New Post!

Dear Faris

Dear Faris
Buku Terbaru

New Catatan Hati Sang Guru

New Catatan Hati Sang Guru
New CHSG

Blog Archive

Kategori

Powered by Blogger.

Followers

Warung Blogger

Warung Blogger
Yuk Ngopi Bareng

Total Pageviews

Menikah Muda


Berbicara tentang fenomena menikah muda rasanya sudah bukan hal baru lagi, ada sekian banyak artikel bahkan buku yang menjelaskan tentang keutamaan menikah di usia muda, bahkan ada buku-buku yang terkesan mengompori kaula muda yang masih bertahan dengan kesendirian mereka agar segera menikah. Tidak sedikit yang akhirnya memilih untuk segera menikah setelah mendengar tausiah dari seorang Ustadz tentang keutamaan menikah, tidak sedikit juga yang segera mencari pasangan hidup setelah membaca buku yang isinya tentang hal-hal yang berkaitan dengan menikah muda.
Bagaimana dengan saya? Mengapa di usia yang sudah seperempat abad ini saya masih bertahan dengan kesendirian? Bukankah sudah seharusnya saya menikah di usia yang sekarang?
Bagi saya pribadi, saya tidak pernah mempermasalahkan seseorang menikah di usia berapa pun. Saya percaya masing-masing orang memiliki target hidup dan rencana tersendiri di dalam hidup mereka, maka saya tidak suka mempertanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan hal yang demikian. Karena bagi orang-orang tertentu, pertanyaan demikian tidaklah perlu untuk diajukan kepada mereka, bahkan bagi orang tertentu, pertanyaan “kapan menikah?” dan semisalnya adalah pertanyaan sensitif yang seharusnya cukup dipertanyakan di dalam hati saja.
Saya punya teman yang kerjaannya komentar sana-sini, dan kebanyakan komentarnya tidak positif tentang saya, misal saat saya memutuskan untuk melanjutkan S2, atau tentang status saya yang sampai hari ini masih single, semua menarik baginya untuk dikomentari. Bagi saya, pertanyaan seputar demikian adalah hal biasa, namun bisa menjadi luar biasa ketika pertanyaan yang sama diulang oleh orang yang sama. Mungkin dia lupa atau tidak menyadari bahwa dia adalah orang kesekian yang menanyakan pertanyaan yang semisal, mungkin yang keseribu kalinya.
Melihat fenomena menikah di usia muda yang sedang marak di Indonesia, saya lebih baik memandang ini sebagai sebuah fenomena yang positif yang berarti semakin meningkatnya kesadaran masyarakat kita untuk menyatukan hati dalam bahtera rumah tangga. Pengaruh buku-buku yang membicarakan tentang tidak bolehnya pacaran di masyarakat juga ikut andil dalam mewujudkan fenomena menikah muda ini.
Di sisi lain, ada semacam kekhawatiran bagi saya pribadi, melihat semakin tingginya angka perceraian yang terjadi di tanah air, seolah pernikahan adalah sebuah permainan antara kata “Suka” dan “Tidak Suka”, ketika diawali dengan “Suka” kemudian munculnya perasaan “Tidak Suka” dan sedemikian mudahnya mengucapkan kata “Cerai”. Saya paham, ada sekian banyak alasan yang memicu terjadinya perceraian di masyarakat kita. Saya tidak ingin berkomentar lebih jauh, namun yang perlu dikaji adalah penyebab meningkatnya angka perceraian pernikahan yang dilakukan di usia muda.
Menikah muda bukan berarti tidak memiliki persiapan, bukan? Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Setidaknya bagi seorang laki, dia memiliki kesiapan menjadi seorang pemimpin di dalam keluarga. Pun demikian bagi seorang perempuan, setidaknya dia memiliki keinginan kuat untuk menjalani bahtera rumah tangga dalam rangka menuju keridhaan Allah SWT.
Menikah muda adalah sebuah proses menuju kebahagian lebih awal. Silahkan menikah lebih awal, di usia yang masih muda, asal benar-benar paham kemana arah biduk rumah tangga akan dikayuh. Jangan sampai hanya karena ikut-ikutan fenomena yang lagi marak di masyarakat, atau hanya sekadar pelarian agar tidak lagi dijejali oleh sebuah pertanyaan sakral “Kapan Menikah?” saja.
Percayalah, Allah akan menemukan kita dengan pasangan hidup kita dengan orang di waktu yang memang sudah Ia gariskan kepada kita. Tugas kita adalah berusaha menggapai semua itu, menjalani semua prosesnya sesuai dengan kehendak Ilahi. Jangan berkecil hati ketika jodoh tak kunjung datang, mungkin saja Allah masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri lebih lama lagi, sementara seseorang di belahan lain pun sedang melakukan hal yang sama dan akan dipertemukan di saat keduanya sudah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Menikah muda bukan hanya sekadar melepas status “single” menjadi “married”, akan tetapi timbulnya semangat menjalan kehidupan rumah tangga sebagai bagian dari ketaatan kepada hukum-hukum Allah di muka bumi. Persiapkan diri lebih awal untuk menyambut pasangan hidup yang dijanjikan oleh Allah untuk kita.
Bagi yang sudah berusia 30 ke atas dan sampai hari ini belum menikah juga, saya yakin bukan karena tidak mau, tapi karena memang belum dipertemukan dengan jodoh yang Tuhan janjikan, jangan berkecil hati, tetaplah berusaha menjadi lebih baik, abaikan cibiran masyarakat, tetaplah berjalan di jalan yang Allah ridhai. Allah tidak pernah ingkar dengan janji-Nya, bahwa wanita yang taat berhak mendapatkan pasangan hidup yang taat, begitu juga dengan laki-laki yang taat, ia berhak mendapatkan pasangan hidup yang taat pada Allah SWT. Percayai dan berusahalah mewujudkan semua itu.
Pada hakikatnya tidak ada orang yang ingin mendapatkan pasangan yang tidak baik, semua tentu ingin mendapatkan pasangan yang baik. Permasalahannya adalah, banyak orang yang menginginkan pasangan yang baik, tapi tidak berusaha memantaskan diri untuk mendapatkan pasangan yang baik. Ingin berpasangan dengan seseorang yang shalih/shalihah tapi ia sendiri tidak berusaha untuk mencapai tingkatan itu. Itu omong kosong.
Silahkan menikah muda, tapi jangan lukai hati mereka yang belum menikah meski usia mereka sudah jauh di atas kalian. Cukup doakan saja mereka bisa segera menjatuhkan hati pada hati pilihan mereka. Silahkan menikah di usia yang terbilang muda, tapi jangan kau cemooh mereka yang masih bertahan dengan kesendirian mereka, mereka mempunyai hak untuk menjalani prosesnya sesuai dengan keinginan mereka. Percayalah, Tuhan tidak pernah tidur, Ia selalu melihat bagaimana hamba-Nya berusaha menggapai semua impian di dalam hidup hamba-Nya. Maka jangan kalian lukai dengan pertanyaan semisal yang sebenarnya sudah tidak perlu kalian pertanyakan lagi. Cukup simpan pertanyaan-pertanyaan kalian itu di dalam hati, pilah dan pilih mana yang memang perlu dipertanyakan dan mana yang cukup disimpan di hati saja.

Seluas Bahasamu, Seluas Itu Pula Duniamu


Bagi yang pernah berpergian ke suatu tempat, dimana bahasa yang digunakan adalah bahasa yang tidak bisa dipahami, tentu akan menyadari betapa pentingnya bahasa sebagai alat untuk komunikasi antara satu sama lain. Inilah sebuah keajaiban, dimana masing-masing Negara bahkan daerah memiliki aneka ragam bahasa yang memiliki ciri khas tersendiri. Di Bengkulu terdapat berbagai macam bahasa yang digunakan, masing-masing Kabupaten bahkan memiliki ragam bahasa tersendiri yang tidak semuanya saya pahami.
Berbicara di ruang lingkup yang lebih besar, saat pertama kali belajar di tanah Jawa, saya seperti orang asing yang datang dari dunia antah berantah, yang sama sekali tidak paham tentang bahasa yang mereka gunakan, yakni bahasa Jawa. Lantas bagaimana akhirnya saya bisa sedikit mengerti tentang bahasa Jawa? Meski sampai hari ini saya hanya sebatas paham dan tidak bisa mengucapkannya. Adanya kebiasaan mendengar tentu memiliki peran penting di dalam perkembangan kemampuan seseorang di dalam memahami suatu bahasa.
Berbicara di skala yang lebih besar lagi, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris adalah dua bahasa Internasional yang cukup mendominasi dunia, meski saat ini Bahasa Inggris yang lebih populer di dunia. Bagi umat Islam, tentu sangatlah penting mempelajari bahasa Arab, karena Al Quran menggunakan bahasa Arab, dan tentu akan sangat membantu jika seseorang bisa memahami kandungan ayat-ayat Allah dengan kemampuan bahasa yang ia miliki dan itu akan menambah keimanan seseorang tentang indahnya kandungan ayat-ayat Allah SWT.
Belajar bahasa Internasional tentu menjadi bekal yang bisa dibilang wajib untuk kita dalam mengepakkan sayap kita. Semakin luas bahasa yang kita kuasai, maka semakin luas dunia kita, dunia yang bisa kita genggam. Dengan kemampuan bahasa yang demikian baik, kita bisa menjelajah ke berbagai macam tempat tanpa perlu takut akan orang-orang yang berusaha menjebak kita dengan bahasa yang mereka gunakan, karena kita bisa memahami apa-apa yang mereka ucapkan. Kita bisa belajar banyak dengan membaca literatur-literatus berbahasa asing.
Setidaknya, ada salah satu bahasa asing yang kita kuasai, sebagai bekal bagi kita untuk membaca berbagai macam literatur ilmu pengetahuan. Saat ini yang berkembang pesat tentang ilmu pengetahuan adalah dunia barat, maka dirasa perlu bagi kita untuk bisa memahami bahasa Inggris guna membantu kita mempelajari sumber-sumber ilmu pengetahuan yang mereka gunakan hingga mereka bisa berkembang seperti sekarang ini. Mempelajari bahasa Inggris tentu memiliki peranan penting bagi kita jika ingin memahami metodologi yang digunakan dunia barat di institusi-institusi pendidikan yang mereka miliki. Ketika kita tidak bisa berbahasa Inggris, kecil kemungkinan kita bisa memahami literatur-literatur yang menggunakan bahasa Inggris, karena di Negara Indonesia sendiri, usaha penerjemahan literatur berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia masih sangat minim.
Begitu juga dengan Bahasa Arab, ada jutaan literatur klasik maupun modern yang bisa kita lahap dengan baik, jika kita menguasa Bahasa Arab. Ada sebuah lelucon yang sebenarnya betul, yang ditujukan oleh orang barat bagi-bagi orang-orang Muslim,
“Orang Islam itu memiliki kitab suci, tapi mereka tidak membacanya. Meskipun mereka membaca Al Quran, tapi mereka tidak memahami kandungannya. Andaipun mereka paham, tapi mereka tidak mengamalkannya.”
Benar adanya, dari sekian banyak generasi Muslim, tidak lebih dari 10 % yang bisa memahami ayat-ayat Allah SWT. Untuk bisa memahami tentu saja harus memiliki kemampuan berbahasa Arab yang baik dan benar disertai dengan kemampuan ilmu-ilmu penunjang yang lainnya.
Kembali kepada pentingnya berbahasa, saya baru menyadari pentingnya Bahasa Arab saat menjadi mahasiswa Pasca sarjana, sekian banyak literatur yang ada di perpustakaan yang menggunakan bahasa Arab tidak mampu untuk saya pahami. Menyentuhnya saja sudah terasa asing bagi saya, membaca satu halaman saja memakan waktu sekian lama karena ada banyak kosa kata yang tidak saya pahami. Kadang, lebih lama membuka kamus ketimbang membuka kitab yang akan saya baca, karena saya sibuk mencari makna kata-kata yang ada di teks, untuk kemudian dicoba untuk memahami secara utuh maksud dari teks yang saya baca.
Ketika kita pergi ke Negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, tentu dirasa perlu bagi kita untuk menguasai bahasanya, dengan demikian kita bisa berinteraksi dengan baik dengan masyarakat lokal. Al Jahil akan berkata tentang orang yang berusaha untuk mempelajari bahasa internasional dengan ucapan yang tidak baik, dia akan mengatakan bahwa seseorang tersebut sombong. Tapi Al ‘Aqil akan mengatakan hal yang berbeda, dia akan bangga melihat seseorang yang mencoba untuk menguasai dunia dengan berbagai macam bahasa dunia.
Di masyarakat kita, sering kali seseorang dikatakan sombong, mencari perhatian, lebay, dan masih banyak lagi julukan yang lain, hanya karena ia sedang berusaha untuk bisa berbahasa Internasional. Yang berbicara bahasa Inggris akan dikatakan sok kebarat-baratan, yang berbahasa Arab akan dikatakan sok kearab-araban. Padahal, bahasa akan mudah didapatkan ketika menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Kebiasaan berbahasa akan membuat kemampuan kita dalam berkomunikasi akan lebih mudah. Maka perlu adanya sebuah lingkungan yang mendukung seseorang untuk bisa meningkatkan kemampuan berbahasa.
Namun, yang perlu digaris bawahi adalah, perlu melihat situasi dan kondisi, jangan sampai karena semangat dalam berbahasa tertentu, kemudian kita menggunakannya di hadapan orang-orang yang jelas-jelas tidak bisa mengerti apa yang kita ucapkan, misal,  kamu sedang belajar bahasa Arab, kemudian kamu berbicara di hadapan pemulung dengan bahasa Arab, meski tidak menutup kemungkinan ada pemulung yang bisa bahasa Arab. Intinya harus bisa melihat kapan dan dimana seharusnya kita bisa menggunakannya. Di lingkungan kampus, tentu mempraktikkan bahasa internasional, semisal Arab dan Inggris tentu sangat memungkinkan.
Sering kali kita menemukan orang-orang yang cemerlang di suatu bidang, karena terkendala bahasa, ia tidak mampu berbicara di forum-forum internasional, atau malah menggunakan jasa penerjemah. Maka, rasanya memang dirasa penting bagi seseorang, apalagi seorang akademisi untuk bisa menguasai setidaknya bahasa internasional, entah itu Arab maupun Inggris, atau bahasa apapun yang memang menunjang kegiatan akademisnya.
Mengubah pola pikir masyarakat kita akan pentingnya suatu bahasa tidaklah mudah. Maka perlu adanya revolusi cara pandang suatu masyarakat tentang pentingnya mempelajari bahasa-bahasa yang berkembang di dunia. Kita kembali ke masa dahulu, saat Rasulullah SAW. berdakwah, ia memerintahkan sahabatnya untuk mempelajari bahasa-bahasa asing, semisal Persia, Yunani, dan lain sebagainya guna penyebaran Agama Islam ke daerah-daerah di luar Arab. Bahkan, Bahasa Arab pernah menjadi bahasa yang digunakan oleh beberapa Negara di Barat sebagai bahasa pengantar sehari-hari.
Maka sudah saatnya, kita meningkatkan kemampuan kita dalam memahami bahasa-bahasa dunia, agar kita bisa menjejakkan kaki di belahan dunia mana pun, kemudian menegakkan hukum-hukum Allah SWT di muka bumi.

Islam dan Generasi Muda Muslim


Islam adalah agama Rahmatan Lil’alamin, di dalamnya telah diatur sedemikian rupa agar seseorang yang memeluk Agama Islam bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Ketika seseorang mengaku sebagai seorang “Muslim” maka hendaknya ia memiliki kesadaran untuk melakukan ajaran-ajaran Allah SWT. ke dalam kehidupan sehari-hari. Dalam artian tidak hanya sekadar menjadi seorang “Muslim” yang hanya menjadikannya sebagai sebuah identitas. Ada banyak teman-teman saya yang dari belahan dunia Barat yang masuk ke dalam Islam hanya karena ingin menikah dengan seorang perempuan yang Muslimah, setelah menikah, perilaku beragama tidak berubah, hanya identitas keagaamaan saja yang berubah.
Ada banyak teman saya yang dari Barat yang mencoba untuk membandingkan Indonesia yang negaranya mayoritas Muslim dengan Negara mereka yang muslimnya minoritas. Menurut mereka menjadi Muslim mayoritas nyatanya tidak menjadikan sebuah Negara itu baik dan berkembang. Contohnya sudah jelas, Indonesia dan Negara-negara Islam lainnya.
“Kami penganut Kristen, di Negara kami, muslim adalah minoritas. Kami bukan Muslim, tapi nilai-nilai keislaman jelas terlihat di Negara kami. Kita ambil contoh kesadaran tentang berlalu lintas, kesadaran untuk menjaga kebersihan, kesadaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Kami tidak menemukan itu di Negara-negara Muslim, paling di Iran yang sudah mampu membuat satelit sendiri, sudah berhasil membuat kapal yang tidak mampu di deteksi oleh radar Amerika Serikat, sudah bisa membuat nuklir. Selain Iran, kita bisa melihat Dubai yang semakin berkembang pesat, sedangkan Negara-negara Islam lainnya terkesan tenggelam.  Peradaban dunia sekarang dipegang oleh Barat. Timur masih merangkak untuk maju dan tidak lepas dari bayang-bayang Amerika.”
Begitulah komentar mereka tentang Negara Islam. Kita memang tidak memungkiri apa yang mereka katakan tentang Negara-negara Islam. Saat ini ilmu pengetahuan memang berkembang pesat di Negara-negara barat. Nilai-nilai positif yang sebenarnya ada di dalam islam juga terlihat jelas di Negara-negara barat, tentang semangat keilmuan, semangat menjaga kebersihan, kesadaran berlalu lintas, dan masih banyak lagi yang lain. Lantas, apa yang sebenarnya salah dengan Islam? Apakah Islamnya ataukah oknumnya? Tentu saja bukan Islamnya yang salah, melainkan para pemeluknya yang masih memiliki kesadaran yang rendah dalam mewujudkan keislaman ke dalam kehidupan sehari-hari.
Di Iran, para petinggi pemerintahan memiliki para penasihat yang terdiri dari para Ulama yang menjadi tempat berdiskusi para pemegang kekuasaan dalam membuat sebuah kebijakan. Dalam artian, Iran sudah berusaha untuk kembali menjalankan roda pemerintahan di Negaranya sebagaimana yang dikehendaki oleh Al Quran. Nilai-nilai keislaman kembali diterapkan sebagaimana dahulu, Islam pernah jaya di masa lalu.
Generasi Muslim kadang hanyut dalam bayang-bayang kejayaan di masa lalu, saat Islam mengalami masa kejayaan yang sering kita baca di buku-buku sejarah. Ya, generasi muda muslim kadang hanya bisa mengatakan bahwa “Islam sudah pernah jaya, Islam memiliki kontribusi demikian besar atas kemajuan dunia barat.” Betul, Islam memiliki peran bagi kemajuan Negara-negara Barat. Banyak hasil dari pemikiran-pemikiran Muslim yang kemudian dipelajari, dijadikan sebuah bidang studi, diteliti, hingga menghasilkan sumbangsi penting bagi perkembangan ilmu pengetahun. Kita sebut saja Ibnu Sina di bidang kedokteran, Al Kindi yang dikenal sebagai seorang Filosof, Ibnu Rusyd, dan masih banyak lagi, dimana karya-karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa di Barat, kemudian dipelajari.
Namun, sekadar hanyut dengan kejayaan masa lalu saja tidaklah cukup. Generasi muslim harusnya menyadari bahwa sudah saatnya kita kembali bangkit. Ada banyak sekali pembaharu-pembaharu yang mencoba untuk mengajak umat Islam untuk kembali bangkit, sebut saja Muhammad Abduh yang merupakan pembaru Mesir Modern.
Jika kita kembali membaca sejarah, Nabi Muhammad SAW. sudah mulai melakukan perluasan wilayah Muslim Arab, kemudian dilanjutkan oleh penerusnya Abu Bakr, di masa pemerintahan Abu Bakr, di bawah pedang Khalid Bin Walid, Islam sudah membentang di semenanjung Arab, tidak hanya di kota-kota besar, bahkan mencapai pelosok-pelosok Negeri. Setelah Abu Bakr Wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh penerusnya. Ekspansi Islam semakin meluas, Suriah, Iraq, Persia, Mesir dan lain sebagainya masuk ke dalam kekuasaan Islam. Ketika masa Ali, ekspansi Islam relatif terhenti karena banyaknya konflik internal di dalam tubuh Islam. Perluasan dilanjutkan oleh dinasti-dinasti selanjutnya. Islam sampai pada Spanyol dan Sisilia dan terus berkembang, hingga akhirnya terjadinya perang salib dan Islam kemudian kembali ke masa dark age, meninggalkan masa golden age.
Kekuasaan Muslim Arab runtuh, sedangkan Dunia Barat mengalami Renaisans atau kebangkitan kembali, menjadi zaman modern kemudian lahirnya ilmu pengetahuan yang berbasis rasionalisme dan empirisme.
Itulah sejarah. Lantas bagaimana seharusnya kita bersikap? Apakah sebagai generasi Muslim kita hanya cukup berdiam diri, membanggakan kejayaan masa lalu? Tentu tidak cukup demikian. Mental para generasi penerus perlu diubah. Gaya hidup generasi muslim yang berkiblat ke dunia Barat perlu dikaji kembali, gaya hedonisme dan sebagainya perlu diseleksi sedemikian rupa, agar para generasi tidak hanya sibuk membanggakan kemajuan dunia barat dan bersikap lemah saat dunia barat menjejakkan kakinya di Negara-negara Islam.
            Kita perlu kembali kepada Al Quran, mengakajinya dan menjadikannya sebagai pegangan hidup, mengamalkan nilai-nilai kehidupan yang ada di dalamnya. Kita perlu meniru semangat keilmuan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Islam terdahulu, betapa mereka haus akan ilmu pengetahuan. Kita perlu merubah pola pikir kita yang cenderung konsumtif. Kita perlu menanamkan kesadaran bagi generasi penerus agar memiliki kesadaran dalam mewujudkan Islam yang sesungguhnya.

Life Is Beautiful


14 Oktober 2014
Kadang, kita mungkin pernah merasa betapa sulitnya menjalani kehidupan ini, selalu saja ada hal yang kurang dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Kadang kita juga sering lalai mensyukuri kehidupan yang telah kita miliki, selalu saja melihat kehidupan orang lain lebih baik dari apa yang kita miliki. Padahal, mungkin saja orang yang kita anggap lebih bahagia justru mendambakan kehidupan seperti yang kita miliki. Itulah kita, manusia yang kadang terlalu disibukkan dengan menghitung apa yang kita miliki, bukan menyibukkan diri untuk mensyukuri kehidupan, dengan beramal sebaik mungkin kemudian menyerahkan semuanya kepada kehendak Allah SWT. Berusaha maksimal disertai doa, kemudian tawakkal, selesai. Itulah sebenarnya yang bisa kita lakukan.
Kadang, dalam berdoa, memohon kepada Allah SWT., kita sering terlalu mengatur Allah SWT., terkesan mengucapkan doa-doa yang memaksa Tuhan untuk mengabulkan harapan-harapan yang telah terpatri di dalam diri kita. Padahal, Tuhan Mahatahu mana yang terbaik bagi kita. Sering kita berburuk sangka kepada Tuhan karena tidak mengabulkan sesuai pinta kita pada-Nya, padahal lagi-lagi Tuhan yang Mahatahu mana yang memang kita butuhkan. Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik menurut-Nya. Pun demikian sebaliknya.
Ketika kita menjalani kehidupan hanya mengandalkan nafsu, bisa dipastikan kita tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki, padahal Allah sudah menjanjikan akan menambah nikmat bagi hamba-Nya yang selalu mensyukuri nikmat yang telah Ia berikan kepada kita. Nafsu duniawi akan selalu membuat kita merasa kekurangan dengan apa yang kita miliki, hingga menghalalkan segala macam cara untuk menggapai apa yang kita miliki.
Sering kali, kesibukan yang kita jalani sehari-hari membuat kita lupa untuk mensyukuri segalanya, setidaknya hari ini kita masih diberi kesempatan untuk bisa menjalani kehidupan, karena kelemahan kita, kita tidak pernah tahu kapan waktu terbaik untuk mensyukuri karunia-Nya. Seolah kesempatan kita menjalani kesibukan bukanlah sebuah nikmat, padahal ada banyak orang yang mendamba bisa beraktifitas dalam keadaan sehat.
            Kehilangan orang-orang yang kita cintai kadang menimbulkan sedikit ketidaksukaan atas kehendak Tuhan, berharap semua itu tidak terjadi, padahal, kehilangan orang-orang yang kita cintai merupakan bagian dari kuasa-Nya, kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan dipisahkan dari keluarga yang selama ini selalu ada di sekitar kita. Maka, seberat apapun cobaan kehidupan yang kita hadapi, tetaplah percaya bahwa Tuhan selalu ada di dekat kita, mendekatlah pada-Nya, jangan sungkan memohon karunia-Nya, jangan malu berhadapan dengan-Nya. Karena ketika kita dekat dengan Tuhan, maka kehidupan ini akan baik-baik saja, karena kita percaya bahwa selagi kita percaya akan kuasa-Nya, maka disanalah akan timbul kesadaran diri untuk selalu menjalani hidup penuh syukur.
            Ketika salah satu sahabat saya di Pasca sarjana kehilangan kemampuan melihatnya, saya seolah ditampar dengan sedemikian keras oleh Tuhan, bahwa selama ini saya tidak terlalu mensyukuri kemampuan melihat yang telah Tuhan berikan kepada saya. Sahabat saya itu, ia dinyatakan akan kehilangan kemampuan melihat di mata sebelah kirinya, sedangkan  bagian kanan masih bisa diselamatkan. Karena dalam jangka waktu yang lama tidak adanya kontrol yang benar-benar serius atas apa yang ia rasakan di matanya, sekarang ia baru menyadari apa yang terjadi di kedua matanya. Ada semacam virus yang menggerogoti kemampuannya untuk melihat. Saya tersadar dalam kelalaian, kemudian mengucap syukur hingga saat ini masih diberi kemampuan untuk melihat meski dengan bantuan kaca mata. Bukankah ini juga bagian dari hal yang seharusnya kita syukuri?
Kalau kita ingin jujur, sampai kapan pun kita tidak akan pernah berhasil menghitung sekian banyak nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita. Bahkan, jika seluruh manusia di permukaan bumi ini berusaha menghitung nikmat yang ada pada satu orang saja, dipastikan tidak akan mampu untuk menghitung keseluruhan karunia yang telah Tuhan berikan kepadanya. Karena kita hanyalah manusia lemah yang tidak sebanding dengan kuasa-Nya, maka tugas kita adalah menjalani semua kehidupan ini dengan penuh syukur.
Mencintai kehidupan berarti mensyukuri apa yang ada. Mencintai kehidupan berarti mempercayai kehendak-Nya. Percaya akan Tuhan berarti meyakini bahwa semua akan baik-baki saja, selama kita mengimani-Nya, menjalankan semua perintahnya dengan sebaik-baiknya. Selamat menjalani hidup penuh syukur, semoga kita semua dijadikan hamba-hamba yang termasuk dalam golongan orang-orang yang mensyukuri hidup dan dimasukkan ke dalam jannah-Nya, dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang shaleh. Amin.  

Rahman Ya Rahman


Ya Rahman
Mungkin lengkingan tangis tak kan pernah cukup untuk mengungkapkan betapa aku merindui-Mu, Tuhan. Lirih doa-doa yang kupanjatkan pada-Mu di malam-malamku rasanya tak akan pernah cukup mewakili betapa aku ini adalah hamba-Mu yang berdosa, yang kadang lupa akan kekuasaan-Mu akan diriku yang lemah ini.

Ya Rahman,
Gema takbir kadang tak sanggup menyentuh hatiku untuk menyegerakan diri untuk bersujud di hadapan-Mu. Lantunan ayat-ayat-Mu kadang hanya terdengar sekali lalu saja, kemudian menghilang entah kemana, sedemikian lalainya aku pada-Mu, Tuhan. Tak cukup banyak cintaku pada-Mu, Tuhan.

Ya Rahman
Menggigil badanku saat rindu ini membuncah, aku merindukan saat-saat bersama-Mu seperti dahulu, kala Engkau selalu ada di dalam derap langkahku, saat Engkau selalu kusebut dalam deru nafasku, saat Engkau selalu kupuja meski kadang luka bersemayam dalam dada. Aku mencintai-Mu, Rabbi.

Rahman ya Rahman
Jagalah hatiku agar tetap mengingat-Mu
Jagalah diriku agar tetap berjalan di jalan yang Engkau ridhai

Rahman ya Rahman
Lalai kadang membuatku menjauh dan semakin menjauh akan-Mu, jangan biarkan aku menjauh, izinkan aku menggenggam erat asma-Mu, menjadikannya sebagai kehidupanku. Aku ingin hidup di dalam lindungan-Mu, di dalam rahmat-Mu.

Rahman ya Rahman
Sering aku menangis saat mengingat betapa banyak dosa yang telah kuperbut di permukaan bumi ini. Aku malu pada-Mu, Tuhan. Sekian banyak orang mengira aku adalah orang yang baik, yang patut ditiru, yang menginspirasi sekian banyak orang, namun sebenarnya aku tak sebaik yang mereka kira, Engkau tahu betapa kadang kebohongan menemani kehidupanku ini, Tuhan. Ampuni hamba, ya, Rabbi.

Ya Rahman
Jika nanti Engkau menghendaki aku kembali ke sisi-Mu, kembalikan aku dalam keadaan husnul khatimah, yang selalu menjadikanmu sebagai sebenar-benarnya cinta. Cinta yang kuukir dengan penuh ketulusan, sebagai wujud pengabdianku kepada-Mu. Kembalikan aku dalam keadaan yang baik.

Ya Rahman
Ketika tak sanggup lagi kusebut nama-Mu dalam hidupku
Ketika tak  sanggup lagi kulangkahkan kaki ke rumah-Mu
Ketika tak sanggup lagi kubacai ayat-ayat-Mu
Ketika mungkin nafasku sudah tak lagi ada sebaik sekarang
Ketika mungkin tak sanggup lagi kuperjuangkan hokum-hukum-Mu di bumi ini
Maka jagalah aku agar tetap di jalan-Mu hingga maut menjadi awal pertemuanku dengan-Mu.

- Copyright © 2013 Arian's Blog - Simple is beauty - Powered by Blogger - Redesign By YBC(Yahya's Blog Community) - Designed by Johanes Djogan -