April 24, 2015

The Concept of Friendship in Arab Culture

Hi, Good morning. I’m back, I have leisuretime, I do not have any task, so I can write post in my blog. I hope you will enjoy reading anything here, or maybe you want to ask me questions, just let me know, ok. You have my facebook, twitter, or email. Do not be shy haha, I am kidding, bro.
This morning, we are going to talk about the concept of friendship in Arab culture, do you know where Is the Arab World? You should open your book and try to find it if you really do not know. Haha. The Arab world stretches from Morocco across Northern Africa to the Persian Gulf. The Arab wolrd is more or less equal to the area known as the Middle East and North Africa (MENA). Although this excludes Somalia, Djibouti, and the Comoros Islands which are part of the Arab World.
One of my friends said “I do not really like Arab, no offense. Most of them are a bit arrogant. When I was young, I used to think Arab are humble. Now, I realize, out of 50, only one are humble. They made people stereotyped them, they took high pride in themselves and they race. Some that I know mention, they feel like other race are so slow that they should not mingle with them. Yes they are rich, they are from the prophet land, but they should not be too prideful.”
Ok, I do not want to talk about what my friend said to me. We are going to talk about something else haha, I just want to ask you a simple question, it’s a part of the concept of friendship in  Arab culture. I discussed about it with my friend when we were having lunch. I have a lot of friends from the Middle East in my University, and sometime I do not understand about their culture.
“Have you ever asked “Why do Arab people of the same gender hold hands?”
It happened to me a lot. Example, when I was in the Mall with my friend from the Middle East. We prayed maghrib and after that he hold my hands and kissed my cheek in front of Jamaah. he did that a lot, not just in the mosque, but also in public. That’s why I ask you this question. I do not feel comfortable with that.
We realize that we have different culture with Arab. In Indonesia, when you hold hands with the same sex in public, people will think that you are gay, but, in Arab world, you will see a lot of man hold hands with the same gender. Do you know why they do that? I tried to ask my friends from Saudi Arabia and he explained to me that Arab tradition is not like others. I tried to read a journal about Arab Culture. In Arab culture, a physical contact such as holding hands between people of the same sex considered a sign of affection without any sexual connotation. It’s considered a sign of warmest affection and respect – a sign of solid friendship.
Body language takes on extra significance in Arab culture. The body language is distinctly different and must be learned in order to effectively reinforce the intended message, and perhaps more importantly to not give unintended insults. Let me tell you about body language and greetings in Arab tradition:
Shake hands with right hand only at the beginning and end of visit, shakes hands longer but less firmly than in the West. Left hand grasps elbow. In fact, in Arab culture if a man chooses to not touch another in a greeting, it can be considered a sign of distance or rudeness. The same goes for women. Close friends or colleagues hug and kiss bot cheeks upon greeting. Kissing cheeks, long handshakes, and holding hands are meant to reflect friendship, peace, and equality. When it comes to strangers, they do not kiss cheeks or hold hands. Of course, greetings then would be more formal, such as a quick handshake and nod of the head. But, some people from Arab kiss cheeks or hold hands with people from other country, when they really know them. Placing a hand on your heart along with slight bow is a signed of resfect. This is usually done during greeting.
Loghandshakes, grasped elbows, even walking hand in hand by two males is common place in the Arab world. A considerable number of Arabs touch more between the same sex. They hold hands, hug each other. As Arab society condones the outward display of affection between male friends, one may see Arab men, even officials and military officers, holding hands as the walk together or otherwise converse with one another. If and individual Arab does not touch you, he does not like you-or he may be trying to restrain himself because you are not used to being touched. A full body embrace, accompanied with hugging, should not be initiated until you are sure that the Arab is a close friend. If the Arab initiates it, participate and consider yourself honored and/or accepted.
So, we may not judge them or you will be judged, because we have different culture. Rasulullah said on the hadith “Difference of opinion in my community is a mercy”.
“My feeling about seeing the World is that it’s going to change you necessarily, just the very fact of being out there and meeting people from different cultures and different ways of life.” (Ewan McGregor)

April 23, 2015

Suka Duka Masak Sendiri

Halo, selamat malam Jum’at, jangan lupa baca surat Al-Kahfi, ya *langsung ambil Qur’an karena belum baca*. Yuk merapat kesini, saya lagi mau cerita tentang hobi masak saya yang duh kalo diceritain semuanya bakalan enek deh kalian bacanya. Secara hobi masak saya ini sesuai dengan hobi makan saya yang ngalahin hobi baca saya *tutupin muka pake panci*.
Kita mulai dari cerita saya yang nggak bisa ngidupin kompor gas, bikin heboh temen satu kosan. Masa iya, orang ganteng (baca; ngaku ganteng) kayak saya ini nggak bisa ngidupin kompor gas, duh, parah. Itu belum seberapa, ya, masih ada banyak kisah absurd yang terjadi sejak saya mencoba untuk memasak sendiri menu makan sehari-hari.
Lanjut, setelah tragedi nggak bisa ngidupin kompor gas, selanjutnya adalah edisi bikin nasi goreng yang nyaris bikin muka saya memerah semerah bibir Angelina Jolie *lostfocus*. Jadi gini, ceritanya saya dan teman-teman mau bikin nasi goreng ala anak kos gitu. Selama ini yang ada dalam benak saya, setiap kali orang mau menggoreng nasi, nasinya kudu dicuci dulu, baru deh digoreng. Sesuai dengan apa yang ada di benak saya, maka tanpa Ba Bi Bu Ba, langsung deh saya kasih air untuk mencuci nasinya, kemudian ditiriskan dan dikasihkan ke teman yang lagi menggoreng bumbu. Karena melihat nasinya penuh keringat alias air, terciptalah percakapan yang sukses banget bikin saya kayak patung pancoran,
 “Loh, kok basah gitu nasinya,”
“Kan dicuci dulu nasinya,” jawab saya songong blas penuh percaya diri.
“Sejak kapan orang bikin nasi goreng pake dicuci dulu?”
Saya bengong hahaha. Oh jadi selama ini nggak dicuci dulu, toh? Hadeuh, kemana aja saya selama ini. Mau ditarok dimana muka saya di hadapan mertua #Hening. Ah yasudahlah, semua sudah terlanjur terjadi.
Next, saking lagi pengen banget bisa masak, saya kabur ke gramedia, obrak-abrik buku-buku menu yang ada disana, tapi nggak nemu resep simple yang mudah untuk diterapkan di kosan yang peralatannya nyaris nggak ada alias cuma alat-alat masak sederhana banget haha. Akhirnya pulang, nggak jadi beli, ngandalin smartphone dan Wifi di rumah tiap kali mau masak menu baru. Dan parahnya, dari sekian banyak resep yang sudah saya coba, belum ada satu pun yang sukses hahah. Dan saya itu suka aneh-aneh loh masaknya, teman kosan jadi was-was kalo saya yang masak.
Pernah suatu ketika, pengen bikin sambel telor doang, goreng telor sambil pegang HP karena membaca urutan apa saja yang dimasukin. Setelah dirasa lengkap, tiba-tiba mata saya tertuju pada susu Frisian Flag yang ada di dapur, iseng saya masukin susunya ke sambal telor yang sudah lumayan sukses itu, jadilah sambal plus susu, rasanya jangan ditanya, manis-manis pedas gimana gitu haha. Awalnya enak loh, ya, tapi beberapa menit kemudian sukses bikin teman pada pusing dan mual-mual. Oh saya jangan ditanya, mualnya suskes bikin saya muntah, haha. Berkat kejadian ini, tiap masak, saya sering iseng bilang ke teman kos “Kasih susu, yuk, biar enak” dan mereka bakalan ngetawain saya gitu wuahaha.
Senin Kamis saya dan teman biasanya puasa, jadi kadang mau bikin menu berbuka puasa yang spesial. Kadang saya berbelanja di supermarket untuk memenuhi isi dapur *halah*. Jadi saya pernah beli ayam rada banyak, lengkap dengan aneka bumbu, kemudian dimulailah perjuangan menyajikan menu berbuka istimewa, ada yang disambal, ada juga yang dijadiin opor. Sambal ayamnya masih rada mending, tapi opornya jadi super hancur haha, padahal ayamnya banyak banget, nggak habis oleh empat orang. Yang jelas, dari sekian banyak resep yang dicoba, bisa diitung pake jari deh yang berhasil.
Kalo sudah kesel gini, masak nggak berhasil alias gagal, rumah makan Arab menjadi pelarian karena deket dengan kos *sembunyiin dompet*. Meski nggak terlalu sering juga, sih, kadang sebulan sekali, kadang dua kali, kadang malah lebih, tergantung mood makan (padahal karena nguras isi dompet haha). Pas lagi makan bareng sama temen-temen, saya nyeletuk, “A perfect future husband is a man who’s able to cook” kemudian langsung diketawan Farkhad dan Renat.
Sejak mulai berusaha masak sendiri, rada jarang makan di luar kecuali weekend, karena hampir setiap weekend saya pasti nggak di rumah. Setiap Sabtu sore saya les bahasa Rusia dengan Renat (ayo sini saya ajarin bahasa Rusia haha), kemudian malamnya biasanya makan di luar, nginep di kamar Renat sampai Minggu. Pengeluaran bulanan saya jadi lebih hemat banget, lumayan buat menghemat uang yang tinggal sisa-sisa. Kemudian satu hal yang menjadi titik balik kesadaran yang luar biasa membuat saya sadar diri betapa selama ini saya kurang bersyukur. Untuk bisa menyajikan makanan di rumah, Ibu perlu berjuang sedemikian rupa, mulai dari masak nasi, bikin lauk pauk, kadang juga nyediain cemilan lain. Saya ngebayangin Ibu yang sejak saya masih bayi sampai sekarang itu selalu berusaha memberikan makanan terbaik yang ia bisa. Namun sayang, kadang saya nggak pernah terpikir ke arah sana, berusaha mengerti betapa Ibu melakukannya penuh perjuangan luar biasa, menyediakan makanan untuk kami satu keluarga.
Setiap kali menelpon Ibu, saya sering cerita menu apa saja yang sudah saya masak, kemudian banyak bertanya bagaimana masak ini itu, meski banyak yang belum dicoba, tapi saya senang, setidaknya ada pelajaran hidup yang bisa saya ambil dari usaha untuk menyediakan menu harian sendiri, tanpa harus bergantung pada warung makan yang menjamur.
Jadi, mulai sekarang, jangan pernah tidak menghargai hasil masakan Ibu, jangan karena masakannya nggak sesuai selera kalian, lantas kamu bilang sesuka hati ke Ibu, coba pikir lagi ketika kamu berada di posisi mereka, nggak mudah menyediakan menu yang berbeda dari waktu ke waktu. *Pengen lari ke pelukan Ibu saat ini juga, deh, merasa bersalah banget*

April 22, 2015

Pesona Pantai Linau

Pantai Linau Pas Idul Fitri (koleksi pribadi) 
Hi, gimana kabar kalian pagi ini? Semoga sehat selalu, ya. Coba perhatiin deh, tampilan blog saya sekarang makin keren, kan? Haha.
Anyway, kalian pernah mendengar Pantai Linau? Sini merapat, saya mau cerita mengenai salah satu pantai cantik menawan yang berada di Desa Linau, Kabupaten Kaur-Bengkulu. Sekilas tentang Kabupaten Kaur, Kaur merupakan sebuah Kabupaten yang wilayahnya memanjang dari Utara ke Selatan di sepanjang pesisir pantai Barat Pulau Sumatra, mulai dari perbatasan Bengkulu Selatan yaitu Jembatan Sulawangi sampai dengan jembatan air mengunglah di Kabupaten Lampung Barat berbatasan dengan Provinsi Lampung.
Di kabupaten Kaur ini terkenal dengan pesona pantainya yang cantik dan masih asri. Setiap kali ada hari-hari besar, banyak sekali wisatawan yang berdatangan ke pantai-pantai yang ada di Kaur, tidak jarang wisatawan mancanegara juga datang ke pantai-pantai yang berada di sepanjang kabupaten kaur. Sebagai orang yang lahir di Kaur, saya tentunya kenal akrab dengan yang namanya pantai, kenal akrab dengan yang namanya suara deburan ombak, makanya kulit saya jadi keren gini, maklum anak pantai *sembunyi di balik kaca jendela*.
Nelayan Sedang Sibuk dengan Perahunya (Koleksi Pribadi)
Baiklah, seperti yang saya tulis di awal, kalian mau saya ajak kenalan sama salah satu pantai andalan di Kaur yang dikenal dengan sebutan pantai Linau. Yang biasa bepergian dengan pesawat, harus sabar, ya, karena dari airport Bengkulu masih harus menempuh perjalanan menggunakan mobil kurang lebih 5 jam perjalanan. Maklum, di Kaur belum ada airport, masa iya kamu mau mendarat di laut, kalo tenggelam, kan, saya yang repot #plak
Setelah lima jam perjalanan dari Bengkulu, kalian akan tiba di Ibu Kota Kabupaten Kaur, yakni Bintuhan. Ih keren, ya, nama kotanya Bintuhan. Saya sendiri masih nggak tahu kenapa dikasih nama Bintuhan, mungkin saja karena orang-orang disini ganteng-ganteng kayak saya ini dan saya selalu berdoa semoga ganteng ini tidak menjadikan saya orang sombong hahahaha. Ok ini kebanyakan ngelantur. Di Bintuhan inilah tempat kalian bakalan stay di hotel-hotel yang menjamur di sepanjang kota. Jadi nggak usah takut nggak dapat tempat tinggal. Penginapan disini jangan samain sama hotel berbintang 5 di Bali, nggak bakalan nemu. Ya harap maklum, namanya juga Kabupaten Kecil, jadi fasilitas hotel palingan hotel melati doang sih. Itu juga udah keren sih.

Pantainya Bersih, pasirnya putih bersih (koleksi Pribadi)
Sejauh yang saya tahu, di Linau belum ada penginapan, jadi sebelum menjelalah Linau, mendingan cari penginapan dulu di Bintuhan, istirahat baru deh ke Linau. Tapi kata temen sudah ada warga yang menyediakan homestay di rumah-rumah mereka. Dari Bintuhan ke Pantai Linau itu palingan memakan waktu 15-20 menit pake sepeda motor. Kalian mau ngesot juga bisa, sih, asal kamunya kuat aja gitu ngesot di sepanjang jalan hehe.
Pantai Linau terletak di desa Linau, jadi nama Pantai diambil dari nama Desa. Pantai ini terletak di sisi jalan raya persis, jadi kamu nggak perlu menuruni terjalnya jurang atau sampai manggil-manggil Dewi Persik untuk bisa menikmati pantai ini. Karena pantainya terletak persis di sisi jalan raya, maka pantai ini menjadi tempat yang pas buat kalian untuk istirahat, menikmati deburan ombak, menghirup udara pantai yang sejuk. Di sepanjang garis pantai banyak pohon-pohon menjulang tinggi yang bisa dijadikan tempat berteduh, ya kali aja kamu takut gosong karena panas. Kalo saya sih emang udah gosong, jadi nggak perlu tempat bertedu, saya cuma butuh bahu untuk bersandar hahaha.
Selain pohon-pohon yang rindang, ada juga yang berjualan ikan-ikan segar hasil tangkapan para nelayan. Jadi kamu bisa menikmati sensasi ikan bakar yang lezat sambil menikmati birunya laut. Jangan takut kelaparan, ada banyak pedagang di sepanjang pantai. Selain warung-warung yang menjamur, pepohonan yang rimbun, ada juga dermaga yang saat ini sedang dalam proses pembangunan. Dermaga ini menjadi tempat singgahnya kapal-kapal besar yang mengangkut hasil bumi di Kaur. Dermaga ini menjadi tempat asik untuk ngongkrong di sore hari. Kalo kalian mau duduk-duduk santai di dermaga ini, saya sarankan ke sana habis ashar, biar cuacanya tidak terlalu panas.
ada pohon-pohon rindang (fokus ke pohon, ya, jangan ke kulit item saya) haha
Pasir Pantai Linau berwarna putih bersih, warna lautnya biru banget. Kalo hari-hari besar, seperti Idul Fitri atau Idul Adha, biasanya banyak nelayan yang menyediakan kapal bagi yang mau menikmati pantai sambil berkeliling dengan perahu-perahu kecil mereka. Cukup dengan membayar 5000 saja, kamu sudah duduk manis di atas perahu, mengikuti perahu yang beranjak ke tengah, kemudian berkeliling dan kembali ke pinggir pantai. Oh ya, masuk pantai ini GRATISSSS, emang ada yang lebih murah dari Gratis? :p
Senja di Pantai Linau
Sore hari saat matahari terbenam juga tidak kalah indah. Kalo kebetulan cuaca hari itu bagus, kamu bisa melihat cantiknya matahari saat terbenam. Kamu bisa duduk ongkang kaki di dermaga sambil menunggu matahari terbenam. Kalian juga bisa mancing dari atas dermaga, suasananya dijamin romantis, apalagi sama kekasih hati, aih, pasti romantis. Pokoknya jangan sampai lupa untuk menyaksikan matahari terbenam disini, meski tidak seindah matahari terbenam di Pantai Kuta Bali, tapi tidak ada salahnya mencoba.
adik gue foto di atas dermaga
Nah itu sekilas tentang Pantai Linau, ya, sebenarnya masih ada banyak pantai yang juga tidak kalah indah, seperti Pantai Waihawang, Pantai Merpas, Pantai Padang Guci, dan lain sebagainya. Selain pantai, sungai-sungai di Kaur juga masih bersih dan biasa dijadikan untuk berwisata bersama keluarga. Lain waktu saya akan menulis lebih lanjut tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi di Kabupaten Kaur. Sekarang sudah tahu, kan, kalo yang punya pantai cantik itu nggak cuma Bali atau Lombok, tapi Bengkulu juga punya *kemudian dilempar sandal*
Ya sudah, sampai jumpa di tulisan selanjutnya, saya mau masak dulu. Biasalah, orang ganteng kayak saya ini selalu rajin masak *melarikan diri ke pelukan Emak*.