New Post!

Dear Faris

Dear Faris
Buku Terbaru

New Catatan Hati Sang Guru

New Catatan Hati Sang Guru
New CHSG

Blog Archive

Kategori

Powered by Blogger.

Followers

Warung Blogger

Warung Blogger
Yuk Ngopi Bareng

Total Pageviews

What is your name?


Biasanya di tempat yang baru, pertanyaan ini tentu sering ditanyakan kepada rekan kerja, teman satu kampus, tetangga, dan lain sebagainya. Pertanyaan “siapa nama kamu?” seolah menjadi sebuah pertanyaan wajib diajukan demi mengakrabkan satu sama lain, demi sebuah harmoni keakraban yang bisa dirasakan ketika kita saling mengenal satu sama lain.
Ini juga yang saya alami sejak pertama kuliah S2 bahkan sampai hari ini, berusaha untuk mengenal satu sama lain, tidak hanya sebatas teman sekelas, tidak hanya sekadar teman satu fakultas yang jumlahnya sudah cukup banyak, tapi saya berusaha untuk berbaur satu sama lain, saling berbagi pengalaman, dan berusaha semaksimal mungkin bisa mengenal mereka lebih jauh, tidak hanya sekadar tahu nama saja, setelah itu sudah. Inilah sebenarnya yang sedang saya pelajari, bagaimana bisa berkomunikasi dengan berbagai macam orang yang tentu saja memiliki keunikan tersendiri. Saya yang awalnya tidak terlalu banyak berbincang dengan selain teman di kelas, kini mulai akrab dengan teman-teman yang lain, terutama anak-anak ICP (international class program)
“What is your name? I’m sorry, I tried to remember your name,” tanya ‘Adil, seorang mahasiswa asal Libia, saat bertemu dengan saya di depan pintu kelas, dia menatap lekat sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
Hening.
“Rayyan, right, your name is Rayyan?” ucapnya kemudian
Saya pun mengangguk. Biar saya jelaskan, mengapa sekarang saya dikenal dengan nama “Rayyan”, bukan “Rian” seperti sebelumnya. Saya sama sekali tidak mengubah nama di kartu identitas saya, sama sekali tidak ada rencana untuk merubah nama saya yang konon kalo diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sangat tidak baik artinya.
Nama “Rayyan” dipakai saat awal-awal saya berkenalan dengan sekian banyak mahasiswa asing di kampus, bukan maksud hati untuk mengubah nama, namun kelihatannya mereka lebih nyaman menggunakan nama itu saat memanggil saya, jadilah nama itu disematkan pada saya, tanpa ada sesajen dalam rangka mengubah nama (mendadak horror). Di kalangan mahasiswa dalam negeri nama saya tetap “Rian”, di kalangan mahasiswa asing, terutama yang berbahasa Arab, nama saya menjadi “Rayyan”, sedangkan di kalangan mahasiswa-mahasiswa Eropa, nama saya dipanggil “Ryan”, yupz, I have three names right now and you can choose one of these names :p
“Why they call you “Rayyan”, your name is “Ryan” not “Rayyan”,” komentar salah seorang teman, dan saya cuma tersenyum manis semanis madu (ok ini mulai lebay).
“My real name is “Rian” and you knew it, you call me “Ryan” because it’s not easy for you to mention that name, and I don’t care about that. You may call me “Ryan”, “Rian” or “Rayyan”, just don’t call me “Rihana”, jawab saya sambil tertawa, dan kami pun tertawa.
Apa sih pentingnya sebuah nama? Penting, tentu saja penting, karena itu adalah sebuah identitas. Namun, di kalangan orang tertentu, kadang nama kita tidak mudah untuk diucapkan, dan akhirnya kita dipanggil dengan panggilan yang sebenarnya bukan nama asli kita, namun selagi itu tidak masalah, saya sama sekali tidak keberatan.
Di dalam Handphone seorang teman, nama saya tertulis jelas dengan nama “Rayyan Syahid” dalam bahasa Arab dan saya tidak berkomentar apa-apa.
“Mengapa kamu tidak ganti nama saja?” ucap salah seorang teman yang kebetulan paham dengan arti nama saya jika dijadikan ke dalam bahasa Arab.
“Biarkan saja,” jawab saya sekenanya.
Saya termasuk yang sangat kesulitan dalam menghafal nama-nama, biasanya saya ingat dengan raut wajah seseorang dan kesulitan dalam mengingat nama. Ini sering saya alami. Pernah suatu ketika, dalam satu kelas, kami berbincang banyak dengan mahasiswa-mahasiswa Timur Tengah, dan kebanyakan nama mereka adalah “Ahmad” dan “Muhammad”, kebayang, dong, bagaimana sulitnya saya membedakan mana yang “Ahmad” dan mana yang “Muhammad” dan semuanya mau dipanggil sesuai dengan nama depan itu.
Ketika saya tanya kepada mereka, mengapa mereka memiliki nama yang hampir sama antara satu sama lain, jawaban mereka sama.
“Karena ini adalah nama Nabi Muhammad SAW., Nabi yang paling mulia yang pernah diutus oleh Allah.”
Nama adalah sebuah “doa”, sebuah harapan dari orang tua yang memberikan nama tersebut. Meski pada kenyataannya tidak semua orang tua paham dengan nama yang disematkan pada anak yang baru lahir. Saya tidak pernah menanyakan kepada Bapak dan Ibu tentang arti nama yang mereka berikan kepada saya sejak lahir, meski sebenarnya nama asli saya bukanlah “Arian Sahidi”, melainkan “Adrian Syahid” dan terjadi kesalahan dalam Ijazah ketika sekolah dasar dan akhirnya nama itu tetap dipakai sampai saat ini, di semua dokumen yang saya miliki, nama “Arian Sahidi” lah yang dipakai, bukan nama ketika lahir.
Mungkin, suatu saat jika saya berubah pikiran, saya akan mengganti nama saya dengan nama yang lain, tapi tidak untuk saat ini. Saya tidak mau menutup kemungkinan yang ada, bisa saja suatu ketika saya ingin merubah nama saya menjadi “Rayyan Syahid”, atau mungkin saya akan merubah nama saya menjadi “Muhammad Rayyan”, dan yang jelas saya tidak akan merubah nama saya menjadi “Rihanna” *kemudian dijitak*.
Baiklah, ini curcol banget isinya, setelah dua minggu terakhir tugas numpuk. Tulisan ini ditulis setelah sejak pagi sampai ashar bersemedi di perpustakaan mengerjakan tugas filsafat ilmu.  *nggak sempat diedit karena sudah capek dan mau pulang*

Sindrom Inferioritas Orang Indonesia Terhadap Bule



Inferioritas merupakan kebalikan dari superioritas (rasa percaya diri yang terlalu tinggi). Inferioritas itu adalah minder atau rasa rendah diri. Inferioritas adalah perasaan yang relatif tetap (persistent) tentang ketidakmampuan diri atau munculnya kecenderungan untuk merasa kurang atau menjadi kurang sehingga tidak bisa menunjukkan kebolehan secara optimal.
Baiklah, tulisan ini tidak akan menggunakan bahasa ilmiah layaknya tugas paper akhir semester yang sebentar lagi akan saya hadapi. Fiuhh..
Bukan rahasia lagi, betapa banyak wanita yang mengidamkan memiliki seorang suami yang punya tampang bule bak artis Hollywood di layar kaca. Rasanya, memiliki seorang suami yang punya tampang bule sudah menjadi semacam keinginan yang demikian hebat dan menjamur di kalangan wanita Indonesia, meski tidak semuanya demikian.
Saya sebenarnya tidak pernah ada niat menulis semua ini. Kalo tidak karena perbincangan antara saya, Renat dan ‘Athoullah di asrama kemarin malam, mungkin saja saya tidak akan pernah menulis ini, karena saya tahu tidak semua wanita Indonesia mendambakan suami yang punya tampang bule. Atau karena tidak semua orang yang memiliki suami bule hanya karena ingin memperbaiki keturunan alias ingin punya anak yang punya tampang ke-bule-bule-an. Karena nyatanya ada yang memang menikah dengan bule karena sama-sama menempuh study di Universitas yang sama kemudian jatuh cinta dan menikah.
“Ada banyak wanita Indonesia yang ingin menikah dengan saya,” ucap ‘Athoullah yang sedang menyelesaikan S2 nya di UIN Malang. Padahal tampangnya tidak seperti seperti orang eropa, lebih ke timur tengah.  
Saya melirik Renat yang sedang makan sate lengkap dengan aneka camilan lain di sampingnya. Memahami apa yang saya maksud, Renat pun memiliki pengalaman yang sama. Entah sudah berapa banyak wanita yang menurut mereka kadang membuat risih dan tidak nyaman. Jika bule yang sukanya mempermainkan wanita, rasanya sudah sekian banyak yang akan menjadi korban oleh Renat maupun ‘Athoullah, untungnya mereka adalah bule yang shaleh, yang sedang mempelajari Bahasa Arab di UIN Malang.
Ini hanyalah satu contoh kecil dari sekian banyak orang yang sudah datang ke tanah air ini, dan merasakan hal yang sama, bahwa kadang penduduk lokal terlalu mengagungkan orang-orang yang punya tampang “bule”, seolah mereka adalah artis papan atas yang perlu untuk dielu-elukan kehadirannya, perlu diteriaki untuk diminta foto bersama, seolah memiliki foto bersama “bule” adalah sebuah keberhasilan hebat. Kenapa orang-orang lokal sedemikian merendahnya di hadapan mereka? Apakah mereka memang memiliki derajat yang lebih tinggi dari kita? Tidak demikian, bukan? Lantas mengapa kita kadang merendahkan diri kita sendiri hanya karena berhadapan dengan seseorang yang punya embel-embel “bule”.
Dua hari yang lalu, seorang teman mengunjungi saya di asrama, kebetulan saya memang teman baik dengan Renat. Saya ajak teman saya ke kamar Renat, karena saya harus pamitan dulu sebelum pergi bersama teman yang menemui saya. Saya meletakkan tas di kamar Renat. Saat tahu bahwa teman-teman di kamar adalah “Bule”, muncullah keinginan teman saya ini untuk foto bareng dengan Renat setelah pertemuan saya dengannya. Saya pun langsung komentar,
“Please, nggak usah, ngapain juga sih pengen foto ama dia? Jangan bikin malu bangsa sendiri deh. Saya yang setiap hari ketemu dia nggak pernah foto bareng ama dia, nggak ada niatan juga, kecuali dalam momen tertentu yang memang dirasa perlu. Kalo cuma untuk share di media sosial punya foto bareng bule, duh, please, deh. Don’t do that.”
Ok, saya tahu komentar saya itu cukup tidak bijak, karena mungkin saja ia punya alasan lain selain alasan bangga bisa punya foto bareng ama “bule”. Saya punya banyak foto teman-teman bukan karena saya bangga karena punya teman mereka, tapi lebih kepada hobi saya mengabadikan kebersamaan saya dengan teman-teman manca Negara. Itu pun jarang ada saya ikut foto bareng mereka.
Saat sedang berada di Bali, kurang lebih 9 hari saya liburan akhir tahun 2013 di Bali,  saya kadang memandang rendah sekelompok anak muda yang berlarian menghampiri bule, kemudian minta foto bareng ama bule, setelah foto bareng kemudian berkerumun melihat hasil fotonya, dan saya yakin setelah itu akan di share di media sosial karena sudah berhasil memiliki foto bersama bule, kemudian teman-temannya bakalan komentar kalo mereka keren bisa foto bareng bule, kemudian fotonya kemungkinan juga bakalan dipasang di seabrek jejaring sosial mereka. Duh.
Saya dan Renat sering berbincang tentang ini, seperti cerita dia yang setiap ke kampus harus naik angkot dan banyak mengalami berbagai macam hal unik karena dia adalah seseorang yang berwajah “bule” dan memiliki kulit kemerah-merahan. Dan biasanya saya cuma komentar,
“Kalo ada yang minta foto bareng, cukup senyum aja, silahkan diladeni kalo memang mau, kalo nggak ya cukup senyum dan berlalu pergi.”
Biasanya Renat cuma nyengir mendengar komentar saya.
Di dunia kerja, orang asing memiliki gaji yang lebih tinggi ketimbang orang lokal, meski mereka memiliki tingkat pendidikan yang sama dan kinerja yang juga sama. Ini juga merupakan sebuah kejanggalan. Padahal, tidak sedikit juga orang lokal yang memiliki kemampuan yang lebih baik dari kaum ekspatriat ini. Hanya karena mereka adalah tenaga kerja asing, lantas mereka digaji sedemikian tinggi, bahkan jauh bila dibandingkan dengan orang-orang lokal. Ini merupakan sebuah fenomena yang sudah menjamur di tengah-tengah kita.
Apakah orang yang memiliki tampang ‘Bule” lantas artinya mereka lebih “hebat” dari kita? Lebih pintar? Lebih kaya? Tidak menjadi jaminan, bukan.
Kadang orang kita beranggapan bahwa orang-orang “bule” yang datang ke tanah air adalah orang yang kaya raya, yang sedang liburan dan menikmati keindahan Indonesia. Padahal, itu semua tidak menjadi jaminan. Banyak yang kerjanya cuma biasa-biasa saja. Pola pikir ini yang sebenarnya perlu dirubah.
Ketika sedang berada di Jogja, saat saya, Ansi dan Jonash yang dari Finland sedang liburan bersama, saya sampai malu sendiri dengan kedua teman saya ini, saat mereka bercerita betapa warga lokal terkadang “rasis” tiap kali bertemu dengan orang asing. Dan saya hanya berkomentar tentang kemungkinan adanya rasa ingin tahu warga lokal tentang para turis mancanegara.
Merasa demikian, saat berlibur ke jogja untuk kesekian kalinya, saya akhirnya memutuskan untuk berbahasa Inggris saat mengunjungi candi Borobudur, dan kalian tahu apa yang terjadi? Hanya karena saya berbahasa Inggris, kemudian ketika ditanya saya jawab bahwa saya berasal dari Negara tetangga, yaitu Malaysia, sekelompok anak mudah berkerumun dan minta foto bareng saya, merasa aneh? Banget. Setelah mereka minta foto bareng dengan saya yang jelas-jelas nggak ada tampang bule, saya menghampiri mereka dan menjelaskan bahwa saya bukan dari Malaysia dan saya bisa berbahasa Indonesia, mereka pun langsung loyo, alias nggak se-excited saat tahu bahwa saya adalah orang asing.
Saat makan malam bersama Renat di kantin asrama, semua mata seolah tertuju pada dia, dan saya seolah hanya makhluk alien yang keberadaannya tidak dianggap. Semua telinga seolah sedang berusaha mendengarkan apa yang sedang saya perbincangkan dengan Renat, dan saya pun risih.
Saat masih menjadi Guru, saya beberapa kali menjadi pendamping “bule” yang diundang oleh pihak sekolah untuk mengajar anak-anak agar lebih berani dalam berbahasa Inggris dan saya menyaksikan riuh yang luar biasa saat anak-anak minta foto satu persatu atau bahkan rame-rame bersamaan dengan teman masing-masing, dan saya hanya terdiam di pojokan, sambil berusaha menertibkan suasana.
Intinya begini, tidak perlulah kita sedemikian mengagungkan mereka yang punya tampang “bule”, cukup bersikap baik, sopan, dan tunjukkan pada dunia bahwa kita adalah Negara yang bermartabat, bukan rendahan, dimana wanitanya dijadikan pelampiasan nafsu para “bule” karena mereka beranggapan bahwa mendapatkan wanita lokal adalah semudah menjentikkan jari di hadapan para wanita. Sementara di Negara mereka sendiri, belum tentu ada yang melirik mereka, sedangkan disini mereka diagung-agungkan sedemikian rupa.
Coba bayangkan kalo kita yang berada di Negara mereka, apa mereka mengelu-elukan kita seperti ketika mereka datang ke Negara kita? Belum tentu, bukan. Atau bahkan bisa saja keberadaan kita sama saja dengan tidak adanya kita di tengah-tengah mereka.
Kita adalah bangsa yang cukup besar, kita bisa bermartabat di mata dunia ketika kita berusaha untuk menghargai apa yang ada di negeri ini. Jangan malah terbalik, kita kadang lebih menghargai orang asing ketimbang warga Negara yang menjadi teman kita hidup di Negara kita tercinta. 

Menikah Muda


Berbicara tentang fenomena menikah muda rasanya sudah bukan hal baru lagi, ada sekian banyak artikel bahkan buku yang menjelaskan tentang keutamaan menikah di usia muda, bahkan ada buku-buku yang terkesan mengompori kaula muda yang masih bertahan dengan kesendirian mereka agar segera menikah. Tidak sedikit yang akhirnya memilih untuk segera menikah setelah mendengar tausiah dari seorang Ustadz tentang keutamaan menikah, tidak sedikit juga yang segera mencari pasangan hidup setelah membaca buku yang isinya tentang hal-hal yang berkaitan dengan menikah muda.
Bagaimana dengan saya? Mengapa di usia yang sudah seperempat abad ini saya masih bertahan dengan kesendirian? Bukankah sudah seharusnya saya menikah di usia yang sekarang?
Bagi saya pribadi, saya tidak pernah mempermasalahkan seseorang menikah di usia berapa pun. Saya percaya masing-masing orang memiliki target hidup dan rencana tersendiri di dalam hidup mereka, maka saya tidak suka mempertanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan hal yang demikian. Karena bagi orang-orang tertentu, pertanyaan demikian tidaklah perlu untuk diajukan kepada mereka, bahkan bagi orang tertentu, pertanyaan “kapan menikah?” dan semisalnya adalah pertanyaan sensitif yang seharusnya cukup dipertanyakan di dalam hati saja.
Saya punya teman yang kerjaannya komentar sana-sini, dan kebanyakan komentarnya tidak positif tentang saya, misal saat saya memutuskan untuk melanjutkan S2, atau tentang status saya yang sampai hari ini masih single, semua menarik baginya untuk dikomentari. Bagi saya, pertanyaan seputar demikian adalah hal biasa, namun bisa menjadi luar biasa ketika pertanyaan yang sama diulang oleh orang yang sama. Mungkin dia lupa atau tidak menyadari bahwa dia adalah orang kesekian yang menanyakan pertanyaan yang semisal, mungkin yang keseribu kalinya.
Melihat fenomena menikah di usia muda yang sedang marak di Indonesia, saya lebih baik memandang ini sebagai sebuah fenomena yang positif yang berarti semakin meningkatnya kesadaran masyarakat kita untuk menyatukan hati dalam bahtera rumah tangga. Pengaruh buku-buku yang membicarakan tentang tidak bolehnya pacaran di masyarakat juga ikut andil dalam mewujudkan fenomena menikah muda ini.
Di sisi lain, ada semacam kekhawatiran bagi saya pribadi, melihat semakin tingginya angka perceraian yang terjadi di tanah air, seolah pernikahan adalah sebuah permainan antara kata “Suka” dan “Tidak Suka”, ketika diawali dengan “Suka” kemudian munculnya perasaan “Tidak Suka” dan sedemikian mudahnya mengucapkan kata “Cerai”. Saya paham, ada sekian banyak alasan yang memicu terjadinya perceraian di masyarakat kita. Saya tidak ingin berkomentar lebih jauh, namun yang perlu dikaji adalah penyebab meningkatnya angka perceraian pernikahan yang dilakukan di usia muda.
Menikah muda bukan berarti tidak memiliki persiapan, bukan? Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Setidaknya bagi seorang laki, dia memiliki kesiapan menjadi seorang pemimpin di dalam keluarga. Pun demikian bagi seorang perempuan, setidaknya dia memiliki keinginan kuat untuk menjalani bahtera rumah tangga dalam rangka menuju keridhaan Allah SWT.
Menikah muda adalah sebuah proses menuju kebahagian lebih awal. Silahkan menikah lebih awal, di usia yang masih muda, asal benar-benar paham kemana arah biduk rumah tangga akan dikayuh. Jangan sampai hanya karena ikut-ikutan fenomena yang lagi marak di masyarakat, atau hanya sekadar pelarian agar tidak lagi dijejali oleh sebuah pertanyaan sakral “Kapan Menikah?” saja.
Percayalah, Allah akan menemukan kita dengan pasangan hidup kita dengan orang di waktu yang memang sudah Ia gariskan kepada kita. Tugas kita adalah berusaha menggapai semua itu, menjalani semua prosesnya sesuai dengan kehendak Ilahi. Jangan berkecil hati ketika jodoh tak kunjung datang, mungkin saja Allah masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri lebih lama lagi, sementara seseorang di belahan lain pun sedang melakukan hal yang sama dan akan dipertemukan di saat keduanya sudah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Menikah muda bukan hanya sekadar melepas status “single” menjadi “married”, akan tetapi timbulnya semangat menjalan kehidupan rumah tangga sebagai bagian dari ketaatan kepada hukum-hukum Allah di muka bumi. Persiapkan diri lebih awal untuk menyambut pasangan hidup yang dijanjikan oleh Allah untuk kita.
Bagi yang sudah berusia 30 ke atas dan sampai hari ini belum menikah juga, saya yakin bukan karena tidak mau, tapi karena memang belum dipertemukan dengan jodoh yang Tuhan janjikan, jangan berkecil hati, tetaplah berusaha menjadi lebih baik, abaikan cibiran masyarakat, tetaplah berjalan di jalan yang Allah ridhai. Allah tidak pernah ingkar dengan janji-Nya, bahwa wanita yang taat berhak mendapatkan pasangan hidup yang taat, begitu juga dengan laki-laki yang taat, ia berhak mendapatkan pasangan hidup yang taat pada Allah SWT. Percayai dan berusahalah mewujudkan semua itu.
Pada hakikatnya tidak ada orang yang ingin mendapatkan pasangan yang tidak baik, semua tentu ingin mendapatkan pasangan yang baik. Permasalahannya adalah, banyak orang yang menginginkan pasangan yang baik, tapi tidak berusaha memantaskan diri untuk mendapatkan pasangan yang baik. Ingin berpasangan dengan seseorang yang shalih/shalihah tapi ia sendiri tidak berusaha untuk mencapai tingkatan itu. Itu omong kosong.
Silahkan menikah muda, tapi jangan lukai hati mereka yang belum menikah meski usia mereka sudah jauh di atas kalian. Cukup doakan saja mereka bisa segera menjatuhkan hati pada hati pilihan mereka. Silahkan menikah di usia yang terbilang muda, tapi jangan kau cemooh mereka yang masih bertahan dengan kesendirian mereka, mereka mempunyai hak untuk menjalani prosesnya sesuai dengan keinginan mereka. Percayalah, Tuhan tidak pernah tidur, Ia selalu melihat bagaimana hamba-Nya berusaha menggapai semua impian di dalam hidup hamba-Nya. Maka jangan kalian lukai dengan pertanyaan semisal yang sebenarnya sudah tidak perlu kalian pertanyakan lagi. Cukup simpan pertanyaan-pertanyaan kalian itu di dalam hati, pilah dan pilih mana yang memang perlu dipertanyakan dan mana yang cukup disimpan di hati saja.

Seluas Bahasamu, Seluas Itu Pula Duniamu


Bagi yang pernah berpergian ke suatu tempat, dimana bahasa yang digunakan adalah bahasa yang tidak bisa dipahami, tentu akan menyadari betapa pentingnya bahasa sebagai alat untuk komunikasi antara satu sama lain. Inilah sebuah keajaiban, dimana masing-masing Negara bahkan daerah memiliki aneka ragam bahasa yang memiliki ciri khas tersendiri. Di Bengkulu terdapat berbagai macam bahasa yang digunakan, masing-masing Kabupaten bahkan memiliki ragam bahasa tersendiri yang tidak semuanya saya pahami.
Berbicara di ruang lingkup yang lebih besar, saat pertama kali belajar di tanah Jawa, saya seperti orang asing yang datang dari dunia antah berantah, yang sama sekali tidak paham tentang bahasa yang mereka gunakan, yakni bahasa Jawa. Lantas bagaimana akhirnya saya bisa sedikit mengerti tentang bahasa Jawa? Meski sampai hari ini saya hanya sebatas paham dan tidak bisa mengucapkannya. Adanya kebiasaan mendengar tentu memiliki peran penting di dalam perkembangan kemampuan seseorang di dalam memahami suatu bahasa.
Berbicara di skala yang lebih besar lagi, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris adalah dua bahasa Internasional yang cukup mendominasi dunia, meski saat ini Bahasa Inggris yang lebih populer di dunia. Bagi umat Islam, tentu sangatlah penting mempelajari bahasa Arab, karena Al Quran menggunakan bahasa Arab, dan tentu akan sangat membantu jika seseorang bisa memahami kandungan ayat-ayat Allah dengan kemampuan bahasa yang ia miliki dan itu akan menambah keimanan seseorang tentang indahnya kandungan ayat-ayat Allah SWT.
Belajar bahasa Internasional tentu menjadi bekal yang bisa dibilang wajib untuk kita dalam mengepakkan sayap kita. Semakin luas bahasa yang kita kuasai, maka semakin luas dunia kita, dunia yang bisa kita genggam. Dengan kemampuan bahasa yang demikian baik, kita bisa menjelajah ke berbagai macam tempat tanpa perlu takut akan orang-orang yang berusaha menjebak kita dengan bahasa yang mereka gunakan, karena kita bisa memahami apa-apa yang mereka ucapkan. Kita bisa belajar banyak dengan membaca literatur-literatus berbahasa asing.
Setidaknya, ada salah satu bahasa asing yang kita kuasai, sebagai bekal bagi kita untuk membaca berbagai macam literatur ilmu pengetahuan. Saat ini yang berkembang pesat tentang ilmu pengetahuan adalah dunia barat, maka dirasa perlu bagi kita untuk bisa memahami bahasa Inggris guna membantu kita mempelajari sumber-sumber ilmu pengetahuan yang mereka gunakan hingga mereka bisa berkembang seperti sekarang ini. Mempelajari bahasa Inggris tentu memiliki peranan penting bagi kita jika ingin memahami metodologi yang digunakan dunia barat di institusi-institusi pendidikan yang mereka miliki. Ketika kita tidak bisa berbahasa Inggris, kecil kemungkinan kita bisa memahami literatur-literatur yang menggunakan bahasa Inggris, karena di Negara Indonesia sendiri, usaha penerjemahan literatur berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia masih sangat minim.
Begitu juga dengan Bahasa Arab, ada jutaan literatur klasik maupun modern yang bisa kita lahap dengan baik, jika kita menguasa Bahasa Arab. Ada sebuah lelucon yang sebenarnya betul, yang ditujukan oleh orang barat bagi-bagi orang-orang Muslim,
“Orang Islam itu memiliki kitab suci, tapi mereka tidak membacanya. Meskipun mereka membaca Al Quran, tapi mereka tidak memahami kandungannya. Andaipun mereka paham, tapi mereka tidak mengamalkannya.”
Benar adanya, dari sekian banyak generasi Muslim, tidak lebih dari 10 % yang bisa memahami ayat-ayat Allah SWT. Untuk bisa memahami tentu saja harus memiliki kemampuan berbahasa Arab yang baik dan benar disertai dengan kemampuan ilmu-ilmu penunjang yang lainnya.
Kembali kepada pentingnya berbahasa, saya baru menyadari pentingnya Bahasa Arab saat menjadi mahasiswa Pasca sarjana, sekian banyak literatur yang ada di perpustakaan yang menggunakan bahasa Arab tidak mampu untuk saya pahami. Menyentuhnya saja sudah terasa asing bagi saya, membaca satu halaman saja memakan waktu sekian lama karena ada banyak kosa kata yang tidak saya pahami. Kadang, lebih lama membuka kamus ketimbang membuka kitab yang akan saya baca, karena saya sibuk mencari makna kata-kata yang ada di teks, untuk kemudian dicoba untuk memahami secara utuh maksud dari teks yang saya baca.
Ketika kita pergi ke Negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, tentu dirasa perlu bagi kita untuk menguasai bahasanya, dengan demikian kita bisa berinteraksi dengan baik dengan masyarakat lokal. Al Jahil akan berkata tentang orang yang berusaha untuk mempelajari bahasa internasional dengan ucapan yang tidak baik, dia akan mengatakan bahwa seseorang tersebut sombong. Tapi Al ‘Aqil akan mengatakan hal yang berbeda, dia akan bangga melihat seseorang yang mencoba untuk menguasai dunia dengan berbagai macam bahasa dunia.
Di masyarakat kita, sering kali seseorang dikatakan sombong, mencari perhatian, lebay, dan masih banyak lagi julukan yang lain, hanya karena ia sedang berusaha untuk bisa berbahasa Internasional. Yang berbicara bahasa Inggris akan dikatakan sok kebarat-baratan, yang berbahasa Arab akan dikatakan sok kearab-araban. Padahal, bahasa akan mudah didapatkan ketika menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Kebiasaan berbahasa akan membuat kemampuan kita dalam berkomunikasi akan lebih mudah. Maka perlu adanya sebuah lingkungan yang mendukung seseorang untuk bisa meningkatkan kemampuan berbahasa.
Namun, yang perlu digaris bawahi adalah, perlu melihat situasi dan kondisi, jangan sampai karena semangat dalam berbahasa tertentu, kemudian kita menggunakannya di hadapan orang-orang yang jelas-jelas tidak bisa mengerti apa yang kita ucapkan, misal,  kamu sedang belajar bahasa Arab, kemudian kamu berbicara di hadapan pemulung dengan bahasa Arab, meski tidak menutup kemungkinan ada pemulung yang bisa bahasa Arab. Intinya harus bisa melihat kapan dan dimana seharusnya kita bisa menggunakannya. Di lingkungan kampus, tentu mempraktikkan bahasa internasional, semisal Arab dan Inggris tentu sangat memungkinkan.
Sering kali kita menemukan orang-orang yang cemerlang di suatu bidang, karena terkendala bahasa, ia tidak mampu berbicara di forum-forum internasional, atau malah menggunakan jasa penerjemah. Maka, rasanya memang dirasa penting bagi seseorang, apalagi seorang akademisi untuk bisa menguasai setidaknya bahasa internasional, entah itu Arab maupun Inggris, atau bahasa apapun yang memang menunjang kegiatan akademisnya.
Mengubah pola pikir masyarakat kita akan pentingnya suatu bahasa tidaklah mudah. Maka perlu adanya revolusi cara pandang suatu masyarakat tentang pentingnya mempelajari bahasa-bahasa yang berkembang di dunia. Kita kembali ke masa dahulu, saat Rasulullah SAW. berdakwah, ia memerintahkan sahabatnya untuk mempelajari bahasa-bahasa asing, semisal Persia, Yunani, dan lain sebagainya guna penyebaran Agama Islam ke daerah-daerah di luar Arab. Bahkan, Bahasa Arab pernah menjadi bahasa yang digunakan oleh beberapa Negara di Barat sebagai bahasa pengantar sehari-hari.
Maka sudah saatnya, kita meningkatkan kemampuan kita dalam memahami bahasa-bahasa dunia, agar kita bisa menjejakkan kaki di belahan dunia mana pun, kemudian menegakkan hukum-hukum Allah SWT di muka bumi.

Islam dan Generasi Muda Muslim


Islam adalah agama Rahmatan Lil’alamin, di dalamnya telah diatur sedemikian rupa agar seseorang yang memeluk Agama Islam bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Ketika seseorang mengaku sebagai seorang “Muslim” maka hendaknya ia memiliki kesadaran untuk melakukan ajaran-ajaran Allah SWT. ke dalam kehidupan sehari-hari. Dalam artian tidak hanya sekadar menjadi seorang “Muslim” yang hanya menjadikannya sebagai sebuah identitas. Ada banyak teman-teman saya yang dari belahan dunia Barat yang masuk ke dalam Islam hanya karena ingin menikah dengan seorang perempuan yang Muslimah, setelah menikah, perilaku beragama tidak berubah, hanya identitas keagaamaan saja yang berubah.
Ada banyak teman saya yang dari Barat yang mencoba untuk membandingkan Indonesia yang negaranya mayoritas Muslim dengan Negara mereka yang muslimnya minoritas. Menurut mereka menjadi Muslim mayoritas nyatanya tidak menjadikan sebuah Negara itu baik dan berkembang. Contohnya sudah jelas, Indonesia dan Negara-negara Islam lainnya.
“Kami penganut Kristen, di Negara kami, muslim adalah minoritas. Kami bukan Muslim, tapi nilai-nilai keislaman jelas terlihat di Negara kami. Kita ambil contoh kesadaran tentang berlalu lintas, kesadaran untuk menjaga kebersihan, kesadaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Kami tidak menemukan itu di Negara-negara Muslim, paling di Iran yang sudah mampu membuat satelit sendiri, sudah berhasil membuat kapal yang tidak mampu di deteksi oleh radar Amerika Serikat, sudah bisa membuat nuklir. Selain Iran, kita bisa melihat Dubai yang semakin berkembang pesat, sedangkan Negara-negara Islam lainnya terkesan tenggelam.  Peradaban dunia sekarang dipegang oleh Barat. Timur masih merangkak untuk maju dan tidak lepas dari bayang-bayang Amerika.”
Begitulah komentar mereka tentang Negara Islam. Kita memang tidak memungkiri apa yang mereka katakan tentang Negara-negara Islam. Saat ini ilmu pengetahuan memang berkembang pesat di Negara-negara barat. Nilai-nilai positif yang sebenarnya ada di dalam islam juga terlihat jelas di Negara-negara barat, tentang semangat keilmuan, semangat menjaga kebersihan, kesadaran berlalu lintas, dan masih banyak lagi yang lain. Lantas, apa yang sebenarnya salah dengan Islam? Apakah Islamnya ataukah oknumnya? Tentu saja bukan Islamnya yang salah, melainkan para pemeluknya yang masih memiliki kesadaran yang rendah dalam mewujudkan keislaman ke dalam kehidupan sehari-hari.
Di Iran, para petinggi pemerintahan memiliki para penasihat yang terdiri dari para Ulama yang menjadi tempat berdiskusi para pemegang kekuasaan dalam membuat sebuah kebijakan. Dalam artian, Iran sudah berusaha untuk kembali menjalankan roda pemerintahan di Negaranya sebagaimana yang dikehendaki oleh Al Quran. Nilai-nilai keislaman kembali diterapkan sebagaimana dahulu, Islam pernah jaya di masa lalu.
Generasi Muslim kadang hanyut dalam bayang-bayang kejayaan di masa lalu, saat Islam mengalami masa kejayaan yang sering kita baca di buku-buku sejarah. Ya, generasi muda muslim kadang hanya bisa mengatakan bahwa “Islam sudah pernah jaya, Islam memiliki kontribusi demikian besar atas kemajuan dunia barat.” Betul, Islam memiliki peran bagi kemajuan Negara-negara Barat. Banyak hasil dari pemikiran-pemikiran Muslim yang kemudian dipelajari, dijadikan sebuah bidang studi, diteliti, hingga menghasilkan sumbangsi penting bagi perkembangan ilmu pengetahun. Kita sebut saja Ibnu Sina di bidang kedokteran, Al Kindi yang dikenal sebagai seorang Filosof, Ibnu Rusyd, dan masih banyak lagi, dimana karya-karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa di Barat, kemudian dipelajari.
Namun, sekadar hanyut dengan kejayaan masa lalu saja tidaklah cukup. Generasi muslim harusnya menyadari bahwa sudah saatnya kita kembali bangkit. Ada banyak sekali pembaharu-pembaharu yang mencoba untuk mengajak umat Islam untuk kembali bangkit, sebut saja Muhammad Abduh yang merupakan pembaru Mesir Modern.
Jika kita kembali membaca sejarah, Nabi Muhammad SAW. sudah mulai melakukan perluasan wilayah Muslim Arab, kemudian dilanjutkan oleh penerusnya Abu Bakr, di masa pemerintahan Abu Bakr, di bawah pedang Khalid Bin Walid, Islam sudah membentang di semenanjung Arab, tidak hanya di kota-kota besar, bahkan mencapai pelosok-pelosok Negeri. Setelah Abu Bakr Wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh penerusnya. Ekspansi Islam semakin meluas, Suriah, Iraq, Persia, Mesir dan lain sebagainya masuk ke dalam kekuasaan Islam. Ketika masa Ali, ekspansi Islam relatif terhenti karena banyaknya konflik internal di dalam tubuh Islam. Perluasan dilanjutkan oleh dinasti-dinasti selanjutnya. Islam sampai pada Spanyol dan Sisilia dan terus berkembang, hingga akhirnya terjadinya perang salib dan Islam kemudian kembali ke masa dark age, meninggalkan masa golden age.
Kekuasaan Muslim Arab runtuh, sedangkan Dunia Barat mengalami Renaisans atau kebangkitan kembali, menjadi zaman modern kemudian lahirnya ilmu pengetahuan yang berbasis rasionalisme dan empirisme.
Itulah sejarah. Lantas bagaimana seharusnya kita bersikap? Apakah sebagai generasi Muslim kita hanya cukup berdiam diri, membanggakan kejayaan masa lalu? Tentu tidak cukup demikian. Mental para generasi penerus perlu diubah. Gaya hidup generasi muslim yang berkiblat ke dunia Barat perlu dikaji kembali, gaya hedonisme dan sebagainya perlu diseleksi sedemikian rupa, agar para generasi tidak hanya sibuk membanggakan kemajuan dunia barat dan bersikap lemah saat dunia barat menjejakkan kakinya di Negara-negara Islam.
            Kita perlu kembali kepada Al Quran, mengakajinya dan menjadikannya sebagai pegangan hidup, mengamalkan nilai-nilai kehidupan yang ada di dalamnya. Kita perlu meniru semangat keilmuan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Islam terdahulu, betapa mereka haus akan ilmu pengetahuan. Kita perlu merubah pola pikir kita yang cenderung konsumtif. Kita perlu menanamkan kesadaran bagi generasi penerus agar memiliki kesadaran dalam mewujudkan Islam yang sesungguhnya.

- Copyright © 2013 Arian's Blog - Simple is beauty - Powered by Blogger - Redesign By YBC(Yahya's Blog Community) - Designed by Johanes Djogan -