New Post!

Dear Faris

Dear Faris
Buku Terbaru

New Catatan Hati Sang Guru

New Catatan Hati Sang Guru
New CHSG

Blog Archive

Kategori

Powered by Blogger.

Followers

Warung Blogger

Warung Blogger
Yuk Ngopi Bareng

Total Pageviews

Bidadari Surgaku


“Aku ingin menikah, Bu,” ucapku sambil menatap wajah ibu yang ada di hadapanku. Teknologi membuatku bisa menghabiskan beberapa jam waktu luangku untuk berbincang dengan ibu dengan aplikasi skype.
“Dengan siapa? Apa dia orang Indonesia juga?” selidiknya ingin tahu. Aku mengangguk.
“Tapi dia keturunan Arab, Bu. Kami sama-sama sedang menempuh pendidikan Doktoral disini. Aku sama sekali tidak pernah berbincang dengannya, aku hanya pernah bertemu di kajian minggu dua atau tiga kali. Seorang sahabatku yang mencoba untuk mengenalinya lebih jauh, keluarga, latar belakang pendidikan agamanya dan juga budi pekertinya. Aku yakin akan segera menemuinya, dan menyatakan keinginanku untuk menikah dengannya.”
“Jadi, dia belum tahu apa yang kamu rasakan?”
Aku menggeleng, sambil tersenyum.
“Kamu itu sama saja dengan bapakmu. Dulu, waktu bapakmu melamar ibu, karena pernah melihat ibu mengisi kegiatan remaja di salah satu sekolah. Hanya satu kali melihat dan entah dari mana ia tahu banyak tentang ibu, kemudian datang dan melamar ibu.” Ibu bercerita tentang masa lalu, mengenang kembali tentang ia, laki-laki berusia senja yang baru dua tahun pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Aku tidak bisa kembali ke tanah air kala itu, karena sedang menempuh study di Melbourne, Australia.
Aku tersenyum, kemudian melemparkan pandangan ke luar jendela, melihat bulir-bulir salju yang mulai menggunung. Salju semakin mendinginkan hatiku yang sedang hangat terbakar cinta yang aku sendiri tak tahu bagaimana caranya membuat rasa itu teduh, selain bertemu dengan-Nya dalam sujud demi sujudku di malam yang sunyi.
“Fatih….” Suara ibu mengagetkanku yang sempat melamun seorang diri. Kulihat ibu tersenyum di hadapanku.
“Jika memang kamu sudah siap, ibu hanya bisa berdoa, semoga Tuhan memberikan yang terbaik bagimu, Nak.”
“Amin.”
“Jangan lupa istirahat. Kamu butuh istirahat yang cukup, jangan terus-terusan dipaksa untuk menyelesaikan disertasimu kalo sudah capek. Kamu semakin kurus, Nak.”
“Ibu jangan khawatir, aku baik-baik saja disini, Australia tidak bersikap kejam padaku.”
Kami sama-sama tersenyum, dan wajah ibu pun menghilang dari layar laptopku. Aku kembali melemparkan pandangan ke luar apartemenku, melihat ke ujung jalan yang berjarak dua blok dari apartemenku. Kulihat beberapa orang sedang duduk di pinggir jalan, sambil melempar sesuatu ke tumpukan salju yang menggunung. Mereka mengingatkanku akan kenangan saat pertama kali menyentuh salju
Ada banyak yang kurindukan dari negeriku, aku merindukan suara adzan yang membangunkanku kala terlelap dalam tidur, aku merindukan suara riuh anak-anak didikku yang sudah tiga tahun lebih tidak pernah bertemu denganku. Pihak sekolah beberapa kali menghubungiku melalui skype, dan mengizinkanku berbicara di hadapan anak-anak yang ada di kelas. Mereka berteriak kegirangan saat melihatku di layar, bahkan ada yang berdiri dan ingin menjabat tanganku, seolah aku berada disana. Aku kerap kali terpingkal melihat tingkah mereka yang lucu.
“Mengapa kamu tidak menjadi dosen saja, Fatih?” Tanya seorang temanku beberapa waktu lalu.
“Aku terlalu jatuh hati pada anak-anak,” jawabku singkat.
**
Aku sudah duduk di ruang tamu apartemen Najwa, ditemani oleh dua sahabatku yang sama-sama dari Indonesia. Kulihat Abi dan Umi Najwa menatapku hangat, tersenyum dan memersilahkanku untuk menyeruput segelas teh hangat yang telah tersaji sejak kedatanganku beberapa menit yang lalu. Mereka memang kerap kali mengunjungi putri mereka yang cuma satu-satunya. Indonesia dan Negeri Kangguru seolah tak berjarak, mereka bisa dengan kapan saja mengunjungi Najwa disini.
“Sebentar lagi Najwa pulang, tadi dia ada tugas mendadak, menggantikan supervisornya untuk mengajar di program sarjana.” Abi Najwa mencoba untuk menghangatkan suasana yang terkesan terlalu formal.
Suara seseorang mengetuk pintu, terdengar ucapan salamnya, suara yang sudah beberapa waktu kuhapal dengan baik. Aku mengenali suaranya yang lembut dan meneduhkan. Mungkin itu salah satu dari sekian banyak alasan hatiku memilihnya.

Wahai bidadari surgaku
Telah kusebut namamu dalam doa-doaku
Sebuah harap semoga kita bisa bersama
Membangun rumah tangga menuju surga-Nya

Tidak perlu menunggu lama, Najwa sudah bergabung bersama kami di ruang tamu. Aku langsung pada inti pembicaraan, menyampaikan rasa yang sudah sekian lama kupendam, aku mencintainya. Aku ingin menikah dengannya.
Najwa mendengarkan ucapanku dengan tetap tersenyum, dan aku tidak sanggup berlama-lama menatapnya. Aku beralih, melihat Abi dan Uminya yang ada di bagian kanan kursi panjang di ruangan ini.
“Najwa, kamu sudah mendengar keinginan Nak Fatih, Abi dan Umi menyerahkan sepenuhnya padamu,”
Najwa berbisik kepada Abinya beberapa saat dan membiarkan kami terdiam. Dua orang sahabat yang ada di samping kiri dan kananku tidak banyak membantuku. Mereka bak patung yang tak mampu angkat bicara.
“Fatih, Najwa menyampaikan satu syarat jika Nak Fatih ingin menikah dengannya. Laki-laki yang melamarnya harus hafal minimal 10 juz Al Quran. Kamu sanggup?”
Ada luka dan bahagia yang bersamaan datang di hatiku. Aku mencoba untuk tersenyum, meski di satu sisi aku tahu, bahwa sekarang belum waktunya bagiku untuk mengajak bidadari surgaku menikah denganku. Tapi aku masih memiliki harapan, harapan untuk bisa hidup bersama dengannya.
“Aku akan menunggumu, Mas Fatih. Datanglah, ketika syarat yang kuajukan telah terpenuhi.”
Aku mengangguk. Aku sadar, aku perlu perjuangan lebih untuk bisa menggapai ini semua. Aku hanya hafal juz 30 saja, itu artinya ada 9 juz lagi yang harus kuhafal demi menikah dengan Najwa.
**
Suasana di Kudus begitu ramai, banyak tamu yang berdatangan silih berganti, ziarah ke makam Sunan Kudus. Sudah seminggu aku berada disini, menjadi santri diusia yang sudah hampir kepala tiga. Setelah kelulusan program doktoralku di Australia, aku memilih untuk pulang ke tanah air, menemui Ibu di Bandung, kemudian meminta restunya untuk pergi ke Kudus demi menghafal Al Quran.
Aku kerap kali menangis, karena merasa kesulitan untuk menghafal Al Quran. Berbagai macam cara sudah kulakukan dalam sepekan terakhir, tapi masih saja sulit untuk menghafal.
Satu bulan berlalu, dan aku masih merasa sangat sulit untuk menghafal. Aku menemui Abah, pimpinan pesantren tahfidz tempatku mondok. Aku butuh pencerahan dari Abah. Abah menyambut kedatanganku hangat, ia memintaku untuk mengambil jubah putih miliknya, kemudian memersilahkanku duduk lesehan di atas karpet usang di ruang tamunya. Hidupnya sederhana, tapi tak pernah kulihat lelah di wajahnya. Seolah tak pernah habis waktunya untuk membimbing kami dalam menghafal Al Quran. Aku menjadi santri tertua dari sekian banyak santri binaannya.
“Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah meluruskan niatmu, Fatih.” Abah memberiku nasehat setelah mendengar apa yang menjadi alasanku dalam menghafal Al Quran. Kadang, kita memang perlu merasakan tamparan terlebih dahulu untuk menyadari sesuatu. aku merasa seolah-olah baru saja mendapatkan tamparan yang begitu kuat. Aku tertunduk malu, malu pada diri sendiri, malu pada Tuhan.
Hari-hariku berjalan seperti biasa, rutinitasku tidak banyak berubah, aku menghabiskan hari untuk menghafal dan terus menghafal. Masjid menara Kudus menjadi tempat favoritku dalam menghafal. Aku betah berlama-lama di rumah-Nya, sesuatu yang tidak bisa kurasakan ketika berada di Australia, karena masjid sangat jauh dari apartemenku. Aku suka melihat anak-anak kecil yang duduk di pojok masjid, menghafal ayat demi ayat-Nya. Kadang aku malu pada mereka, meski umur mereka masih di bawah sepuluh tahun, tapi banyak yang sudah hampir hafal 30 juz. Sedangkan aku? Di bulan ketiga ini, aku baru hafal 5 juz, setelah perjuangan yang tidak mudah.
Di akhir pekan, aku mengajar Bahasa Inggris bagi anak-anak di sekitar pesantren. Setidaknya aku masih punya kesibukan yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Inilah baktiku pada negeri ini.
Sudah hampir dua tahun berlalu, aku masih ingat dengan pertemuan kala itu, kala ia, yang kusebut sebagai bidadari surgaku mengajukan syarat untuk menjadi pendampingnya. Aku masih ingat dengan baik. Tapi, aku tidak ingin setengah-setengah dalam menghafal ayat-ayat-Nya. Aku telah jatuh cinta pada kalam-Nya dan meyakinkan diri untuk menyelesaikan hafalanku. Aku ingin menjadi seorang hafidzh, seseorang yang hafal Al Quran. Aku telah mendamba itu sejak hafalanku 10 juz. Aku sudah menghubungi Najwa dan Abinya. Kudengar ia tidak bisa menungguku lagi, ia akan segera menikah dengan orang lain. Tak apa, aku selalu percaya bahwa seseorang sedang bersiap diri untuk menerima lamaranku, meski belum kutemukan bidadari surgaku.

Teruntukmu yang masih tak nyata
Aku ada disini, menyiapkan diri menjadi pendamping hidupmu
Teruntukmu yang masih tak sanggup untuk kuraih
Aku percaya dengan janji-Nya
Laki-laki yang baik diperuntukkan bagi perempuan yang baik pula
Andai nanti kita berjumpa
Andai nanti telah kutemukan dirimu wahai bidadari surgaku
Semoga kita dipertemukan dalam cinta karena-Nya
Aku akan menikahimu
Bersiaplah bidadariku

Cinta adalah penerimaan yang tak terperi, meski tak selalu berbalas serupa, karena kita jarang sekali menang dalam urusan cinta, namun sakit hatinya pun tetap indah. Begitulah bagaimana Tuhan mengajarkan makna mencintai kepada hamba-Nya.

Manajemen Waktu

 Saya bukan tipe orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Saya paling tidak suka jika anak-anak terlambat masuk di jam pelajaran saya, saya tidak suka jika ada Guru yang menyerobot jam mengajar saya dikarenakan keasikan mengajar, mungkin. Intinya, saya tipe orang yang sangat peduli dengan waktu yang saya miliki.

Dulu, pernah saya dan anak-anak membuat rincian rutinitas kami sehari-hari. Misal, kalo dalam satu hari satu malam kita tidur selama 8 jam lamanya, maka dalam waktu satu bulan, kita sudah tidur kurang lebih 10 hari lamanya. Wuih, ngeri, nggak tuh? Kalo kita memiliki umur 60 tahun, berarti kita sudah tidur kurang lebih selama 20 tahun lamanya. Hikz… sungguh, andai tidur kita itu tidak dalam beribadah, sungguh banyak waktu kita hanya untuk tidur saja. Sangat tidak sebanding dengan waktu kita untuk beribadah kepada Allah Swt.

Saya kasih gambaran apa yang menjadi rutinitas harian saya.

Jam tidur saya jarang yang di atas pukul 22.00, saya usahakan selalu tidur tepat waktu, yaitu pukul 10 malam sampai dengan pukul 3.30 pagi. Saya bangun untuk shalat tahajud dan tadarus sampai pukul 04.30. setelah itu shalat berjemaah subuh di masjid, dilanjutkan dengan mengajar beberapa mahasiswa di pesantren mahasiswa mafaza sampai pukul 6 pagi. Setelah itu, persiapan ke sekolah. Saya baru berangkat ke sekolah pada pukul 6.20. dari pukul 6.30 sampai dengan pukul 14.30 saya berada di sekolah. Menjadi seorang pendidik, yang memang hal yang saya sukai.

  

Sepulang sekolah, saya istirahat selama kurang lebih satu jam lamanya di kamar, setelah ashar masih ada kegiatan lagi, yaitu les Bahasa Inggris (senin s/d Jumat) sampai pukul 5 sore. Setelah itu istirahat dan persiapan shalat maghrib dan isya berjemaah. Saya mengisi waktu antara maghrib dan isya untuk tadarus. Lepas isya, saya memiliki waktu untuk persiapan mengajar esok hari selama satu jam, kemudian waktu untuk membaca buku selama satu jam. Nah, saat sudah pukul 10, saya pun tidur.

Kurang lebih demikianlah yang menjadi rutinitas saya sehari-hari. Apa saya bosan? Itu manusiawi kalo pernah merasa jenuh. Tapi, karena ini sesuai dengan passion saya, dan apa yang saya lakukan adalah atas pilihan diri sendiri, saya pun menikmati kesibukan saya. Saya tidak mengeluh dengan rutinitas yang demikian. Karena ini adalah apa yang telah saya pilih. Saya yang sekarang merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang saya ambil sebelumnya, bukan?

Ada banyak hal yang saya takuti di dalam keseharian saya, saya takut shalat tidak tepat waktu, saya takut tidak terbangun untuk shalat tahajud, saya takut melewati hari tanpa tadarus Al Quran. Dan masih banyak lagi yang saya takuti. Pernah suatu ketika, saya hampir terlambat untuk shalat Isya berjemaah di masjid, dikarenakan lepas maghrib saya harus pergi dan saat akan kembali ke masjid, hujan deras mengguyur malam, saya tidak membawa jas hujan. Saya menunggu beberapa waktu hingga memungkinkan untuk pergi ke masjid demi shalat berjemaah, dan Alhamdulillah, Tuhan Mahabaik, memberikan saya kesempatan untuk selalu shalat berjemaah di masjid.


Saya malah kadang bingung sendiri jika terlalu banyak waktu luang. Dan saat akhir pekan, saya mempunyai kegiatan sosial, mulai dari menjadi pembicara akhir pekan, melakukan kunjungan ke panti asuhan, belajar mendongeng, atau hanya sekadar bermain bersama anak-anak yang ada di kampung-kampung yang saya kunjungi.

Bagi saya, waktu itu sangat berharga, saya tidak ingin waktu saya sia-sia begitu saja, tanpa melakukan kegiatan yang bermanfaat. Saya mengabdikan diri saya untuk menjadi seorang pendidik, mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi generasi muda yang shaleh/shalehah.

Saya selalu bilang ke beberapa mahasiswa yang saya ampu, hidup ini adalah pilihan, apa yang ada pada diri kita saat ini adalah hasil dari apa yang sudah kita pilih sebelumnya. Maka pilihlah menjadi pribadi shaleh berlimpah manfaat, yang menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah Swt.

Untuk bisa bahagia tidak meski harus menunggu kaya. Seberat apapun beban dalam hidup, saya harus menjalani hari dengan bahagia. Saya tidak mau jika hari-hari saya hanya dipenuhi oleh mengeluh akan apa yang saya rasakan. Andai kita sadar, bahwa tidak pernah ada hari yang sama yang kita lalui. Setiap harinya, kita selalu memiliki kesempatan yang berbeda dengan sebelumnya. Setiap hari, kita mendapati hari yang baru, yang berbeda dari sebelumnya. Maka lakukanlah semuanya dengan baik di hari itu. Tidak perlu menunggu sore jika memang bisa dikerjakan di pagi hari. Tidak perlu menunggu malam jika memang bisa dikerjakan di sore hari. Selalu berusaha untuk tidak menunda-nunda merupakan bagian dari konsistensi untuk mengatur waktu yang kita miliki agar bermanfaat, tidak terbuang sia-sia.

Saya aneh melihat mereka yang sehabis subuh malah molor, bukannya melakukan kegiatan yang bermanfaat. Saya kadang aneh melihat mereka yang ngorok selepas ashar, seolah tidak ada beban. Karena bagi saya, itu sama sekali sia-sia. Saya malah pusing kalo tidur lepas subuh, apalagi ashar.

Kadang, saya risih mendengar orang yang kerjaannya hanya mengeluh dengan apa yang dia lakukan, padahal dia tentu memiliki pilihan. Life is choice, to be awesome is a choice. Hidup hanya sekali, maka hidup seperti apa yang kamu inginkan?

Lakukanlah sesuatu yang sesuai dengan passion-mu. Ketika kamu jatuh cinta dengan apa yang kamu kerjakan, ketika itulah sebenarnya kamu memupuk passion yang ada pada dirimu. Lakukan apa yang kamu kerjakan dengan cinta, maka kamu pun akan bahagia dengan apa yang kamu miliki. Karena kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan apapun. Sebesar apapun gaji yang kamu terima, tapi kalo tidak bahagia menjalaninya? Apa kamu masih mau bertahan?

            Setiap detik yang kita lalui di dunia ini akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah swt. Maka, sudah sepantasnyalah kita memanfaatkan kesempatan hidup yang hanya sekali ini untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Mengutip ucapan Fatma Pasha di dalam novel 99 cahaya di langit eropa, 

“Jadilah agen muslim yang baik.”

Iya, jadilah muslim yang baik, yang selalu berusaha menebar kebaikan, meski orang lain bertindak sebaliknya.

Surat Pembaca Dear Faris

Sore ini, saya mendapat surat dari pembaca buku saya yang berjudul “Dear Faris”. Beberapa hari sebelumnya saya juga mendapat surat dari lima orang pembaca buku saya dan meminta saya untuk menemui mereka, mereka ingin mengundang saya dan berbincang santai. Mereka butuh motivasi, mereka butuh arahan agar bisa menjadi lebih baik lagi dalam menjalani hidup. Saya pun menyanggupi keinginan mereka, dengan syarat di akhir pekan, karena saya tidak bisa bepergian selain di akhir pekan.

Dan sore ini, kala hujan semakin menderas, seseorang mengetuk pintu kamar saya dan mengantar surat yang dibalut dengan amplop berwarna putih bersih, dan disana tertulis jelas ditujukan untuk saya. Saya membukanya perlahan, kemudian membaca surat singkat namun menyentuh hati.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Selamat malam Pak Ustadz Arian Sahidi, semoga Allah memberikan kesehatan untuk Ustadz.
Nama saya Okta, Ustadz. Setelah saya membaca novel “Dear Faris”, saya sangat terinspirasi dengan novel tersebut.

Awalnya, saya juga putus asa karena ditinggal kedua orang tua saya. Kedua orang tua saya meninggal karena kecelakaan maut yang terjadi pada saat saya kelas 6 SD. Waktu itu, saya sedang pergi ke mushala bersama nenek. Pas saya pulang, saya langsung mendengar kabar meninggalnya kedua orang tua saya. Pantesan, waktu berangkat ke mushala rasanya nggak niat banget. Orang tua saya meninggal di Jambi, Sumatra.

Sejak waktu itu, saya selalu tidak percaya kalau kenyataannya orang tua saya sudah tiada. Saya juga anak tunggal. Sebenarnya, saya punya saudara kembar, tapi tidak tahu dimana, dibawa oleh orang dan saya pun menjadi anak tunggal.

Tapi, setelah saya membaca novel Ustadz, saya selalu teringat kata ustadz “Bahwa kehilangan bukan berarti harus kehilangan semangat hidup”.

Terimakasih, ya, Ustadz, sudah menciptakan novel “Dear Faris” yang sangat menginspirasi saya.
Saya harap, suatu saat Ustadz bisa berkunjung ke asrama, dan kalo boleh, Okta dan teman-teman asrama ingin punya nomornya Ustadz Arian. Ditunggu balasannya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

**
Dear Okta, titip salam untukmu dan untuk teman-temanmu di asrama, ya.
Terimakasih sudah membaca buku saya, semoga bisa memberi inspirasi dalam hidup Mbak Okta. 

Kita memang tidak pernah bisa tahu, kapan Tuhan akan mengambil orang-orang yang kita cintai, bisa saja hari ini, esok, atau mungkin di waktu yang masih lama. Kita memang tidak pernah akan tahu, karena semua itu adalah rahasia Allah SWT.

Sebagai hamba-Nya, tugas kita adalah menghambakan diri sepenuh-Nya, menjalani kehidupan ini dengan baik, meski berbagai macam cobaan datang silih berganti. Sedalam apapun luka, Tuhan selalu menyediakan penawarnya. Nyatanya Tuhan tidak pernah memberi cobaan di luar batas kemampuan kita. Ia percaya, bahwa hamba-Nya pasti mampu menghadapi cobaan yang Ia berikan.

Saya belum pernah merasakan kehilangan Ayah maupun Ibu, jadi saya tidak terlalu paham betapa dalam luka yang engkau rasakan, tapi saya percaya, Mbak Okta bisa bertahan sampai hari ini karena keyakinan akan kehendak Tuhan. Inilah jalan hidup yang harus kita lalui, kita hanya bisa melakukan semuanya dengan baik, bahkan terbaik. Tuhan selalu ada bagi hamba-Nya.

Insya Allah, saya akan meluangkan waktu untuk bertemu dengan kalian semua di asrama, dan semoga pertemuan bisa segera terwujud, saling berbagi inspirasi, saling menguatkan satu sama lain. Karena, kadang kita hanya butuh didengarkan, tanpa perlu adanya penghakiman.

Terimakasih sudah mau berbagi cerita dengan saya, dan semoga saya bisa terus melahirkan karya-karya yang bisa memberi manfaat bagi ummat. Amin.

 

Inspirasi Akhir Pekan (You are unique)


Cerita inspirasi akhir pekan kali ini adalah menjadi pembicara motivasi remaja Islam. Setelah hampir satu bulan ini saya menerima undangan menjadi pembicara di akhir pekan, berbagai macam undangan pun berdatangan haha. Resikonya malah sekarang jadi lebih sibuk. Tapi sibuknya ini beda, sibuknya ini bikin bahagia dan tentunya penuh tantangan. Saya yang tidak terbiasa menjadi pembicara, sekarang kudu belajar banyak hal tentang bagaimana menjadi seorang public speaker, halah, ini rada susah ya ternyata. Padahal, saya sudah punya bakat ngomel sejak lahir wuehaha.

Akhir pekan kali ini saya menjadi pembicara di hadapan remaja Islam di dua tempat. Kemarin, Sabtu 5 April tepat pada pukul 20.15, saya mengisi motivasi bagi anak-anak SMA yang sedang bersiap diri menghadapi ujian nasional yang sebentar lagi bakalan mereka hadapi. Wuih… bicara di hadapan remaja muslim yang gedenya ngalahin saya itu rada deg-degan loh. Iya, ini curhat banget.


Sebelum tampil, saya harus latihan berulang kali agar bisa menyampaikan materi dengan baik dan tentunya bisa membangkitkan semangat mereka untuk bisa menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Nggak tanggung-tanggung, saya latihannya di atas masjid alias naik ke bagian atap masjid fatimatuzzahrah, kemudian langsung deh ngoceh serasa sedang berhadapan dengan para remaja yang sedang butuh amunisi dalam menghadapi perang.

Praktik dan adanya pengulangan-pengulangan yang saya lakukan cukup membantu rasa percaya diri saya dalam berhadapan dengan orang-orang baru. Yang awalnya suka canggung parah saat di panggung, sekarang sudah mulai sedikit percaya diri, tapi tetap nervous wuahha.


Saya punya kebiasaan unik nih kalo mau tampil jadi pembicara, kalo sedang nervous, saya bolak-balik ke toilet. Haha. Itu saya lakukan sebelum tampil tentunya hehe. Kan kalo udah tampil nggak mungkin dong saya bilang ke yang hadir kalo saya izin ke toilet #yakeles.
Setelah kemarin memberi motivasi ke anak-anak SMA yang akan menghadapi ujian nasional, tadi sore, pukul 17.00 saya mengisi motivasi remaja Islam di libero café, tempatnya nyaman. Saya berhadapan dengan anak-anak SMA IT Al Irsyad Purwokerto yang tergabung dalam sebuah perkumpulan yang mereka sebut PIK (Pusat Informasi dan Konselling).

Kali ini saya berbicara tentang “You Are Unique”. Saya ingin mereka paham bahwa mereka semua memiliki keunikan tersendiri. Setiap orang pasti memiliki keunikan yang mungkin saja tidak dimiliki oleh orang lain. Coba ingat nenek moyang kita, Nabi Adam as ketika diturunkan ke bumi, apakah Nabi Adam membawa bekal indomie goreng, duit? Hehe nggak, kan? Nah, meski demikian Nabi Adam bisa bertahan dan beranak pinak hingga kita sekarang. Lagian kalo Nabi Adam dikasih duit, mau dibeliin apa, coba? Wong belum ada siapa-siapa juga di permukaan bumi.


Allah Swt memberi bekal Nabi Adam as dengan akal pikiran serta seluruh potensi yang ada pada dirinya. Saya ingin remaja muslim menyadari bahwa mereka semua itu memiliki keunikan tersendiri. Ada potensi di diri mereka masing-masing. Tugas mereka adalah mengeruk potensi yang sudah ada pada diri mereka. Kadang saya sedih, melihat generasi muda muslim yang hanya sibuk membanggakan kehebatan orang lain hingga membuat ia lupa bahwa mereka juga punya potensi untuk jadi hebat.

Hidup adalah pilihan. Apa yang ada pada diri kita saat ini merupakan hasil dari pilihan pilihan yang telah kita ambil di masa lalu. Seseorang dihargai dengan pilihan-pilihan yang ia ambil di dalam hidupnya. Hidup hanya sekali saja, tidak ada yang kedua kalinya di dunia ini. Maka, kehidupan seperti apa yang mau kita ambil? Biasa saja? Atau menjadi pribadi yang shalih berlimpah manfaat?


Kadang kita perlu merasakan tamparan terlebih dahulu untuk bisa menyadari sesuatu, kadang kita perlu untuk menjadi pendengar tanpa perlu menanyakan kembali. Kadang kita perlu untuk mendengar dan mencoba untuk memahami bahwa orang lain memiliki keterbatasan dalam memahami apa-apa yang kita inginkan, perasaan kita dan potensi yang ada pada diri kita. Kitalah yang sebenarnya paling paham dengan potensi yang ada pada diri masing-masing. Orang lain hanyalah motivator dari luar, sedangkan motivasi terbesar itu ada di dalam diri kita.

Hidup adalah pilihan. Setelah kita mengerti bahwa “you are unique”, maka selanjutnya silahkan tentukan pilihan, mau diapakan potensi yang ada pada diri kita? Mau dibiarkan begitu saja tanpa dikembangkan alias dininabobokkan? Atau mau dikembangkan sehingga kita menjadi orang yang ahli di bidang tersebut? Semua tergantung pilihan seperti apa yang akan kita ambil. Mau bangkit atau terpuruk? Tentu, bangkit dan menjadi unggul adalah pilihan kita, bukan?


Izinkan saya mengutip beberapa kalimat dari salah satu buku karya Rian Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Pelajar Gaul, Pribadi Rasul, Prestasi Unggul” yang saya tulis rada acak:

Orang yang berani membuka kekurangan orang lain itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain itu tidak istimewa. Sebab, itu bisa dilakukan orang yang tidak punya apa-apa sekalipun. Akan tetapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri dan bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis lalu dibuat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon orang besar.
Mengubah diri dengan sadar juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak mengucap sepatah kata pun untuk perubahan itu. Perbuatannya sudah sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita dalam rangka memperbaiki diri akan membuat orang lain melihat dan merasakannya.
Memang, pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tetapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang lain. Makin lama, bekas itu akan membuat orang lain simpati dan terdorong untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Jadi, perubahan yang penting adalah merubah diri sendiri ke arah yang lbh baik. Siapapun bercita cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri.

Ssetelah kita mengerti tentang potensi yang ada pada diri kita, langkah selanjutnya adalah melakukan perubahan ke arah lebih baik lagi. Kita tidak bisa hanya berdiam diri, berharap semuanya bisa terjadi secara instan. Semua butuh perjuangan hebat untuk menghasilkan sesuatu yang hebat. Pilihan ada di tangan kita, bukan orang lain.

hidup seperti apa yang kamu inginkan?
**

Wah, ternyata saya bisa ngomong rada serius juga, ya di “Inspirasi Akhir Pekan” kali ini. Hehe.
Setelah selesai materi, selanjutnya adalah penampilan-penampilan, dilanjutkan dengan permainan, shalat maghrib berjemaah, santap malam bersama, kemudian ada stand up comedy yang sukses membuat saya terpingkal-pingkal karena lucu, dan tentu di bagian akhir, foto bersama menjadi salah satu agenda wajib dalam setiap kegiatan yang saya ikuti hehe.

Sampai jumpa di cerita inspirasi akhir pekan selanjutnya, ya. Pekan depan Insya Allah saya akan jumpa dengan pembaca buku saya yang berjudul “Dear Faris” J

- Copyright © 2013 Arian's Blog - Simple is beauty - Powered by Blogger - Redesign By YBC(Yahya's Blog Community) - Designed by Johanes Djogan -