New Post!

Dear Faris

Dear Faris
Buku Terbaru

New Catatan Hati Sang Guru

New Catatan Hati Sang Guru
New CHSG

Blog Archive

Kategori

Powered by Blogger.

Followers

Warung Blogger

Warung Blogger
Yuk Ngopi Bareng

Total Pageviews

Teruntuk Faris

Faris Ersan Arizona

Kalian tentu masih ingat dengan Faris Ersan Arizona, bukan? Salah satu murid saya yang pernah saya tulis di dalam buku yang berjudul “Dear Faris – Catatan Inspirasi si Pahlawan Kecil-”. Hari ini saya dikagetkan oleh sebuah komentar salah satu rekan di salah satu status saya di Facebook.
“Minta doanya, Faris bulan depan mau operasi di Bandung. Kakinya pasca kecelakaan infeksi keluar nanah terus dan mengalami pengeroposan.”
Seketika saya kaget, sudah beberapa hari saya tidak berkomunikasi dengan Faris, terakhir kayaknya satu pekan yang lalu, sempat lama ngobrol, ketawa bareng, dia pun masih suka usil sama saya, dan saya mengakui, karena jarak dan juga kesibukan, saya jarang berkomunikasi dengan Faris. Dari perbincangan saya dengannya, saya tahu dia masih kuat menjalani semua ini.
Dalam hidup, kita memang dihadapkan pada pilihan-pilihan yang kadang tidak mudah untuk dilalui, namun satu hal yang perlu dipercayai bahwa tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin, karena Allah selalu mempunyai kejutan-kejutan indah dalam hidup ini. Percayai, dan lakukan semuanya semaksimal mungkin.
**
Faris, kamu masih ingat dengan apa yang selalu Ustadz bilang?
“Selalu ada hasil dalam setiap usaha, sekecil apapun itu.”
Keyakinan itulah yang harus selalu Faris yakini, bahwa Tuhan sedang menguji Faris dengan cobaan yang tidak mudah untuk dilalui, tapi percayalah, Nak. Tuhan sayang dengan Faris, dan Ia percaya bahwa Faris pasti bisa melalui semua ini dengan baik.
Nak, maaf, ya, sejak Ustadz kuliah lagi, kita jadi jarang komunikasi, karena jarak dan kesibukan kadang membuat komunikasi kita tidak serutin dahulu, tapi kamu harus percaya bahwa ada doa-doa yang selalu Ustadz panjatkan demi kesembuhan Faris. Faris percaya, kan? Karena hakikatnya mendoakanmu adalah cara mencintai yang paling rahasia, Nak.
Faris, satu setengah bulan yang lalu, saat Ustadz menjenguk Faris di Purwokerto, menempuh jarak yang cukup jauh, dan akhirnya lelah terobati, karena bisa bertemu dengan Faris, yang sudah Ustadz anggap sebagai adik sendiri, dan Faris tahu, kan, betapa Ustadz sangat menyayangi Faris? Jangan lelah untuk berjalan meski harus tertatih, Nak. Jangan luntur semangat meski luka semakin menyisakan sakit sedemikian dalam. Jangan putus asa padaNya, karena semangat berjuang akan selalu ada selagi Faris percaya bahwa selalu ada harapan demi hari esok yang lebih baik.
Faris, kamu sudah pernah berhasil mengalahkan ketakutan saat berada di ruang operasi, dua kali bahkan, dan sekarang kamu akan kembali berada di ruangan itu untuk yang ketiga kalinya. Ustadz percaya, Faris pasti bisa menghadapinya dengan baik, yang perlu dimantapkan di dalam hati adalah “keyakinan akan kuasa-Nya”, karena ketika Faris meyakini kuasa-Nya, maka akan ada semangat juang yang lebih. Niatkan semua ini dalam rangka mencari ridha Allah SWT.
Nak, perjuangan ini memang masih panjang, ada banyak sekali hal-hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya dan kini harus dihadapi, namun yakinlah bahwa Tuhan memiliki rahasia tersendiri di balik semua proses yang Faris lalui, ada banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil, bukan? Faris sudah semakin dewasa, sudah semakin memahami hakikat dari perjuangan yang sesungguhnya, tetaplah mencinta Ia yang Mahacinta, meski luka tak kunjung mengering.
Faris, ada doa-doa yang ku ucap lirih pada-Nya, sebuah pinta akan kesembuhanmu, Nak. Semoga cintamu tetap utuh pada-Nya, seperti yang selalu Faris bilang,
“Tuhan lebih tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya.”
Sabar, ya, Nak.
**
Ya Rahman,
Engkau tahu mana yang terbaik bagi Faris
Kuatkan ia, yakinkan ia,
Bahwa Engkau mencintai-Nya seutuhnya

Merinduimu


Jarak memang membentang jauh di antara hatiku dan hatimu. Derap langkah kita tak lagi beringingan seperti dahulu, ada batas-batas yang membuat langkah kita semakin menjauh, menuju jalan masing-masing dengan cara dan aneka ragam warna jalan yang dilalui. Tapi hati kita tetap bersama meski ada jarak yang memisah.
Aku disini, dengan rangkaian doa-doa suci yang kurajut untukmu, seseorang yang telah berhasil menggenggam erat cinta yang dulu berterbangan bersama waktu. Engkau hadir mewarnai gelapnya malam yang dulu seakan menjadi akhir dari perjalanan hati yang tak kunjung berlabuh, aku jatuh cinta ketika tegur sapa pertama denganmu meski tanpa suara.
“Cinta, setialah pada hatiku sebagaimana kesetiaan hatiku menyebut namamu dalam doaku.”
Cinta, merinduimu adalah caraku membagi rasa yang kadang lelah merayu hati. Aku mencintaimu dalam tiap rindu-rindu yang terucap di kalbu nan disana. Ada namamu yang selalu kusebut di dalam sujud panjangku, ada wajahmu yang hadir kala tangisku tumpah karena menahan rindu, ya, aku merindumu sedemikian dalam. Adakah rindu untukku di hatimu, cinta?
Andai saja engkau hadir di sisiku kali ini, mungkin aku tak akan menjadi bak Majnun yang merindukan Laila, aku tenggelam dalam gejolak rindu yang entah kapan akan berlabuh. Aku berdiri tegak, berteriak dalam gelap malam nan sunyi, berharap hadirmu menemani hati yang dilanda cinta.
Kasih, kita berjanji akan bersabar, bukan? Bersabar menjalani semua ini sebaik mungkin, sampai nanti ajal memisahkan kita, meski belum kuikat kebersamaan kita. Aku masih tetap setia menunggumu, cinta. Menunggumu adalah bagian dari cinta yang tak sanggup kuucapkan kala berada di hadapanmu, meski sebenarnya menunggu adalah hal yang tak mudah bagi hatiku.
“Cinta, berjanjilah padaNya, bahwa akan selalu ada tentangku di hatimu, meski jarak memisahkan kita. Aku mencintaimu, kini, nanti dan selamanya.”
Cinta, mungkin engkau tak pernah tahu betapa aku mencintaimu. Engkau juga mungkin tidak pernah tahu sejak lama aku hadir di belakangmu dan tak pernah berani berkata jujur padamu. Aku hanyalah seorang pecinta yang tak punya nyali berucap cinta. Aku hanyalah pejuang rindu di kegelapan malam, namun luluh kala berhadapan denganmu. Itulah aku, cinta, aku yang dulu.
Cinta, kini tak ada lagi kekhawatiran tentang perasaanku padamu, karena engkau telah memberiku harapan, harapan untuk berjuang bersama denganmu, membangun cinta menuju ridha-Nya.
Cinta, aku mulai berani mengucap cinta di hadapanmu, meski hanya sebatas ucapan lirih yang mungkin tak sanggup untuk kau dengar, namun setidaknya aku sudah mulai berani menyebutnya di hadapanmu meski lirih tak terdengar.
Cinta, detik waktu terus berjalan, pun demikian dengan rasaku padamu, ia semakin mekar mewangi, meski belum sepenuhnya kumengerti tentangmu, tapi engkau memberiku kesempatan untuk mencintaimu.
Cinta, tetaplah yakin akan cintaku, sebagaimana keyakinanku akan cintamu untukku.

Pantai Goa Cina


17 November 2014
Halo, selamat pagi semuanya,
Ini sudah hari Senin lagi, bro, bangunnn, saatnya kuliah pagi (kucek-kucek mata yang masih mengantuk). Well, pagi ini saya mau cerita tentang kegiatan saya dan beberapa teman sekelas di hari Minggu kemarin. Baiklah, ini semacam tulisan tukang rusuh yang sengaja mengajak orang biar merasakan bahagianya kebersamaan yang saya rasakan kemarin. Entahlah, selalu ada bahagia yang menyeruak tiap kali berada di tengah-tengah sahabat-sahabat terkasih.
Kemarin, setelah sebelumnya sibuk dengan tugas (lagi-lagi tugas, bro, kapan berakhirnya ini #drama), saya dan 10 orang teman akhirnya memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Sebenarnya ide ini sudah lama, tapi nggak kunjung direalisasikan dengan alasan kesibukan. Jalan-jalan ini juga lebih tepatnya karena saya yang menjadi virus alias tukang provokasi karena pekan sebelumnya saya pergi jalan-jalan dan mereka melihat foto-foto yang saya share di jejaring sosial, jadilah semangat untuk jalan-jalan menjadi berlebih. Jadi saya ini semacam virus, tapi in a good way, lol.
Tujuan kami kali ini adalah pantai Goa Cina, kurang lebih 3 jam dari Malang Kota, lama? Oh tidak, karena berangkatnya rame-rame, ada teman yang bawa mobil, kemudian satu lagi nyewa mobil buat sehari. Perjalanan menuju sana aman-aman saja pada awalnya, tapi menjadi tidak aman karena ada karnaval pas sudah dekat dengan lokasi dan kami harus berbalik arah dan melalui jalan kecil alias masuk ke kampung-kampung demi menghindari keramaian dan kami nyasar, bro. iya, nyasar. Ah, tapi sebenarnya ini bukan nyasar, semacam bonus jalan-jalan saja #lapkeringat. Seperti yang saya bilang di awal, perjalanan ini menyenangkan meski harus nanya sana-sini karena buta arah, namun selalu ada sahabat yang selalu menjadi teman setia untuk berbagi cerita selama perjalanan, tertawa, makan (jangan ditanya siapa yang paling banyak makan camilan), dan melakukan aneka ragam hal kocak saat di perjalanan.
Dzhuhur sudah tiba, (pengennya libur telah tiba sebenarnya #dijitakDosen), kami baru sampai lokasi pantai Goa Cina, pantainya masih terlihat alami, karena jalanan menuju ke pantai masih jalan ancur-ancuran alias belum diaspal mulus. Meski demikian, tetap saja ramai pengunjung yang datang. Setelah shalat dan dandan alias pakai sunblock haha, saya menjalankan sebuah rutinitas kalo jalan-jalan, 15 menit pertama adalah foto-foto pemandangan sekitar, selanjutnya adalah mandiiiii, iya, kalo ke pantai kemudian kagak mandi, fiuhh, garing, jendral.
Yang lain masih di pinggir, saya sudah kayak lepas control, semacam baru lepas dari rumah tahanan, merasakan kebebasan yang sedemikian rupa, tidur-tiduran di pasir, guling-guling, sementara yang lain masih di pinggir menikmati aneka camilan yang dibawa oleh teman-teman. Beberapa saat kemudian barulah rame-rame mandi, maen bola, melempar bola sejauh mungkin ke tengah dan bolanya selalu kembali ke pinggir, kejar-kejaran, lempar-lemparan air, maenin pasir dan tentu saja foto-foto bareng. Jarang-jarang kami bisa jalan bareng kayak begini. Meski formasi kali ini belum lengkap, karena hanya 11 orang yang ikut dari 21 teman di kelas, tapi tidak mengurangi kebahagiaan kami tentunya.
Setelah dirasa puas mandi, saatnya bakar-bakar jagung. Sebelum berangkat, teman sudah ke pasar, membeli jagung lengkap dengan keperluan untuk bikin jagung bakar. Semua duduk melingkar di perapian, menunggu dengan was-was jagung yang sedang dibakar hahaha. Dan saat jagung sudah siap untuk disantap, semua menikmati jagung bakar ala kami tentunya, dengan kreasi tersendiri. Tolong jangan tanya berapa banyak saya makan jagung bakarnya, ya, saya malu menyebutnya *iket perut pake tali*
Setelah makan jagung bakar, tahap selanjutnya adalah beli ikan segar, kemudian dibakar. Iya, jalan-jalan kali ini nggak jauh-jauh dari makan, makan, dan makan haha. Saya lebih banyak menjadi penonton dan tukang makan, ketimbang bantuin bakar-bakar ikan. Maklum, lingkaran perut saya sekarang lagi keren, jadi nggak takut makan banyak, secara udah kecil nih perut #curcol.
Setelah selesai makan ikan bakar, hujan turun, pas banget kami sudah mandi, sudah kenyang, sudah menjalani kebersamaan dengan bahagia, dan sekarang saatnya mandi. Sambil antri mandi, ngobrol ngalor ngidul, ngomongin masalah kuliah dan lain-lain. Setelah semua selesai mandi, saatnya foto-foto (lagi) dengan penampilan yang berbeda dengan sebelumnya. Sebelumnya foto pas saat basah-basahan, sekarang foto dengan pakaian rapi karena akan melanjutkan perjalanan ke Masjid Turen alias Masjid Tiban.
Di dalam perjalanan menuju Masjid Turen, saya tidur karena merasa lelah. Dinginnya malam membuat saya tidur nyenyak. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, sampai juga di masjid Turen, dan jam sudah menunjukkan pukul 19.30, sudah mulai larut. Suasana di masjid Turen masih rame, sayang banget berkunjungnya pas malam, nggak bisa melihat warna masjidnya yang keren kalo siang hari. Maybe next time I will visit this mosque again, Insha Allah.
Kami berjalan dari lantai satu ke lantai selanjutnya, foto-foto, dan ada raut bahagia yang luar biasa, meski sebenarnya kami sudah merasa kelelahan. Setiap kali ada momen foto bareng, terlihat wajah-wajah yang sumringah, kami bahagia menjalani kebersaaan kali ini. Setelah dirasa cukup, akhirnya kami memutuskan untuk mencari makan. Kami mampir di salah satu warung makan, makan bareng-bareng, saling usil satu sama lain dan gelak tawa kami menunjukkan bahwa ada cinta yang terjalin dalam kebersamaan kami. Ya, kami mengenal satu sama lain baru dua bulan terakhir dan kebahagiaan kami begitu terasa, kedekatan satu sama lain terjaga dengan baik, saling pengertian dan inilah sebenarnya yang membuat saya betah menghabiskan akhir pekan bersama mereka semua.
Semoga kebersamaan ini akan selalu ada hingga nanti. Selamat menjalani aktifitas di hari Senin, kawan, semangat dengan tugas yang siap menyapa. 

Bale Kambang


8 November 2014
Bismillah, akhirnyaaaaa….
Setelah dua bulan saya berada di Malang dan belum sempat jalan-jalan, megeksplor keindahan Malang karena tumpukan tugas yang aduhai keren-keren itu and now goodbye books, papers, journals haha, I can go to Bale Kambang beach with my friends from rusia; Renat, Mir ‘Athoullah, dan Farhat beserta istrinya.
Habis subuh si Renat udah bikin rusuh di WhatsApp sebelum keberangkatan, tiba-tiba dia bilang nggak jadi berangkat, kemudian saya telpon, dia ketawa ngakak, sambil bilang “I’m kidding”, sumpah, Renat lama-lama bikin saya naik darah, deh, akhir-akhir ini saya tidak bisa membedakan kapan dia serius, kapan dia becanda, dan kalian tahu, kan, saya ini laki-laki yang lembut, baik hati, dan rajin menabung?? #abaikan
Jam tujuh pagi, kami pergi ke Bale Kambang, dari Malang kota kurang lebih memakan waktu 2 jam perjalanan, saya dibonceng Renat karena saya nggak berani bepergian jauh dengan mengendarai motor sendiri. Dari awal saya sudah bilang ke dia, saya mau ikut kalo saya dibonceng (dasar saya malas nyetir haha). Farhat boncengan ama istrinya, sedangkan Mir ‘Athoullah sendirian. Saya dan Renat kompakan banget pakaiannya, sementara yang lain simple. Yang lain bawa tas, Renat bawa kantong plastik haha, jadilah dia disebut pemulung sepanjang jalan-jalan kali ini.
Kami sampai pantai Bale Kambang jam 9 pagi, langsung beli tiket masuk 10.000/orang, kemudian menitipkan motor di tempat parkir dengan membayar 3.000,/motor.
Setelah parkir motor, kami langsung mencari tempat makan, iya, kami semua belum sarapan. Jadilah agenda pertama adalah pesan ikan bakar yang gedenya bikin saya cemas (halah). Dahi saya berkerut ketika mereka pesan ikan sebanyak itu untuk berlima doang, ukurannya menurut saya gede, karena saya makannya dikit (dikit-dikit nambah) haha. Kerennya lagi, jalan-jalan kali ini saya pake nggak bawa dompet lagi, parah pake banget. Tapi tenang, ada Renat yang siap menanggung semua biaya liburan kali ini. Thank you, Renat, you are my best friend (muji karena ada maunya), eh becanda, Renat memang teman baik saya sejak di Malang.
Sambil menunggu ikan bakar siap saji, kami duduk bareng, ngobrol banyak hal, dan saya kadang senyum-senyum nggak jelas ketika mereka ngobrol pake bahasa Rusia, tapi lagi-lagi Renat sangat tanggap, dia akan menjelaskan semuanya menggunakan bahasa Arab atau Inggris. Untungnya Renat dan Mir ‘Athoullah mahir dalam Bahasa Arab. Renat lumayan bisa bahasa Inggris karena selama ini berkomunikasi dengan saya memakai Inggris. Sedangkan Farhat lebih mahir bahasa Inggris. Jadi komunikasi di antara kami berjalan lancer jaya.
Pas sedang nunggu ikan bakar siap, malah sibuk foto-foto, apa-apa di foto, lagi minum es degan difoto, kemudian si Mir ‘Athoullah malah sibuk foto-foto sambil mengangkat beberapa kelapa yang masih bersatu dalam satu tangkai, dan Renat jadi tukang fotonya. Haha. Persis kayak binaraga, bedanya dia nggak ada otot-otot kayak binaragawan #dijitak.
Masih menunggu, kemudian ada ulat yang entah datang dari mana, tiba-tiba udah ada di celana Renat, jadilah kegiatan selanjutnya adalah maenin si ulat, iya, semuanya malah sibuk menyentuh ulat, memerhatikannya, sementara saya udah geli (baca: takut), fiuh, saya takut ulat, bro. aih, laki-laki macam apa saya ini.
Finally, ikan bakar siap dan kami pun makan. Suasana penuh khusyu, karena sedang berhadapan dengan ikan bakar yang cihuy, lezatnya mantap. Kalian harus coba deh kalo berkunjung ke Bale Kambang, jangan lupa pesan ikan bakar. Saya udah selesai duluan, satu doang udah bikin saya kekecangan, yang lain masih asik makan. Renat udah berulang kali nyuruh ngabisin ikan yang satunya lagi. Karena emang jatahnya 2/org. Saya udah nyerah. Melihat saya sudah nggak kuat melanjutkan perjuangan memakan ikan, timbul sebuah kata bijak Mir ‘Athoullah, bijak tapi nyebelin.
            “Seseorang dikatakan laki-laki seutuhnya, kalo makannya banyak.”
Kemudian diikuti oleh gelak tawa semuanya, dan saya pun ikut ketawa. Si Renat malah ikut-ikutan, si Farhat lebih banyak diemnya, ketimbang membenarkan ucapan Mir ‘Athoullah. Setelah selesai makan, ikan yang nggak berhasil saya habiskan akhirnya dibungkus, kali aja ntar lapar lagi. Untuk kami berlima, udah lengkap dengan nasi, minum es degan, ikan bakar, Cuma habis 200.000, lebih dikit. Karena sudah jam 11 siang, kami istirahat sebentar di masjid, sambil menunggu waktu dzhuhur.
Setelah shalat, saatnya ganti pakaian, kemudian mandiiiiiii. Jangan lupa pake sunblock kalo ke pantai, maklum lah, hasil lukisan sinar matahari itu bikin kulit keren alias item cuy. Yang lain sudah mulai nyebur, Renat nemenin saya foto-foto dulu, maklum ini kunjungan pertama saya, sedangkan Renat dan yang lain sudah beberapa kali ke sini. Jadilah saya dan Renat motret sana-sini. Setelah banyak, baru inget.
“Renat, we don’t have picture together, should we ask someone to take our picture?” tanya saya ke Renat yang bikin saya ketawa ngakak, karena dia bawa plastik layaknya seorang pemulung, dia malah ketawa ketika saya jelaskan bahwa he looks like a pemulung. Saya juga akhirnya dipanggil pemulung, karena ikut-ikutan bawa plastik karena tas saya nggak muat.
“Yes, sure, you can ask him to take the picture,” jawab Renat sambil menunjuk seseorang. Saya minta tolong seorang pengunjung untuk motret saya dan Renat, karena sebagai sahabat, kami belum pernah punya foto bareng baik di kampus, asrama, dan lain-lain.
Setelah itu, dilanjutkan foto-foto secara bergantian, dan plastik keren itu selalu ikut dalam setiap sesi foto, haha. Renat bilang kalo plastik itu bergambarkan kampus pas dia S1 di Rusia. Setelah dirasa cukup, saya dan Renat menyusul yang lain, yang sudah lebih duluan nyebur. Farhat sudah berada di deburan ombak bareng istrinya. Mir ‘Athoullah sudah sibuk nulis nama adiknya di pasir, saya dan Renat berusaha menuju agak ke tengah, tapi saya sudah ciut, sementara Renat masih terus berjalan menuju agak ke tengah.
“Renat, up your hand if you need help,” teriak saya dan Farhat dari pinggir.
Kalo kalian kesini kemudian nggak mandi, dijamin garing, justru disini kerennya. Justru mandi disini yang bikin suasana jadi lebih seru. Yang lain sibuk dengan kesenangan masing-masing, saya dan Mir ‘Athoullah pergi ke arah ujung, mencoba untuk berenang di lokasi yang lain. Tapi, pas mau nyebur, ada semacam kayak ular laut kali, ya, saya nggak tahu. Akhirnya karena saya takut, dan dia juga takut, haha, nggak jadi deh. Kemudian ditanya Farhat kenapa nggak jadi?
“I’m not afraid, he is afraid,” jawab saya sambil ketawa melihat Mir ‘Athoullah.
“No, you are the one who afraid of the snake.” Jawabnya. Kami pun tertawa bareng. Si Renat nimbrung, saya kembali menjelaskan bahwa saya nggak takut, tapi Mir ‘Athoullah yang takut, semua kembali bertawa, karena semua juga tahu kalo saya itu paling penakut di antara semua peserta liburan kali ini.
Setelah puas mandi, selanjutnya adalah mencari lokasi keren buat berjemur, iya, berjemur, bro. eh apa jadinya kulit saya kalo kelamaan berjemur? Makin kelam yang jelas. Renat tidur pulas di pinggir, sementara saya, Mir ‘Athoullah, dan Farhat beserta istrinya masih sibuk mandi dan maen air kayak anak kecil. Iya, kami saling siram, saling lempar (pake air tentunya, gila aja kalo pake karang). Renat akhirnya gabung, jadilah saya jadi sasaran utama yang kena siram air laut yang asin dan pas kena mata bikin perih. Fiuhh, mata saya merah. Renat melihat mata saya merah kemudian menghentikan serangan, kemudian meminta Mir ‘Athoullah untuk nanyain kalo saya nggak apa-apa.
“Yeah, I’m ok,”
Selanjutnya adalah bikin penampilan aneh, Renat kembali tidur, Mir ‘Athoullah dan saya kembali berjemur sambil maen air. Farhat dan istrinya masih sibuk berdua. Saya memakai kantong plastik untuk menutupi kepala dari sinar matahari, kemudian memakai topi milik Mir ‘Athoullah.
Suasana hening, semua sibuk, saya sibuk di bibir pantai alias tidur, Mir ‘Athoullah juga tidur, Renat jangan ditanya, dia yang paling lama tidurnya, pake acara buka baju pula, saya dan Farhat masih lengkap dengan kaos dan celana setengah tiang. Gila aja kalo saya ikutan berjemur kayak gitu, dijamin antik banget kulit saya (ini mulai lebay). Renat ketawa melihat plastik di kepala saya, dan saya cuek.
Setelah puas mandi, berjemur, selanjutnya adalah istirahat, minum es kelapa muda, makan gorengan, ngobrol santai. Laut mulai surut, kita bisa berjalan di atas batu karang yang kokoh. Pemandangannya keren banget. Nggak mau ketinggalan menikmati keindahan pantai yang sedang surut, kami pun berjalan beriringan, berpijak di atas batu karang yang berwarna-warni, foto-foto bareng, mencari sesuatu yang mungkin bisa diambil, dan bikin video kebersamaan.
Saya betul-betul bahagia banget bisa liburan bareng, semua tugas kuliah berasa hilang semua dari ingatan, haha. Jam sudah menunjuk waktu ashar, kami istirahat, mandi, ganti pakaian, kemudian shalat ashar bareng dan saatnya pulang ke asrama. Jam 4 sore kami pulang. Di perjalanan pulang, Renat kembali mengulangi apa yang selalu dia ucapkan pas berangkat tadi,
Rayyan, don’t sleep.
Pas berangkat tadi, mungkin dia mengulangi kalimat itu sampai 20 kalian, karena dia tahu saya suka tidur alias ngantuk pas dibonceng haha. Ini parah dan belum bisa saya ubah. Yang lain sudah duluan, kami ketinggalan, jadilah kami pisah. Saya dan Renat berhenti di pom bensin, shalat maghrib berjamaah, kemudian memanfaatkan google map untuk mencari jalan pulang, karena ternyata Renat belum terlalu hafal jalan pulang.
Dengan bantuan google map, akhirnya kami sampai juga, pas waktu shalat isya. Langsung berjamaah isya di masjid, setelah itu makan malam, baru kemudian ke kamar Renat. Kemudian saya ingat kalo saya nggak bawa STNK, nggak bakalan diizinin keluar kalo nggak bawa STNK. Kemudian Renat muncul ide brilian, dia yang mengendarai motor, karena anak-anak luar negeri nggak pernah tuh ditanyai STNK, it’s not fair. Setelah di luar gerbang, Renat turun kemudian kembali masuk jalan kaki ke asrama, dan saya pulang.
“Thank you for everything, jazaakumullah khairon katsiron,” ucap saya pada renat.
“Waiyyakum, la syukro ‘ala wajib,” jawabnya.
Sampai kamar, saya rebahan dan tidur ganteng. Selamat menikmati akhir pekan.
*sengaja nggak masukin foto saya dan teman-teman, karena renat nggak mau fotonya di share*

Mencintai Rutinitas

Sesaat setelah seminar nasional
5 November 2014
Rasanya, baru saja beberapa hari yang lalu tahun ini saya lalui, sekarang sudah hampir sampai pada ujung perjalanan di tahun ini. Begitulah kehidupan, kadang kita lupa bahwa semakin lama, semakin mendekatkan kita pada sebuah akhir, ya, perjalanan ini akan sampai pada titik akhir. Siapapun, dimanapun, dan sejauh apapun perjalanan yang telah ia lakukan, semua akan memiliki akhir.
Berbicara tentang rutinitas, hari ini saya mencoba untuk berdamai dengan kacaunya jadwal kuliah. Saya mencoba untuk menebar senyum meski sebenarnya saya kecewa. Sejak pagi saya sudah bersiap diri, pergi ke kampus pusat karena menurut informasi di grouf WA, perkuliahan hari ini akan dilakukan di kampus satu. Setelah sampai kampus satu, informasi yang berbeda saya dapat dari seorang teman, kuliah jam pertama di kampus Pasca sarjana, sedangkan kuliah jam kedua di kampus pusat. Itu artinya saya harus kembali ke kampus pasca sarjana. Setelah sampai di kampus pasca sarjana, kuliah canceled mendadak, dan jam kuliah kedua dimajukan dan itu di kampus satu, itu artinya saya kudu ke kampus satu.
Saya mencoba untuk berdamai dengan rutinitas baru menjadi seorang mahasiswa yang ternyata sibuknya melebihi yang saya bayangkan, dan saya sedang mencoba untuk berdamai dengan semua itu. Bukankah ini adalah bagian dari sebuah konsekuensi atas pilihan yang saya ambil? Dua pekan terakhir adalah hari-hari yang sangat sibuk, nyaris setiap hari saya menghabiskan waktu di perpustakaan. Dari senin sampai minggu. Jadwal kuliah lumayan kacau karena ada beberapa dosen yang sedang menjalankan tugas untuk pergi ke luar negeri. Kegiatan selain kuliah adalah membaca sekian banyak literatur nyaris dari pagi sampai sore, sampai timbul sebuah ucapan lelucon dari petugas perpustakaan.
“Rayyan, you should be a security in this library, because you always come early.”
And then I said to him
“You should do my paper, coz you always here everytime I come.”
Dan mereka juga tahu, bahwa saya menggunakan ruang research no 24 untuk penulisan tugas-tugas kuliah yang cukup menyita waktu. Selain hari kuliah, saya sering menjadi pengunjung pertama di perpustakaan pasca sarjana, dan kadang menjadi pengunjung terakhir yang keluar di perpustakaan pusat. Kadang, saking seriusnya mengerjakan tugas, saya sampai lupa bahwa perpustakaan sudah waktunya tutup, bel tanda perpustakaan tutup pun tidak terdengar di telinga, ya, saya sampai sedemikian serius melahap berbagai macam literatur yang sekarang sudah mulai saya sukai.
Saya menyadari, saat awal, ada semacam “tekanan” yang tidak mudah untuk saya lalui, semakin hari, saya semakin damai dengan rutinitas yang ada, dan semakin menikmati proses belajar yang demikian. Walaupun demikian, saya tetap berusaha meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan teman-teman yang lain, meski termasuk jarang. Akhir-akhir ini tumpukan berbagai macam buku dan jurnal menjadi teman sepenuhnya, saya hanya istirahat saat jam shalat, bahkan kadang sampai lupa.
“you should take a rest, rayyan, you need that, you can’t spend all your time in the library. Your body need times to rest, your brain need times to think other thing, and you need to communicate with other students, not just doing your assignment.” Komentar teman. Saya cuma senyum. Benar yang dia katakan. Dalam dua pekan terakhir, saya menulis nyaris hampir dua ratus halaman. Saya rasa ini bisa dijadikan buku jika saya serius mendalami.
Saya mensyukuri semua ini, dan saya tahu bahwa saya butuh istirahat. Sabtu dan Minggu, jika memang memungkinkan, saya memilih untuk pergi bersama teman-teman, meski kebanyakan saya tetap berada di perpustakaan pasca sarjana yang selalu buka setiap hari. Saya merasakan sebuah kenyamanan saat berada di perpustakaan. Bagi saya pribadi, perpustakaan adalah sebuah tempat yang asik untuk membincangi ilmu-ilmu yang terdapat di dalam buku-buku yang tersedia. Petugas perpustakaan sudah tahu betul ruangan mana yang saya pakai untuk menulis, dan jam berapa saya keluar dari perpustakaan.
Suatu ketika, saya baru selesai mengerjakan tugas tafsir tematik yang mengharuskan saya membaca kurang lebih dua belas kitab tafsir. Setelah selesai, saya bertemu teman di pintu masuk perpustakaan.
“Mengapa temanmu tidak sesibuk kamu?” tanyanya.
“May be because they are smarter than me,” jawab saya iseng dan dia tertawa.
Sahabatku, beginilah kehidupan, ada masa dimana kita harus berhenti sejenak, mengeja jarak, menarik nafas dalam-dalam, menyiapkan persiapan sedemikian baik untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Ada masa dimana kita harus mengambil rehat sejenak dari rutinitas, karena tubuh memerlukan waktu untuk istirahat, untuk selanjutnya lebih maksimal dalam menjalani kehidupan selanjutnya.
“Jangan lupa olahraga yang cukup, meski kesibukanmu tinggi,” pesan Ibu akhir pekan kemarin. Ah iya, bahkan akhir-akhir ini saya sudah jarang menghubungi Ayah dan Ibu. Pernah beberapa kali Ayah menelpon, tapi HP ada di dalam tas, saya niatkan akan menelpon setelah selesai di perpustakaan, namun lebih sering lupa, karena kalo sudah di kamar, biasanya saya tidur. Jam tidur saya sekarang lebih awal dari biasanya. Jam 8 malam saya sudah tidur, jam 3.30 pagi bangun, persiapan subuh ke masjid.
Disinilah pentingnya manajemen waktu, dan yang paling penting adalah kepuasan diri dalam menikmati sebuah rutinitas. Jika jenuh, hentikan sejenak, ambil jarak, tenangkan pikiran, kemudian baru melanjutkan. Karena dalam kondisi yang tidak fit, kita tidak bisa berpikir dengan baik. Maka perlu adanya pembagian kapan kita harus terus belajar, kapan kita harus istirahat, kapan harus bergaul dengan teman-teman. Karena kita adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi satu sama lain.
Di asrama, ada banyak anggapan bahwa saya adalah mahasiswa dari Malaysia, dan seperti yang saya tulis sebelumnya, nama saya lebih dikenal dengan nama “Rayyan.”
“They think you are a student from abroad.” Ucap seorang teman.
“May be because I always speak English and Arabic and the way I speak like Malaysian.” Jawab saya sambil menghabiskan menu makan siang.
Renat paham betul dengan rutinitas saya. Kadang, saat betul-betul lelah dan saya tidak kuat jika harus pulang, saya memilih untuk istirahat di kamarnya hingga malam, setelah tenaga kembali pulih, baru saya pulang.
Bismillah, saya percaya selalu ada hasil dari sebuah usaha. That’s why I love my routine and I believe when you do something for love, you will get love. Selamat menjalani rutinitas.

- Copyright © 2013 Arian's Blog - Simple is beauty - Powered by Blogger - Redesign By YBC(Yahya's Blog Community) - Designed by Johanes Djogan -