New Post!

Dear Faris

Dear Faris
Buku Terbaru

New Catatan Hati Sang Guru

New Catatan Hati Sang Guru
New CHSG

Blog Archive

Kategori

Powered by Blogger.

Followers

Warung Blogger

Warung Blogger
Yuk Ngopi Bareng

Total Pageviews

Lombok: Gili Terawangan

sunrise di Gili Terawangan

Hari Pertama
Pukul delapan pagi kami sudah dijemput oleh travel yang akan membawa kami ke Gili Terawangan. Sarapan rada buru-buru karena habis subuh kami kembali molor karena lelah, meski sempat baca Qur’an ½ juz baru molor. Dalam perjalanan menuju Pelabuhan Bangsal, kami kembali menikmati keindahan alam raya. Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan. Inilah kenapa saya cinta mati sama Indonesia. Keindahan alamnya itu luar biasa. Di Senggigih, saya berasa lagi nggak berada di Indonesia, karena saking banyaknya orang asing yang memenuhi jalan-jalan dan pantai. Ini belum di Gili Terawangan, loh, ya, baru Senggigih doang.
Setelah sampai di Pelabuhan Bangsal, kami langsung menuju tempat penukaran tiket, kemudian naik Boat dan langsung menuju Gili Terawangan. Perjalanan kurang lebih 15-20 menitan sampai ke Gili Terawangan. Air lautnya muncrat-muncrat ke wajah. Renat nutupin kepala pake handuk, saya nutupin wajah pake topi, sedangkan istrinya Farkhad bersandar di bahunya Farkhad *pemandangan yang bikin nyesek pengen cepet nikah ini namanya* haha.
Agenda pertama di Gili adalah mencari penginapan yang dekat dengan pantai, biar bisa berleha-leha dengan deru ombak, bisa main pasir, mandi, dan sebagainya. Setelah dapat penginapan, kami mandi, kemudian mencari sepeda. Kami menyewa sepeda sebagai kendaraan selama di Gili. Sepeda sudah dapat dan kami langsung mengelilingi pulai Gili Terawangan yang keren ini. Bener yang saya tebak, bahwa di Gili Terawangan emang kayak nggak di Indonesia. Orang asingnya bejibun, ngalahin orang lokal. Dimana-dimana orang ngomong pake bahasa asing. Renat kadang memerhatikan orang-orang yang lewat dan memberitahu saya bahwa beberapa orang yang lewat adalah orang Rusia. Dia mengetahui itu dari paras wajah dan bahasa yang mereka gunakan.
Untuk mengelilingi pulau Gili Terawangan dengan sepeda, kami membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Well, cukup menguras keringat. Selama perjalanan mengelilingi pulau, kami balapan liar, haha. Saling dahulu mendahului. Renat jelas yang paling jauh tertinggal, karena sepedanya ngadat dua kali. Saya memutar arah, kemudian membantu dia memperbaiki rantai sepeda. Setelah itu dilanjutkan lagi dengan kejar-kejaran pake sepeda. Farkhad dan saya yang paling semangat balapan, sempat mengabaikan istrinya saking semangatnya balapan, haha.
Setelah selesai mengelilingi pulau, kami mencari makan, karena perut sudah lapar banget. Makanan di pulau Gili Terawangan memang relatif mahal. Selama di Gili, saya tidak pernah makan di bawah 25.000,. rata-rata sekali makan seharga demikian. Mungkin saja kalo mau cari di tempat makan yang lain bisa menemukan. Saya memang sengaja ikut saja dimana teman mau makan. Setelah makan, kami kembali ke penginapan, mandi, dan santai sejenak di kursi depan kamar. Saya membaca buku Lee Child “Never Go Back” versi bahasa Inggris, sementara Renat membaca buku berbahasa Arab, tentang metodologi penerjemahan bahasa Arab.
Setelah santai dan dirasa cukup, kami pergi ke pantai untuk snorkeling. Duh, ini kegiatan yang paling saya sukai, melihat keindahan terumbu karang lengkap dengan ikan-ikan nan cantik di dalamnya. Saya kadang berteriak sendiri di dalam hati *halah* saat melihat ikan-ikan nan cantik beserta terumbu karang yang membuat saya berdecak kagum. Kurang lebih 1,5 jam kami melakukan snorkeling, melihat keindahan ciptaan Tuhan. Saya berulang kali mengucap puji syukur akan kekuasaan Tuhan dalam mencipta. Tidak ada yang paling baik dalam mencipta, selain Dia.
Snorkeling selesai. Kami shalat maghrib dan isya berjamaah di masjid, kemudian jalan kaki, berkeliling, menikmati hembusan udara pantai di malam hari. Kami berjalan beriringan, sesekali merekam suasana di Gili yang cukup ramai. Kemudian kami mencari tempat untuk duduk santai, sambil mendengarkan dendangan ombak nan merdu. Kami pergi ke pelabuhan, Renat nyelonong sambil basah-basahan. Farkhad dan Istrinya asik foto dengan latar belakang rembulan yang terang benderang seterang hati saya saat ini, haha. Saya dan Renat memilih tidur-tiduran di kursi panjang lengkap dengan busa panjang nan tebal. Renat motret ngasal, sambil ngobrol tentang banyak hal. Kami membiarkan Farkhad dan istrinya asik dengan kebersamaan mereka, kami tidak ingin mengganggu. Sesekali saya dan Renat menawarkan diri untuk motret mereka berdua, kemudian kami melanjutkan obrolan santai.
Kami kembali ke kamar, kemudian istirahat. Seperti biasa, agenda sebelum tidur adalah rusuh. Saya ngidupin AC, Renat malah matiin AC karena nggak suka, padahal saya sudah keringatan, loh. *lemparin AC ke luar kamar* haha. Akhirnya disepakati, AC dihidupin dengan volume sedang saja, dan Renat boleh matiin AC kalo saya sudah tidur, haha.
Hari Kedua
Habis shalat subuh berjamaah, Renat udah narik selimut lagi namun gagal karena saya ajak keluar untuk melihat sunrise *kejam*. Kami berjalan kaki menaiki anak tangga menuju perbukitan, kemudian duduk santai sambil melihat suasana pagi di pulau Gili yang masih sepi. Matahari perlahan muncul, saya sibuk motret dan merekam kehadiran mentari pagi. Renat sibuk ngerekam kambing-kambing yang bergerombol di atas bukit. Setelah puas, kami turun, dan jalan kaki menuju ke dermaga sambil membawa pisang goreng, dua gelas kopi, dan sebotol air mineral. Kami duduk santai, sambil bermandikan sinar mentari pagi yang menghangatkan tubuh. Oh ya, kami juga membawa dua pancake pisang sebagai sarapan. Sengaja membawa sarapan dari hotel untuk dimakan di dermaga haha.
kulit saya udah gosong parah
Seperti biasa, kami duduk santai, ngobrol santai. Tidak lama kemudian, ada seorang turis asal Australia yang nimbrung, dia ngobrol sama saya rada lama, saya nggak enak sama Renat, karena dia rada susah memahami perbincangan kami, kemudian saya perkenalkan Renat ke turis Australia tersebut. Saya izin ke toilet, dan membiarkan Renat berbincang sebentar dengan turis tersebut. Turis tersebut pergi, dan kami melanjutkan obrolan santai, sambil memberi makan ikan-ikan yang bisa kami lihat dengan jelas dari atas dermaga. Terumbu karang yang berwarna-warni terkena terpaan mentari pagi menjadi pemandangan menakjubkan, pengen rasanya saya langsung nyemplung. Saya duduk di pinggir dermaga dengan kaki menyentuh air. Renat terlihat sangat antusias melihat ikan-ikan yang berkerumun karena makanan yang kami berikan. Saya merekam Renat yang sibuk memberi umpan ikan dengan penuh semangat.
setiap hari keliling pulau dengan sepeda
Mentari sudah semakin hangat, tidak terasa sudah pukul 9 pagi. Perut saya sepertinya sedang dalam masalah, saya harus bolak-balik toilet. Melihat saya yang kesakitan, Renat memutuskan untuk mengajak kembali ke hotel. Rencana jalan-jalan ke Gili Air hari ini dibatalkan, karena perut saya tidak bersahabat.
“You can go with Farkhad and his wife, Renat, I can stay here alone,” ujar saya ke Renat sambil berbaring di tempat tidur dengan sebuah buku di tangan kanan.
“No, we should go together, we can’t leave you here alone. This is “jamaa’h”. don’t ever think that I’m going to leave you here, ok. Take a rest and we will go to other island when you feel better.”
Duh, ini loh kerennya sahabat-sahabat saya ini. Mereka itu mengerti pake banget. Contohnya kali ini, karena perut saya memang sedang sakit banget, Renat dan lain memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. Kami hanya stay di hotel. Saya akhirnya tidur lelap, Renat juga memutuskan untuk menemani dan ikutan molor.
suasana pagi hari di Gili Terawangan
Habis dzuhur, perut saya sudah mulai baikan, meski kudu tetap bolak-balik toilet. Karena sudah merasa baikan, kami akhirnya pergi snorkeling. Saya membawa buku yang bisa saya baca setelah selesai snorkeling. Snorkeling hari ini lebih lama dari biasanya. Kami melakukan snorkeling lebih jauh dari kemarin, kami menemukan ikan-ikan yang lebih ramai dan lebih cantik dari kemarin. Ah, ini pemandangan keren. Rasanya pengen nyemplung terus, menyentuh ikan-ikan yang berwarna-warni itu. Renat yang paling lama snorkeling.
“I found a big turtle,” ucap Renat sambil menghampiri saya yang sudah lebih dahulu istirahat di pinggir sambil membaca buku.
“a turtle? Why don’t you take and bring it here, we can sell it,” canda saya sambil tertawa. Renat duduk di samping sambil menyodorkan air mineral. Kami berempat istirahat sejenak karena sudah cukup lama di dalam air. Tidak lama berselang, kami pulang ke penginapan untuk istirahat dan bersih-bersih badan yang super lengket.
wajah kepanasan haha
Mandi selesai, saya dan Renat duduk di depan kamar, sibuk dengan bacaan masing-masing. Rencananya sore ini kami akan mengelilingi pulau lagi, sambil menunggu sunset di sunset point yang ada di pulau ini.
Jarum jam di tangan sudah menunjukkan pukul lima sore, kami memacu sepeda penuh semangat, berkeliling dan mampir-mampir ke beberapa toko kesenian, melihat beberapa barang yang memungkinkan untuk dibeli. Matahari sudah kembali ke peraduannya, saya sibuk motret. Renat itu super rusuh, dia sengaja nabrakin roda sepedanya ke roda sepeda saya yang belakang. Pokoknya jangan biarin dia di belakang, alamat gangguin kenyamanan gue bersepeda. Dia cuma senyum aja gitu, emang dasar tukang rusuh. He is really a good friend *lemparin pasir*
Kami bertiga kemudian sibuk foto-foto, istri Farkhad yang menjadi tukang foto. Loncat sana-sini sambil teriak kemudian tertawa lebar banget. Duh, ini nih yang namanya bahagia, memiliki teman seperjalanan yang mengagumkan. Fakhad juga tipe kawan yang nyambung kalo diajak ngobrol, dan jelas-jelas suka iseng. Isengnya rada super kadang.
Di perjalanan pulang, saya sukses membuat tiga sahabat saya tertawa, terutama istri Farkhad, haha. Saya turun dari sepeda, kemudian bergaya seolah-olah sedang jualan.
“Ice cream,… ice cream… ice cream…”
Saya mengulangi ucapan tersebut berkali-kali sepanjang jalan, banyak orang yang melongo dan saya cuekin aja gitu. Ada turis yang ikutan nimbrung kemudian dengan suara lantang dia bilang gini,
“transport,….transport….transport…”
pose absurd haha
Setelah selesai dengan adegan tertawa, kami pulang, kemudian shalat maghrib di masjid berjamaah. Kami meletakkan sepeda di penginapan, kemudian mencari makan malam di pinggir pantai. Ada banyak pilihan menu yang tersedia, asal siap makan aja dan kamu kuat bayar. Renat dan saya memesan ikan segar, Farkhad dan istrinya memesan ayam dan daging sapi.
Perut kenyang. Kami melanjutkan rutinitas malam hari, berkeliling dan duduk santai di pinggir pantai. Namun sayang, kami nggak bisa lama-lama melihat suasana pantai di malam hari seperti malam sebelumnya, karena perut saya kembali bermasalah. Saya bilang ke Renat dan kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat. Iya, mereka kompakan loh, padahal saya sudah bilang, biar saya sendirian aja ke hotel, biar mereka tetap bisa jalan meski tanpa saya.
“Stop saying that, ok, I will not let you go back alone, we go back together.” Komentar Renat pas saya bilang demikian. Kalo Renat sudah bilang demikian, lebih baik jangan dibantah.
Saya istirahat di kamar, berbaring di ranjang. Renat duduk di ranjang sambil membuka laptop. Agenda kami adalah melihat seabrek foto-foto yang sudah diambil beberapa hari ini. Tidak ketinggalan melanjutkan agenda melihat foto-foto Renat di Rusia.
Malam semakin larut, saya memilih untuk segera tidur, Renat duduk di luar kamar sambil melakukan video call orang tuanya melalui skype.
Hari Ketiga
Hari ini merupakan hari terakhir saya di Gili Terawangan, karena jam dua siang saya harus kembali ke Lombok karena penerbangan saya besok jam 11 siang. Jika ditempuh dari Gili Terawangan, saya takut bakalan telat, karena lokasi Gili dan airport cukup jauh. Oleh karena itu saya memilih untuk menginap di guest house yang ada di Mataram.
Kami sarapan bareng, kemudian berkeliling pulau dengan sepeda. Laut sedang surut di bagian lain pulau Gili Terawangan. Kami meletakkan sepeda di pinggir, kemudian jalan kaki menuju terumbu karang yang terlihat menawan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan mengeliling pulau seperti biasa, kejar-kejaran pake sepeda, dan tentu saja ada Renat yang seperti biasa dengan ulahnya yang kadang pengen gue timpuk pake sepeda, haha, becanda.

Farkhad, take care of Renat, ok, don’t let him jump from the bridge,” pesan saya ke Farkhad dan dia langsung tertawa.
I will, don’t worry,”
Setelah berkeliling, kami mengembalikan sepeda ke tempat penyewaan, padahal cuma saya sendiri loh yang mau pulang hari ini, mereka ikutan mengembalikan sepeda, padahal mereka masih lama di Gili, kemungkinan sampai tanggal 12 Januari. Biar kompak katanya.
Kami berjalan kaki bareng-bareng kemudian nyebur ke laut. Ada perahu yang sedang bertengger di bibir pantai, saya naik di atasnya kemudian nyebur dan teriak sekuat-kuatnya. Tidak lama kemudian pemilik perahu datang dan melarang saya melompat dari atasnya haha. Kami melanjutkan rutinitas harian alias nyebur. Kulit udah makin gelap aja, emang dari sononya udah gelap sih, jadi nggak usah komentar masalah warna kulit.

“I wanna have skin like yours,” komentar Farkhad dan saya cuma nyengir doang. Yaelah, masa iya mau punya kulit kayak gue ini *jedotin kepala ke tembok*
Edisi nyebur selesai. Jam satu siang kami kembali ke penginapan, Renat itu menjadi tukang kontrol, dia memastikan saya tidak terlambat. Setelah semua siap, ketiga sahabat saya mengantarkan saya menuju boat yang akan membawa saya kembali ke Lombok.
“Why don’t you stay here with us?” tanya Farkhad. Ini pertanyaan yang kesekian kalinya. Dan saya sudah menjawab berulang kali.
“I can’t stay here with you, because I have to go to Pare to continue my English course. Maybe next holiday we can go together again to Komodo Island. I really wanna go there.” Jawab saya.
“Farkhad, Renat is my assistant, tell him if you need anything, he will take care of everything you need. Just tell him and he will do it for you, ok.” Ucap saya sambil menepuk pundak Renat yang duduk di samping saya. Yang diomongin cuma senyum doang.
“ok guys, I’ll see you in Malang soon. Enjoy your holidays.”
Saatnya berpelukan dan berpisah. Saya langsung menuju Boat. Tiga sahabat saya tetap berdiri di pinggir pantai dan melambaikan tangan hingga Boat saya semakin menjauh barulah mereka pergi. Saya menatap mereka dari kejauhan dan berterimakasih kepada Tuhan, karena sudah dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang demikian baik. Berada di tengah-tengah mereka, saya merasakan bahagia yang betul-betul bahagia. Saya kagum bagaimana mereka berusaha memahami satu sama lain, berusaha untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dan rela menghentikan kegiatan jika salah satu dari kami tidak bisa. Bagi saya, kebersamaan seperti ini adalah anugerah yang demikian besar, karena berada di sekitar orang-orang yang demikian baik. Tinggal bagaimana sekarang saya memaknai persahabatan yang sudah terjalin dalam empat bulan terakhir.
Renat tipe sahabat yang sangat peka dalam banyak hal, dia selalu memastikan bahwa saya baik-baik saja. Farkhad dan istrinya tipe sahabat yang sering melontarkan lelucon yang kadang membuat saya tertawa lepas tanpa beban. Kami berempat bisa kompak, meski kami memiliki latar belakang yang jelas-jelas berbeda, dengan budaya yang tentu saja berbeda. Renat tipe sahabat yang selalu menjunjung tinggi kebersamaan. Farkhad tipe sahabat yang juga pengertian. Semoga kebaikan selalu menyertai mereka semua.

Lombok (Second Day)

 Jalan menuju air terjun

Satu jam sebelum subuh, Farkhad sudah masuk ke kamar saya dan Renat, saya langsung ke kamar mandi, ambil wudhu, kemudian shalat tahajud sebentar. Saya baru tidur satu jam kayaknya. Renat masih tidur nyenyak di samping saya, saya biarin aja dia tidur sampai subuh. Setelah subuh, kami sarapan bareng tuan rumah, karena rencananya kami akan memulai perjalanan pagi ini sesegera mungkin.
Mobil sudah siap di depan rumah, sopir juga sudah siap sambil manasin mobil. Rencana awal mau menggunakan jasa travel malah nggak jadi, karena ternyata kakak yang punya rumah mempunyai mobil lengkap dengan sopir yang siap mengantarkan kami jalan-jalan hari ini. Setelah semua dirasa siap, perjalanan pun dimulai. Well, karena saya kurang tidur, saya malah molor di mobil. Renat juga ikutan molor.
Air Terjun Tiu Kelep
Perjalanan menuju air terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep cukup jauh. Untungnya kami menggunakan mobil sebagai transportasi menuju sana. Kalo pake motor, saya yakin nggak bakalan kuat. Maklum, saya ini orangnya nggak betah berlama-lama di atas motor, apalagi kalo diboncengin, duh, alamat ketiduran di atas motor. Perjalanan menuju air terjun cukup merefresh otak yang beberapa waktu lalu baru selesai menghadapi ujian akhir semester. Gunung Rinjani nan cantik seolah memanggil kami untuk segera mendaki ke puncaknya *halah*. Harusnya saya bisa mendaki Gunung Rinjani selama di Lombok, tapi nggak memungkinkan. Mungkin di kunjungan saya selanjutnya.
Setelah sampai di Tempat Parkir kendaraan, kami turun, kemudian membeli tiket masuk seharga 10.000,/org. Kami menuruni anak tangga yang cukup banyak untuk sampai ke air terjun Sendang Gila. Farkhad dan Istrinya asik foto-foto, duh, ini bedanya kalo jalan-jalan sama istri. *mendadak pengen nikah segera* haha. Baiklah, meski nggak bawa istri, setidaknya saya ada pasangan yang tidak lain adalah Renat. Haha. Well, siapa lagi yang siap saya jadikan model kali ini kalo bukan Renat?
“Renat is my super model right now,” ucap saya sambil becanda, kemudian diikuti gelak tawa Farkhad. Renat ikutan ketawa sambil tetap bergaya di depan saya. Setiap kali saya minta dia pasang aksi di depan kamera, dia selalu siap, atau bahkan kadang dia sendiri yang minta difotoin dan setiap kali selesai motret dia, dia selalu ikutan mau motret saya dan kebanyakan saya tolak, haha. Sepertinya saya sudah kebanyakan foto. Dulu, Renat rada susah dipotret. Sekarang mah udah nggak, masa berteman sama tukang foto malah nggak jadi banci foto, kan, nggak, seru *dilempar DSLR*
Renat Sarimov
Pas sampai di Lokasi air terjun Sendang Gila, Renat menghidupkan satu lagu berbahasa Rusia, kemudian meminta saya merekam suasana air terjun dengan backsound lagu Rusia, haha. Setelah selesai merekam, selanjutnya adalah foto bareng, kemudian melanjutkan perjalanan menuju air terjun Tiu Kelep. Perjalanan menuju kesana kurang lebih 30 menit dari air terjun Sendang Gila. Kami sengaja tidak menggunakan jasa pemandu. Asal jalan, menelusuri jalanan yang tidak terlalu mulus menuju sana.
Sepanjang jalan, saya dan Renat kebanyakan berantemnya, saling dorong satu sama lain. Beberapa kali mau nyebur ke saluran air yang begitu jernih tapi nggak pernah jadi. Kalo sudah begitu, Renat bakalan mendorong saya sekuat tenaga seolah-olah mau ngajak nyebur bareng dan gagal. Haha. Sepanjang perjalanan, saya asik merekam suasana menuju Tiu Kelep, Renat juga demikian, sedangkan Farkhad dan istrinya asik foto-foto, saya dan Renat sadar diri lah, masa mau mengganggu mereka *nasib bujangan*. Saya melaju dengan cepat, meninggalkan Renat, Farkhad dan Istrinya di belakang. Saya sampai lebih dulu di air terjun Tiu Kelep, kemudian langsung menuju ke bawah air terjunnya. Celana saya basah. Mau mandi langsung tapi malah nggak jadi karena sudah menggigil. Jadilah agenda selanjutnya adalah foto-foto.  
Setelah dirasa cukup, sudah puas foto-foto, maenan air, dan ada agenda jatuh pula, kami memutuskan untuk kembali ke mobil. Renat memang sempat jatuh, kena batu dan berdarah. Untungnya cuma tangannya yang lecet, mungkin karena licinnya bebatuan, makanya jatuh. Ada agenda bergelayutan kayak monyet juga pas selesai dari air terjun Tiu Kelep, haha. Renat, Farkhad dan istrinya kompakan bergelayut di salah satu pohon haha. Parah.
Di perjalanan pulang tentu saja lebih susah ketimbang pergi. Kalo perginya menuruni anak tangga, sekarang tantangannya adalah menaiki anak tangga yang jumlahnya itu ngalahin jumlah rambut tikus (nggak percaya? Hitung aja sendiri rambut tikusnya *dipentung*). Saya udah ngos-ngosan, berhenti sejenak, menghirup udara segar dan menatap pemandangan yang demikian indah, hutan yang lebat, suara burung-burung yang berkicauan. Cukup melelahkan memang, namun juga menyenangkan.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Senggigih. Saya kembali molor di dalam mobil, Renat juga molor, Istri Farkhad juga molor, cuma Farkhad yang masih bertahan menemani sopir yang menemani perjalanan kami kali ini. Sepanjang perjalanan menuju Senggigih, kami disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa keren. Hamparan laut yang seolah tak habis-habis menjadi pemandangan yang menakjubkan bagi saya. Mobil sengaja berjalan perlahan, agar kami bisa melihat dengan leluasa, sambil sesekali memotret dari dalam mobil.
Pantai Bukit Nipah
Kami berhenti di Bukit Nipah, karena pemandangannya wow banget kalo saya bilang. Iya, saya itu kalo sudah melihat laut itu kayak lupa diri. Bawaannya pengen nyebur aja gitu haha. Nggak, kok, kali ini nggak ada agenda nyebur. Kami berhenti di bukit Nipah, kemudian menuruni bukit, sambil foto-foto. Saya lebih banyak motret Renat ketimbang dipotret, karena memang sukanya demikian, meski Renat tetap keukeuh mau motretin saya.
Setelah selesai agenda motret, selanjutnya adalah mampir ke beberapa penjual yang menjual aneka ragam mutiara dan lain-lain. Istri Farkhad membeli beberapa, Renat juga membeli kalung untuk Ibunya. Sedangkan saya dan Farkhad nyelonong sambil merekam keindahan laut nan biru. Saya nggak ikutan beli karena harganya bikin dompet saya menjerit. huaha. Saya cuma nyari topi yang bisa saya pakai, udah itu aja. Topi yang dicari pun mau yang sama persis seperti yang dipakai Renat haha. Biasa, kadang kita berdua kompakan bawaannya.
Berbelanja selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Senggigih, mencari penginapan untuk satu malam saja karena besok pagi akan langsung ke Gili Terawangan. Setelah muter-muter, akhirnya kami dapat penginapan. Langsung booking kemudian merebahkan badan di atas ranjang karena capek. Renat mengeluarkan pakaian kotor, kemudian memasukkannya ke dalam ember yang ada di kamar mandi. Saat saya lagi tidur terlentang, Renat nanyain pakaian saya yang kotor. Kemudian saya bilang bahwa pakaian saya yang kotor ada di dalam kantong plastik. Renat langsung mengambilnya dan membawanya ke kamar mandi. Woalahh, sering-sering kayak gini, punya teman perjalanan yang mau nyuciin baju saya *plak*ketawajahat*. Meski awalnya saya sudah menolak, tapi tetap aja Renat narik itu baju kemudian langsung dicuci. Ah ya sudahlah, Renat bakalan marah kalo apa yang dia mau nggak dituruti.
Farkhad and his wife @senggigih 
Setelah selesai dengan agenda nyuci baju, kami shalat ashar berjamaah, dilanjutkan dengan makan di salah satu warung makan yang tidak jauh dari tempat kami menginap. Saat sedang menunggu pesanan siap, ada seorang perempuan yang juga berasal dari Rusia ikut nimbrung bersama kami. Saya jadi patung yang melongo saat mendengar mereka berbicara bahasa Rusia. Ketika sudah agak sepi obrolannya, barulah saya berbincang sejenak dengan perempuan asal Rusia tersebut. Dan seperti biasa, Renat selalu mengerti. Sejak awal saya mengenal Renat, dia tipe orang yang sangat tanggap. Ketika dia berbicara dengan bahasa Rusia, dia akan menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab agar saya bisa mengerti. Atau kadang mengajari saya kata-kata baru dalam bahasa Rusia agar saya sedikit mengerti.
Setelah makan selesai, kami berjalan menelusuri garis pantai, kemudian duduk bersama sambil menikmati es kelapa muda bersama. Farkhad dan istrinya meminta gula putih untuk pemanis kelapa muda.
“I don’t need sugar anymore, because I’m a sweet man,” canda saya sesuka hati, kemudian suasana jadi riuh dengan tawa. Farkhad ketawa lebar, Renat ketawa sambil melotot dengan wajah nyebelin. Haha. Es kelapa muda pun sukses diminum.
sunset di pantai senggigih
Tidak lama berselang, matahari kembali ke peraduannya. Saya selalu antusias memotret sunset maupun sunrise. Entah sejak kapan saya suka mengabadikan sunset dan sunrise. Kami kembali ke penginapan, shalat maghrib dan Isya, dilanjutkan dengan berbincang cukup lama. Farkhad dan istrinya berada di ruangan lain, saya dan Renat ngobrol banyak hal di depan kamar sambil melihat ke arah ombak yang berderu tanpa henti. Hingga malam menjelang, kami berdua masih ngobrol sampai kami sama-sama mengantuk.
Selesai sudah perjalanan hari kedua di Lombok. Tidak banyak yang kami lakukan, tapi itu cukup berarti. Mungkin karena kami melakukannya bersama-sama. Tidak mudah menemukan orang-orang yang bisa akur dalam sebuah perjalanan. Kebersamaan seperti inilah yang sebenarnya membuat kami bahagia menjalaninya. Kadang bukan masalah kemana tujuan kita, namun bagaimana kita bisa memanfaatkan kebersamaan bersama orang-orang yang terkasih. Bahagia itu sesederhana itu.

Lombok (First Day)

 Sunset di daerah Banyumulek, Kerangkeng
First Day
Saya sudah mendarat di lombok kurang lebih pukul 12.30 waktu setempat, sementara Renat, Farkhad dan Istrinya masih dalam penerbangan menuju Lombok. Mereka bertiga dari Jakarta, sementara penerbangan saya dari Surabaya. Agenda pertama di Lombok adalah duduk lesehan di tempat pengambilan bagasi seorang diri, karena yang lain sudah selesai mengambil bagasi. Saya masih santai duduk lesehan kayak homeless sambil makan roti O yang enaknya bikin saya tambah lapar, bukannya tambah kenyang.
Saya, Renat, Farkhad dan Istrinya

Mau tahu berapa lama saya menunggu di Lombok International Airport? Dua jam. Dua jam itu waktunya cukup loh buat acara resepsi pernikahan (lost focus), hehe. Kagak, maksud saya, dua jam itu waktu yang lama. Saya mondar-mandir, motret beberapa pegawai airport secara diam-diam, mulai dari cleaning service, penjaga toko, tukang dorong troli barang, bahkan tong sampah nggak luput dari jepretan saya. Asli kurang kerjaan banget.
Tiga Sahabat Karib

Setelah lelah menunggu Krisdayanti datang *dipentung Rahul Lemos*, akhirnya Renat nongol juga, diiringi oleh Farkhad dan Istrinya. Kasihan, ya, Renat, jalan-jalan bareng Farkhad yang sudah beristri, ngelihatnya itu kok nggak enak gitu, ganjil. Haha *melirik Renat yang kayak orang bingung nyariin saya*. Saya sudah lihat dia dari kejauhan, ngaktifin HP, kemudian menghubungi saya, tapi nggak saya angkat, sengaja ngerjain biar tambah bingung. Saya malah kabur ke toilet karena sesuatu (masa iya harus saya jelasin juga apa kegiatan saya di toilet). Setelah selesai bersemedi di Toilet, saya baru menghampiri Renat dan yang lain sambil jabat tangan, kemudian senyum tipis alias nyengir.
Setelah urusan bagasi selesai, selanjutnya adalah diskusi kemana sebenarnya arah perjalanan ini, mau dibawa kemana sebenarnya hubungan ini? *mendadak nyanyi*. Iya, ini liburan yang rada absurd sebenarnya, meski saya sudah punya rencana jalan-jalan sendiri, tapi masa iya saya memaksakan kehendak saya sendiri ke mereka bertiga. Makanya perlu diskusi. Meski sebenarnya ada beberapa teman yang siap menampung saya selama di Lombok dan itu tentu saja mengurangi biaya liburan saya *modus*, tapi saya nggak boleh egois, karena nyatanya saya berlibur bareng tiga orang teman yang tentu saja memiliki arah dan tujuan sendiri selama liburan kali ini. Maka saya lebih memilih menjadi teman yang menemani sahabat yang sedang berlibur. Saya mengikuti apa kata mereka saja.
Karena Renat dan yang lain terlihat bingung, akhirnya saya usul untuk menginap di rumah teman saya, kemudian besok baru jalan-jalan dengan menyewa mobil. Mereka setuju dan akhirnya kami cabut dari Bandara dengan travel menuju rumah teman yang sudah sejak beberapa hari yang lalu sudah menghubungi saya untuk menginap di rumahnya selama saya di Lombok dan dia siap menampung saya dan tiga orang teman saya.
Dalam perjalanan, seperti biasa, Renat yang tidak lain adalah sahabat saya yang sangat baik hati ini selalu melakukan recording di setiap perjalanan. Renat asik mengabadikan kebersamaan kami dalam video sambil menyapa satu persatu, kemudian merekam keindahan pemandangan yang kami lalu.
“Lombok is more beautiful than Bali,” ucapnya sambil tersenyum ke arah saya.
“Ehm, I think so,” jawab saya sekenanya, kemudian ikut-ikutan merekam kebersamaan kami di dalam mobil.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, kami sampai pada tujuan, yakni di daerah Banyumulek, langsung dipersilahkan masuk dan meletakkan barang-barang di kamar yang sudah disediakan. Farkhad dan istrinya di kamar tersendiri (kalo gabung ama saya dan Renat bahaya) hehe. Renat dan saya di kamar sebelahnya. Well, alamat bakalan rusuh kalo saya dan Renat dijadiin satu kamar. Saya jamin kagak bakalan tidur ini jadinya.
Bersama tuan rumah

Setelah meletakkan barang, kemudian shalat, selanjutnya adalah mencari makan sambil berkeliling daerah sekitar dengan dua buah motor yang sudah disediakan oleh teman. Renat nggak bisa pake motor selain motor matic, jadilah saya yang jadi tukang pacu. Kami berhenti di salah satu tempat makan, memesan sate kambing dan sate ayam yang lezat. Sambil menunggu pesanan siap saji, kami ngobrol ngalor ngidul nggak jelas, ketawa-ketiwi dan seperti biasa, saya kalo sudah disatukan bareng Renat, nyaris nggak bisa diam. Ada aja ulahnya, ada aja idenya gangguin saya, haha. Mungkin ini yang membuat kami dekat satu sama lain. Bahasa sudah tidak jadi kendala dalam persahabatan kami.
Selain ngobrol ngalor ngidul, ketawa-ketiwi, nggak lupa foto-foto. Renat pasang wajah sok-sok serius pas dipotret. Tapi saya tidak seantusias dahulu, saya lebih suka motret orang lain ketimbang dipotret. Jadilah Renat menjadi super model saya dalam perjalanan kali ini. Saya lebih suka motret mereka bertiga, ketimbang ikutan nimbrung. Palingan pas Renat mau foto berempat, barulah minta orang lain untuk mengabadikan kebersamaan kami.
Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke daerah yang tidak jauh dari rumah teman saya, melihat sunset di dekat persawahan. Renat tetap dengan handhphone-nya, merekam keindahan alam ciptaan Tuhan. Kami berhenti, kemudian mengabadikan kebersamaan meski maghrib sudah hampir menjelang. Setelah puas foto-foto dan diteriakin sama remaja-remaja setempat yang begitu antusias begitu melihat bule, kami pulang dan shalat maghrib berjamaah di masjid. Inilah kerennya kalo bepergian dengan orang-orang yang seiman, tetap berusaha menjaga kualitas ibadah meski sedang bepergian. Sebisa mungkin kami shalat berjamaah.
Habis maghrib, kami disambut oleh sekelompok anak-anak yang cukup rame, mereka berkerumun di tempat rumah teman saya, berbisik-bisik, kemudian rame sendiri ketika melihat kami berempat. Mungkin saja mereka masih penasaran melihat orang asing yang menginap di desa mereka, haha. Mereka lucu, kalian tahu sendiri saya itu senang banget dengan anak-anak. Di antara kami berempat, saya yang paling antusias menyapa mereka. Kemudian berbincang sejenak, sebelum akhirnya kami masuk dan istirahat di kamar masing-masing.
Waktu begitu cepat berlalu, habis isya, kami berempat berbincang sejenak dengan yang punya rumah, sekaligus diperkenalkan dengan beberapa anggota keluarga yang sengaja datang menyambut kedatangan kami. Kami betul-betul diperlakukan sedemikian baik oleh teman saya. Saya jadi nggak enak sendiri. Kendala bahasa menjadi penghambat komunikasi yang punya rumah dengan tiga orang sahabat saya. Jadilah saya yang paling banyak ngomong, menerjemahkan, biar komunikasi antara yang punya rumah dan tiga orang sahabat saya bisa berjalan dengan baik.
Sebelum tidur, kami berdiskusi dulu, setelah berdiskusi dan sepakat bahwa besok akan pergi ke air terjun Sendang Gile, air terjun Tiu Kelep, dan dilanjutkan dengan pergi ke Senggigih sambil mampir-mampir ke beberapa pantai di sepanjang jalan menuju pantai senggigih. Rencana kami akan menginap di Senggigih satu malam, baru kemudian melanjutkan liburan di Pulau Gili Terawangan.
Setelah diskusi alot, kami masuk ke kamar masing-masing, rencananya mau tidur. Saya sudah tahu, nggak bakalan ada yang namanya tidur nyenyak malam ini. Haha, biasalah, saya dan Renat emang sering lupa waktu kalo lagi bareng. Lampu sengaja dimatiin, kipas angin  saya hidupkan, kemudian berbaring di kasur, Renat juga ikut berbaring, dan perbincangan pun dimulai, sampai pukul 3 pagi *kucek-kucek mata*. Kami berdua bercerita banyak hal, mulai dari masa kecil masing-masing, tentang keluarga, impian maisng-masing dan seabrek obrolan yang lainnya. Renat menyelipkan berbagai kosa kata dalam bahasa Rusia dan Tatar biar membantu saya memahami bahasa asalnya.
Meski kebanyakan tertawanya, saya tiba-tiba hanyut dalam cerita Renat tentang kondisi ayahnya yang sempat mengalami stroke dalam waktu yang lumayan lama dan membuatnya harus berhenti dari bekerja dan akhirnya memilih untuk membuka usaha sendiri di rumahnya, berupa toko barang pecah belah. Saya sempat meneteskan air mata, saat Renat bercerita tentang proses operasi yang dilakukan berulang kali demi kesembuhan sang Ayah. Renat tidak tahu kalo saya menangis, karena suasana dalam gelap.
Renat bilang, “Setiap orang pasti pernah berada dalam kondisi demikian, lemah, atau bahkan hilang arah. Namun tidak sedikit orang yang tetap bertahan meski cobaan hidup demikian berat. Kita hanya perlu berusaha sebaik mungkin dan percaya, bahwa selalu ada hikmah dalam setiap cobaan.”
Jarum jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Kami berdua memutuskan untuk tidur sejenak sebelum subuh menjelang. Well, agenda sebelum tidur pun nggak lepas dari rusuh, saya suka dingin alias pengen kipas angin tetap nyala, sedangkan Renat suka hangat, alias kipas angin harus mati. Akhirnya saya mengalah. Kemudian baru bisa tidur.

Banci Foto

Tuh masih seribuan yang belum dihapus, sepertinya kudu manual alias satu-satu ngapusnya #hikz 

Pernah mendengar istilah keren ini? Hehe, kayaknya kalo kalian mencari di dalam KBBI, kalian nggak akan menemukan pengertian utuh dari istilah Banci Foto ini, palingan nemu satu persatu, istilah banci dan Foto, selebihnya kagak bakalan nemu *songong tingkat dewa*
Saya (dulunya meski sekarang masih agak) sangat suka difoto, banget malah. Apalagi zaman-zaman masih pake camdig pocket gitu, duh narsisnya nggak ketulungan sumpah. Hari ini saya sengaja membuka kembali foto-foto saya dari sekian abad yang lalu (please Rian, lebay jangan kebangetan) kemudian saya menemukan foto-foto yang aduh saya sendiri malah malu pake banget melihat sekian banyak foto-foto itu. Saya nggak bakalan berani majang itu foto di jejaring sosial setelah umur seperempat abad gini. Beneran. Banyak banget foto yang alay super parah. Fiuhhh, ternyata saya pernah alay juga, bro *tutupin muka pake selimut*
Ini bermula dari kerjaan saya dan Renat pas malam tahun baru. Kerjaan kami berdua malam itu adalah mantengin foto-foto di laptop Renat. Mulai dari kedua orangtuanya, kakaknya, saudaranya, neneknya, kakeknya, teman-temannya,  foto-foto pas dia pertama kali di Indonesia dan seabrek foto yang lainnya. Maklum, libur, Bro, waktunya malas-malasan di kamar. Saya baru sadar ternyata Renat juga sangat suka dengan yang namanya foto, meski koleksi foto saya jauh lebih banyak ketimbang dia *mulai sombong kemudian dilempar DSLR*. Renat lebih suka video ketimbang gambar, saking sukanya, gue naik motor aja direkam. Kami berdua kadang ketawa ngakak pas melihat aneka pose foto dan video yang ada di laptop Renat.
Setelah puas melihat foto, timbul satu pertanyaan yang kemudian membuat saya merenung pake lama banget, saking lamanya, gue sampe ketiduran (emang dasar tukang tidur). Jadi begini, Renat bukan tipe orang yang suka share foto-foto. Coba aja lihat FB Renat, nggak bakalan nemu foto selain foto profile yang sudah sekian abad kagak diganti, palingan foto dari temannya yang sengaja nge-tag dia. Selebihnya nggak ada foto-foto dia. Itu keren. Lah gue? Duh, foto saya di facebook itu ribuannn, saya ulangi, ribuaaannn, ada kali lima ribuan lebih. Kok bisa ini orang kagak share foto-foto di jejaring sosial? Kenapa saya nggak bisa menahan diri seperti Renat? Saya itu bawaannya pengen jingkrak-jingkrak kalo pas punya foto yang kebetulan bagus (menurut gue haha) meski sebenarnya akhir-akhir ini saya lebih suka share foto yang berbau alam *ghaib* mendadak horror*.
Berdasarkan obrolan dengan Renat yang tidak suka foto-fotonya dipajang di jejaring sosial atau tempat yang lain. Akhirnya saya mikir lama. Setelah mikir lama, akhirnya saya memutuskan untuk menghapus foto-foto di facebook. Iya, hari ini kerjaan saya adalah menghapus ribuan foto yang sudah saya share di facebook, baik yang sendirian, maupun bersama orang lain. Baik foto jalan-jalan ataupun foto alay. Saya hapus semua. Tersisa foto-foto yang pernah dijadikan foto profile, cover, dan beberapa foto yang saya share melalui mobile yang kayaknya kudu dihapus satu persatu dan itu butuh waktu lama. Fiuh,, lama loh saya menghapus seabrek album foto yang ada di facebook. Kenapa saya memilih untuk menghapus? Biarlah foto-foto itu saya simpan sendiri saja.
Ini bukan berarti saya akan langsung berhenti share foto, nggak, belum ada rencana sejauh itu. Paling sekarang lebih suka share foto-foto hasil jepretan yang berupa pantai, hutan, hewan dsb dimana saya nggak ada di dalamnya. Walaupun ada sayanya, pastikan fotonya tidak saya sesali setelah sekian tahun yang akan datang. Nggak kayak kejadian hari ini, saya malu sendiri melihat banyaknya foto-foto super nggak enak dilihat.
Pernah suatu ketika, lagi makan di salah satu Mall (jiahhh Gaya, mahasiswa makannya di Mall *sekali doangggg*) di Malang, saya dan kawan-kawan asik ngobrol, kemudian Renat nyeletuk setelah melihat sekelompok muda-mudi yang makan bareng, dimana masing-masing dari mereka sibuk selfie, kemudian motret makanan dan kegiatan foto bareng lainnya. Renat bilang, “pasti setelah makan mereka bakalan share foto-fotonya di jejaring sosial”, duh, saya pernah kayak gitu. Itu nohok banget, meski sekarang sebenarnya masih suka motret makanan, tapi tidak separah dulu. Dan saya nggak suka selfie *mendadak galau melihat foto di instagram yang ternyata ada beberapa foto selfienya*. Tuh, kan. Ternyata selama ini saya itu masih belum sepenuhnya move on dari kebiasaan jadi banci foto ini.
Saya menyadari, kita boleh kok share foto, asal jangan kelewatan sharenya. Apa-apa di share. Saya sudah mengalami masa-masa itu, dan berharap bisa lebih dewasa lagi dalam memilah mana foto yang memang layak untuk dibagi, mana foto yang memang harusnya hanya menjadi konsumsi sendiri, bukan konsumsi publik.
Saya memang sudah mulai mengurangi kebiasaan akut saya yang terlalu hembreng sendiri tentang masalah share foto ini. Sekarang saya memilih share di blog saja, yang lebih terbatas, karena palingan hanya beberapa foto saja yang dipajang, jarang sampai banyak dalam satu postingan, dan terlihat lebih nyaman pas dilihat. Saya obrak-abrik foto-foto di blog masih aman, nggak ada yang bikin dahi saya berkerut karena melihatnya. Sepertinya foto-foto di blog masih dalam tahap aman dan biasa saja.
Ya sudahlah, ya, udah terlanjur juga. Setidaknya sekarang dikasih waktu untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang mungkin tidak seharusnya dilakukan. Kayak pas lagi ngumpul ama temen, ya jangan pada sibuk masing-masing ama HP. Saya dan teman-teman saya udah jarang ngurusin HP kalo pas lagi ngumpul bareng, lebih suka ngobrol. Kalo pas jalan-jalan juga, HP kadang disimpen di kamar, biar fokus liburan. Well, semua orang punya pendapat sendiri-sendiri. Selamat malam dan salam TAMPAN *capslockON*

Bahasa Gado-gado

Selamat tahun baru, ya, semalam saya nyenyak tidur setelah seharian jalan-jalan sama Renat, Arthur, Muhammad, Farhat and his wife, Mir ‘Athoullah (semua mereka berasal dari Rusia) kemudian dilanjutkan makan malam bersama. Jam 9 sudah pulang dan istirahat. Saya dan Renat langsung ke asrama, yang lain entah kemana, mungkin saja langsung balik ke kamar masing-masing dan menikmati suasana khusyu penuh khidmat di atas kasur (baca: tidur) hehe.
Dua minggu terakhir, saya sedang mengalami masa-masa dimana saya kesusahan kapan saya harus berbicara bahasa Indonesia, kapan saya harus berbicara Bahasa Arab, kapan saya harus berbicara Bahasa Inggris, dan kapan saya harus diam (tutup mulut pake bakwan). Iya, ini saya sadari saat saya berbicara dengan sahabat sekaligus tukang rusuh di kamar, siapa lagi kalo bukan Renat *dijitak*. Renat bilang, akhir-akhir ini saya sering mencampur adukkan bahasa, kadang berbicara Bahasa Arab kemudian dicampur Inggris, Kadang bicara bahasa Inggris, kemudian dicampur Arab, atau kadang berbicara bahasa Indonesia kemudian dicampur Arab dan Inggris.
Sebenarnya, saya menyadari itu sejak beberapa hari yang lalu, karena saya sama sekali tidak ada unsur kesengajaan mencampur adukkan itu semua. Namun, kadang ketika saya berbicara bahasa Arab kemudian sampai pada kata yang tidak saya ketahui, otak saya seolah langsung mencari arti kata itu dalam bahasa lain, baik Inggris maupun Indonesia, begitu juga sebaliknya.
Coba bayangin sejenak, ya, (bayangin aja bentar, nggak usah lama-lama). Ketika saya berada dalam satu kelompok dimana saya harus menggunakan tiga bahasa ini dalam berkomunikasi, misalnya, pas pergi bareng teman-teman kemarin, dengan Arthur saya harus berbicara Bahasa Inggris karena dia tidak mengerti bahasa Indonesia maupun Arab. Dengan Renat saya harus lebih banyak berbicara bahasa Arab karena kosa kata bahasa Inggrisnya masih sangat minim. Berbicara dengan Farhat, saya harus berbicara bahasa Inggris, meski sebenarnya Farhat juga cukup paham bahasa Indonesia karena memang sudah cukup lama belajar di kampus UIN. Dengan Muhammad, saya malah campur aduk berbicara dengannya, karena saya tidak tahu bahasa mana yang sebenarnya dia lebih mengerti, apakah Arab, Inggris, atau Indonesia, karena Muhammad lebih sering berbicara sepotong-sepotong, antara Indonesia, Inggris, Arab, atau bahkan Rusia yang kadang membuat saya melongo sendiri ini orang ngomong apa. Dengan Mir ‘Athoullah, saya harus berbicara bahasa Arab utuh, meski kadang-kadang dia berusaha berbincang dengan bahasa Indonesia sepotong-sepotong. Nah, udah bisa bayangin bagaimana kondisi yang rutin saya hadapi sehari-hari? Itu baru yang dari Rusia, belum teman-teman dari Negara yang lain, Libia, Sudan, Thailand, Singapura, Australia, dll.
Saya mengalami kesusahan untuk memahami atau memberikan tanggapan atas berbagai rangsangan yang berupa bahasa yang ada di sekeliling saya. Saya mengakui kesulitan ini. Dan ini terbawa-bawa ketika berbicara dengan teman-teman Indonesia secara spontan, meski untungnya sebagian besar dari mereka bisa diajak berkomunikasi dengan Arab maupun Inggris. Contoh, ketika sedang presentasi makalah, kadang saya harus menyusun sedemikian rupa kalimat-kalimat yang akan saya sampaikan, demi menghindari yang namanya berbicara dengan bahasa ala gado-gado alias campur aduk. Ini tidak mudah bagi saya, karena memang saya sedang berproses memahami kedua bahasa tersebut dengan baik.
Kadang, saya dituntut untuk mencerna informasi yang saya terima, kemudian merespon dengan bahasa yang sama, namun gagal, karena yang keluar akhirnya bahasa yang berbeda dengan bahasa yang saya terima. Ini tentu saja tidak bisa diterima oleh semua orang. Orang yang tidak memahami kondisi saya, mungkin akan menganggap bahwa saya sengaja mencampur adukkan bahasa itu biar dibilang keren, atau bahkan ada yang berpendapat biasa saja dan sudah memaklumi karena memang saya lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang yang menggunakan kedua bahasa itu (Arab dan Inggris).
Pernah suatu ketika (ini cukup sering sebenarnya), ketika makan malam dengan Renat saya berbicara bahasa Arab, kemudian saat memesan makanan, kadang secara spontan saya akan berbicara dengan bahasa Arab tanpa sadar bahwa saya sedang berbicara dengan orang yang bisa jadi tidak memahami apa yang saya ucapkan. Ini cukup sering terjadi. Saya mengakui ini dan berusaha untuk fokus, namun lebih sering gagal.
Jujur, ada semacam kekhawatiran tersendiri dari dalam diri saya akan bahasa yang jadinya campur aduk begini. Karena tidak semua orang bisa memahami itu semua, bukan? Maka sebisa mungkin saya berusaha memahami kondisi yang ada. Saya tidak tahu apakah mahasiswa lain mengalami hal yang sama atau tidak. Yang jelas, kondisi ini menurut saya perlu diatas sedini mungkin, biar saya bisa memahami waktu yang tepat untuk berbicara dengan bahasa yang seharusnya.
Di satu sisi, banyak teman yang akhirnya semangat belajar bahasa, ketika melihat saya berusaha sedemikian keras untuk bisa. Tidak sedikit yang akhirnya memutuskan untuk ikut saya ke Pare demi belajar bahasa, bahkan ada yang meminta saya membimbing mereka. Padahal, saya sama sekali tidak memiliki basic yang bagus dalam bahasa Inggris maupun Arab, saya hanya tipe orang yang tidak malu untuk mencoba. Itu saja, jadi kesannya saya adalah orang yang sudah super mahir berbicara kedua bahasa itu, padahal sama sekali tidak.
Karena bagi saya, sepandai apapun kita dalam memahami suatu bahasa, kalo tidak pernah dicoba, saya rasa tidak akan pernah bisa lancar. Renat sering memperbaiki ucapan saya biar menjadi lebih baik dan benar. Mir ‘Athoullah juga sering memberi saya masukan bagaimana suatu kalimat seharusnya saya ucapkan. Karena memang Renat dan Mir ‘Athoullah kuliah di jurusan bahasa Arab. Begitu juga dengan Ahmad (Libia), sering mengajari saya kalimat-kalimat baru untuk kemudian dipraktikkan dalam percakapan sehari-hari. Ini cukup membantu saya dalam berbahasa, meski sekarang saya sedang mengalami kondisi aneh karena sering mencampur adukkan bahasa.
Setidaknya bagi saya, saya menyadari itu dan berusaha untuk memaksimalkan potensi diri. Setidaknya saya mau berusaha menyesuaikan kondisi, kapan saya harus menggunakan bahasa tertentu dalam berkomunikasi kepada orang-orang yang ada di sekitar.
Baiklah, sekian curhat saya hari ini, saya mau istirahat. Selamat menikmati liburan awal tahun, kawan. Semoga bisa memberi semangat untuk kemudian melangkah maju setelah menjalani liburan bersama orang-orang yang tercinta. Insha Allah saya akan terbang ke Lombok tgl 4 sampai tgl 9 Januari. Selamat berlibur.

- Copyright © 2013 Arian's Blog - Simple is beauty - Powered by Blogger - Redesign By YBC(Yahya's Blog Community) - Designed by Johanes Djogan -