January 15, 2017

Jangan Menunda Taubat




 وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (١٥٣)
“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; Sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al A’raf: 153)
Sebagai manusia yang hidup di dunia ini, kita tak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Baik itu dosa besar ataupun dosa kecil. Seolah-olah dosa sudah menjadi bagian dari diri sendiri. Bayangkan saja bagaimana seringnya mata kita tidak dijaga dari hal-hal yang tidak disukai Allah SWT. Bagaimana telinga yang dengan mudahnya mendengar aib saudara sesama muslim. Bagaimana mulut yang dengan mudahnya membicarakan keburukan orang lain. Begitupun anggota tubuh yang lain, yang jika dihitung mungkin tidak akan sanggup menghitung banyaknya dosa yang dilakukan setiap harinya. Belum lagi berbagai dosa terkait kelalaian ibadah kepada Allah SWT, kewajiban yang ditinggalkan, penyakit hati yang setiap detiknya merusak keimanan kita dan tentunya masih banyak hal lainnya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap insan pasti berdosa, setiap manusia pasti melakukan kesalahan karena kita bukan Nabi atau Rasul yang dima’sumkan oleh Allah SWT. Namun bukan berarti kita berserah diri, berpangku tangan dan berputus asa dari dosa-dosa tersebut. Bukan berarti juga dengan dosa ini kita merasa tak apalah berbuat dosa toh semua orang berbuat dosa. Tidak. Agama Islam tidak mengajarkan seperti itu. Sebagai muslim yang beriman kepada Allah SWT, seharusnya kita sebisa mungkin menjauhkan diri dari dosa, dari hal-hal yang dilarang oleh Agama.
Salah satu hikmah dari adanya dosa adalah kita merasa berhati-hati akan setiap perbuatan yang dilakukan. Kita akan merasa takut bahwa apa yang dilakukan tidak disukai oleh Allah SWT. Sehingga dampaknya adalah kita berusaha untuk terus mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bayangkan jika tidak ada dosa di dunia ini, manusia akan hidup semaunya, manusia akan saling menyakiti antara satu dengan yang lainnya, tidak ada rasa takut akan setiap apa yang dilakukan, sehingga pada akhirnya tidak ada hamba yang mendekat kepada Tuhannya, tidak ada hamba yang merintih dan berdoa kepada Allah SWT lantaran dosa yang telah dilakukan.
Mengetahui hal tersebut, agama Islam menganjurkan umatnya untuk terus mensucikan diri, sebagaimana dalam firmanNya,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (٢٢٢).....
“...sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)
Ada satu cara ketika seorang muslim melakukan dosa kemudian ingin kembali kepada Tuhannya dan memperbaiki diri, maka dianjurkan untuk bertaubat. Taubat seperti apa, yaitu taubatan nasuha. Taubat nasuha adalah taubat dengan menyesali segala perbuatan dosa yang telah dilakukan dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya.

10 Dosa Besar
Sebelum bertaubat kepada Allah SWT, tentunya kita perlu mengetahui dosa apa yang telah dilakukan, kemudian masuk dalam kategori mana dosa tersebut. Boleh jadi selama ini dosa yang kita sepelekan, yang sering dilakukan ternyata adalah dosa besar. Disini akan disebutkan 10 dosa besar yang dilakukan seorang hamba, yaitu: 1) syirik, 2) meninggalkan shalat, 3) durhaka kepada orang tua, 4) zina, 5) makan harta haram, 6) mabuk, 7) memutus silaturahmi, 8) bohong, 9) kikir, 10) ghibah.
Tentunya masih ada versi lain yang menyebutkan dosa besar, tapi ini bukan masalahnya, yang jadi masalahnya adalah kita sudah melakukan dosa tersebut tapi sayangnya kita tidak sadar bahwa itu dosa. Jika sadar bahwa itu dosa saja belum, bagaimana mau bertaubat? Sebagai contoh yaitu meninggalkan shalat. Masih banyak muslim yang menganggap meninggalkan shalat sesuatu yang wajar dan ringan saja dilakukan, padahal itu adalah dosa besar.

Orang Taubat Dicintai Allah
Seseorang yang berusaha bertaubat kepada Allah SWT, maka Allah akan sangat mencintai hamba tersebut. Sebagaimana hadis yang artinya, “Sungguh Allah lebih bergembira dengan sebab taubat seorang hambaNya ketika mau bertaubat kepadaNya daripada kegembiraan seseorang dari kalian yang menaiki hewan tunggangannya di padang luas lalu hewan itu terlepas dan membawa pergi bekal makanan dan minumannya sehingga ia pun berputus asa lalu mendatangi sebatang pohon dan bersandar di bawah naungannya dalam keadaan berputus asa akibat kehilangan hewan tersebut, dalam keadaan seperti itu tiba-tiba hewan itu sudah kembali berada di sisinya maka diambilnya tali kekangnya kemudian mengucapkan karena saking gembiranya, ‘Ya Allah, Engkaulah hambaku dan akulah Tuhanmu,’ dia salah berucap karena terlalu gembira.” (HR. Muslim)
Dari hadis tersebut dapat dijelaskan bahwa Allah akan sangat bergembira sekali terhadap seorang hamba yang bertaubat. Rasa gembiranya dalam hadis tersebut diibaratkan seperti seseorang yang kehilangan unta dan perbekalannya di gurun pasir, kemudian pada saat sedang haus dan lapar sekali, unta tersebut datang kembali kepada orang tersebut.
Jangan sekali-kali berputus asa akan ampunan Allah SWT. Selagi masih diberi umur dan kesehatan alangkah baiknya digunakan untuk bertaubat kepada Allah SWT. Sebesar apapun dosa yang dilakukan seorang hamba, namun rahmat dan ampunan Allah lebih besar dari dosa tersebut. Jangan pula merasa khawatir kalau hari esok berbuat dosa lagi, kemudian karena perasaan khawatir itu (besok akan berbuat dosa lagi) maka kita menunda taubat kita. Jangan!
Hari ini kita taubat untuk semua dosa yang telah dilakukan kemarin. Esokpun taubat lagi untuk segala dosa yang kita lakukan hari ini. Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang luput dari dosa. Sebagai seorang muslim, kita hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk menjaga diri dari perbuatan dosa, menjaga taubat kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
Perlu digaris bawahi bahwa taubat bukan hanya untuk dosa-dosa besar tapi juga untuk dosa-dosa kecil. Perbanyaklah istighfar, karena esensi dari istighfar adalah meminta ampun kepada Allah atas segala dosa yang pernah dilakukan. Berdasarkan hadis Nabi saw, “Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari). Di hadis lain Nabi menyebutkan, “Ketika hatiku malas, aku beristighfar pada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Keutamaan Bertaubat
Banyak sekali keutamaan atau manfaat dari bertaubat ini. Manfaat dari bertaubat ini bukan hanya dirasakan nanti di akhirat, tetapi juga dapat dirasakan ketika masih di dunia. Adapun manfaat yang pertama adalah taubat menjadi sebab kecintaan Allah kepada hambaNya, sebagaimana Allah SWT berfirman yang artinya, “...sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al Baqarah: 222)
Taubat akan membuat seseorang menjadi orang yang beruntung, tentunya beruntung di mata Allah, bukan hanya di mata manusia, sebagaimana firman Allah,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٣١)
“...bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur: 31)
Selain itu, taubat juga menjadi sebab turunnya barakah dari atas langit serta bertambahnya kekuatan. Allah swt berfirman,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (٥٢)
“dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS. Hud: 52)
Masih banyak lagi keutamaan dan manfaat dari taubat, jadi tidak ada alasan untuk tidak bertaubat. Boleh jadi masalah yang datang di kehidupan kita dan belum juga terselesaikan lantaran dosa dan maksit yang kita lakukan. Boleh jadi juga cita-cita yang sudah dikejar dari sekian tahun belum juga terwujud lantaran dosa dan maksiat kita. Jadi perlancarkan segala urusan dengan bertaubat kepada Allah swt. Tentunya taubat yang ikhlas kepada Allah dan menyesali segala perbuatan dosa yang pernah dilakukan.



October 22, 2016

Meluruskan Niat




Kemarin, sahabat-sahabat seperjuangan di UIN Malang mengirimkan beberapa photo ketika mereka yudisium, besok insha Allah mereka semua akan diwisuda. Di kelas kami, hanya 5 orang yang belum bisa wisuda karena alasan masing-masing. Sempat berkaca-kaca melihat photo-photo mereka, sempat tidak ikhlas mengapa saya tidak bisa bersama-sama dengan mereka kemarin dan esok hari. Seharusnya saya bisa berada di tengah-tengah mereka, wisuda bareng, karena kami memulai semuanya secara bersama-sama dan seharusnya kami bisa mengakhiri semuanya berbarengan. Saya sempat tertegun lama ketika selesai shalat, kemudian mengelus dada yang gamang, hingga akhirnya saya kembali menata diri, kembali menata niat yang mungkin saja salah. Harusnya saya bisa lebih ikhlas dalam menjalani semua ini.

Rencana saya untuk wisuda bulan ini pupus, bukan karena kesalahan orang lain, tapi karena saya belum mampu mengatur waktu dengan baik, antara keluarga dan juga pendidikan. Memang, ada beberapa hal yang tidak mungkin untuk saya tinggalkan, sehingga rencana saya ke Malang untuk bertemu dengan Dosen Pembimbing harus tertunda lama. Saya pun berusaha mengikhlaskan itu semua, karena saya percaya bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian.

Ada bulir-bulir hangat yang menggumpal di ujung sana,

Sahabat-sahabatku, saya ingin sekali hadir di hari bahagia kalian kemarin, namun kondisi belum memungkinkan, karena bidadariku sedang tidak mungkin untuk ditinggal. Meski demikian, rindu ini ingin sekali bertemu dengan kalian, karena entah kapan lagi kita akan bertemu jika bukan di saat wisuda, tidak ada yang tahu. Setelah wisuda, masing-masing akan membuka lembar cerita baru dengan semangat perjuangan baru. Saya selalu berdoa, semoga kita semua diberi lindungan oleh Allah SWT, menjadi manusia-manusia yang bisa memberi manfaat. Karena hakikatnya cinta adalah ketika doa terus dipanjatkan meski wajah tak mampu bersua.

Sahabat-sahabatku, meski jarak memisahkan kita, namun cerita-cerita tentang kalian akan tetap saya nantikan.

Perjalanan hidup memang tidak pernah ada yang tahu, Allah selalu memiliki kejutan-kejutan indah untuk hambaNya, kita hanya perlu melakukan yang terbaik, selebihnya biarlah Ia yang mengatur mana yang memang baik untuk hambaNya.

Saat ini, saya sedang mendampingi istri saya yang sedang sakit. Sejak pernikahan kami, dia memang sering sakit-sakitan, mulai dari sekedar batuk, pusing, sempat masuk IGD, sakit persendian, pernah juga dirawat di Rumah Sakit beberapa hari karena gangguan pernapasan, dan pernah juga ada inflamasi di kakinya. Hingga saat ini, dia masih belum benar-benar pulih. Maka waktu saya memang banyak dihabiskan menemani istri hingga pulih. Beberapa kali rencana saya untuk bimbingan Tesis harus diundur karena harus menemani istri hingga pulih. Saya selalu berusaha untuk tetap ikhlas, Allah sedang memberi saya waktu lebih lama untuk bersama istri saya, Allah memberi waktu bagi saya untuk memberi pelayanan terbaik ketika kondisi istri sedang tidak baik.

Tesis memang sudah selesai saya tulis sejak 1 bulan lalu, saya hanya butuh bertemu untuk mengajukan draft tesis yang sudah selesai, berharap akan segera disetujui,tapi Allah memberi saya waktu lebih lama untuk menyelesaikan pendidikan S2 ini. Allah sedang menyiapkan rencana yang indah bagi saya, saya percaya itu, asal saya berusaha lebih giat lagi.

Usaha yang saya lakukan saat ini adalah “meluruskan niat”, harusnya doa-doa yang selama ini saya panjatkan haruslah tulus. Seperti saat ini, saya terus berdoa demi kesembuhan istri saya, namun kadang doa-doa yang dirapal tak sepenuhnya ikhlas. Kadang doa yang saya pinta hanya sebatas menginginkan ia segera pulih, agar saya bisa segera bisa menyelesaikan pendidikan saya dengan baik, bukan agar dia bisa benar-benar sehat dan menjalani kehidupan lebih baik lagi. Maka disinilah pentingnya kembali menata niat dalam berdoa. Ikhlas dalam berdoa adalah salah satu kunci di-ijabahnya doa oleh Sang Pencipta.

Kalian tahu siapa yang paling pandai dalam mendesain kehidupan manusia? Tiada lain adalah Allah SWT. Kerap kali hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, tiba-tiba terjadi. Masalah kadang datang silih berganti, disinilah kesiapan kita dalam menghadapi kehidupan diuji olehNya. Apakah mau sabar? Atau malah menyerah? Tentu sabar adalah pilihan terbaik untuk dipilih.

Hidup ini hanya sekali, maka menjalaninya sesuai dengan aturan Allah SWT adalah keharusan. Niat yang ikhlas diperlukan demi memudahkan diri dalam menggapai keridhaanNya. Niat itu seperti surat, salah tulis alamat akan sampai salah tempat. Jangan pernah lelah untuk istiqamah di jalanNya, meski Ia setia memberi cobaan demi cobaan hambaNya, itulah bagian dari wujud cintaNya.

Luruskan niat, segala yang kita lakukan tidak akan bernilai jika niat itu sudah salah.

Duhai Engkau yang menguasai hati, tetapkan hati ini di jalanMu, jangan biarkan kami lalai dalam taat kepadaMu.

Duhai Engkau yang segala Maha, berilah kesabaran sebagai bekal kami dalam menjalani kehendakMu.

Duhai Engkau yang Maha Cinta, tanamkanlah cinta padaku dan istriku, agar kami bisa bersama-sama berjuang menuju surgaMu.

October 12, 2016

Untukmu Yang Tak Mampu Untuk Kuraih


“Aku tidak pernah bermimpi menjadi seorang pengagum, bahkan kupikir aku sangat amatir dan norak. Kau benar, aku sudah sangat menganggu dan nekat luar biasa. Jutaan kali keluar kata dalam benakku yang mengutuk perbuatan bodoh ini. Jutaan kali aku memangkas rasaku padamu, namun jutaan kali pula ia kembali tumbuh setiap kau hadir di hadapanku. Jutaan pula rasa berdosa dan pengkhianatan terurai padanya yang telah Rabb tetapkan padaku.

Padamu aku malu, terlebih pada-Nya nanti ketika bertemu, duhai jauh lebih memalukan rasa-rasanya aku ini di hadapan Tuhanku. Karena itu, setelah ini aku akan berhenti sepenuhnya dari mengejarmu, aku tahu Tuhan hanya sedang mendiamkanku dalam kubangan, dan disana aku diminta-Nya untuk berpikir panjang.

Kau tahu, aku pernah pula membencimu. Mengapa harus kau yang tak terjangkau? Tapi kau dan aku sudah tahu jawabannya, bahwa cinta adalah anugerah yang tak bisa ditolak. Kau benar, aku salah memahami satu ujian ini, aku belum selesai, doakan semoga aku lulus.

Aku tidak tahu ini cinta versi apa, kau sebut versi pragmatis atau versi gombal pun tak apa. Aku tak tahu kapan kita bisa kembali berjumpa. Yang ku tahu, kau pernah ada dalam salah satu lembaran mimpi yang masih jauh untuk kuraih.

Duhai, seperti katamu. Allah lebih dekat keberadaan-Nya padaku.
Duhai, aku akhirnya tahu mana yang harus kusambut.
Aku akan menyucikan diriku
Kembali menata rapi hati dan meredam luka perih ini.

Semoga waktu kembali merekatkan yang retak dan Allah mengelusnya dengan lembut hingga hilang sempurna. Aku juga berterima kasih, karena kau telah mengenalkan cinta-Nya padaku. Suatu saat, hanya jika Allah mengizinkan, kau akan tahu tentang cintaku.

Di akhir musim hujan nanti semua akan selesai. Aku akan mengembalikan setiap potongan hati ke tempatnya semula. Mengembalikanmu ke dalam benak yang tidak pernah tahu. Mengembalikanmu pada Tuhan yang telah menebar cinta ini sejauh hati berkisah tentangmu.

Jika ada selembar keajaiban yang turun dari langit, aku harap keajaiban itu akan mempertemukan kita kembali di waktu yang entah kapan lagi. Aku jatuh cinta, hanya ketika tahu bahwa aku tidak pernah tahu alasan hati memilihmu.

Ada bunga yang mekar meranum di hati, meski hari tak pernah memihakku, namun waktu telah mengantarkan pelajaran indah untukku memahami cinta.

Teruntukmu, sang penghuni sepi. Semoga kau temukan bidadari syurgamu suatu saat nanti. Suatu hari ketika Tuhan telah memoleskan pemahaman cinta-Nya kepadamu.


Cinta adalah penerimaan yang tak terperi, meski tak selalu berbalas serupa, karena kita jarang sekali menang dalam urusan cinta, namun sakit hatinya pun tetap indah. Begitulah bagaimana Tuhan mengajarkan makna mencintai kepada hamba-Nya.”

*NoteTulisan di atas adalah email bersambung yang saya dapatkan dari seseorang via email

August 23, 2016

Al Qur'an Solusi Negeri Ini


Tahukah kamu bahwa:
Indonesia adalah negeri terbesar muslim penduduknya.
Indonesia masuk 5 besar negara penghasil minyak terbesar di dunia.
Indonesia masuk 5 besar negara yang memiliki hutan terluas di dunia.
Indonesia letaknya strategis, alamnya berlimpah, curah hujannya cukup, matahari bersinar sepanjang tahun, seolah-olah Allah menciptakan alam raya Indonesia dengan tersenyum. Jika kita berjalan dari Sabang sampai Merauke, rasanya tidak akan pernah habis cerita tentangnya, indahnya luar biasa.

Tapi tahukah kita? MUI baru-baru ini merilis berita terbaru, di Indonesia terdapat 385 aliran sesat terdata. Kemarin di Makasar shalatnya telanjang, Allahu Akbar “Bapak-bapak jangan membayangkan, ya.” Imamnya bugil, makmumnya bugil, dan lebih parahnya lagi, susunan shafnya, perempuan di depan, laki-laki di belakang.

Nggak selesai disitu saja, tertangkap di Bandung, Nabi baru, namanya Cecep Alaihissalam. Dimana-mana Nabi itu Nuh, Luth, Ibrahim, Shaleh, Musa, Isa, ini Cecep Alaihissalam, saya tidak tahu hubungannya apa dengan cecep-cecep yang lain.

Masya Allah, nggak selesai, ternyata apa? Ditangkap Cecep, keluar Gavatar,  Syiah merebak dimana-mana, Syiah merebak, Lia Eden bilang pada presiden RI bahwa UFO akan mendarat di Indonesia.
Nggak selesai, Aceh gempar, ada agama baru yang bernama Millah Ibrahim, tiga agama satu Tuhan. Jadi jika antum nanti nggak shalat Jum’at, ya, nggak apa-apa, bisa diganti dengan sekolah Minggu.

Semua yang saya paparkan di atas itu ada di Indonesia, negeri dengan muslim terbesar di dunia.

Nggak selesai sampai disitu, kita pun terhenyak, darah kita mendidih. Bayangkan ketika putri kita pulang sekolah dengan baju pramuka, berjalan penuh semangat karena ingin bertemu dengan orangtuanya, tetapi tubuhnya hancur, kemaluannya robek hingga duburnya, bahkan dilakukan oleh 14 anak di bawah umur. Ini terjadi di Indonesia.

Tidak selesai sampai disitu, seorang anak berumur 2,5 tahun di daerah Bogor, digendong, menjadi teman maennya, lalu dicabuli, mulutnya disekap, kemaluannya robek, kemudian disimpan di dalam lemari selama 3 hari. 3 hari Ibunya mencari anak yang dicintainya, ternyata menemukan anaknya dalam kondisi membusuk dan kelaminnya membusuk. Bayangkan jika itu terjadi pada anak Bapak dan Bunda. Apa yang antum rasakan? Bahkan, hati kita hancur, ada seorang muslimah yang menolak berhubungan suami istri sebelum menikah, lantas pacul kayu itu menembus hati dan jantungnya hingga mati.

Ini terjadi di Indonesia, negeri yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Tidak selesai sampai disitu, seorang suami tega mencabik-cabik tubuh istrinya, kemudian dibuang ke sungai layaknya sampah yang tidak ada nilainya.

Tidak selesai sampai disitu, seorang pengusaha melakukan pencabulan terhadap 58 anak lebih. Tidak selesai disitu, tahun lalu Bunda Elly Risman berucap sambil menangis bahwa “Indonesia menempati peringkat nomor 1 negara pedopelia tertinggi di dunia.” Seorang Emon di Suka Bumi, melakukan pedopil terhadap anak-anak di bawah umur sebanyak 150 orang anak.

INDONESIA.

Bahkan, baru-baru ini kita mendengar seorang mahasiswa menggorok dosennya sendiri hanya karena merasa sulit dengan proses skripsinya. Dosennya tewas di tempat.

Tidak selesai sampai disitu, hutang luar negeri Indonesia sekarang mencapai 270 triliuan. Sungguh membahayakan. Bahkan, negeri ini terus diurun duka terus menerus.

ADA APA DENGAN NEGERI INI?

Negeri ini memiliki penduduk mayoritas muslim, penganut ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, tapi mereka mengabaikan al Quran. Mereka lemparkan Al- Quran. Pada saat shalat mereka  katakan “Inna shalati, wanusuki, wamahyaya, wamamati lillahirobbil ‘alamin”. Tapi pada saat kemudian mereka berekonomi, mereka tidak mau menggunakan ekonomi Allah SWT. Pada saat membuat hukum dan perundang-undangan, mereka abaikan Al Qur’an. Bagaimana jika terjadi pada anak-anak kita? Pelaku hanya dihukum 12 tahun penjara dan itu belum termasuk pengampunan, bahkan ada yang tidak terhukum karena memiliki kemampuan membayar kepada pengadilan. Dimana rasa keadilan? Oleh karena itu, sudah seharusnya ummat islam Indonesia kembali kepada Al Qur’an.

Mayoritas muslim abai pada Al Qur’an. Bahkan, 53% ummat Islam Indonesia tidak bisa membaca Al Qur’an. Ini negeri kita, airnya kita minum, tanahnya kita makan,  kita cinta Indonesia, kita dimakamkan di Negeri ini. Kita Abai pada Al Quran, padahal Allah SWT berfirman,

“Wanazzalna ‘alaikal kitab, tibyaanal likulli syaiin.” Kami turunkan Al Quran untuk menjelaskan segala sesuatu perkara.” Kalo semua jawabannya adalah Islam, lantas apa pertanyaannya?

Oleh karena itu, jangan disia-siakan. Bahkan Rasulullah SAW sampai mengadukan kondisi ini kepada Allah SWT, bahwa ummatnya suatu saat akan mengabaikan Al- Quran.

“Yaa rabbi inna qoumittakhaza hazal quran mahjuura” Wahai Rabbku, sesungguhnya ummatku ini,  mengabaikan al Quran” bahkan mereka tidak merasa berdosa meski tidak bisa membaca Al Quran.

Di Jawa Barat, baru-baru ini dinyatakan lebih dari 80% tidak bisa membaca al Qur’an. Bahkan survei pada tahun 2014 menyatakan bahwa 5 dari 10 jamaah haji Indonesia tidak bisa membaca al Quran. Bagaimana Al Quran akan menjadi petunjuk, baca saja tidak bisa. Padahal membaca 1 hurufnya mendapat 10 kebaikan.

Oleh karena mari kita ajak keluarga kita, saudara-saudara kita, untuk bebas dari buta aksara al Quran. Hidup kita singkat, mari kita jadikan al quran sebagai petunjuk.

Semoga Allah merahmati kita semua, Amin.