August 27, 2015

Sjaki Tari-Us: Yuk Bantu Mereka Mewujudkan Mimpi

sumber: http://www.sjakitarius.nl/
Setiap dari kita pasti memiliki impian, mulai dari hal yang paling sederhana sampai pada hal-hal yang menurut sebagian orang tidak mungkin untuk diraih. Itulah kekuatan mimpi, ia mampu memompa semangat demikian kuat untuk mencapai apa yang sudah diperjuangkan. Di dalam hidup ini, tugas kita hanyalah berusaha sebaik mungkin dalam meraih apa-apa yang kita impikan, selebihnya biarlah Tuhan yang akan memberikan jalan kepada kita melalui rencana-Nya yang kadang di luar dugaan kita.
Berbicara tentang mimpi, kali ini saya ingin bercerita tentang anak-anak luar biasa yang saya kenal ketika sedang berada di Bali, tepatnya Ubud. Mereka menamakan sekolah mereka dengan nama Sjaki Tari-Us, sebuah lembaga non profit yang bergerak di dalam bidang pendidikan bagi anak-anak yang memiliki masalah dengan mental (mental disability). Saya berkenalan dengan mereka melalui David, seorang teman berkebangsaan Belanda yang sedang magang di sana. David mengajak saya bertemu mereka dan mengisi liburan saya dengan bermain bersama mereka, sebuah pengalaman yang tidak mungkin saya lupakan.
sumber: http://www.sjakitarius.nl/
Pertemuan pertama dengan mereka, anak-anak luar biasa ini membuat saya terus ingin bertemu dengan mereka, bermain bersama mereka, tertawa bersama, kejar-kejaran sambil mengendarai sepeda, atau hanya sekadar duduk di depan TV bersama mereka. Melakukan semua itu bersama mereka membuat saya bahagia, merasakan bahagia yang sesugguhnya, betapa Tuhan Mahabaik, mempertemukan anak-anak ini dengan sekolah Sjaki Tari-Us, sekolah yang berusaha untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak hebat ini, mau menerima mereka apa adanya, dan mau berjuang demi masa depan mereka yang lebih baik.
Di Ubud-Bali, di tengah hingar bingar keramaiannya yang sudah menjadi Desa Internasional, terdapat anak-anak dengan beraneka ragam keistimewaan, mulai dari Down Syndrom, Autistik, dan lain sebagainya. Ketidaktahuan para orangtua dalam menangani anak-anak istimewa ini membuat mereka tumbuh begitu saja tanpa banyak belajar. Butuh perjuangan besar bagi pihak sekolah untuk meyakinkan para orangtua agar mau menyekolahkan anak-anak mereka ke Sjaki Tari-Us ini.
sumber: http://www.sjakitarius.nl/
Kini, anak-anak istimewa ini punya mimpi besar, mereka memiliki mimpi untuk bisa memiliki sekolah yang layak bagi mereka, sekolah yang akan menjadi tempat mereka menimba ilmu, sekolah yang akan menjadikan mereka lebih baik dari sebelumnya, sekolah yang akan menjadi tempat mereka berbagi kasih pada sesama. Bukankah bahagia jika melihat anak-anak ini bisa bersekolah dengan baik? Mendapatkan pendidikan yang layak bagi mereka?
Nah, sekarang, saya ingin mengajak teman-teman untuk ikut mewujudkan mimpi mereka dalam membangun sekolah yang layak untuk mereka. Berapapun donasi yang bisa teman-teman kumpulkan untuk mereka akan sangat berarti bagi mereka. Saya ingin mengajak teman-teman untuk urun tangan dalam membangun semangat anak-anak istimewa ini. Jika bukan kita yang peduli akan pendidikan bagi mereka, siapa lagi?
Mereka adalah tunas-tunas bangsa yang memerlukan perhatian dari kita semua, kitalah yang seharusnya mengepakkan sayap, mengajak mereka untuk bermimpi tinggi, demi kehidupan yang lebih baik. Ada banyak cara yang bisa teman-teman lakukan untuk membantu mereka, bisa dengan datang langsung ke Sjaki Tari-Us-Ubud-Bali, bertemu dengan mereka dan menyaksikan kegiatan mereka yang beraneka ragam; mulai dari membuat aneka ragam kreasi yang dijual bagi para tamu yang datang dan masih banyak lagi kegiatan lain yang begitu inspiratif dan sayang jika dilewatkan begitu saja.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk membantu mereka membangun sekolah, sekolah impian bagi mereka. Berapapun donasi yang teman-teman berikan akan sangat berarti bagi mereka, anak-anak bangsa yang luar biasa. Bagi teman-teman yang ingin ikut memberikan donasi, silahkan langsung menuju ke website Sjaki Tari-Us untuk keterangan lebih lanjut. Salam cinta dari Sjaki Tari-Us-Ubud-Bali, semoga kebaikan selalu menyertai kita semua. Amin.

July 01, 2015

Hidden Paradise: Tegal Wangi Beach

Tegal Wangi Beach
Hi, selamat siang, masih pada semangat menjalankan ibadah puasa, kan? Semoga bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik, ya.
Meski cuaca lagi panas, tapi tidak menghalangi niat saya untuk berkunjung ke pantai-pantai tersembunyi, yang masih sepi dari pengunjung, dan tentunya memberikan keleluasaan bagi saya untuk melakukan apa saja di pantai-pantai tersebut. Saya memang rada nggak betah mengisi liburan saya hanya dengan berdiam diri di rumah. Berhubung sedang berada di Bali, maka tentu rugi kalo tidak berkunjung ke tempat-tempat keren di Bali, apalagi kalo bukan pantai. Rasanya tidak akan pernah habis membicarakan keindahan pantai-pantai di Bali, mulai dari yang berbayar sampai pada yang Gratisan. Tentu saja saya lebih suka yang gratisan hehe.
Nah, kali ini saya akan bercerita tentang pantai Tegal Wangi, sebuah pantai cantik yang masih sangat sepi. Waktu saya berkunjung kesana, cuma ada saya dan 4 orang perempuan yang sedang mandi. Berasa kayak Jaka Tarub, deh, laki sendirian *astaghfirullah. Tegal Wangi, saya menyebutnya salah satu surga tersembunyi yang berada di dunia, yang menawarkan keindahan pantai yang sempurna. Ombaknya yang menawan, warna lautnya yang biru, serta karang-karang yang menjulang yang menjadi pembatas di bibir pantai merupakan keindahan yang sangat sayang kalo dilewatkan begitu saja.
Untuk kamu yang suka dengan pantai-pantai yang sepi tapi menghadirkan keindahan alam yang luar biasa, you should visit thise beach. Pantai ini terletak di Jimbaran, tepatnya di Desa Adat Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan-Badung-Bali. Jika ingin menuju pantai ini, arahkan kendaraanmu ke arah Jimbaran, menuju Hotel Ayang Resort, ikuti iklan menuju arah Pura Tegal Wangi. Pantai ini terletak persis di depan pura ini. Kamu akan langsung melihat hamparan pasir yang cantik, tebing karang yang menjelang and you will find happiness. Waktu paling bagus untuk ke pantai ini bagi saya adalah petang menjelang sore, jadi bisa sekalian menunggu matahari tenggelam.
Dengan embusan angin yang sepoi, suara ombak yang merdu, ditambah warna laut biru, menjadi perpaduan sempurna untuk menjadikan pantai ini sebagai tempat untuk bersantai, mengisi waktu luangmu dengan berleyeh-leyeh di bibir pantai. Di pinggir pantai, ada tebing karang yang membentuk goa-goa kecil yang bisa dijadikan tempat untuk berteduh, kali aja kamu takut panas. Saya paling suka mojok di sana, sambil membaca buku, bahkan membaca al-Qur’an, hehe. Seru. Tentu saja yang lebih saya suka adalah bermesraan dengan air laut. Begitulah saya, saya bukan tipe orang yang jika berkunjung ke suatu tempat hanya untuk mendapatkan foto dengan latar belakang tempat yang dikunjungi saja, lebih dari itu. Saya tipe orang yang suka berlama-lama di pantai, duduk di atas pasir yang lembut, merasakan deburan ombak yang bersentuhan dengan kulit, atau malah menenggelamkan diri bersama laut yang memberi kedamaian.
Bahagia bagi saya sesederhana ini, bisa berada di tengah-tengah keindahan alam raya, yang menjadi bukti betapa Tuhan begitu luar biasa dalam mencipta. Berada di pantai ini membuat saya merenung lama, ber-tafakkur, memikirkan betapa agung ciptaan Tuhan. Jika alam raya saja sudah sedemikian indah, lantas bagaimana keindahan surga yang sesungguhnya? Pernah, nggak, sih, kalian membayangkan hal yang sama? Cobe deh lihat ke sekeliling kita, banyak hal luar biasa yang kita temui, salah satunya adalah keindahan alam raya ini. Maka benarlah kata Tuhan, jangan memikirkan tentang dzat-Nya, tapi pikirkanlah tentang ciptaan-Nya, maka engkau akan menemukan iman pada-Nya.

If you are in Bali, jangan lupa untuk mengunjungi pantai ini, ya.

June 29, 2015

Hidden Beaches : Karma, Finn & Green Bowl

Apa yang ada di dalam benakmu ketika mendengar kata “Bali”? pantainya yang menawan? Bule yang bertebaran dimana-mana? Udaranya yang rada panas? Well, semua itu benar, haha. Tapi kali ini saya akan menulis pantai-pantai yang masih belum terlalu banyak pengunjungnya, semacam hidden beaches gitu, deh. Mau saya ajak jalan-jalan kesana? Siapkan diri untuk membuat rencana jalan-jalan ke Bali dan memasukkan pantai-pantai berikut sebagai tempat-tempat yang akan kamu kunjungi jika sedang berada di Bali, ya.
Guys, you have to know, Bali itu nggak sekadar pantai Kuta yang tersohor di seluruh dunia, nggak sekadar Uluwatu yang terkenal dengan purenya dan tari kecaknya yang menawan sekaligus monyetnya yang banyak, nggak cuma pantai Dreamland, Pandawa, Nusa Dua, atau Tanjung Benoanya, masih banyak lagi tempat-tempat keren yang bisa dijadikan tempat leyeh-leyeh ganteng di Bali.
Saya termasuk bukan orang yang suka dengan pantai yang sudah bejibun pengunjungnya. Saya lebih suka dengan suasana pantai yang masih sepi pengunjung, bisa santai dengan nyaman tanpa perlu terganggu dengan wisatawan yang mondar-mandir di depan saya. Makanya, kalo jalan-jalan, saya lebih suka bersemedi di pantai yang masih sepi pengunjung. Well, biasanya pantai-pantai cantik yang sepi pengunjung ini tentu saja memiliki alasan, bisa saja jaraknya yang jauh, lokasinya yang susah dijangkau, atau terjalnya jalan menuju kesana, dan alasan lainnya, hehe.
Nah, sekarang, saya akan ajak kamu jalan-jalan ke tiga pantai yang menjadi tempat favorit saya ketika sedang berada di Bali. Saya suka menghabiskan waktu berlama-lama di tiga pantai ini.
Karma Kandara
Pantai Karma dari atas
Sudah pernah mendengar nama pantai ini? Ini salah satu pantai yang menjadi favorit saya di Bali. Pantai ini terletak di Ungasan, Kuta Selatan. Untuk mencapai pantai ini, tinggal arahkan saja kendaraanmu ke arah Uluwatu, nanti kira-kira 1 KM sebelum pantai Dreamland, akan ada tulisan Pantai Karma di kiri jalan, tinggal ambil kiri dan langsung menuju ke Karma Kandara Resort. Kalo masih bingung juga, tinggal tanya penduduk setempat, Insha Allah mereka pada mengerti. Lagian petunjuk jalannya jelas, kok, tinggal perhatikan saja petunjuk jalan. Lokasi pantai ini berada di bawah Karma Kandara Resort. Tenang, kamu bisa menuju pantai ini dengan GRATIS, kok.
Ada dua pilihan menuju pantai ini, pertama, bisa menggunakan lift dengan membayar 250.000, untuk bisa sampai ke bibir pantai. Dengan membayar nominal tersebut akan mendapatkan voucher makan dan minum yang bisa ditukar ketika sudah sampai di bawah. Kedua, dengan cara menuruni anak tangga yang berjumlah kurang lebih 300 anak tangga, Ini GRATIS, tapi memang perlu energi lebih untuk bisa sampai di pantai Karma. Tenang, keletihan menuruni tangga yang berundak-undak akan terbayar dengan kecantikan pantainya. Dan tentu saja kamu harus siap-siap capek ketika kembali ke atas dengan menaiki ratusan anak tangga tadi.
Pantai Karma memang menawan, sepi, hanya beberapa wisatawan yang berkunjung ke pantai ini. Saya tidak menemukan banyaknya pengunjung, jadi bisa leluasa santai di pantai ini. Pasirnya yang bersih, deburan ombak yang merdu, embusan angin yang sejuk menjadi kenikmatan yang akan kamu dapatkan ketika berkunjung kesini.
Finn’s Beach Club
Finn's Beach
Pantai ini bersebelahan dengan pantai Karma, jadi tinggal jalan kaki melalui karang-karang yang memisahkan pantai ini dengan pantai Karma. Saya paling suka santai di pantai ini. Pasirnya yang kemilau, birunya laut, dan nyaman untuk mandi menjadi alasan saya betah berlama-lama di pantai ini.
Sepi banget di pantai ini. Saya paling suka menghabiskan waktu sore hari menjelang petang di pantai ini, ketika matahari tidak terlalu terik, sekadar duduk, berjemur atau berendam di laut. Berada di pantai ini seolah sedang berada di private beach, tidak banyak pengunjung yang lalu lalang. Semacam punya pulau sendiri, sementara yang lain lagi berada di dunia antah berantah, hehe.
Masih ragu untuk berkunjung ke pantai ini? well, jangan ragu, guys :)
Green Bowl Beach
Ada beberapa nama untuk pantai ini, ada yang menyebutnya secret beach karena memang untuk menuju lokasi pantai ini memang rahasia alias harus menuruni tebing yang dilengkapi dengan anak tangga yang jumlahnya rada banyak. Ada juga yang menyebutnya Bali Clift Beach, karena memang lokasinya berada di bawah Bali Clift Hotel.
Sama seperti pantai Karma, untuk menuju bibir pantai ini, pengunjung harus menuruni anak tangga. Kadang memang begitu, ya, untuk mencapai suatu keindahan perlu perjuangan ekstra, deh. Saya sering berkunjung ke pantai ini hanya untuk duduk menyendiri atau untuk mandi. Pantai ini masih terletak nggak jauh dari pantai Pandawa.
Bali Selatan memang menyimpan keindahan pantai yang menawan. Green Bowl tentu saja menjadi salah satu pantai yang rugi jika dilewatkan begitu saja. Sama seperti pantai Karma dan Finn, pantai ini sepi pengunjung karena memang perlu perjuangan ekstra menuju pantai. Bagi kamu yang suka dengan pertualangan, tentu menuruni tangga bukan menjadi alasan untuk tidak mengunjungi pantai ini. Silahkan buktikan sendiri keindahan pantai ini. Oh ya, disini juga rada banyak monyetnya, jadi meski hati-hati, jangan sampai HP, Kacamata, dan barang lain diambil monyet.

Nah, itu tiga pantai tersembunyi yang menjadi tempat favorti saya di Bali. Kalo kamu? Share dong pantai favorit kamu di Bali.

June 27, 2015

Sepotong Surga di Pantai Melasti

Melasti dari ketinggian. amazing.
27 Juni 2015
Matahari masih cukup terik, ketika saya melanjutkan perjalanan siang ini ke pantai-pantai yang ada di Bali Selatan. Rencananya, pantai yang akan saya kunjungi adalah Green Bowl Beach, akan tetapi salah arah, dan saya malah sampai pada pantai Melasti. Sebelumnya, saya sama sekali tidak mengetahui nama pantai yang cantik ini, saya bertanya kepada salah seorang pedagang yang ada di pinggir pantai, barulah saya tahu bahwa nama pantai keren ini adalah Melasti, sebuah nama yang belum saya tahu apa makna di balik nama itu.
Lokasi pantai ini tidak jauh dari Pantai Pandawa dan Green Bowl. Bersisian persis dengan Green Bowl Beach. Jika sedang berkunjung ke Pantai Pandawa atau Green Bowl, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Pantai Melasti dan saya jamin akan menemukan pemandangan yang memang patut untuk diacungi jempol. Keren gitu. Saya malah bersyukur bisa nyasar ke pantai ini. Tepatnya, pantai Melasti terletak di Ungasan. Jalan yang berkelok, dan tebing kapur yang sedang dirapikan menjadi pemandangan awal di pantai ini. Akses menuju ke pantai ini sudah bagus.
Abaikan pose abal-abal ini haha
Pertama kali berada di tengah-tengah keindahan ini, saya berkhayal seolah-olah sedang berada di negeri berpadang pasir. Gundukan pasir yang disertai dengan pohon-pohon yang berjejer di sepanjang jalan, menambah nuansa khayal saya tentang pantai ini, membawa saya berimajinasi sedang berada di tengah gurun sahara nan cantik. Semacam lagi bermimpi di siang bolong.
Kamu yakin nggak jatuh cinta ama pemandangan kayak gini? emang kuat? haha
Dari atas, saya bisa melihat dengan jelas pantai ini dari ujung ke ujung, sebuah pantai yang sedang dipersiapkan oleh Bali untuk menjadi salah satu pantai yang akan memiliki daya tarik tersendiri nantinya. Birunya laut, pasir putihnya yang halus, dan karang-karang yang beraneka bentuk dan warna menjadi pemandangan yang luar biasa. Tidak banyak pengunjung di pantai ini, hanya beberapa wisatawan lokal dan mancanegara saja yang sedang menikmati keindahan alam raya yang ada di Melasti. Selain pengunjung, beberapa pedagang juga berusaha menjajakan dagangan mereka ke pengunjung. Di bagian ujung, terlihat beberapa truk yang sedang lalu lalang mengangkut material bangunan, kemudian beberapa mobil pengeruk yang sedang merubah tebing kapur menjadi berbentuk lebih indah.
Pose andalan :p
Setelah baca-baca di google, saya akhirnya paham mengapa pantai ini diberi nama “Melasti”. Diberi nama Melasti, karena pantai ini sering dipakai untuk acara “Melasti” oleh masyarakat sekitar, misalnya sebelum hari Raya Nyepi. Menurut analisa abal-abal saya, kayaknya pantai Melasti bakalan lebih keren dibanding pantai Pandawa. Di pantai ini juga dibuat anjungan yang menyorok ke laut. Dengan adanya anjungan yang menyorok ke laut tentu akan memudahkan masyarakat setempat dalam melakukan ritual keagamaan, misalnya saat “ngayud” ke laut.

Yuk ke Pantai Melasti dan buktikan sendiri keindahannya. Salam rindu dari Bali J

June 21, 2015

Surfing di Blue Point Beach

Sebagai laki-laki baik hati dan rajin menabung yang selalu terpesona dengan yang namanya pantai (mulai narsis akut) alias beach hunter, maka nggak sah kalo selama di Bali tidak mengunjungi pantai yang satu ini. Niat awalnya, saya mau sok-sok’an mandi gitu di bawah tebing karang yang menjulang itu, tapi nggak jadi, udah ngeri duluan melihat ombak yang segede kapal gitu dan siap menghepaskan saya ke pelabuhan hati si dia *plak.
Blue point beach atau juga dikenal dengan pantai suluban ini memang menjadi salah satu tempat favorit para surfer. Meski saya bukanlah seorang surfer, tapi menikmati pantai ini saja sudah lebih dari cukup. Untuk mencapai pantai ini, gampang banget, cukup arahkan kendaraanmu ke arah Uluwatu, nanti bakalan ketemu pantai padang-padang, setelah itu baru pantai ini, gampang, jangan takut nyasar. Setelah sampai, saya harus menuruni anak tangga di antara cafe-cafe yang berada di tebing yang disulap sedemikian rupa menjadi tempat leha-leha sambil melihat laut yang begitu cantik. Dari atas, kita bisa melihat betapa indahnya pantai ini. Ombaknya yang memanjakan para surfer yang lalu lalang membawa papan surfing, cafe-cafe yang bisa dijadikan tempat istirahat sambil merasakan embusan angin yang menyejukkan, dan tentu saja semua itu memang sayang jika dilewatkan begitu saja.
Saya menghabiskan beberapa jam di pantai ini, menunggu air laut agak surut agar bisa mandi di cekungan karang yang berupa gua yang dilewati para surfer untuk menuju pantai. Jika kamu adalah seorang surfer yang sudah memiliki jam terbang yang keren, kamu boleh mencoba surfing di pantai ini, namun kalo masih ecek-ecek kayak saya, mendingan surfing di pantai yang ombaknya lebih bersahabat saja, ya. Kasihan kalo kamu terhempas ombak dan kena batu karang, apalagi kalo kamu masih single, kan kasihan #dilemparPapansurfing.
Di pantai ini, ada banyak spot cantik untuk mengabadikan keberadaanmu di tengah keindahan pantai. Berhubung saya sudah agak jarang dipotret, jadi saya lebih suka memotret suasana saja, nggak terlalu obses kudu punya foto muka saya di pantai ini. Ada sih, palingan cuma beberapa aja. #halah. Ke pantai ini memang perlu hati-hati ekstra banget, karena memang bermula dari tebing jurang yang disulap menjadi tempat wisata yang keren. Kalo kamu bawa anak kecil, jangan sampai lengah dikit aja, bisa-bisa anak kecil udah lompat aja ke bawah dan itu bisa merenggut nyawa.
Bisa foto pernikahan di sini
Buat yang lagi bingung untuk foto pernikahan, disini juga ada tempat khusus yang disewakan untuk menjadi pilihanmu mengabadikan kebersamaan dengan kekasih hati. Dijamin keren, deh, fotonya. Oh iya, untuk masuk ke pantai ini cuma cukup bayar 5.000, aja. Itu udah termasuk tiket masuk dan parkir. Hanya dengan membayar segitu, kita sudah dapat menikmati keindahan yang luar biasa di pantai ini. Kalo mau mandi, coba tunggu agak siangan dikit, ya, soalnya kalo pagi biasanya ombaknya lagi gede banget, susah untuk renang dengan kondisi ombak yang demikian. Jadi mendingan tunggu agak siangan ketika ombak udah nggak terlalu gede, tapi itu juga perlu hati-hati banget, karena ombak langsung terhempas ke dinding tebing karang yang menjulang.
Jangan takut kelaparan di pantai ini, ada banyak cafe-cafe yang bisa kamu jadikan tempat untuk bersantai sambil menikmati menu aneka ragam. Untuk kamu yang Muslim, tentu saja jangan lupa memastikan bahwa makanan yang kamu pesan adalah makanan halal, ya, maklum, penduduk di Bali mayoritas beragama Hindu. Di pantai ini, mayoritas pengunjungnya adalah turis mancanegara, tidak terlalu banyak turis lokal yang saya jumpai. Turis-turis ini datang jauh-jauh untuk surfing disini, lah, saya malah belum pernah nyobain. Sepertinya PR saya sekarang adalah kudu belajar surfing #mulaiNgimpi. Masalah penginapan juga nggak usah khawatir, ada banya tempat penginapan yang bisa kamu pilih yang disesuaikan dengan budget yang kamu miliki. Kalo mau berkemah di pantai ini juga bisa menjadi pilihan yang menyenangkan tentunya.

Gimana? Tertarik mengunjungi pantai ini?

June 20, 2015

Leyeh-Leyeh di Padang-Padang

Padang-padang Beach
19 Juni 2015
Saya itu memang penggila pantai dan hal itu wajar saja tentunya. Saya memang lahir di daerah yang berdekatan dengan pantai, bisa dengan mudahnya saya berlarian ke pantai tanpa perlu takut nyasar. Lah, wong pantainya cuma berjarak palingan 250 meter dari rumah. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang patut saya dustakan? Sudah lahir deket pantai, di belakang rumah ada sawah, ditambah bonus bisa mandi sungai sesuka hati. Keren, kan? Anak kota nggak bakalan ngerasain istimewanya bermain di tiga tempat ini: sawah, pantai, dan sungai. *dilempar sepatu*
            Anyway, kalian pernah mendengar pantai Padang-Padang? Itu, loh, salah satu pantai yang berada di Bali Selatan yang sempat dijadiin salah satu lokasi pembuatan film Eat, Pray, Love yang dibintangi oleh Julia Robert. Masih nggak tahu juga? Lihat di google map aja, deh. #ditimpuk. Tanpa Julia Robert leyeh-leyeh disini juga sebenarnya potensi pantai ini emang keren, tapi memang semakin naik daun (dikira ulat kali, ya) sejak selesai pembuatan film si Julia ini. Pantai ini terletak di Jalan Labuhan Sait, di Desa Pecatu, Badung, Bali Selatan. Pantai dengan pasirnya yang menawan dan lembut, ditambah deburan ombaknya yang tenang adalah suasana yang bakalan kamu dapatkan kalo sedang berkunjung ke pantai ini. Jangan khawatir, untuk bisa menikmati pesona cantik di pantai ini kamu cuma perlu membayar uang parkir sebesar 2000, dan kamu sudah bisa leyeh-leyeh cantik di pantai ini.
            Berhubung saya lagi di Bali, maka sayang banget kalo nggak leyeh-leyeh ganteng di pantai ini. Saya suka leyeh-leyeh di bibir pantai, tidur-tiduran sambil membaca buku. Emang nggak mandi? Erghh, mana ada saya lupa dengan aktifitas mandi kalo nemu pantai kayak gini. Kamu? Kamu masih yakin nggak tergoda nyebur melihat pantai secantik ini? Kalo saya sih nggak kuat menahan godaan untuk sesegera mungkin nyebur dan bergaya seolah sedang mandi di pulau sendiri, haha. Maklum, saya sering kumat kalo sedang berada di pantai.
            Di pantai ini, selain lautnya yang tenang, pasirnya yang cantik menawan, ada karang-karang yang berukuran cukup besar di bibir pantai, kamu juga bisa surfing. Ada banyak turis lokal maupun mancanegara yang melakukan surfing disini. Kalo saya lebih suka mandi, karena sampai sekarang belum ada niatan untuk melanjutkan belajar surfing yang sempat saya ikuti waktu stay 9 hari di Bali tahun 2013. Dulu, pas belajar, badan saya sempat kena hantam papan surfing milik salah satu turis mancanegara yang ternyata juga sedang belajar. Makanya malas lagi belajar surfing, sakitnya tuh masih berada disini *nunjuk bahu*
            Nah, kalo mau leyeh-leyeh di Padang-Padang ini, jangan lupa bawa perlengkapan sendiri. Saya kalo leyeh-leyeh disini, biasanya bawa buku, kamera, ama alas buat tidur-tiduran. Kalo yang lain, kan, menjadikan handuk sebagai alas buat leyeh-leyeh, kalo saya mah pake sarung aja, saya mah gitu orangnya, lebih suka menjadikan sarung sebagai alas ketimbang handuk, haha. Ada beberapa pedagang yang juga nongkrong di pantai ini, tapi cuma sedikit. Jadi lebih enak kalo bawa bekal sendiri, kayak cemilan dan sebagainya. Tapi kalo sedang puasa, mah, jangan, atuh.
            Untuk menuju bibir pantai, kita cuma perlu menuruni beberapa anak tangga yang berada di tengah-tengah karang. Kayaknya karangnya sengaja di belah untuk membuat akses jalan masuk ke bibir pantai. Sebelum turun, jangan lupa jalan ke arah jembatan yang berada tidak jauh dari pintu masuk pantai, sempatin buat motret pantai dari ketinggian, bakalan cantik banget. Bisa juga motret pas mau pulang.
            Jangan heran, kalo sejak pagi pantai ini sudah rame aja ama turis mancanegara. Saya pernah coba datang pukul 8 pagi dan sudah rame banget. Bahkan malam pun masih ada aja yang nongkrong di pantai ini. Kebetulan saya stay tidak jauh dari pantai ini, jadi ada banyak waktu buat leyeh-leyeh. Gimana? Sudah tergoda untuk bermalas-malasan di Pantai ini? Jangan takut nggak dapat penginapan, ada banyak penginapan beraneka ragam yang bisa kamu pilih, mulai dari yang harga ala backpacker sampai yang kualitasnya wow juga ada. Kalo mau nginep di pantai juga sok, atuh, Kang.

            Jadi, kalo kamu sedang berada di Bali, pantai ini jangan lupa dimasukkan ke dalam list perjalananmu, ya. Saya sarankan untuk mandi, jangan cuma duduk-duduk di pinggir, nggak seru. Kamu bisa menyewa papan surfing juga jika mau surfing. Selamat menikmati Bali.

June 18, 2015

Ramadhan Pertama di Pandawa

Pantai Pandawa
18 Juni 2015
Selamat sore semuanya, lagi pada sibuk bersiap-siap menjelang berbuka puasa, ya? Kalo saya lagi santai saja di kamar, sambil memanfaatkan fasilitas wifi yang ada. Selamat menjalankan ibadah puasa, ya, mohon maaf atas salah dan khilaf saya selama ini. Maklum, saya hanyalah manusia biasa yang kadang khilaf dan kadang butuh bahu untuk bersandar *mulai ngawur*
Jadi begini, Ramadhan kali ini saya dapat amanah untuk berdakwah di Bali selama Ramadhan. Saya menjadi Imam di salah satu masjid di Bali. Duh, masa iya saya mau menolak kesempatan emas ini? Makanya ketika diminta untuk menjadi Imam di Bali, langsung deh saya YES-in, nggak pake di PHP-in. Oleh karena itu, berangkatlah saya ke Bali dan Alhamdulillah malam pertama Ramadhan di Bali saya lalui dengan penuh khidmat. Jamaah yang shalat di masjid juga rame. 
Jadi, kalo malam saya memang menjadi Imam di Masjid, kemudian stay di salah satu rumah yang sudah disediakan untuk saya selama di Bali plus dengan kendaraan. Saya stay di salah satu rumah warga, Pak H. Qomari namanya. He is a nice guy, a good person. I'm lucky to know him. Melancong di Bali lebih leluasa dengan sepeda motor. Nah, kalo siang hari, saya memang sudah niatkan untuk berkeliling selama satu bulan di Bali. Yah, berkeliling semampunya saja, toh, nggak usah yang ribet-ribet. Kan lagi puasa, jadi hemat energi.
Hari pertama Ramadhan ini, setelah tadarus Al Qur’an habis dzuhur, saya pergi ke Pantai Pandawa yang tidak jauh dari tempat saya tinggal. Dengan mengendarai sepeda motor, saya melaju dengan santai menuju Pandawa. Kebetulan akhir tahun 2013 saya sudah pernah ke Bali selama 9 hari, jadi masih cukup ingat jalan-jalan di Bali. Jadi nggak ada yang namanya nyasar di jalan.
temen mandi di pantai pandawa
Di Pandawa, saya bertemu dengan anak-anak asli Bali, berkenalan satu sama lain, kemudian kami mendorong sebuah perahu kayu yang ada di Pinggir menuju laut, selanjutnya kami menikmati deburan omba sambil tertawa riang bersama-sama, kejar-kejaran satu sama lain, loncat sesuka hati, berteriak seolah hanya kami saja di Pantai Pandawa yang semakin ramai dikunjungi dari Tahun ke Tahun.
Dulu, zaman saya pertama kali ke Bali, Pantai Pandawa belum seramai sekarang. Meski sekarang masih proses pembangunan di sana-sini, tidak mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung ke pantai yang memiliki tekstur pasir yang lembut dan berwarna putih bersih ini. Pantai ini dulunya sering disebut sebagai secret beach, karena memang berada di balik dua tebing raksasa yang menjulang tinggi yang sekarang sedang dalam proses pengerukan demi menciptakan pemandangan yang lebih menawan. Pantai ini terletak di Bali Selatan, tepatnya di Desa Kutuh, Kecamatan Kutu Selatan, Kabupaten Badung-Bali.
Di pantai ini, ada banyak patung-patung berukuran besar di dinding tebing yang diukir dengan cantik oleh para seniman Bali. Saya tidak terlalu suka memotret yang lain, makanya saya lebih fokus ke pantai saja. Seperti biasa, berkunjung ke pantai kalo nggak mandi itu rasanya seperti ngungkapin janji tapi nggak ditepati. Makanya saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan berenang, mainan pasir, dan tentu saja leyeh-leyeh di pinggir pantai.
Maka nikmat Tuhan mana lagi yang mau saya dustai? Sudah dapat akomodasi gratis, bisa berdakwah juga, bisa melancong juga selama di Bali dan bertemu dengan aneka ragam orang. Masa iya udah dikasih nikmat seperti ini saya nggak bersyukur, itu namanya keterlaluan. Selain menjadi Imam di Nusa Dua, saya juga bakalan mengajar ngaji anak-anak di sini, sekaligus mengisi beberapa kajian kesilaman gitu, deh.
Salam dari Nusa Dua, ya, semoga kita semua menjadi hamba yang lebih baik lagi, semoga Ramadhan kali ini menjadikan kita semua pribadi yang lebih bersyukur dan mentaati semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. *abaikan posisi kaki yang nggak sopan*

June 02, 2015

Menerawang Surga di Gili Terawangan

Awal tahun 2015, saya berlibur ke Gili Terawangan bersama 3 sahabat saya asal Rusia; Renat, Farkhad dan istrinya. Terawangan berada di Lombok utara, dari Senggigi kurang lebih 45 menit perjalanan dengan menggunakan taxi. Jika sudah sampai Gerbang Gapura Bangsal, kita bisa melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan penyeberangan Bangsal dengan menggunakan Cidomo. Untuk menuju ke Gili Terawangan, kita bisa menggunakan public boat atau jika punya uang lebih bisa juga menggunakan private boat. Berhubung kami ini mahasiswa yang demen jalan-jalan murah, maka public boat tentu menjadi pilihan tepat. Kami hanya perlu membayar 13.000,/orang untuk bisa sampai ke Gili Terawangan. Lama penyeberangan dari pelabuhan Bangsal ke Terawangan kurang lebih memakan waktu 30 menit.
            Embusan angin yang kencang, bulir-bulir air laut yang mengenai wajah menjadi penyejuk perjalanan kami menuju Terawangan. Renat duduk di samping saya sambil menutupi wajahnya dengan handuk kecil. Tidak jauh dari tempat duduk saya, istri Farkhad bersandar pada pundak sang suami. Pemandangan yang sukses membuat pemuda jomblo seperti saya ini berteriak keras tanpa suara. Ada yang mau memberi saya pundak untuk bersandar?
Here we are, Gili Terawangan. Sangat menakjubkan pemandangan di pulau ini, pasir putih yang kemilau, deburan ombak yang seirama dengan tiupan angin, birunya laut yang membentang hingga menuju cakrawala, serta biota laut yang aneka ragam, rasanya menjadi pilihan tepat untuk berlibur bersama orang-orang terkasih. Kami stay di salah satu hostel, istirahat sebentar kemudian langsung menyewa sepeda untuk mengelilingi pulau. Jika ingin mengelilingi pulau ini, kita bisa menyewa sepeda, atau jika punya banyak waktu bisa juga dengan berjalan kaki. Hanya butuh waktu kurang lebih 45 menit untuk bisa mengelilingi Terawangan. You should around the island.
            Kami berkeliling sambil bercanda ria, Farkhad dan saya balapan sepeda, sampai lupa dengan Renat yang sibuk memperbaiki sepedanya yang bermasalah. Istri Farkhad masih tertinggal jauh di belakang. Saya memutar balik sepeda, kemudian menghampiri Renat yang sedang memperbaiki rantai sepeda. Kami melanjutkan perjalanan, mengelilingi pulau sambil bercanda ria. Renat suka usil, dia suka menabrak roda sepeda bagian belakang sambil tertawa. Jadi lebih baik menjauh ketimbang terus-terusan ditabrak sama dia.
            Kami duduk di bibir pantai, melihat sunset sambil berbincang. Sesekali butiran pasir menjadi mainan tangan-tangan kami. Kami beranjak menjauh dari bibir pantai ketika adzan maghrib berkumandang, bergegas menuju masjid kemudian kembali ke hostel. Saya dan Renat menginap di kamar yang sama, sedangkan Farkhad dan istrinya di kamar yang lain.
            Setelah shalat isya, kami menikmati makan malam di salah satu rumah makan yang berada di pinggir pantai sambil mendengar deru ombak yang berlabuh, merasakan embusan angin pantai yang dingin menusuk kulit. Suasana malam hari di Terawangan cukup ramai, banyak wisawatan mancanegara yang berdatangan ke pulau ini. Ini menunjukkan betapa Terawangan sudah menjadi destinasi wisata yang menakjubkan, bukan?.
            Kami melanjutkan kebersamaan dengan duduk di beberapa kursi yang berada di pinggir pantai, Renat asik merekam ombak yang berkejaran. Farkhad dan istrinya sibuk mengabadikan suasana malam. Sedangkan saya hanya duduk sambil melihat rembulan yang bersinar terang ditemani bintang-bintang. Setelah dirasa cukup larut, kami kembali ke Hostel, istirahat.
            Habis subuh, Renat sudah menarik selimut untuk kembali tidur, namun gagal, karena saya mengajaknya melihat matahari terbit dari atas bukit. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Rusia memang menimbulkan jetlag, makanya Renat sering molor habis subuh. Meski masih mengantuk, kami berdua naik ke atas bukit yang kebetulan tidak jauh dari hostel kami menginap. Ada anak tangga yang bisa dinaiki untuk sampai ke puncak bukit. Kami duduk, sambil merekam suasana pagi yang damai.
Finally, matahari terbit, saya mengabadikan matahari yang muncul perlahan, menampakkan keindahan dari peraduannya. Semburat kuning keemasan nan cantik membuat saya terkesima dengan suasana pagi hari dari ketinggian. Setelah dirasa cukup, kami pergi ke dermaga yang masih sepi, hanya kami berdua. Tidak berapa lama kemudian, ada seorang turis asal Australia ikut nimbrung. Dia sempat bercerita tentang pengalamannya berkunjung ke Rusia dan betapa dia tidak suka dengan orang Rusia, padahal di samping saya ada Renat yang asli Rusia. Saya cuma nyengir mendengar ceritanya tentang Rusia. Untung Renat tidak terlalu paham bahasa Inggris, jika paham, wah, bisa berbahaya. Renat lebih lancar berkomunikasi dengan bahasa Arab ketimbang bahasa Inggris.
            Tiba-tiba perut saya mules, saya membiarkan Renat berbincang seadanya bersama turis asal Australia tersebut. Saya kembali ke Hostel, bersemedi di kamar mandi, kemudian membawa sarapan ke dermaga, bermandikan sinar mentari pagi yang hangat. Saya baru sadar, ada banyak ikan-ikan yang terlihat jelas dari atas dermaga. Jatah sarapan pagi akhirnya kami gunakan untuk memberi makan ikan-ikan kecil yang berkerumun. Pemandangan yang sangat menarik. Renat turun, kemudian merekam ikan-ikan yang berkerumun, menikmati umpan yang kami berikan. Sambil menjejakkan kaki di air laut dan memberi makan ikan, saya baru memberitahu Renat tentang apa yang disampaikan turis asal Australia tadi. Renat terkekeh.
Perut saya sepertinya sangat tidak bersahabat pagi ini, rencana untuk snorkelling ke tiga gili dibatalkan. Padahal saya sudah memberikan kesempatan kepada tiga sahabat saya untuk pergi meski tanpa saya, tapi mereka tidak mau pergi. Jadilah agendanya istirahat di kamar.
            “Renat, why don’t you go with Farkhad and his wife to do snorkelling? I’m ok, i will stay here until you come back.”
            “Rian, stop telling me that, i will not leave you here. You are not feeling well, i will stay here with you.”
            See? Renat is a good friend. Karena kondisi perut yang sedang tidak baik, saya memilih untuk tidur, Renat juga molor.
            Siang menjelang sore, kondisi perut saya sudah mulai lebik baik, kami memutuskan untuk snorkelling di sekitar Terawangan. Ada banyak spot yang bisa dijadikan tempat untuk snorkelling. Ini merupakan pengalaman pertama saya melakukan snorkelling. Well, berhubung ini adalah pengalaman pertama, maka banyak hal yang perlu dipelajari. Beberapa kali hidung saya kemasukan air, bahkan sempat minum air laut. Saya minum air laut bukan karena haus, loh, ya, itu karena kesalahan memasang perlengkapan snorkelling. Biasalah, namanya juga baru pertama kali. Renat sudah jauh banget, rada ke tengah, Farkhad dan istrinya juga sudah lumayan jauh. Saya? Oh, tenang, saya masih semangat di pinggir. Cukup lama kami snorkelling.
“I found a big turtle,” ucap Renat sambil menghampiri saya yang sudah lebih dahulu istirahat di pinggir sambil membaca buku.
“A turtle? Why don’t you take the turtle and bring it here? we can sell it,” canda saya sambil tertawa. Renat duduk di samping sambil memberi saya air mineral. Kami berempat istirahat sejenak. Tidak lama berselang, kami pulang ke penginapan untuk istirahat dan bersih-bersih badan yang super lengket.
            Jarum jam di tangan sudah menunjukkan pukul lima sore, kami memacu sepeda penuh semangat, berkeliling pulau dan mampir ke beberapa toko kesenian, melihat beberapa barang yang memungkinkan untuk dibeli. Kami menunggu sunset, kemudian sibuk foto-foto, istri Farkhad yang menjadi tukang foto. Loncat sana-sini sambil teriak kemudian tertawa lepas. Duh, ini nih yang namanya bahagia, memiliki teman seperjalanan yang mengagumkan. Farkhad juga tipe kawan yang nyambung kalo diajak ngobrol, dan jelas-jelas suka iseng.
Di perjalanan pulang, iseng saya kambuh. Saya turun dari sepeda, bergaya seolah-olah sedang berjualan sambil mendorong sepeda, kemudian berbicara laiknya orang Madura. Kalian tahu, kan, bagaimana gaya bicara orang Madura?
“Ice cream,… ice cream… ice cream…sate..te..sate.. bakso..bakso”
Saya mengulangi ucapan tersebut berkali-kali sepanjang jalan, banyak orang yang melongo dan saya cuek. Ada turis yang ikutan nimbrung kemudian dengan suara lantang, dia berteriak, “transport,….transport….transport…” lalu kami tertawa lepas tanpa beban.
Setelah selesai dengan adegan tertawa, kami pulang untuk shalat maghrib di masjid, lalu mencari makan malam di pinggir pantai. Ada banyak pilihan menu yang tersedia, asal siap makan dan kamu kuat bayar. Renat dan saya memesan ikan bakar, Farkhad dan istrinya memesan ayam dan daging sapi. Malam semakin larut, saya memilih untuk segera tidur, Renat duduk di luar kamar sambil melakukan video call melalui skype.
Suara adzan subuh menjadi daya tarik tersendiri di pulau ini. Saya bergegas pergi ke masjid. Hari ini merupakan hari terakhir saya di Gili Terawangan, karena jam dua siang saya harus kembali ke Lombok. Penerbangan saya besok jam 11 siang. Jika ditempuh dari Gili Terawangan, saya takut terlambat, karena lokasi Terawangan dan airport cukup jauh. Saya memilih untuk menginap di guest house yang ada di Mataram, bertemu dengan teman-teman lombok backpackers.
Farkhad, take care of Renat, don’t let him jump from the bridge,” pesan saya ke Farkhad dan dia langsung tertawa. Tiga sahabat saya akan menghabiskan beberapa hari lagi di Terawangan, sementara saya sudah harus kembali ke Malang.
Setelah berkeliling pulau di pagi hari, kami mengembalikan sepeda ke tempat penyewaan. Kami berjalan kaki bareng-bareng kemudian nyebur ke laut. Ada perahu yang sedang bertengger di bibir pantai, saya naik di atasnya kemudian lompat dan teriak sekuat-kuatnya. Tidak lama kemudian pemilik perahu datang dan melarang saya melompat dari atasnya. Kulit sudah semakin gelap, memang dari sononya gelap, jadi tidak perlu komentar masalah warna kulit, ya.
“I wanna have skin like yours,” ucap Farkhad. Yaelah, masa iya mau punya kulit seperti punya saya. Sambil menepuk pundak saya, Farkhad berucap“Rian, Why don’t you stay here with us?”
“I can’t stay here with you, I’m going to go to Malang. Maybe next holiday we will go together to Komodo Island. I really wanna go there.”
“Farkhad, Renat is my assistant, tell him if you need anything, he will do it for you.” Ucap saya sambil menepuk pundak Renat yang duduk di samping saya sambil menunggu boat yang akan membawa saya ke Bangsal. Yang diomongin cuma senyum. Saatnya berpelukan dan berpisah.

Suatu perjalanan menjadi begitu bermakna, ketika dilalui dengan sepenuh hati, apalagi ditemani orang-orang yang dekat dengan kita. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dalam setiap perjalanan, bukan? Kebersamaan yang penuh canda tawa, dan tentu saja mengagumi ciptaan Sang Pencipta yang tiada tara. Keindahan alam raya mengajarkan kita betapa Tuhan Mahabaik pada hamba-Nya. Mari menjelajah negeri dan menjaga keindahan nusantara. Indonesia itu indah, begitupun dunia.