saja? Tidak, kawan.
Selanjutnya, ketika Jokowi menjadi pemimpin Negara, kemudian kamu berbondong-bondong mencaci maki, menjelek-jelekkan seenak udelmu tentang model kepemimpinan yang dia lakukan, mencaci maki keputusan-keputusan yang ia buat dalam memimpin bangsa dan Negara ini. Seolah Jokowi tidak pernah melakukan sesuatu yang benar dan baik dalam memimpin Bangsa dan Negara ini, seolah semuanya SALAH dan tidak ada benarnya di matamu. Sehina itukah Jokowi di matamu, kawan?
Bukan berarti kita tidak boleh memberikan komentar atas kepemimpinan mereka, silahkan kritisi, silahkan beri masukan, namun tetap memperhatikan tata krama yang baik. Perhatikan bagaimana cara mengungkapkan sebuah kritik dan saran layaknya seseorang yang memiliki tujuan yang baik, bukan malah bermaksud menjatuhkan. Kebanyakan komentar malah bermaksud menjatuhkan, bukan untuk membangun, dan berusaha menjadikan kondisi tersebut lebih baik.
Saya sama sekali tidak bermaksud untuk membela dua orang pemimpin yang saya cotohkan di atas, sama sekali tidak ada maksud, namun bagi saya, ada etika yang seharusnya dipakai dalam memberikan sebuah kritik dan saran. Dan terakhir, jika kamu punya kaca di rumah, coba ambil sebentar, kemudian berkaca diri, jika kamu berada di posisi mereka, benarkah kamu bisa memimpin lebih baik ketimbang mereka? kemudian jawab sendiri pertanyaan itu dan mulailah untuk merubah kebiasaan buruk dalam mencaci maki, menjadi pribadi yang lebih berwibawa dalam memandang suatu kondisi yang ada, jangan seperti hewan, jangan seperti orang yang tidak pernah menikmati bangku sekolah. Kita bukan hewan, kawan, kita manusia yang seharusnya lebih beradab ketimbang hewan.

Pantai Menganti


18-19 Februari
Pernah mendengar nama pantai ini? Mereka yang lahir dan besar di daerah Kebumen saya yakin sudah tidak asing lagi dengan pantai ini, sebuah pantai cantik dan menawan yang memerlukan perjuangan ekstra untuk bisa sampai kesini. Tapi jangan ciut dulu, Bro, meski perjalanan menuju pantai ini cukup serem karena jalannya super berliku, curam, kiri-kanan lembah, namun akan terbayar dengan keindahan pantainya nan cantik. Pasir putih yang berpadu dengan birunya laut rasanya cukup menjadi pengobat dag-dig-dug selama perjalanan menuju pantai ini.
Duh, sampai lupa memberitahu dimana letak pantai ini. Pantai Menganti terletak di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Kurang lebih 40 KM dari Gombong. Untuk menuju pantai ini, saya sarankan dengan menggunakan sepeda motor saja, deh, dan pastikan sepeda motor yang digunakan dalam keadaan prima. Jika ingin menggunakan mobil, pastikan juga kamu sudah lihai menaklukkan jalanan yang berliku dan tebing yang curam, karena memang jalan menuju sana cukup terjal. Dan jangan pake bus, ya, mau diparkir dimana? :p
Ini kunjungan pertama saya ke Pantai Menganti ini, bermula dari ajakan teman yang mendadak alias tanpa rencana. Sehabis Isya kemarin, tiba-tiba langsung diajak pergi ke pantai ini. Sudah lama saya mendengar nama pantai ini, namun baru kemarin bisa sampai kesana, maklum, kesibukan saya itu super parah akhir-akhir ini (sibuk tidur). Setelah berkemas secara mendadak, nggak bawa baju ganti, cuma bawa kaos kaki, jaket, sarung, uang secukupnya, dan DSLR, saya ikut rombongan. Kam berangkat dari Purwokerto kurang lebih pukul delapan malam.
Perjalanan di malam hari menuju pantai ini sangat tidak saya sarankan, karena memang penerangan menuju kesana sangat terbatas. Tapi bukan Arian dong namanya kalo tidak bisa menaklukkan terjalnya jalan menuju kesana (halah, padahal dibonceng hahaha). Dan seperti biasa dong, saya itu nggak keren kalo nggak ngantuk di atas motor, fiuhhhh, kebiasaan jelek banget. Masa iya kudu diikat dulu biar nggak jatuh dari motor (ih, ini malah curhatnya kebanyakan).
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya sampai juga di pantai menganti. Batas jalanan beraspalnya itu berada di bukit, selanjutnya jalannya cuma tanah merah, nggak ada lampu sama sekali. Kami mengandalkan lampu dari sepeda motor dan senter yang sengaja dibawa. Setelah sampai di bukit yang bersisian dengan pantai, kami langsung menuju pondokan-pondokan kecil yang ada disana. Rencana awal mau mendirikan tenda, tapi nggak jadi, karena merasa cukup dengan pondokan-pondokan kecil yang ada di tebing bukit. Karena capek, saya langsung molor, sementara yang lain masih sibuk ngobrol dan maen kartu kayaknya (saya nggak ngerti mereka maen apaan).
Tidur di pondokan yang dindingnya cuma seuprit itu tentu saja dingin, Jendral. Saya tidur pakai kaos kaki, pake jaket tebal, kemudian nutupin kepala pake sarung, lengkap kayak satpam kompleks dah pokoknya. Tapi tidur saya nyenyak. Saya bangun paling awal, kemudian langsung wudhu dari air yang sengaja saya bawa. Setelah selesai shalat, yang lain akhirnya pada bangun dan langsung turun ke bawah, menuju karang-karang kokoh di bawah bukit untuk berwudhu. Saya cuma nyengir melihat mereka berwudhu disana.
Setelah shalat, agenda selanjutnya adalah menyiapkan alat pancing, menyiapkan peralatan masak seadanya. Ada yang mancing, ada yang masak, ada yang sibuk motret pake HP (siapa lagi kalo bukan gue) karena ternyata saya cuma bawa DSLR tanpa MEMORY, hikz. Jalan-jalan nggak bisa motret pake DSLR, cuma ngandalin kamera HP yang cuma bisa motret beberapa foto karena baterainya low pake banget itu bikin nyesek banget. HP Cuma berhasil motret sedikit, kemudian mati deh, baterainya habis. Tamat sudah riwayat motret kali ini.
Setelah selesai masak, dilanjutkan dengan makan bareng, sambil ngobrol ngalor ngidul dan karena bertujuh ini semuanya jomblo, maka tentu saja obrolan yang paling asik adalah tentang pernikahan, haha. Eh, lupa, ada satu orang deh yang sudah menikah. Ada aja obrolan pagi hari, teman-teman saya ini super banget idenya, mulai dari rencana bulan madu di tengah laut dengan perahu, bulan madu di pondokan di atas bukit sambil mendirikan tenda, sampai mengunjungi pulau Lombok maupun Bali masuk dalam obrolan. Saya? Oh saya mah jangan ditanya bulan madunya kemana, nikah aja belum #berdoaKhusyu.
Mancing selesai, masak selesai, makan juga sudah selesai, selanjutnya adalah santai sambil menuruni bukit, duduk di atas batu karang yang menjadi tempat berlabuhnya ombak-ombak yang cukup besar. Setelah dirasa cukup, akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang. Sebenarnya tidak langsung pulang, kami melanjutkan jalan-jalan ke arah Baturaden, menuju Curug Bayan dan mandi di bawah air terjun yang sukses membuat saya menggigil.
Sampai jumpa di cerita liburan selanjutnya. Liburan saya masih belum selesai, masih sepekan lagi waktu saya untuk menjelajah.

Memahami Perbedaan

Tadi pagi, habis subuh, saya mendapat pesan singkat dari sahabat saya di Switzerland via WhatsApp. Sudah 9 bulan saya tidak mendengar kabar darinya, dia tiba-tiba menghilang begitu saja, tidak pernah menghubungi baik melalui Skype, Facebook, maupun WhatsApp. Saya beranggapan mungkin dia sedang sibuk. Pernah beberapa kali saya coba hubungi, tapi tidak bisa. Terakhir kali dia menghubungi saya 9 bulan yang lalu, dia bercerita tentang rencananya memanjangkan jenggotnya.

“Salam, Akhi, I’m sorry, I never responded your messages, chats, or calls. I was in jail for 8 months. I had internet connection only twice a week. I’m sorry. All my chats, messages, and calls were controlled by the police. I was in jail because somebody in the bus said to me in german language, “Fuck you immigrant, go back to your homeplace.” This person said this to me because of my beard and I told him that he should shut up. He stand up and walked really near to me and pushed me against the bus window. I hit him, I was out of control, I bet him really up. I just tried to protect my self. I’m free now. It’s late here, Akhi, I have to sleep. Can I call you tomorrow in viber?”
“sure, I think skype is better, Akhi.”
“Okay, see you tomorrow.”

Setelah membaca pesannya, saya kemudian merenung. Kadang, kita merasa bahwa kita adalah orang paling keren sedunia, sedangkan yang lain hanyalah gumpalan debu yang beterbangan tiada arti dan hanya menjadi perusak suasana. Ketika melihat orang lain berbeda dengan kita, kita kadang langsung nge-judge mereka dengan ucapan-ucapan yang tidak enak didengar, atau setidaknya ngedumel di dalam hati, “Ih, itu orang aneh banget, sumpah.” Tidak usah jauh-jauh membayangkan hidup sebagai muslim di Negara lain, cukup lihat bagaimana sikap orang-orang di sekeliling kita dalam menghadapi sebuah perbedaan.
Saya tipe orang yang rada cuek, selagi orang tidak mengganggu saya, saya lebih banyak memilih diam, namun ketika orang lain sudah mengganggu kenyamanan saya, kadang saya juga tersulut emosi, meski lebih banyak menghindar dan berusaha membuat suasana seaman mungkin alias baik-baik saja alias menghadapinya dengan kepala dingin dan itu tidak mudah, Jendral.
Dulu, ketika pertama kali memakai jubbah, saya sering dipandang sedemikian aneh oleh masyarakat sekitar, terutama masyarakat desa yang memang notabene tidak terlalu paham juga tentang jubbah, setahu mereka, saya berbeda dan dianggap aliran SESAT. Separah itu. Dijelasin panjang lebar kali tinggi, juga tetap saja mereka nggak peduli, dan akhirnya saya memilih untuk bersikap biasa saja, menjelaskan ketika memang dirasa perlu untuk dijelaskan. Saya suka jubbah, hanya semata karena merasa nyaman, bukan karena saya ikut aliran tertentu, sesederhana itu. Tapi ya itu tadi, apa yang saya anggap sederhana, simple, dan nyaman, bisa jadi merupakan hal yang menarik untuk dikomentarin, dijelek-jelekkan, dan lain sebagainya. Apa saya menyerah? Nggak, sama sekali tidak, bahkan sekarang sudah banyak yang suka pakai jubbah ke masjid. Padahal saya nggak pernah itu nyuruh mereka.
Dulu, ketika semua orangtua di kampung memilih sekolah-sekolah Negeri Favorit untuk sekolah anak-anaknya, Bapak dan Ibu saya memilih memasukkan saya ke Pondok Pesantren di Ibu Kota Propinsi, kemudian semua orang ngomongin, mulai dari yang setuju, biasa saja, sampai pada ngeledekin ortu saya karena memasukkan anaknya ke Pesantren yang saat itu dinilai sebagai sekolah yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang kolot yang kemana-mana kerjaannya sarungan. Bukan sekali dua kali saya harus mendengar cemooh warga, karena saya belajar di Pesantren. Iya, sesederhana itu, hanya karena saya belajar di Pesantren, mempelajari Agama, keluarga saya dicemooh. Tapi itu dulu, sekarang semua berbalik arah, yang dulu mencemooh, kini malah berusaha memasukkan anak-anak mereka ke pesantren, atau sekolah-sekolah yang basic Agamanya mencukupi.

Dulu, ketika banyak pemuda-pemudi desa yang menikah setelah lulus SMA, dan saya memilih untuk melanjutkan Study ke Jakarta, lagi-lagi saya dicemooh. Terutama orangtua yang dikenal sebagai orang yang tidak berkecukupan, dianggap gegabah, sok kaya, karena menyekolahkan anaknya ke jenjang Perguruan Tinggi, seolah itu adalah aib besar bagi keluarga saya. Saat kelulusan saya di Perguruan Tinggi, baru kemudian mengerti bahwa pentingnya pendidikan dan saya bersyukur, orangtua saya memahami betul masalah ini, meski keduanya tidak lulus sekolah dasar. Saya jadi Sarjana Pertama di Keluarga besar Ayah dan Ibu, kemudian disusul oleh yang lainnya.
Perbedaan-perbedaan ini sebenarnya bisa menjadi masalah ketika kita tidak bisa menyikapinya dengan bijak. Semakin belajar, semakin saya mengerti bagaimana menyikapi sebuah perbedaan dalam sebuah masyarakat, berusaha lebih terbuka, berusaha mendengar, berusaha membuka mata atas semua perbedaan itu, berusaha mengerti bahwa kadar pengetahuan seseorang tidak sama satu sama lain, boleh jadi orang memberi komentar tidak baik karena ketidaktahuannya akan hal itu, boleh jadi karena dia memiliki pemahaman yang berbeda akan sesuatu, dan itulah yang seharusnya dimengerti, dipahami, dan dihadapi dengan bijaksana. Karena tidak akan pernah ada yang namanya semua orang memiliki pemikiran yang 100% sama dengan kita, akan selalu ada perbedaan. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita harus menyikapi sebuah perbedaan itu, apakah dengan emosi, atau menyelesaikannya dengan cara yang baik, pilihan ada pada diri kita.
Kehidupan seorang Muslim di negeri ini saya rasa lebih nyaman, ketimbang di Negara-negara lain. Meski tidak semuanya bisa hidup berdampingan dengan damai dengan agama-agama non muslim. Namun bagi saya, saya merasa lebih nyaman menjalankan ibadah saya di sini, di tanah air ini, ketimbang harus berpindah ke Negara lain. Saya tidak bisa membayangkan menjadi seorang Muslim di Negara yang bahkan Masjid menjadi sesuatu yang langka untuk ditemui, saya tidak bisa membayangkan hidup dengan komunitas muslim yang hanya sedikit, meski sebenarnya tidak semua Negara memandang menjadi seorang Muslim adalah sesuatu yang aneh.
Kembali ke sahabat saya di atas, saya tahu persis dia adalah seorang Muslim yang taat, dan harus menghadapi cara pandang masyarakat sekitar yang sering menganggap mereka aneh. Saya sempat kaget ketika dia memberitahu saya bahwa dia emosi karena ucapan seseorang di Bus tersebut, karena itu bukanlah yang pertama kali dia hadapi, sudah sekian banyak cemoohan yang dia terima, dan dia bisa tetap santai menghadapi semua itu. Mungkin saja saat itu dia sedang khilaf dan saya memaklumi itu dan berdoa, semoga semuanya baik-baik saja kedepannya.

- Copyright © 2013 Arian's Blog - Simple is beauty - Powered by Blogger - Redesign By YBC(Yahya's Blog Community) - Designed by Johanes Djogan -