New Post!

Dear Faris

Dear Faris
Buku Terbaru

New Catatan Hati Sang Guru

New Catatan Hati Sang Guru
New CHSG

Blog Archive

Kategori

Powered by Blogger.

Followers

Warung Blogger

Warung Blogger
Yuk Ngopi Bareng

Total Pageviews

Mengeja Kenangan di Pesantren

Setiap kali mudik ke bengkulu, dari airport saya selalu berusaha untuk mampir ke pondok pesantren tempat saya menuntut ilmu waktu masih SMP dan SMA.

Mudik kali ini saya bermalam satu malam di pondok, bertemu dengan beberapa kawan yang masih setia mengabdi di pondok meski santrinya hanya tersisa 5 orang saja, berbeda jauh dengan kondisi 7  tahun yang lalu saat saya masih berada di pondok. Kala itu, pesantren ini merupakan pesantren terbesar dan terbaik di Bengkulu dan tentu saja termegah. Dan kini, semua tinggal cerita yang entah kapan akan kembali terulang masa kejayaannya.

Saat menunaikan shalat subuh di masjid pesantren yang juha sudah lapuk dan semakin tak terawat, saya menangis, teringat akan almarhum Buya dan Papi yang sudah berjuang sedemikian hebatnya demi membangun sebuah lembaga pendidikan bagi mereka yang kurang mampu dan kini pesantren sudah berada di ujung tanduk karena tidak adanya sumber dana untuk mengembangkannya kembali.

Sejak Papi meninggal, keadaan memang berubah sekian ratus derajat dari sebelumnya. Sekian lama guru tidak pernah digaji, akhirnya membuat mereka satu persatu pergi mencari penghasilan di luar dan sekarang hanya tersisa beberapa orang saja yang berada di dalam pesantren.

Siang harinya, saya pergi ke rumah Umi, istrinua Buya. Saya hanya bisa menangis mendengar penuturan Umi tentang kondisi pesantren. Saya teringat dengan wasiat papi bahwa beliau sudah menyiapkan dana untuk 10 tahun kedepan bagi pesantren. Belum lama papi meninggal, dana itu sudah tidak ada lagi. Umi bercerita sambil terisak dan saya berusaha menguatkan beliau.

Setelah bertemu dengan umi, saya menemui Pak Fairuz selaku pimpinan pesantren yang sekarang sedang sakit-sakitan. Beliau menderita gangguan ginjal. Beliau harus cuci darah 2 kali dalam sepekan. Kami berbincang sejenak tentang masa depan pesantren kemudian saya pamit melanjutkan perjalanan ke rumah ustadz/ustadzah yang berada di kota bengkulu.

Sudah menjadi kebiasaan saya berkunjung ke rumah ustadz/ustadzah tiap kali mudik ke bengkulu, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke kampung halaman di Kabupaten Kaur.

Sekarang, tugas saya adalah mencari donatur perorangan/lembaga/perusahaan atau apapun yang siap mendirikan lembaga pendidikan di pesantren untuk untuk meneruskan perjuangan Buya dan Papi. Lahan seluas 23 Hektar ini punya potensi untuk dikembangkan.
Mami selalu menangis jika bertemu dengan saya dan diskusi masalah pesantren. Semoga Allah memberi kemudahan dalam perjuangan ini. Amin.

Diskriminasi Pendidikan Ala Bupati Kaur

Kepulangan saya ke kampung halaman kali ini dikagetkan dengan rusaknya SMP 1 Kaur Selatan yang merupakan sekolah favorit yang sudah meluluskan sekian banyak alumni yang sudah bekerja di berbagai sektor.

Saya mencoba untuk mengkonfirmasi alasan pihak pemda menghentikan penerimaan siswa baru sejak dua tahun terakhir. Kini, sekolah yang berada di dekat lapangan merdeka itu tinggal bangunan-bangunan yang sudah siap diratakan dengan tanah.

Berdasarkan penjelasan bupati, salah satu alasan mengapa sekolah tersebut dihentikan, karena sekolah tersebut termasuk diskriminasi pendidikan dengan alasan karena tidak menerima anak-anak disable dan tidak tersedianya fasilitas yang memadai untuk menerima anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

Menurut logika saya, itu bukanlah alasan yang tepat untuk menutup suatu sekolah, karena kenyataannya sekolah tersebut bukanlah sekolah inklusi, jadi wajar jika tidak memiliki fasilitas untuk mereka yang berkebutuhan khusus. Berbeda masalah jika memang sejak awal sekolah tersebut adalah sekolah yang menjalankan program inklusif. Kalo memang pemerintah merasa perlu, tinggal dikasih fasilitas yang memadai agar bisa menerima anak-anak spesial tersebut. Karena, jika pemda menganggap itu adalah bagian dari diskriminasi pendidikan, maka semua sekolah yang tidak menjalankan program inklusif adalah pelaku tindak DISKRIMINASI PENDIDIKAN.

Saya menghormati pihak pemda yang sekarang membangun sekolah yang jauh lebih bagus dari SMP 1, tapi bukan berarti harus menghapus sekolah yang masih beroperasi dengan baik, masih memiliki perhatian khusus dari masyarakat. Berbeda jika memang sekolah tersebut adalah sekolah yang tidak diminati masyarakat atau dengan kata lain sekolah yang hidup segan mati tak mau.

Kenyataannya, penutupan sekolah ini justru melukai hati masyarakat, melukai para peserta didik, pendidik, wali murid dan juga tokoh masyarakat.

Silahkan membangun sekolah-sekolah hebat lainnya, tapi jangan tutup sekolah yang masih layak untuk dijadikan tempat menuntut ilmu bagi generasi muda. Cukup beri fasilitas yang memadai, tak perlu menghapus atau menghilangkan sebuah sekolah.

Logika saya masih belum bisa mencerna dengan baik alasan-alasan pihak pemda menutup sekolah tersebut. Mungkin karena keterbatasan pengetahuan saya.

Keluar Dari Zona Nyaman



Kadang kita memang harus pergi dari zona nyaman yang kita punya, untuk menggapai impian yang lebih tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas diri. Mungkin inilah sebenarnya yang sedang saya lakukan, meninggalkan zona nyaman demi sebuah mimpi yang sudah saya persiapkan dalam satu tahun terakhir. Mulai dari belajar soal-soal bahasa inggris yang sempat membuat saya down parah karena merasa kesusahan dalam mencerna soal-soal yang dipenuhi dengan tata bahasa, belajar soal-soal Tes Potensi Akademik yang merupakan hal baru buat saya, psikotes, berulang kali merubah tujuan Universitas, sampai harus menghemat biaya hidup demi melanjutkan study, dan itu semua cukup menguras tenaga, waktu dan juga pikiran.

Meski demikian, saya menikmati kesempatan yang Allah berikan pada saya, meski saya juga tahu, ada orang-orang yang tidak suka melihat saya berusaha menjadi lebih baik lagi, tapi bukankah Tuhan punya rencana yang indah bagi hamba-Nya? Selagi apa yang kita usahakan itu baik, Insha Allah akan diberi kesabaran dalam menggapai mimpi.

“Bukankah kamu sudah mendapatkan apa yang kamu impikan? Menjadi Guru dengan gaji yang juga cukup, lalu apalagi yang kamu kejar?” begitulah Tanya seorang kawan kala waktu istirahat. Dan saya hanya tersenyum.

“Saya mengundurkan diri dari pekerjaan ini bukan karena saya tidak suka menjadi seorang Pendidik, justru ini adalah wujud kecintaan saya pada dunia pendidikan, saya ingin menyiapkan diri sebaik mungkin untuk sebuah pengabdian. Mengajar tidak mesti harus di sekolah formal, bukan? Bumi Allah itu luas, dimanan pun saya berada nanti, Allah akan mempertemukan saya dengan ladang dakwah baru, dan itulah sebenarnya bukti bahwa “Kita harus terus menjadi lebih baik lagi”, dan inilah yang sedang saya perjuangkan.”

Saya tahu, semua ini tidak semudah yang saya bayangkan, akan banyak sekali rintangan dalam menggapai apa yang saya impikan, namun saya meyakini satu hal bahwa “Akan selalu ada hasil dari sebuah usaha”, tugas kita hanya melakukan semuanya dengan baik, bahkan terbaik, selebihnya biarkan Allah yang mengatur, faiza ‘azamta fatawakkal ‘alallah, jika engkau memiliki keinginan yang kuat, maka bertawakkal lah kepada Allah, Rabb semesta alam raya. Percayakan sepenuhnya kepada-Nya.


Jika Allah meridhai, kota perjuangan saya selanjutnya adalah Malang, saya jatuh cinta dengan UIN Maulana Malik Ibrahim, yang harumnya semakin mewangi, yang gaungnya terdengar hingga manca Negara dan tentu saja karena kebijakan-kebijakan hebat diambil oleh pengelola UIN Malang. Saya bangga, saat mendengar pihak UIN menerima santri berprestasi meski tidak memiliki ijazah sekolah menengah atas dari Negara. Dengan hafalan 10 juz dan proses seleksi, mereka sudah bisa mendapatkan beasiswa Sarjana, bukankah ini adalah sebuah penghargaan yang luar biasa?

Suasana UIN yang semi pesantren juga memiliki daya tarik sendiri, kalian akan menemukan mahasiswa/mahasiswi menghafal Al Quran, meski mereka bukan dari jurusan Agama. Satu tahun pertama, semua mahasiswa/mahasiswi UIN wajib tinggal di asrama, diberi pembinaan keagamaan demi mewujudkan generasi yang shaleh/shalehah berlandaskan pada Aqidah Islamiyyah. Ini adalah salah satu dari sekian banyak cara yang dilakukan pengelola UIN Malang dalam mewujudkan generasi Qur’ani, generasi yang menjadikan Al Quran dan Sunnah sebagai panduan hidup.

Saya memilih Malang bukan tanpa sebab, saya ingin belajar di UIN terbaik di Negeri ini, saya ingin belajar menjadi lebih baik, dan semoga Allah meridhai keputusan yang sudah saya ambil ini. Terlepas nanti diterima atau tidak di UIN Malang, setidaknya saya sudah mencoba dan terus akan mencoba, meraih kesempatan lain. Saya melakukan semua dalam rangka mencari ridha Ilahi.

“Bagaimana kalo tidak diterima di UIN Malang?”

Saya akan bertahan di Malang, mencoba untuk memulai semuanya dari awal, menjalani kehidupan yang baru, sambil mempersiapkan diri lagi. Allah selalu mendengar doa hamba-Nya, kepadanyalah saya memohon diberikan yang terbaik. Perjalanan ini baru akan saya mulai, ada banyak tangis yang menemani keputusan-keputusan yang saya buat di dalam hidup, dan Tuhan selalu memeluk erat kala hati dirasa lelah dan gundah akan hidup. Karena pada-Nya lah seharusnya kita berserah diri.

Kadang orang takut mengambil langkah besar dalam hidup karena takut akan konsekuensi yang akan dihadapi. Bukankah akan selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan yang kita ambil? Dan kita memang harus siap, bukan? Apa yang terjadi pada kita memang merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang kita ambil. Hidup hanya sekali, maka hidup seperti apa yang ingin kita ambil? Menjadi pribadi shaleh berlimpah manfaat tentu adalah pilihan terbaik.

Saya tahu, banyak orang yang akan kecewa dengan keputusan ini, ada banyak orang yang juga akan merasakan kehilangan, dan tentu saja ada banyak tugas yang belum sepenuhnya saya selesaikan. Berat memang, tapi saya tetap harus mencoba untuk bangkit demi pengembangan diri.

Beberapa hari terakhir, rekan Guru banyak yang kaget ketika tahu saya sudah mengajukan pengunduran diri, karena menurut mereka saya memiliki semangat dalam mendidik anak-anak. Saya memaklumi itu. Beberapa hari terakhir juga ada banyak tangis dari beberapa santri pesma (Pesantren Mahasiswa) karena adanya kekhawatiran yang begitu besar, siapa yang akan membina mereka selanjutnya?

“Mengapa ustadz pergi di saat kami sudah merasa nyaman di PESMA, merasa ada yang memerhatikan kami, siapa yang akan membina angkatan baru nanti?”

Pertanyaan itu kadang membuat saya menangis, karena kami memang sedang merasakan kedekatan satu sama lain, saling mendukung satu sama lain, tentu perpisahan adalah hal yang berat.

“Ini bukanlah akhir dari kebersamaan kita, kita bisa tetap menjalin komunikasi, kita masih bisa bertemu di lain kesempatan.” Begitulah jawaban yang saya berikan.

Tiga hari yang lalu, salah satu santri pesma menemui saya selepas tharawih, bercerita tentang kondisi dia yang sesungguhnya, ia menangis hingga larut malam, dan saya duduk di sampingnya, saya dekap erat pundaknya, saya coba merasakan apa yang ia rasakan, saya coba untuk pelan-pelan memberinya arahan akan masalah yang sedang ia hadapi.

“Jangan sungkan untuk berbagi, anggap saya sebagai kakakmu, saya akan siap menjadi pendengar yang baik.” Begitulah yang saya ucapkan di hadapannya, sambil meyakinkannya bahwa Tuhan akan memberikan jalan terbaik.

Pilihan yang saya ambil memang berat, saya memilih disaat saya semakin nyaman dengan lingkungan yang ada di sekitar saya, saya memilih di saat saya berusaha menjadi pribadi lebih baik lagi di sekolah. Berat memang, tapi saya yakin dengan pilihan yang saya ambil.

Tuhan, bukankah Engkau selalu tahu apa yang ada di hati ini?

Kegundahan yang akhir-akhir ini melanda tentu memiliki alasan

Dalam sujud dan derai air mata yang kadang membasahi kedua mataku

Selalu kusebut nama-Mu

Kupeluk erat firman-Mu di dalam dada

Jika keputusan ini adalah yang terbaik, maka berilah kemudah bagi hamba, ya Rabb

Sesungguhnya, hanya pada-Mu lah hamba berserah diri.

Mafaza



26 Juni
Tadi pagi, saya dan santri Mafaza duduk bareng, kemudian mencoba untuk menganalisa kembali apa yang sudah kami lakukan dalam satu semester ini. Menjelang Ramadhan, kegiatan kajian rutin akan diganti dengan kegiatan-kegiatan Ramadhan yang sudah disusun sedemikian baik oleh mereka. Saya bangga bisa mengenal mereka semua.

Sehari sebelumnya, saya sudah memberi mereka kesempatan untuk menulis kritik dan saran yang ditujukan untuk diri saya pribadi. Kritik dan saran ini dalam rangka introspeksi diri pribadi, agar bisa menjadi lebih baik lagi dalam membimbing mereka semua. Mereka bukan hanya sekadar santri bagi saya, tapi juga adik dan juga sahabat yang baik yang bisa menjadi teman berbagi suka dan duka. Mungkin perbedaan umur yang tidak terlalu jauh membuat kami lebih dekat satu sama lain meski memang belum sepenuhnya saya mengenal mereka satu persatu karena memang belum lama saya membina mereka secara penuh.

Saya memang suka memberikan kesempatan anak-anak di sekolah untuk menilai apa yang sudah saya lakukan untuk mereka, dan ini saya praktikkan di pesantren mahasiswa mafaza. Saya persilahkan mereka untuk menuliskan kritik dan saran yang membangun demi kebaikan bersama. Karena apa yang menurut saya baik, belum tentu baik bagi mereka.

Saya sengaja meminta mereka menuliskan sebanyak mungkin, karena kalo saya minta mereka untuk berbicara langsung, saya yakin mereka akan sungkan dan bisa jadi apa yang selama ini menjadi unek-unek mereka tidak bisa disampaikan dengan baik. Jadi, saya memilih memberikan mereka kesempatan untuk menuliskan kritik dan saran tanpa perlu mencantumkan identitas diri.

Setelah membaca sekian lembar kritik dan saran dari mereka, air mata saya menetes, kemudian memohon ampun kepada Allah SWT atas khilaf saya selama ini. Yang paling menonjol yang mereka rasakan adalah, saya kurang adil dalam memberi perhatian. meski demikian mereka masih memaklumi, karena memang baru lima bulan terakhir saya berusaha mengenal mereka lebih dekat dan peduli dengan mereka. dan ada satu tulisan yang kemudian begitu mengena di hati saya dan saya tahu siapa yang menulis ini. Berikut saya tuliskan langsung tulisan yang saya dapati saat membaca kritik dan saran dari para santri di pesantren mahasiswa Mafaza.

" Salam khusus untuk Ustadz Arian."

Sedikit bercerita, Ustadz, dulu selama tinggal di Jakarta, dari saya berumur 6 tahun sampai 15 tahun, saya belajar tentang Agama, dari Al Quran, kitab nahwu, shorf, mahfuzhot, adabul insan, tafsir dan lain-lain. Tapi, selama kurang lebih 5 tahun saya tidak menyentuh kitab-kitab itu lagi, mungkin karena saya terlalu sibuk bermain, kumpul-kumpul sama teman SMA. Saya dulu tergabung di kerohanian Islam dan sampai hari ini silaturahmi kami tetap terjaga. Banyak yang beranggapan bacaan Al Quran saya baik, tapi saya tidak berpikir demikian, sampai-sampai banyak guru yang menyuruh saya tadarus di sekolah.

Setelah lulus SMA, saya sudah jarang sekali menyentuh Al Quran. Hafalan saya dari saya kecil hanya An Nas - At takatsur. Dulu saya sangat sibuk dengan dunia saya. Selama kuliah di IPB Bogor saya sudah ada niat untuk tinggal di masjid agar ibadah saya, akhlak saya dan komunikasi saya dengan akhwat bisa terjaga.

Setelah 1 tahun berikutnya, ternyata mimpi saya belum diijabah sampai akhirnya saya bermigrasi dari Jakarta-Bogor, Bogor-Jakarta, dan Jakarta-Purwokerto. Mendaratnya saya di Purwokerto dengan keadaan buta arah, di bulan Ramadhan dan di malam menjelang pagi saya berdiri tegak dengan mata panda di Purwokerto tepatnya di Stasiun.

Dari stasiun sampai kampus Pak Dirman saya berjalan kaki. Sungguh Ramadhan yang indah. Tahu nggak Ustadz? Tempat pertama kali yang saya jajaki adalah ini, Masjid Fatimatuzzahra, Masjid yang saya kira masjid kampus. Masjid yang riuh dengan suara burung pagi hari. Saya menduga kalau tempat ini bukan tempat biasa. Saya suka masjid ini, saya suka dengan Imam yang selalu membaca surat yang panjang-panjang. Saya rasa ini krusial sekali, Masjid besar dengan bacaan Quran yang luar biasa.

Saya bertekad saya harus bisa baik bacaan Al Qurannya. Saya bercita-cita menjadi "Scientist yang bacaan Al Qurannya baik" dan Ustadz Arian merupakan Ustadz yang membimbing saya dengan jam terbang yang paling banyak. Mungkin, kalo tidak ada Ustadz, bacaan saya tetap seperti dulu, masih buruk. Entah apa jadinya keluarga saya nanti kalau saya tidak ada pemantasan dan perubahan.

Sungguh, dengan segenap hati saya, saya bersyukur dan berterima kasih karena bertemu Ustadz dan saya belum bisa memberikan apa-apa, malahan merepotkan. Ustadz sudah menjadi "pengaruh"

"Pengaruh itu bukan karena banyaknya orang yang berpengaruh, tetapi orang yang mampu mempengaruhi banyak orang"

25 Juni 2014
(Calon Scientist)
**

Setelah membaca tulisan di atas, saya mengelus dada, kemudian mengusap air mata di ujung sana yang berhasil tumpah. dan tadi pagi, saat saya mengakhiri kajian rutin bersama mereka karena mereka akan sangat sibuk menjadi pelayan umat di Bulan Ramadhan ini, ada tangis yang memecah pagi. Saya berusaha kuat menahan agar tidak sampai menangis, meski di samping saya sudah ada yang menangis terisak seolah akan terjadi perpisahan. dan saya bangga pada mereka dan perubahan mereka yang semakin baik.

Saya bilang ke mereka semua bahwa "Kita adalah keluarga. Sebagai sebuah keluarga, maka sudah seharusnya kita saling percaya dan saling support satu sama lain. Dimana pun kalian berada nanti, jadilah generasi muslim yang memberi manfaat kepada orang-orang yang ada di sekeliling kalian." Kami memegang erat tangan satu sama lain kemudian berjanji akan terus berusaha menjadi lebih baik lagi.

Ya rabb,
Lindungilah kami
Berilah kami kekuatan untuk selalu menjadi lebih baik
Ingatkan kami jika kami jauh dari jalan-Mu
Semoga cinta kami tetap utuh padamu, Tuhan. Amin

Kesadaran Beragama

 
Seseorang yang terlahir sebagai seorang muslim tidak bisa menjadi jaminan bahwa dia akan memiliki kesadaran beragama yang baik. Seseorang yang memiliki pemahaman agama yang mapan bukan berarti dia adalah orang yang memiliki kesadaran beragama. Sekadar lahir sebagai seorang muslim saja tidak lah cukup jika tidak diiringi dengan belajar tentang agama yang kita yakini. Sekadar paham saja tidaklah cukup jika tidak disertai dengan pengamalan akan ilmu yang kita miliki. Sederhananya begini, sekadar tahu tata cara shalat yang baik dan benar saja tidaklah cukup, jika tidak disertai dengan mendirikan shalat dengan baik dan benar. Sekadar tahu halal dan haram saja tidaklah cukup, jika tidak disertai dengan pengamalan untuk menjauhi yang haram dan melakukan sesuatu yang halal.

Saat ini, kita bisa menyaksikan ada banyak orang yang memiliki ilmu Agama yang baik, tapi hanya sekadar paham agama, tapi tidak memiliki kesadaran beragama yang baik. Inilah sebenarnya yang menjadi masalah besar di zaman sekarang. Coba saksikan generasi muda muslim saat ini, bukan karena mereka tidak tahu bahwa perintah shalat adalah wajib, bukan mereka tidak tahu bacaan shalat yang baik dan benar, kebanyakan dari mereka sebenarnya tahu akan kewajiban shalat dan bagaimana bacaan shalat yang baik dan benar, akan tetapi kesadaran beragama yang belum dimiliki oleh kebanyakan generasi muda muslim.

Sama halnya dengan kewajiban berhijab, kebanyakan dari muslimah paham akan kewajiban untuk menutut aurat dengan baik, akan tetapi kesadaran untuk mentaati perintah Sang Pencipta masih dikalahkan oleh berbagai macam alasan yang berhasil membentengi keinginan untuk segera menutup aurat.

Begitu juga dengan kewajiban mempelajari Al Quran. Pemuda dan Al Quran saat ini bagai kutub utara dan selatan, berjauhan. Coba lihat berapa banyak generasi muda yang khusyu membaca ayat-ayat Allah selepas shalat, yang ada hanyalah generasi muda yang sibuk dengan gadget, mengecek pesan singat yang masuk, BBM, dan berbagai macam jejaring sosial yang semakin membuat jauh akan nilai ibadah yang sesungguhnya. Al Quran sudah tidak lagi menarik hati pemuda untuk mempelajarinya, gadget jauh lebih menarik bagi generasi muda, sehingga lama waktu antara membuka jejaring sosial tidak sebanding dengan waktu yang digunakan untuk mempelajari Al Quran yang menjadi pedoman hidup umat muslim. Beginilah realita yang terjadi saat ini, meski memang masih ada yang bersungguh-sungguh mempelajari Al Quran.

Untuk bisa membangun kesadaran beragama harus dimulai dari diri sendiri, karena motivasi terbesar sebenarnya ada pada diri kita masing-masing. Orang lain, buku, Guru, dan lain sebagainya hanyalah pembantu kita menumbuhkan motivasi yang ada pada diri. Memiliki kesadaran beragama butuh proses yang tidak sebentar, perlu waktu seumur hidup untuk konsisten mentaati aturan-aturan yang ada di dalam Agama.

Memiliki kesadaran beragama berarti memiliki kesadaran untuk menunaikan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Memiliki kesadaran beragama berarti siap menjadi hamba Allah yang baik.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi kesadaran seseorang dalam beragama. Baik yang internal maupun eksternal.

            Faktor Internal, Menurut fitrahnya, manusia adalah makhluk beragama atau memilki potensi beragama, mempunyai keimann kepada Tuhan. Dalam perkembangannya, fitrah beragama ini ada yang berjalan secara alamiah dan ada yang mendapat bimbingan dari agama sehingga fitrahnya itu berkembang secara benar sesuai tuntunan agama.

          Faktor Eksternal, Perkembangan kesadaran beragama akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang memberikan bimbingan, pengajaran dan pelatihan yang memungkinkan kesadaran beragama itu berkembang dengan baik. Faktor lingkungan tersebut antara lain:

Lingkungan keluarga

Keluarga mempunyai peran sebagai pusat latihan atau pembelajaran untuk memperoleh pemahaman tentang nilai-nilai agama dan kemampuan dalam mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari

Lingkungan sekolah

Dalam mengembangkan kesadaran beragama, peranan sekolah sangat penting, peranan ini terkait dengan pengembangan pemahaman, pembiasaan mengimplementasikan ajaran-ajaran agama, serta sikap apresiatif terhadap ajaran atau hukum-hukum agama.

Lingkungan masyarakat

Lingkungan masyarakat ini maksudnya adalah hubungan atau interaksi sosial dan sosiokultular yang potensial berpengaruh terhadap perkembangan fitrah atau kesadaran beragama seseorang.



Agama bukanlah hanya sekadar pelengkap identitas diri, tapi lebih dari itu, Agama adalah keyakinan yang tertanam di dalam hati dan diwujudkan dalam perilaku kehidupan. Agama bukanlah hanya sekadar ucapan bahwa “Aku adalah seorang Muslim”, tapi lebih dari, Agama adalah kesiapan kita menjadi hamba yang memiliki kesadaran untuk menjalankan aturan-aturan yang terwujud dalam tatanan beragama.

Seorang muslim haruslah bangga akan agamanya, bangga dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah SWT dan disertai dengan kesadaran untuk menjadikannya sebagai panduan dalam menjalani kehidupan. Aturan dalam beragama tidak cukup hanya sekadar tertulis dalam lembaran-lembaran saja. Kesadaran beragama harus mewujud dalam tiap embusan nafas yang kita hirup, dalam derap langkah yang kita jalani, dan dalam tiap detak jantung yang akan berhenti kala waktunya telah tiba.

Kesadaran beragama harus utuh, tidak setengah-setengah. Adanya kesadaran beragama akan mewujudkan tatanan sosial yang rukun, damai dan harmonis. Kesadaran beragama tidak hanya sekadar memperbaiki hubungan antara makhluk dengan Sang Pencipta, tapi juga memperbaiki hubungan antara sesama. Kesadaran beragama berarti menjalani semua perintah Allah SWT yang disertai dengan tulus dalam rangka mencari keridhaan-Nya, bukan demi pujian makhluk.

Oleh karena itu, mari terus mendekatkan diri pada Allah SWT, semoga kita semua menjadi hamba yang Ia cintai, yang selalu berusaha untuk mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangannya.

Wallahu a’lam


- Copyright © 2013 Arian's Blog - Simple is beauty - Powered by Blogger - Redesign By YBC(Yahya's Blog Community) - Designed by Johanes Djogan -