New Post!

Dear Faris

Dear Faris
Buku Terbaru

New Catatan Hati Sang Guru

New Catatan Hati Sang Guru
New CHSG

Blog Archive

Kategori

Powered by Blogger.

Followers

Warung Blogger

Warung Blogger
Yuk Ngopi Bareng

Total Pageviews

Happiness


16 Desember 2014
Setiap orang pasti memiliki konsep bahagia tersendiri, sesederhana apapun itu. Saya pun demikian, konsep bahagia bagi saya adalah ketika apa yang saya jalani sesuai dengan kata hati saya, saya tidak ingin menjalani sesuatu yang jelas-jelas tidak klik dengan hati saya, karena sesungguhnya membincangi hati adalah cara termudah mencari kedamaian, bukan?
Waktu terus berlalu, perjalanan ini pun semakin jauh, kadang saya harus berhenti sejenak, menoleh ke belakang, melihat orang-orang yang mungkin saja sedang berdiri tegak di belakang sana, menunggu saya menoleh dan tersenyum kepada mereka. Kadang saya harus bergegas, mengejar ketertinggalan, mengejar mimpi-mimpi yang tercatat rapi di buku harian saya. Pun kadang saya harus mundur sejenak, menyiapkan langkah untuk melompat lebih tinggi dan berlari lebih kencang dari biasanya. Begitulah hidup, bukan?
Detik demi detik yang kita lalui tidak akan pernah bisa kita ulangi. Kita tidak akan pernah  berada pada waktu yang sama di masa lalu. Itulah masa lalu, sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali di hadapan murid-muridnya, bahwa yang paling jauh dari kita adalah masa lalu. Sehebat apapun kita, tidak akan pernah bisa kembali ke masa yang telah terlewati. Oleh karena itu, maka sepatutnya kita bersyukur di setiap waktu, dengan cara menjalani kesempatan yang telah Tuhan berikan sesuai dengan apa-apa yang menjadi ketentuan-Nya.
Kalian tahu, saat menulis ini saya sedang tersenyum bahagia, karena tersenyum adalah bagian dari tanda bahagia dalam menjalani hidup. Saya tersenyum saat sedang bersama-sama dengan orang-orang baru yang sekarang menjadi sahabat-sahabat saya, saya tersenyum saat kahangatan begitu terasa saat bersama dengan sahabat-sahabat yang akhir-akhir ini menjadi bagian dari hidup saya.
Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat, kawan. Satu semester telah kita lalui bersama, ada banyak kisah yang sudah kita lalui dan saya kembali tersenyum bahagia, ketika kita diberi kesempatan untuk berada di kelas yang sama di masa-masa yang akan datang. Kita akan tetap berada di dalam satu kelas yang sama, dengan tenaga pengajar yang berbeda dari semester sebelumnya.
Hey, pekan depan kita sudah ujian, kawan, are you ready to pass the test? Saya masih ingat dengan baik, kita menghabiskan waktu sedemikian banyak untuk menggeluti tumpukan literatur yang membuat kita seakan kekurangan waktu mengerjakan tugas yang tak kunjung usai. Saya masih ingat saat kita berburu buku yang begitu susah mendapatkannya, kemudian tersenyum bahagia saat buku yang kita cari akhirnya bisa kita miliki meski dengan harga yang menguras kantong kita sebagai mahasiswa.
Ternyata, konsep bahagia itu cukup sederhana, kawan, berada di dekat orang-orang yang bisa membuat kita tersenyum itu adalah wujud dari bahagia. Tidak perlu muluk-muluk. Nyatanya kalian tetap bisa membuat saya tersenyum, meski kadang dalam suasana diskusi kita saling adu argumen, tidak jarang keluar ucapan yang kadang menyakitkan, kemudian kita belajar bagaimana berdiskusi yang baik, bagaimana merespon komentar dengan baik, dan bagaimana memberi masukan dengan cara yang baik. We did it, bro.
Pekan ini kita foto-foto bareng dengan dosen-dosen yang sudah bersama kita sejak awal semester. Ada banyak kesan yang kita rasakan, bukan? Dan kita tersenyum damai, saat para dosen begitu mengidolakan kelas kita, the best class ever. Oh well, mungkin karena mulut kita yang tidak bisa berhenti saat diskusi sedang berlangsung. Kadang kita sering lupa waktu ketika sedang asik saling adu argumen, namun justru itu yang membuat kelas kita hidup, kawan, And I tried to do my best.
Tuhan selalu mempunyai cara tersendiri untuk membuat kita bahagia. Orang-orang yang ada di dekat kita tidak datang begitu saja, mereka hadir di dalam kehidupan kita for a reason. Kita diberi kesempatan untuk berada di suatu tempat tentu dengan alasan tertentu. Maka sepantasnyalah kita berusaha melakukan yang terbaik dalam setiap kesempatan yang kita miliki. Karena hakikatnya hidup adalah bisa menjalani kehidupan bersama dengan orang-orang yang ada di sekeliling kita, bersosialisasi, saling mengerti satu sama lain, hingga terwujud sebuah tatanan kehidupan yang bermartabat.

Mengeja Kenangan

Pantai Linau-Kab.Kaur-Bengkulu
Sebagai anak desa, tentu saja saya berkenalan dekat dengan yang namanya sawah. Saya suka bermain di sawah saat pulang sekolah, masih lengkap dengan seragam sekolah. Tidak jarang saya pulang dengan seragam yang sudah penuh lumpur dan bau apek. Ibu tidak pernah marah, palingan ibu cuma bilang, “lain kali, kalo mau maen sama temen, ganti pakaian dulu,” udah gitu aja. Sekarang saya baru mengerti mengapa ibu selalu membiarkan anaknya bermain bebas di alam bebas, tanpa pernah marah atau bahkan khawatir akan terjadi apa-apa. Kenangan demi kenangan keindahan masa kecil itu ternyata mampu saya ingat sampai sekarang.
Saya dan teman-teman rasanya sudah memiliki jadwal tetap selepas sekolah, kalo tidak maenan di sawah belakang rumah, ya mandi di bendungan yang juga tidak jauh dari rumah. Lengkap, bukan? Setelah selesai bermain lumpur, mancing, kejar-kejaran, maen petak umpet, dilanjutkan dengan mandi di sungai, kurang apa, coba? Oh jangan tanya betapa bahagianya saya dengan kebebasan bersama alam raya yang begitu indah. Mungkin kebebasan bersama alam seperti ini tidak akan saya dapatkan jika saya lahir di kota besar.
Saya suka melihat nelayan yang sedang sibuk dengan perahunya.
Dulu, selain suka bermain di sawah dan sungai, saya juga suka bermain di pantai, menunggu air laut surut kemudian berlarian ke tengah sambil mencari karang-karang yang berbentuk lucu untuk dibawa pulang ke rumah. Mandi tentu saja sudah menjadi hal wajib kalo sudah ke pantai. Nggak keren rasanya kalo sudah di pantai dan nggak mandi, itu sama saja sudah beli makanan tapi malah nggak dimakan, mubazir, kata saya saat itu. Nggak ada khawatir kulit akan menjadi hitam dan belang kayak harimau, masa bodoh amat, yang penting saya bahagia menjalani semua itu bersama teman-teman.
Memancing adalah rutinitas wajib saat bulan ramadhan. Saya dan teman-teman suka pergi memancing mulai pagi hingga menjelang maghrib. Kami membunuh waktu akhir pekan atau libur sekolah dengan pergi bersama-sama ke sungai untuk mancing. Sebelum mancing, kami terlebih dahulu mencari cacing di belakang rumah untuk dijadikan sebagai umpan. Biasanya, saat pulang ke rumah sudah menjelang adzan maghrib, jadi kami bisa langsung mandi, kemudian siap-siap berbuka puasa.
Masjid depan rumah
Dulu, setiap habis ashar, saya dan teman-teman satu kampung sudah berkumpul rame di langgar yang berada di sebelah masjid. Di sanalah kami belajar mengaji dengan Abang Nur, namanya. Saya bisa dibilang menjadi murid kesayangannya saat itu. Terbukti, ketika ada beasiswa untuk sekolah di kota, saya yang diberi rekomendasi oleh beliau untuk berangkat. Ah, masa kecil yang begitu indah, bukan?
Sawah, sungai, pantai, adalah tempat-tempat yang akan selalu saya sukai bahkan sampai hari ini. Semua tempat itu memiliki arti yang begitu besar bagi saya. Saya suka menghabiskan waktu di pinggir sawah bersama ayah. Ayah sering menggendong saya saat berangkat ke sawah dan membiarkan saya berpanas-panasan di tengah sawah dengan sebuah bambu kecil yang saya gunakan untuk mancing. Saya akan berteriak kencang ke arah ayah ketika pancingan saya mendapat ikan. Ibu akan tersenyum lebar ketika melihat saya bahagia dengan kesenangan saya kala itu.
Makan goreng ikan teri sambel ijo adalah makanan favorit saya ketika panen raya. Saya suka merengek manja di samping ibu agar dibuatin menu favorit saya ini untuk makan besok siang. Biasanya panen raya adalah menjadi ajang kumpul keluarga besar, karena ibu mengajak keluarga besar untuk ikut panen raya di sawah. Disinilah letak kedekatan satu sama lain. Ibu dan Ayah termasuk orang yang sangat peduli dengan kondisi saudara-saudaranya. Sering kali Ibu dan Ayah menjadi tumpuan keluarga yang lain, dan keduanya tetap berusaha membantu mereka dengan sebaik mungkin, meski sebenarnya kehidupan kami jauh dari kata kaya. Di sinilah kekaguman saya akan sosok keduanya. Ayah dan Ibu adalah dua sosok yang berbeda. Ibu merupakan satu sosok yang begitu vokal kalo berbicara, sedangkan ayah adalah satu sosok yang sangat hemat berbicara. Justru itulah yang membuat mereka terlihat saling melengkapi satu sama lain.
Hari ini saya sedang merindukan suasana kampung halaman, merindukan derai tawa ayah dan ibu. Merindukan kebersamaan saya dengan adik dan kakak, merindukan kakek yang sudah semakin menua, dan tentu saja saya merindukan sawah, sungai dan juga panti yang menjadi tempat bermain saya sejak kecil.
Hidup kita memang terus melaju, perubahan adalah sebuah kepastian. Kita semakin beranjak dewasa, menjalani jalan hidup yang sudah kita pilih, namun tetaplah percaya bahwa di mana pun kita hidup, selalu ada rindu akan kampung halaman, mungkin itu cara Tuhan mengajarkan kita akan indahnya sebuah kenangan. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu, bukan? Maka lakukanlah yang terbaik atas setiap kesempatan yang Tuhan berikan pada kita. Berjalanlah dengan damai, yakini bahwa bahagia adalah milik semua orang.

Perbedaan Itu Indah

Jogja suatu Waktu
10 Desember 2014
Saya lahir di daerah yang dekat dengan pantai, dengan volume suara yang seolah berusaha mengalahkan kerasnya deru ombak di lautan, memekakkan telinga. Acap kali ketika berada di suatu tempat, saya dikira sedang meluapkan kemarahan yang telah lama terbendung.
Ketika sampai di Jawa, ada banyak orang yang mengira saya sedang emosi, jengkel, padahal saya hanya berbicara dengan gaya bicara yang biasa saya pakai sehari-hari selama di Bengkulu. Kemudian sedikit demi sedikit saya berusaha menyesuaikan diri, mulai berbicara dengan nada yang lebih rendah dari biasanya, meski cukup susah di awalnya.
Pernah berbicara dengan orang Inggris asli? Coba perhatikan, mereka berbicara dengan suara yang kadang nyaris tidak terdengar menurut saya, lembut, sedangkan saya berbicara bak seseorang yang marah karena kekasih hatinya diambil orang lain (ok ini mulai lost focus). Saya sering dikira lagi marah, bahkan pernah hampir cekcok hanya karena nada bicara saya yang ngalahin suara klakson mobil yang saling bersahutan kala macet mendera di jalanan.
Kemudian saya hidup berdampingan dengan mahasiswa-mahasiswa timur tengah yang suara mereka mampu mengalahkan volume suara saya yang saya anggap sudah keras. Saya sering mengira mereka lagi marahan satu sama lain, bahkan di kelas pun, ketika berdiskusi, seolah akan terjadi perang dunia kedua, saling sahut-sahutan, tentu saja dengan nada suara yang demikian tinggi. Apakah mereka sedang marah satu sama lain? Ternyata tidak, mereka sedang berdialektika dengan nada bicara yang biasa mereka pakai di Negara mereka. Kadang, saya harus mencerna, membedakan kapan mereka marah dan kapan mereka sedang tidak marah. Jangan tanya susah atau tidak, susah.
Selanjutnya, saya bertemu dengan orang Italia yang entah mengapa, ketika mereka berbicara bahasa Inggris, saya sering mengerutkan dahi karena tidak paham apa yang mereka ucapkan. Akhirnya saya bisa memahami meski kadang harus memerhatikan gerak mulut mereka ketika berbicara. Benar yang dikatakan adik Sari yang sedang menempuh Study di Inggris, berbicara Bahasa Inggris dengan orang Italia itu perlu tenaga ekstra.
Pertemuan selanjutnya adalah berhadapan dengan orang-orang yang berasal dari Cina, India, Thailand yang entah mengapa, tiap kali mendengarkan mereka presentasi, atau sekadar berbicara biasa, saya menganggap itu sebagai lelucon gratis. Sering kali saya harus menutup mulut rapat-rapat, menahan tawa yang seolah hampir menembus batas kewajaran, mereka itu lucu ketika sedang berbicara bahasa Inggris.
Ketika bertemu dengan orang-orang dari Malaysia, saya membuat suatu kesimpulan bahwa bahasa Inggris Malaysia itu kadang jauh lebih membingungkan, ketika mereka berbicara dengan bahasa Inggris ala mereka, ya, bahasa Inggris ala khas Negara mereka yang menurut saya adalah kekayaan bahasa mereka hehe. Saya sering mendengar mereka berbicara “this is what?” padahal yang dimaksud adalah “What is this?”, atau ketika berada di taxi, mereka bilang “get down” padahal yang dimaksud adalah “Get out” dan masih banyak lagi yang lain.
Ada banyak lagi pengalaman yang lainnya. Inilah bentuk keragaman yang ada. Kita bisa belajar banyak hal dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Kita belajar bagaimana memahami keragaman yang ada antara satu budaya dengan budaya yang lainnya, membuat kita mengerti bahwa ada sekian banyak ragam budaya yang ada di dunia ini, sehingga kita bisa lebih terbuka dalam melihat keragaman yang ada. Karena apa yang menurut kita biasa saja, bisa jadi itu adalah hal yang luar biasa menurut orang lain. Apa yang menurut kita adalah hal yang sangat wajar, bisa jadi adalah hal yang kurang ajar menurut orang lain.
Contoh-contoh di atas hanyalah contoh dari segi kekayaan cara masing-masing orang berbicara, itulah keindahan. Bukankah perbedaan itu adalah sebuah anugerah? Coba seandainya semua orang di dunia ini berbicara seperti orang Cina semua? Tentu tidak seru, bukan? Tidak ada keberagaman lagi. Maka kita harus pintar mengambil pelajaran dari hal-hal yang kita temui.
Hidup demikian indah dengan adanya perbedaan antara satu sama lain, inilah wujud kekuasaan Tuhan, bukan? Ia mencipta sesuatu yang penuh ragam dan tidak ada yang bisa mengalahkan kemampuan-Nya, karena sesungguhnya Ia adalah Tuhan yang segala Maha.

Perpisahan Dengan Sahabat


 Hamzah dan saya
8 Desember 2014
Sepekan terakhir saya cukup sibuk dengan seabrek tugas yang nggak berhenti-berhenti, ditambah ada kesalahan dalam salah satu makalah saya karena ternyata makalah yang saya buat salah judul dan tentu saja salah isi. Rencana untuk santai akhir pekan kali ini gagal, karena saya harus menulis dari awal lagi. Jadi untuk meluangkan waktu menemani sahabat saya, Hamzah yang akan kembali ke Libia cukup susah. Karena dia sudah menyelesaikan studi masternya di UIN Malang, jadi dia akan kembali ke negaranya. Sedih? Aih jangan ditanya, ya. Kadang kita merasa betapa berartinya orang-orang yang ada di sekitar kita justru saat perpisahan di depan mata, meski sebenarnya masih tetap bisa komunikasi dengan skype dan berbagai macam aplikasi lainnya.
Hari Kamis yang lalu, saya dan Hamzah pergi ke kantor imigrasi, perpanjang masa tinggal dia selama 14 hari sebelum kembali ke Libia. Pas menuju Kantor Imigrasi, hujan lebat, untung sudah dekat, jadi masih aman dari basah kuyup. Setelah sampai dan mengurus semuanya, hujan masih lebat banget, saya lupa bawa jas hujan, sementara Hamzah sengaja bawa jas hujan di dalam tasnya, jadilah agenda selanjutnya adalah nunggu hujan reda, kali aja segera berhenti. Dan taraaaa, hujan nggak kunjung berhenti. Hamzah nyodorin uang 100.000, untuk beli jas hujan, keukeuhhh maksa biar saya beli, katanya ini hadiah, haha. Saya sudah bilang nggak apa-apa, saya sudah punya di kosan dan nggak apa-apa juga kalo basah, tapi bukan Hamzah namanya kalo nggak berhasil memaksa saya untuk beli jas hujan. Akhirnya beli jas hujan dan kami melanjutkan perjalanan ke salah satu tempat jualan tiket, untuk membeli tiket dari Jakarta ke Kairo.
Saat membeli tiket, masalah terjadi, semua dokumen milik Hamzah sedang berada di Imigrasi, dia nggak punya identitas apapun, nggak punya foto kopi sama sekali, jadi ketika ditanya nama lengkap (dalam tulisan latin) dia bingung, masa berlaku passport dsb nya tambah bingung haha, akhirnya nggak jadi, besok disuruh datang dengan membawa identitas diri biar mudah pemesanan tiketnya.
Hujan masih deras banget, kami ke Kampus Pusat, shalat ashar disana, istirahat sejenak dan perjalanan dilanjutkan keeseokan harinya setelah shalat jumat. Habis jumatan di masjid kampus Pasca sarjana, kami pergi ke Bank BNI untuk ngambil duit dalam dolar, lagi-lagi terjadi masalah karena dia masih nggak punya identitas, karena semua identitas masih di Imigrasi dan baru bisa diambil habis ashar. Hamzah hanya punya buku Bank. Akhirnya, setelah ditanya macam-macam, dan saya berusaha menerjemahkan semuanya ke dalam Bahasa Arab, urusan pun selesai. Kami bisa ambil duit. Fiuh,, akhirnya setelah hujan-hujanan dapat juga duitnya.
Setelah itu, kami kembali ke penjualan tiket, Hamzah baru inget kalo ternyata dia punya file foto copian passport, jadi bisa buat beli tiket karena identitasnya sudah jelas. Saat mau bayar, kirain mereka minta dolar, ternyata mintanya rupiah, padahal kemarin bilangnya dolar,  Hamzah sudah ngambil $ 500 untuk bayar tiket. Hujan masih deras banget, akhirnya ke money changer, nukar duit dolar ke rupiah biar bisa beli tiket. Hikzz. Dinginnya udah nggak nahan. Setelah selesai nukar duit, selanjutnya kembali ke penjualan tiket, dapat tiket dan kabur untuk mengambil passport dan lain sebagainya dan taraaaaa ternyata sudah tutup hahahaha, hancur sudah rencana. Saya cuma nyengir melihat Hamzah yang terlihat lelah. Udah hujan-hujanan malah nggak bisa ngambil karena sudah tutup. Padahal kemarin bilangnya habis ashar.
Karena sudah capek, lapar, dingin pula, akhirnya kami berhenti makan di rumah makan khas Arab. Hamzah pesan kabsa dua porsi, satu porsinya 45.000, Bro haha, ampun dah, mahal. Hamzah memang suka makan disini, dalam sebulan bisa 3 kali dia makan disini. Dia sering bilang, kamu harus ikut makan di rumah makan Arab sebelum saya kembali ke Libia. Well, akhirnya kesampaian juga, meski sebelumnya saya sudah beberapa kali makan di rumah makan khas Arab bersama teman-teman timur tengah yang lain.
Sambil makan, cerita ngalor ngidul, tertawa, berusaha mengingat kembali awal-awal kenal dulu, berusaha untuk tetap berjanji menjalin komunikasi yang baik, dan saling mendoakan semoga semua tetap sehat. Hamzah akan melanjutkan S3 di Mesir, meski belum tahu kapan. Rencana dia seperti itu.
Hamzah termasuk orang yang sangat rajin dan cerdas. Dia sudah menyelesaikan S2-nya di Madinah International University kalo nggak salah, kemudian mengambil S2 lagi di UIN Malang. Keren, kan? Saya aja udah ngos-ngosan kuliah S2, dia malah udah dua kali S2.
Setelah selesai makan, selanjutnya adalah mencari hadiah buat keluarganya di Libia. Kami pergi ke Batu, sementara hujan masih mengguyur malam yang dingin. Setelah selesai, selanjutnya adalah membeli koper segede gajah, haha, belinya di Plaza Batu. Dan akhirnya pulang istirahat.
Minggu, 7 Desember 2014
Dari habis ashar saya sudah di telepon oleh Hamzah, nyuruh ke rumahnya, kebetulan rumah kontrakannya tidak jauh dari kosan saya. Katanya malam ini perpisahan dengan sahabat-sahabatnya. Jadilah saya pergi ke rumahnya meski hujan deras banget. Kami ngobrol, kemudian memesan hotel tempat tinggal dia selama di Jakarta, karena penerbangan dari Jakarta adalah hari Kamis, sementara Senin besok dia sudah terbang ke Jakarta karena ada hal yang harus diurus di kedutaan Mesir yang ada di Jakarta. Andai saya bisa ke Jakarta, tentu saja dia bisa tinggal bareng saya di rumah Mami.
Habis isya, teman-teman dari Libia datang, rumah jadi sumpek tapi seru meski saya hanya satu-satunya orang Indonesia yang nyumpel disana, haha. Hamzah memahami, kalo saya tidak mengerti lahjah Libia. Saya hanya bisa memahami bahasa Arab fashohah. Jadi dia sengaja berbicara dengan temannya dengan Bahasa Arab fashohah, agar saya nggak jadi kambing congek di kerumunan anak-anak Libia. Sampai jam 10 malam masih pada ngumpul, malah makin rame. Mata saya sudah ngantuk banget, akhirnya saya pamit ke teman-teman, karena besok ada kuliah pagi, jam 07.00 pagi.
Nah, di momen ini nih yang rada-rada sedih, ketika Hamzah bilang,
“Terimakasih sudah menjadi sahabat yang baik, saya akan menghubungimu ketika sampai di Libia.” *tissue mana tissue*
Pertemanan saya dengan Hamzah memang baru 3 bulan, karena memang saya baru kurang lebih tiga bulan di Malang. Meski demikian, kami akrab, saling bantu sama lain. Maklum, bahasa Arab saya ancur-ancuran pas pertama kesini dulu. Sekarang sudah tidak ada masalah berbincang dengan mereka, sudah nyambung, meski kadang ada kata-kata yang tidak saya pahami. Intinya, Hamzah adalah sahabat yang baik. Ada banyak cerita lucu, seperti saat beli kemeja, dan dianya mau kemeja yang sama persis seperti yang saya pakai, jadilah hujan-hujanan ke pusat Eiger yang ada di Malang dan ternyata kosong. Karena tidak dapat, akhirnya lari ke Matahari, dan saya memberikan pilihan-pilihan kemeja gaul anak muda, maklum saya kan masih tujuh belas tahun *umpetin KTP ke kolong meja*. Saya dan Hamzah beda selera, akhirnya gagal beli kemeja karena banyakan mikirnya haha, dan masih banyak lagi hal yang kami lakukan.
Senin, 8 Desember 2014
Pagi ini, saya kewalahan, karena Whatsapp saya off, kan, pas buka WA sudah jam 6 lebih, ada pemberitahuan bahwa dosen minta masuk jam 06.30 pagi, sementara saya masih di dunia antah berantah dengan pakaian acak adut. Haha. Buru-buru mandi, kemudian pergi ke kampus.
Andai saja tidak ada kuliah hari ini, tentu saja saya bisa pergi ke airport nganterin Hamzah, karena lagi-lagi kendala bahasa memang menjadi momok buat dia, meski sudah setahun setengah di Indonesia. Dia masih sangat membutuhkan seseorang yang bisa membantunya berkomunikasi dengan orang yang tidak mengerti bahasa Arab. Apa mau dikata, saya kudu kuliah.
Saat jam istirahat, pukul 09.15 saya kabur ke kontrakannya bertepatan dengan taxi yang baru datang. Hamzah lagi masukin barang-barang ke dalam taxi dan tersenyum.
Rayyan, kaifahaluk?” sapanya.
Saya bantuin dia masukin barang ke dalam taxi, kemudian saatnya foto bersama, haha. Sejak awal saya cuma punya foto dia pas lagi makan di rumah makan Arab, belum pernah punya foto berdua. Supir taxinya berusaha motret pakai DSLR saya dan gagal untuk beberapa waktu, haha. Setelah saya ajarin pelan-pelan, akhirnya bisa, jadilah punya satu foto kenangan kebersamaan, satu-satunya foto pula. Fiuh.
Hamzah berangkat dan saya kembali ke kampus karena masih ada kuliah.
Sahabat adalah orang yang akan selalu berusaha membantumu, meski yang lain enggan untuk mengulurkan bantuan ketika engkau sedang lelah tak berdaya. Dia adalah seseorang yang akan selalu berusaha membawamu menuju jalan yang diridhai Tuhan. Sahabat adalah dia yang senantiasa berusaha membuatmu memahami bahwa perjuangan itu adalah sebuah keniscayaan, masalah hasil serahkan saja sepenuhnya kepada Yang Mahakuasa. Sahabat adalah orang yang selalu berupaya berjalan beriringan bersamamu, meski langkahmu tertatih.
Sampai berjumpa lagi, Hamzah, semoga Allah selalu meridhai-Mu. Amin.

Etika Perokok


Sabtu, 29 November 2014
Rasanya weekend atau tidak sama saja bagi saya. Nyatanya, hari ini saya tetap ke kampus, bawa buku seabrek-abrek gitu, masuk ke perpustakaan, melanjutkan penulisan makalah yang belum selesai. Minggu ini saya menulis tiga makalah, maju presentasi dua makalah, revisi satu makalah dan hari Sabtu yang seharusnya buat santai alias bermalas-malasan, itu hanya mitos belaka. Yupz, I have to finish my papers.
Setelah dirasa cukup, otak saya sudah mumet alias pusing, saya mengirim pesan ke renat.
“Salam. Apa kabar? Apa yang kamu lakukan akhir pekan kali ini?”
“Salam. Saya sedang istirahat seperti biasa, apa yang kamu lakukan?” jawab Renat kemudian.
“Saya baru pulang dari perpustakaan seperti biasa.”
Akhir-akhir ini memang sebisa mungkin saya menggunakan Bahasa Indonesia dengan Renat, karena dia juga sedang berusaha belajar Bahasa Indonesia, lagi rajin-rajinnya belajar.
Habis ashar, saya pergi ke kampus satu, saya lihat Renat di masjid, sedang membaca buku, sambil memegang sebuah kamus Arab-Rusia dan sambil memainkan pulpen berwarna biru. Saya abaikan sejenak, kemudian baru saya tegur.
Lepas maghrib, Renat berbisik, karena yang lain sedang berdzikir.
“I’m going to my room now,”
“Ok, I will meet you after reading qur’an.”
Setelah membaca kurang lebih setengah juz, saya ke kamar Renat dan disinilah dimulai perbincangan tentang etika para perokok. Dan ini berlanjut setelah isya. Seperti biasa, setelah isya kami makan malam di salah satu rumah makan di depan kampus, kemudian disinilah ada kejadian yang membuat saya deg-degan. Renat diam, terlihat gelisah.
“What’s wrong?”
“Look at him, he is smoking and you know I don’t like this.”
“so?”
“Adribuhu (saya akan memukulnya)” jawabnya sambil berdiri, kemudian menghampiri seorang bapak yang sedang merokok. Saya sudah deg-degan kalo beneran dia bakalan mukul bapak  tersebut. Saya sudah berdiri, bersiap diri jika sesuatu yang tidak baik terjadi. Dan ternyata, dia menunduk, sambil berusaha berbicara bahasa Indonesia sebaik mungkin di hadapan bapak tersebut.
“Bapak, bisa tidak bapak berhenti merokok, saya tidak suka dengan rokok,” ucap Renat sambil terbata-bata, dan saya mengelus dada, melihat reaksi bapak tersebut yang manggut-manggut tanpa berucap sepatah katapun.
“See, it’s easy to ask him stop smoking,”
“well done, bro.”
Perbincangan kami makin berlanjut, ada satu hal yang kemudian menurut saya memang betul. Renat bilang, mungkin saja mereka merokok karena menganggap bahwa orang-orang yang tidak merokok tidak masalah dengan itu semua. Karena tidak banyak orang yang berusaha mengingatkan mereka, sehingga hal itu dianggap diperbolehkan, padahal ini adalah tempat umum yang seharusnya tidak dijadikan tempat merokok. Maka itulah pentingnya kita saling mengingatkan, tapi tentu saja dengan cara yang baik.
Saya terdiam sejenak, mencoba untuk berpikir sejenak. Betul memang, etika bagi para perokok memang masih jauh dari kata baik. Kesadaran untuk memahami mana saja tempat yang boleh untuk merokok masih sangat minim, kesadaran untuk mengerti bahwa tidak semua orang suka berada di sekeliling orang yang merokok, dan kesadaran tentang bahayanya merokok juga masih sangat minim. Atau bisa jadi sebenarnya mereka sudah tahu tentang tempat-tempat yang boleh merokok, tentang bahaya merokok, dan tentang orang-orang yang terganggu dengan kehadiran perokok di tempat-tempat tertentu.
Saya bukan tipe orang yang membenci orang yang merokok, saya hanya tidak suka jika mereka merokok di tempat yang memang seharusnya bebas dari asap merokok. Ada satu pengalaman yang menurut saya sangat baik untuk ditiru oleh para perokok di tanah air. Ketika saya sedang liburan di Semarang, saya stay di hostel, berbentuk dormitory, alias gabung sama sekian banyak orang. Kebetulan saya sekamar dengan beberapa orang dari Belanda. Ketika makan malam, mereka mau merokok, sebelum merokok, salah satu di antara mereka bertanya terlebih dahulu apakah saya merokok atau tidak, dan saat tahu saya tidak merokok, tidak ada satu pun yang merokok, jika mereka ingin merokok, mereka akan ke belakang, menyendiri agar bisa merokok dan tidak mengganggu yang lainnya.
Coba lihat di Negara kita, orang seenaknya merokok di mana saja, bahkan sangat abai terhadap aturan-aturan yang sudah dibuat. Di Negara kita bukan karena tidak ada aturannya, ada aturan yang sudah dibuat, tempat-tempat yang harusnya bebas asap rokok. Aturan itu ada, namun realisasinya yang tidak ada, kontrolnya yang tidak terlihat. Aturan seolah hanya cukup tertulis saja dan cukup berakhir sampai disitu saja. Saya tahu, ada banyak kampus yang sudah menerapkan aturan bebas asap rokok, ada banyak orang yang berusaha untuk menerapkan aturan itu sebaik mungkin, namun tidak sedikit pula orang yang abai akan peraturan itu, sehingga Negara kita adalah surganya industri rokok yang jelas-jelas berbahaya.
Bahkan, kita sering melihat seorang bapak yang merokok di depan keluarganya, istri, anak-anaknya yang jelas-jelas tidak merokok, tapi dia santai saja merokok di hadapan mereka. Inilah realita yang ada di sekitar kita, yang menjadi PR besar bagi kita semua, bagaimana mewujudkan kondisi yang baik, dimana antara perokok dan tidak terjadi saling pengertian, sehingga tidak ada yang merasa terganggu dengan itu semua.
Indonesia seolah menjadi tempat paling bebas bagi para perokok, dan juga surga bagi industri rokok. Maka sekarang bagaimana usaha kita mengedukasi generasi kita agar memiliki kesadaran akan bahaya rokok ini. Miris melihat di sekeliling kita banyak anak-anak yang sudah menjadi pecandu rokok, bahkan beberapa waktu lalu menjadi headline dunia internasional tentang seorang balita yang menghabiskan rokok dua bungkus perharinya dan menjadi bahan tertawaan dunia sekaligus menjadi kekhawatiran yang luar biasa akan hal ini. Maka disinilah peran kita selaku orang tua, untuk bisa memberikan pemahaman sekaligus teladan yang baik bagi generasi kita.
Sekadar mengutuk tentu saja tidak akan menghasilkan apa-apa, do something meskipun itu hanya kecil. Mari bersama kita berusaha mewujudkan Indonesia yang nyaman.

- Copyright © 2013 Arian's Blog - Simple is beauty - Powered by Blogger - Redesign By YBC(Yahya's Blog Community) - Designed by Johanes Djogan -