New Post!

Dear Faris

Dear Faris
Buku Terbaru

New Catatan Hati Sang Guru

New Catatan Hati Sang Guru
New CHSG

Blog Archive

Kategori

Powered by Blogger.

Followers

Warung Blogger

Warung Blogger
Yuk Ngopi Bareng

Total Pageviews

Yuk Subuh Berjamaah



Wahai insan yang sedang lelap dalam tidur
Bangunlah, waktu subuh telah tiba
Jangan kalah dengan barisan setan yang terus merayumu untuk lelap
Bangkit, basuh anggota badanmu dengan air wudhu
Bersujudlah di hadapan-Nya di rumah-Nya
Sampaikan rangkaian pinta pada-Nya
Semoga Engkau menjadi insan yang shaleh/shalehah

Bagi orang-orang tertentu, shalat subuh berjemaah di masjid mungkin sudah menjadi bagian dari good habbits (kebiasaan-kebiasaan yang baik) yang sudah sejak lama ia lakukan dan itu memberi dampak positif baginya.

Mengapa demikian? Saya ibaratkan begini, Anda sudah terbiasa membawa beban berat 50 kg, kemudian disuruh membawa beban berat 5 kg, tentu hal itu lebih mudah, bukan? Karena Anda sudah terbiasa membawa yang jauh lebih berat dari 5 kg. Sama juga dengan shalat subuh berjemaah. Bagi mereka yang sudah terbiasa shalat subuh berjemaah di masjid, tentu melakukan shalat fardhu yang lainnya lebih mudah, karena shalat subuhlah yang sebenarnya paling susah untuk dilakukan berjemaah di masjid karena barisan setan yang dengan setia menggoda agar manusia lelap dalam tidurnya.

Rasulullah Saw bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Al Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Ada banyak orang yang bisa bangun pada pukul 03.00 atau mungkin pukul 04.00 pagi demi menonton sepak bola, dimana itu adalah kesenangan duniawi, tetapi  tidak banyak yang mampu untuk bangun dari tidur demi shalat subuh berjemaah di masjid. Apakah Anda termasuk yang demikian? Coba jawab jujur, kalo iya, berarti Anda termasuk orang yang lalai dalam shalat. Mengapa saya katakana lalai? Karena Anda tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang berjuang untuk mendirikan shalat subuh berjemaah di masjid.

Bagi Anda yang masih belum terbiasa untuk shalat berjemaah di masjid pada waktu subuh, sesekali cobalah pergi ke masjid untuk berjemaah subuh, dan lihatlah, ada berapa banyak generasi muda yang shalat berjemaah di masjid kala subuh. Masjid seolah hanya menjadi tempat bagi mereka yang sudah berusia senja. Mungkinkah masjid sudah tidak menarik lagi bagi generasi muda? Lantas, dimana para generasi muda muslim? Mengapa mereka enggan untuk shalat subuh berjemaah di masjid. Ah, jangankan shalat subuh, shalat yang lain juga sepi dari generasi muda, bukan?

Ada banyak keutamaan dalam shalat subuh berjemaah, coba perhatikan sabda baginda Nabi Muhammad Saw. yang artinya :

“Barang siapa shalat isya berjemaah, maka seakan-akan dia melakukan qiyamul lail tengah malam dan barang siapa shalat subuh berjemaah maka seakan-akan dia melakukan shalat sepanjang malam.” (HR. Imam Ahmad dan Imam Muslim melalui Utsman bin Affan)

Nah, begitu besar keutamaan shalat subuh berjemaah, saudaraku. Dengan mendirikan shalat subuh berjemaah, kita diibaratkan mendirikan shalat sepanjang malam, sungguh luar biasa baiknya Tuhan kepada kita. Ada banyak pahala yang bisa kita raih seandainya kita mau sedikit meluangkan waktu kita untuk menyibukkan diri dalam rangka meraih keridhaan-Nya, salah satunya adalah dengan shalat subuh berjemaah di masjid.

Di Palestina, untuk bergabung menjadi tentara khusus Hamas atau brigade Al Qassam di Gaza, kriterianya bukanlah merekrut pemuda yang berbadan besar, jago berkelahi, atau kuat mengangkat senjata. Namun menurut Ustadz Bachtiar Nasir - yang pernah turun langsung ke lokasi – yang menjadi kriteria utama adalah ia harus rutin mengerjakan SHALAT SUBUH BERJEMAAH DI MASJID.

Sedangkan syarat lainnya yakni, bacaan dan hafalan Al Qurannya terjaga. Baru kemudian dilihat pada kriteria-kriteria lainnya. Itulah mengapa, tentara Hamas dan brigade Al Qassam, usia dan perawakan tubuhnya amat beragam, dari umur 16 tahun sampai 50 tahun.

Mengapa demikian? tentu saja, badan besar bukanlah jaminan pasti menang perang. Sebab, kemenangan yang sesungguhnya adalah asbab pertolongan dari Allah. 

Sekarang saya tanya, kapan terakhir kali Anda shalat subuh berjemaah di masjid?

Silahkan dijawab sendiri dan pastikan untuk meyakinkan diri bahwa Anda bisa mendirikan shalat subuh berjemaah di masjid. Jangan membuat-buat alasan untuk tidak berjemaah di masjid, jika Anda mengaku mencintai Nabi dan mengikuti sunnahnya, coba renungkan sejenak, apakah beliau pernah shalat wajib di rumah?

Wahai generasi  muda muslim, adzan subuh itu adalah ajakan untuk segera bangun dari tidur dan bersiap diri untuk menghadap Allah Swt, bukan tanda untuk menarik selimut, memeluk bantal guling dan kembali hanyut dalam dunia mimpi. Ayo bangun dari lelap tidurmu, basuh diri dengan air wudhu dan melangkahlah dengan yakin ke rumah Allah untuk bertemu dengan Ia yang segala Maha.

Sekarang, saya ingin mengajak Anda untuk menjadi bagian dari pejuang subuh, yakni menjadi orang yang selalu berusaha untuk shalat subuh berjemaah di masjid. Saya tahu, awalnya mungkin berat untuk dilakukan, tapi percayalah, kadang kita memang harus dipaksa terlebih dahulu untuk melakukan suatu kebaikan, kemudian mulai terbiasa, dan akhirnya bisa mencintai kebaikan yang kita lakukan.

Bagaimana caranya? Coba lakukan shalat subuh berjemaah di masjid selama 40 hari berturut-turut, jangan sampai terputus. Kalo terputus, maka hitungannya diulang lagi dari pertama. Misal, kamu sudah masuk di hari ke 38, tapi subuh yang ke 39 malah kesiangan, maka diulang lagi dari satu. Siap?

Coba aja, dan Insya Allah, jika sungguh-sungguh melaksanakannya, Anda akan merasakan betapa indahnya berjemaah subuh.

Kamu laki? Yakin? Kalo gitu berani dong shalah subuhnya di masjid?

Good luck, akhy

Bidadari Surgaku


“Aku ingin menikah, Bu,” ucapku sambil menatap wajah ibu yang ada di hadapanku. Teknologi membuatku bisa menghabiskan beberapa jam waktu luangku untuk berbincang dengan ibu dengan aplikasi skype.
“Dengan siapa? Apa dia orang Indonesia juga?” selidiknya ingin tahu. Aku mengangguk.
“Tapi dia keturunan Arab, Bu. Kami sama-sama sedang menempuh pendidikan Doktoral disini. Aku sama sekali tidak pernah berbincang dengannya, aku hanya pernah bertemu di kajian minggu dua atau tiga kali. Seorang sahabatku yang mencoba untuk mengenalinya lebih jauh, keluarga, latar belakang pendidikan agamanya dan juga budi pekertinya. Aku yakin akan segera menemuinya, dan menyatakan keinginanku untuk menikah dengannya.”
“Jadi, dia belum tahu apa yang kamu rasakan?”
Aku menggeleng, sambil tersenyum.
“Kamu itu sama saja dengan bapakmu. Dulu, waktu bapakmu melamar ibu, karena pernah melihat ibu mengisi kegiatan remaja di salah satu sekolah. Hanya satu kali melihat dan entah dari mana ia tahu banyak tentang ibu, kemudian datang dan melamar ibu.” Ibu bercerita tentang masa lalu, mengenang kembali tentang ia, laki-laki berusia senja yang baru dua tahun pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Aku tidak bisa kembali ke tanah air kala itu, karena sedang menempuh study di Melbourne, Australia.
Aku tersenyum, kemudian melemparkan pandangan ke luar jendela, melihat bulir-bulir salju yang mulai menggunung. Salju semakin mendinginkan hatiku yang sedang hangat terbakar cinta yang aku sendiri tak tahu bagaimana caranya membuat rasa itu teduh, selain bertemu dengan-Nya dalam sujud demi sujudku di malam yang sunyi.
“Fatih….” Suara ibu mengagetkanku yang sempat melamun seorang diri. Kulihat ibu tersenyum di hadapanku.
“Jika memang kamu sudah siap, ibu hanya bisa berdoa, semoga Tuhan memberikan yang terbaik bagimu, Nak.”
“Amin.”
“Jangan lupa istirahat. Kamu butuh istirahat yang cukup, jangan terus-terusan dipaksa untuk menyelesaikan disertasimu kalo sudah capek. Kamu semakin kurus, Nak.”
“Ibu jangan khawatir, aku baik-baik saja disini, Australia tidak bersikap kejam padaku.”
Kami sama-sama tersenyum, dan wajah ibu pun menghilang dari layar laptopku. Aku kembali melemparkan pandangan ke luar apartemenku, melihat ke ujung jalan yang berjarak dua blok dari apartemenku. Kulihat beberapa orang sedang duduk di pinggir jalan, sambil melempar sesuatu ke tumpukan salju yang menggunung. Mereka mengingatkanku akan kenangan saat pertama kali menyentuh salju
Ada banyak yang kurindukan dari negeriku, aku merindukan suara adzan yang membangunkanku kala terlelap dalam tidur, aku merindukan suara riuh anak-anak didikku yang sudah tiga tahun lebih tidak pernah bertemu denganku. Pihak sekolah beberapa kali menghubungiku melalui skype, dan mengizinkanku berbicara di hadapan anak-anak yang ada di kelas. Mereka berteriak kegirangan saat melihatku di layar, bahkan ada yang berdiri dan ingin menjabat tanganku, seolah aku berada disana. Aku kerap kali terpingkal melihat tingkah mereka yang lucu.
“Mengapa kamu tidak menjadi dosen saja, Fatih?” Tanya seorang temanku beberapa waktu lalu.
“Aku terlalu jatuh hati pada anak-anak,” jawabku singkat.
**
Aku sudah duduk di ruang tamu apartemen Najwa, ditemani oleh dua sahabatku yang sama-sama dari Indonesia. Kulihat Abi dan Umi Najwa menatapku hangat, tersenyum dan memersilahkanku untuk menyeruput segelas teh hangat yang telah tersaji sejak kedatanganku beberapa menit yang lalu. Mereka memang kerap kali mengunjungi putri mereka yang cuma satu-satunya. Indonesia dan Negeri Kangguru seolah tak berjarak, mereka bisa dengan kapan saja mengunjungi Najwa disini.
“Sebentar lagi Najwa pulang, tadi dia ada tugas mendadak, menggantikan supervisornya untuk mengajar di program sarjana.” Abi Najwa mencoba untuk menghangatkan suasana yang terkesan terlalu formal.
Suara seseorang mengetuk pintu, terdengar ucapan salamnya, suara yang sudah beberapa waktu kuhapal dengan baik. Aku mengenali suaranya yang lembut dan meneduhkan. Mungkin itu salah satu dari sekian banyak alasan hatiku memilihnya.

Wahai bidadari surgaku
Telah kusebut namamu dalam doa-doaku
Sebuah harap semoga kita bisa bersama
Membangun rumah tangga menuju surga-Nya

Tidak perlu menunggu lama, Najwa sudah bergabung bersama kami di ruang tamu. Aku langsung pada inti pembicaraan, menyampaikan rasa yang sudah sekian lama kupendam, aku mencintainya. Aku ingin menikah dengannya.
Najwa mendengarkan ucapanku dengan tetap tersenyum, dan aku tidak sanggup berlama-lama menatapnya. Aku beralih, melihat Abi dan Uminya yang ada di bagian kanan kursi panjang di ruangan ini.
“Najwa, kamu sudah mendengar keinginan Nak Fatih, Abi dan Umi menyerahkan sepenuhnya padamu,”
Najwa berbisik kepada Abinya beberapa saat dan membiarkan kami terdiam. Dua orang sahabat yang ada di samping kiri dan kananku tidak banyak membantuku. Mereka bak patung yang tak mampu angkat bicara.
“Fatih, Najwa menyampaikan satu syarat jika Nak Fatih ingin menikah dengannya. Laki-laki yang melamarnya harus hafal minimal 10 juz Al Quran. Kamu sanggup?”
Ada luka dan bahagia yang bersamaan datang di hatiku. Aku mencoba untuk tersenyum, meski di satu sisi aku tahu, bahwa sekarang belum waktunya bagiku untuk mengajak bidadari surgaku menikah denganku. Tapi aku masih memiliki harapan, harapan untuk bisa hidup bersama dengannya.
“Aku akan menunggumu, Mas Fatih. Datanglah, ketika syarat yang kuajukan telah terpenuhi.”
Aku mengangguk. Aku sadar, aku perlu perjuangan lebih untuk bisa menggapai ini semua. Aku hanya hafal juz 30 saja, itu artinya ada 9 juz lagi yang harus kuhafal demi menikah dengan Najwa.
**
Suasana di Kudus begitu ramai, banyak tamu yang berdatangan silih berganti, ziarah ke makam Sunan Kudus. Sudah seminggu aku berada disini, menjadi santri diusia yang sudah hampir kepala tiga. Setelah kelulusan program doktoralku di Australia, aku memilih untuk pulang ke tanah air, menemui Ibu di Bandung, kemudian meminta restunya untuk pergi ke Kudus demi menghafal Al Quran.
Aku kerap kali menangis, karena merasa kesulitan untuk menghafal Al Quran. Berbagai macam cara sudah kulakukan dalam sepekan terakhir, tapi masih saja sulit untuk menghafal.
Satu bulan berlalu, dan aku masih merasa sangat sulit untuk menghafal. Aku menemui Abah, pimpinan pesantren tahfidz tempatku mondok. Aku butuh pencerahan dari Abah. Abah menyambut kedatanganku hangat, ia memintaku untuk mengambil jubah putih miliknya, kemudian memersilahkanku duduk lesehan di atas karpet usang di ruang tamunya. Hidupnya sederhana, tapi tak pernah kulihat lelah di wajahnya. Seolah tak pernah habis waktunya untuk membimbing kami dalam menghafal Al Quran. Aku menjadi santri tertua dari sekian banyak santri binaannya.
“Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah meluruskan niatmu, Fatih.” Abah memberiku nasehat setelah mendengar apa yang menjadi alasanku dalam menghafal Al Quran. Kadang, kita memang perlu merasakan tamparan terlebih dahulu untuk menyadari sesuatu. aku merasa seolah-olah baru saja mendapatkan tamparan yang begitu kuat. Aku tertunduk malu, malu pada diri sendiri, malu pada Tuhan.
Hari-hariku berjalan seperti biasa, rutinitasku tidak banyak berubah, aku menghabiskan hari untuk menghafal dan terus menghafal. Masjid menara Kudus menjadi tempat favoritku dalam menghafal. Aku betah berlama-lama di rumah-Nya, sesuatu yang tidak bisa kurasakan ketika berada di Australia, karena masjid sangat jauh dari apartemenku. Aku suka melihat anak-anak kecil yang duduk di pojok masjid, menghafal ayat demi ayat-Nya. Kadang aku malu pada mereka, meski umur mereka masih di bawah sepuluh tahun, tapi banyak yang sudah hampir hafal 30 juz. Sedangkan aku? Di bulan ketiga ini, aku baru hafal 5 juz, setelah perjuangan yang tidak mudah.
Di akhir pekan, aku mengajar Bahasa Inggris bagi anak-anak di sekitar pesantren. Setidaknya aku masih punya kesibukan yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Inilah baktiku pada negeri ini.
Sudah hampir dua tahun berlalu, aku masih ingat dengan pertemuan kala itu, kala ia, yang kusebut sebagai bidadari surgaku mengajukan syarat untuk menjadi pendampingnya. Aku masih ingat dengan baik. Tapi, aku tidak ingin setengah-setengah dalam menghafal ayat-ayat-Nya. Aku telah jatuh cinta pada kalam-Nya dan meyakinkan diri untuk menyelesaikan hafalanku. Aku ingin menjadi seorang hafidzh, seseorang yang hafal Al Quran. Aku telah mendamba itu sejak hafalanku 10 juz. Aku sudah menghubungi Najwa dan Abinya. Kudengar ia tidak bisa menungguku lagi, ia akan segera menikah dengan orang lain. Tak apa, aku selalu percaya bahwa seseorang sedang bersiap diri untuk menerima lamaranku, meski belum kutemukan bidadari surgaku.

Teruntukmu yang masih tak nyata
Aku ada disini, menyiapkan diri menjadi pendamping hidupmu
Teruntukmu yang masih tak sanggup untuk kuraih
Aku percaya dengan janji-Nya
Laki-laki yang baik diperuntukkan bagi perempuan yang baik pula
Andai nanti kita berjumpa
Andai nanti telah kutemukan dirimu wahai bidadari surgaku
Semoga kita dipertemukan dalam cinta karena-Nya
Aku akan menikahimu
Bersiaplah bidadariku

Cinta adalah penerimaan yang tak terperi, meski tak selalu berbalas serupa, karena kita jarang sekali menang dalam urusan cinta, namun sakit hatinya pun tetap indah. Begitulah bagaimana Tuhan mengajarkan makna mencintai kepada hamba-Nya.

Manajemen Waktu

 Saya bukan tipe orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Saya paling tidak suka jika anak-anak terlambat masuk di jam pelajaran saya, saya tidak suka jika ada Guru yang menyerobot jam mengajar saya dikarenakan keasikan mengajar, mungkin. Intinya, saya tipe orang yang sangat peduli dengan waktu yang saya miliki.

Dulu, pernah saya dan anak-anak membuat rincian rutinitas kami sehari-hari. Misal, kalo dalam satu hari satu malam kita tidur selama 8 jam lamanya, maka dalam waktu satu bulan, kita sudah tidur kurang lebih 10 hari lamanya. Wuih, ngeri, nggak tuh? Kalo kita memiliki umur 60 tahun, berarti kita sudah tidur kurang lebih selama 20 tahun lamanya. Hikz… sungguh, andai tidur kita itu tidak dalam beribadah, sungguh banyak waktu kita hanya untuk tidur saja. Sangat tidak sebanding dengan waktu kita untuk beribadah kepada Allah Swt.

Saya kasih gambaran apa yang menjadi rutinitas harian saya.

Jam tidur saya jarang yang di atas pukul 22.00, saya usahakan selalu tidur tepat waktu, yaitu pukul 10 malam sampai dengan pukul 3.30 pagi. Saya bangun untuk shalat tahajud dan tadarus sampai pukul 04.30. setelah itu shalat berjemaah subuh di masjid, dilanjutkan dengan mengajar beberapa mahasiswa di pesantren mahasiswa mafaza sampai pukul 6 pagi. Setelah itu, persiapan ke sekolah. Saya baru berangkat ke sekolah pada pukul 6.20. dari pukul 6.30 sampai dengan pukul 14.30 saya berada di sekolah. Menjadi seorang pendidik, yang memang hal yang saya sukai.

  

Sepulang sekolah, saya istirahat selama kurang lebih satu jam lamanya di kamar, setelah ashar masih ada kegiatan lagi, yaitu les Bahasa Inggris (senin s/d Jumat) sampai pukul 5 sore. Setelah itu istirahat dan persiapan shalat maghrib dan isya berjemaah. Saya mengisi waktu antara maghrib dan isya untuk tadarus. Lepas isya, saya memiliki waktu untuk persiapan mengajar esok hari selama satu jam, kemudian waktu untuk membaca buku selama satu jam. Nah, saat sudah pukul 10, saya pun tidur.

Kurang lebih demikianlah yang menjadi rutinitas saya sehari-hari. Apa saya bosan? Itu manusiawi kalo pernah merasa jenuh. Tapi, karena ini sesuai dengan passion saya, dan apa yang saya lakukan adalah atas pilihan diri sendiri, saya pun menikmati kesibukan saya. Saya tidak mengeluh dengan rutinitas yang demikian. Karena ini adalah apa yang telah saya pilih. Saya yang sekarang merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang saya ambil sebelumnya, bukan?

Ada banyak hal yang saya takuti di dalam keseharian saya, saya takut shalat tidak tepat waktu, saya takut tidak terbangun untuk shalat tahajud, saya takut melewati hari tanpa tadarus Al Quran. Dan masih banyak lagi yang saya takuti. Pernah suatu ketika, saya hampir terlambat untuk shalat Isya berjemaah di masjid, dikarenakan lepas maghrib saya harus pergi dan saat akan kembali ke masjid, hujan deras mengguyur malam, saya tidak membawa jas hujan. Saya menunggu beberapa waktu hingga memungkinkan untuk pergi ke masjid demi shalat berjemaah, dan Alhamdulillah, Tuhan Mahabaik, memberikan saya kesempatan untuk selalu shalat berjemaah di masjid.


Saya malah kadang bingung sendiri jika terlalu banyak waktu luang. Dan saat akhir pekan, saya mempunyai kegiatan sosial, mulai dari menjadi pembicara akhir pekan, melakukan kunjungan ke panti asuhan, belajar mendongeng, atau hanya sekadar bermain bersama anak-anak yang ada di kampung-kampung yang saya kunjungi.

Bagi saya, waktu itu sangat berharga, saya tidak ingin waktu saya sia-sia begitu saja, tanpa melakukan kegiatan yang bermanfaat. Saya mengabdikan diri saya untuk menjadi seorang pendidik, mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi generasi muda yang shaleh/shalehah.

Saya selalu bilang ke beberapa mahasiswa yang saya ampu, hidup ini adalah pilihan, apa yang ada pada diri kita saat ini adalah hasil dari apa yang sudah kita pilih sebelumnya. Maka pilihlah menjadi pribadi shaleh berlimpah manfaat, yang menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah Swt.

Untuk bisa bahagia tidak meski harus menunggu kaya. Seberat apapun beban dalam hidup, saya harus menjalani hari dengan bahagia. Saya tidak mau jika hari-hari saya hanya dipenuhi oleh mengeluh akan apa yang saya rasakan. Andai kita sadar, bahwa tidak pernah ada hari yang sama yang kita lalui. Setiap harinya, kita selalu memiliki kesempatan yang berbeda dengan sebelumnya. Setiap hari, kita mendapati hari yang baru, yang berbeda dari sebelumnya. Maka lakukanlah semuanya dengan baik di hari itu. Tidak perlu menunggu sore jika memang bisa dikerjakan di pagi hari. Tidak perlu menunggu malam jika memang bisa dikerjakan di sore hari. Selalu berusaha untuk tidak menunda-nunda merupakan bagian dari konsistensi untuk mengatur waktu yang kita miliki agar bermanfaat, tidak terbuang sia-sia.

Saya aneh melihat mereka yang sehabis subuh malah molor, bukannya melakukan kegiatan yang bermanfaat. Saya kadang aneh melihat mereka yang ngorok selepas ashar, seolah tidak ada beban. Karena bagi saya, itu sama sekali sia-sia. Saya malah pusing kalo tidur lepas subuh, apalagi ashar.

Kadang, saya risih mendengar orang yang kerjaannya hanya mengeluh dengan apa yang dia lakukan, padahal dia tentu memiliki pilihan. Life is choice, to be awesome is a choice. Hidup hanya sekali, maka hidup seperti apa yang kamu inginkan?

Lakukanlah sesuatu yang sesuai dengan passion-mu. Ketika kamu jatuh cinta dengan apa yang kamu kerjakan, ketika itulah sebenarnya kamu memupuk passion yang ada pada dirimu. Lakukan apa yang kamu kerjakan dengan cinta, maka kamu pun akan bahagia dengan apa yang kamu miliki. Karena kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan apapun. Sebesar apapun gaji yang kamu terima, tapi kalo tidak bahagia menjalaninya? Apa kamu masih mau bertahan?

            Setiap detik yang kita lalui di dunia ini akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah swt. Maka, sudah sepantasnyalah kita memanfaatkan kesempatan hidup yang hanya sekali ini untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Mengutip ucapan Fatma Pasha di dalam novel 99 cahaya di langit eropa, 

“Jadilah agen muslim yang baik.”

Iya, jadilah muslim yang baik, yang selalu berusaha menebar kebaikan, meski orang lain bertindak sebaliknya.

Surat Pembaca Dear Faris

Sore ini, saya mendapat surat dari pembaca buku saya yang berjudul “Dear Faris”. Beberapa hari sebelumnya saya juga mendapat surat dari lima orang pembaca buku saya dan meminta saya untuk menemui mereka, mereka ingin mengundang saya dan berbincang santai. Mereka butuh motivasi, mereka butuh arahan agar bisa menjadi lebih baik lagi dalam menjalani hidup. Saya pun menyanggupi keinginan mereka, dengan syarat di akhir pekan, karena saya tidak bisa bepergian selain di akhir pekan.

Dan sore ini, kala hujan semakin menderas, seseorang mengetuk pintu kamar saya dan mengantar surat yang dibalut dengan amplop berwarna putih bersih, dan disana tertulis jelas ditujukan untuk saya. Saya membukanya perlahan, kemudian membaca surat singkat namun menyentuh hati.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Selamat malam Pak Ustadz Arian Sahidi, semoga Allah memberikan kesehatan untuk Ustadz.
Nama saya Okta, Ustadz. Setelah saya membaca novel “Dear Faris”, saya sangat terinspirasi dengan novel tersebut.

Awalnya, saya juga putus asa karena ditinggal kedua orang tua saya. Kedua orang tua saya meninggal karena kecelakaan maut yang terjadi pada saat saya kelas 6 SD. Waktu itu, saya sedang pergi ke mushala bersama nenek. Pas saya pulang, saya langsung mendengar kabar meninggalnya kedua orang tua saya. Pantesan, waktu berangkat ke mushala rasanya nggak niat banget. Orang tua saya meninggal di Jambi, Sumatra.

Sejak waktu itu, saya selalu tidak percaya kalau kenyataannya orang tua saya sudah tiada. Saya juga anak tunggal. Sebenarnya, saya punya saudara kembar, tapi tidak tahu dimana, dibawa oleh orang dan saya pun menjadi anak tunggal.

Tapi, setelah saya membaca novel Ustadz, saya selalu teringat kata ustadz “Bahwa kehilangan bukan berarti harus kehilangan semangat hidup”.

Terimakasih, ya, Ustadz, sudah menciptakan novel “Dear Faris” yang sangat menginspirasi saya.
Saya harap, suatu saat Ustadz bisa berkunjung ke asrama, dan kalo boleh, Okta dan teman-teman asrama ingin punya nomornya Ustadz Arian. Ditunggu balasannya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

**
Dear Okta, titip salam untukmu dan untuk teman-temanmu di asrama, ya.
Terimakasih sudah membaca buku saya, semoga bisa memberi inspirasi dalam hidup Mbak Okta. 

Kita memang tidak pernah bisa tahu, kapan Tuhan akan mengambil orang-orang yang kita cintai, bisa saja hari ini, esok, atau mungkin di waktu yang masih lama. Kita memang tidak pernah akan tahu, karena semua itu adalah rahasia Allah SWT.

Sebagai hamba-Nya, tugas kita adalah menghambakan diri sepenuh-Nya, menjalani kehidupan ini dengan baik, meski berbagai macam cobaan datang silih berganti. Sedalam apapun luka, Tuhan selalu menyediakan penawarnya. Nyatanya Tuhan tidak pernah memberi cobaan di luar batas kemampuan kita. Ia percaya, bahwa hamba-Nya pasti mampu menghadapi cobaan yang Ia berikan.

Saya belum pernah merasakan kehilangan Ayah maupun Ibu, jadi saya tidak terlalu paham betapa dalam luka yang engkau rasakan, tapi saya percaya, Mbak Okta bisa bertahan sampai hari ini karena keyakinan akan kehendak Tuhan. Inilah jalan hidup yang harus kita lalui, kita hanya bisa melakukan semuanya dengan baik, bahkan terbaik. Tuhan selalu ada bagi hamba-Nya.

Insya Allah, saya akan meluangkan waktu untuk bertemu dengan kalian semua di asrama, dan semoga pertemuan bisa segera terwujud, saling berbagi inspirasi, saling menguatkan satu sama lain. Karena, kadang kita hanya butuh didengarkan, tanpa perlu adanya penghakiman.

Terimakasih sudah mau berbagi cerita dengan saya, dan semoga saya bisa terus melahirkan karya-karya yang bisa memberi manfaat bagi ummat. Amin.

 

- Copyright © 2013 Arian's Blog - Simple is beauty - Powered by Blogger - Redesign By YBC(Yahya's Blog Community) - Designed by Johanes Djogan -