Beberapa hari terakhir, timeline sosial media saya dipenuhi oleh potret
kebahagiaan teman-teman yang sudah dikaruniai putra-putri. Saya bisa melihat
raut wajah bahagia dari senyum mereka ketika menyenandungkan adzan di telinga
si buah hati yang baru lahir, ada bulir-bulir lembut yang tampak ketika mereka
menggendong si kecil untuk pertama kalinya. Saya terharu.
Sebagai lelaki, sudah nalurinya untuk segera menjadi seorang Ayah ketika
sudah menjadi seorang suami. Saya selalu bahagia berkunjung ke rumah
teman-teman yang seangkatan dengan saya dan sudah dikaruniai putra-putri yang
lucu. Biasanya setiap mudik Idul Fitri, ada waktu untuk bersilaturahmi dengan
teman zaman sekolah dulu, sebagian besar sudah berkeluarga dan dianugerahi
keturunan.
Di waktu Dhuha pagi ini, ada detak yang lebih kencang di dalam dada saya,
ada air mata yang mengalir demikian mudahnya dan menetes di atas sajadah tempat
bersujud. Untaian doa-doa melangit bersama dengan harapan semoga Allah segera
meridhai impian saya untuk menjadi seorang Ayah. Ya, mimpi ini terus melangit
dalam doa-doa panjang di hadapan-Nya.
Saya mencoba untuk lebih ikhlas lagi, lebih yakin lagi kepada-Nya, bahwa
adakalanya hal-hal yang kita inginkan ditunda kehadirannya karena cintaNya
kepada kita. Saya ingat dua tahun yang lalu, saya pernah menulis di selembar
kertas tentang keinginan saya untuk pergi ke Baitullah, doa-doa terus saya
panjatkan hingga akhirnya Allah mengabulkannya dengan cara yang tidak pernah
saya duga sebelumnya. Dua tahun berturut-turut Allah memberi kesempatan saya
untuk pergi ke Baitullah. Allah kadang memberi kejutan-kejutan manis dengan
bumbu-bumbu perjuangan yang kadang kecut, asam dan melelahkan. Itulah Ia, Rabb
semesta alam yang selalu berhasil memberi ujian terbaik bagi hambaNya karena Ia
sudah menjelaskan melalui firmanNya bahwa “semua hanya akan diuji sesuai batas
kemampuannya”.
Setelah shalat dhuha, saya mengambil mushaf kecil, kemudian membacanya
pelan namun tegas. Ada ketenangan dalam diri, ada semangat lagi di dalam diri. Ada
keyakinan yang semakin menguat bahwa “mungkin saja Allah sedang menyiapkan
kejutan indah. Allah ingin saya lebih sabar lagi, lebih mendekatkan diri lagi
kepadaNya, baru kemudian dia akan memberi amanah keturunan kepada saya dan
mempermudah semua prosesnya.”
Ketika doa belum diijabah olehNya, tetaplah berprasangka baik kepadaNya,
jangan lelah untuk terus mendekatiNya, biarkan lelah kita Lillahi ta’ala.
“Istri sudah hamil belum?” tanya seorang jamaah habis ashar kemarin. Saya tersenyum,
“Belum, mohon doanya.”
Pertanyaan ini sudah tidak terhitung lagi ditanyakan kepada saya, mulai
dari orang tua, adik, kakak, sepupu, teman, karyawan toko, semua seolah sedang
berlomba-lomba menunjukkan kepedulian akan kehidupan saya. Setiap kali ditanya,
saya berusaha selalu menjawab dengan baik, misal “insha Allah segera, mohon
doanya.” Karena ketika Allah sudah menghendaki, tidak ada yang bisa
menghalangi, kan? Meski demikian, adakalanya pertanyaan ini menjadi sangat
sensitif ketika dalam sehari diajukan oleh sekian banyak orang, misal pas mudik
ke kampung halaman dan bersilaturahmi ke rumah saudara, tetangga, teman, dan
lain-lain. Sehari bisa ditanyakan oleh 20 orang lebih. Semoga lelah ini lillahi
ta’ala, ya rabb.
“Tetap berprasangka baik kepada Allah, jalani dengan sabar” demikian yang
Ibu katakan.
“Anggap saja mereka semua peduli dan tidak sabar ingin melihatmu punya
anak. Semoga semakin banyak yang mendoakan, semakin dimudahkan segala urusanmu.
Jangan lelah menjawab semua pertanyaan ‘sudah punya anak? Kapan punya anak? Istri
sudah hamil?’, jalani dengan sabar.”
Mungkin saja Allah sedang memberi kesempatan bagi saya untuk lebih banyak
lagi belajar bagaimana menjadi seorang Ayah yang shalih, yang mampu membimbing
si buah hati menuju surgaNya. Hanya orang-orang tak beriman yang tidak yakin
dengan rahmatNya.
“anak saya juga belum dikaruniai keturunan,” ucap seorang jamaah yang lain
kepada saya beberapa waktu lalu selepas saya menjawab pertanyaannya “istri
sudah hamil?”. Kami sama-sama tersenyum. “yang sabar,’’ lanjutnya lagi.
Saya jadi ingat ketika pertama kali menyentuh ka’bah, saya menangis
sesenggukkan, merapal doa-doa terbaik kehadiratNya. Salah satu doa yang selalu
saya langitkan ketika berada di tanah suci adalah “berkahi rumah tangga ini,
ya, rabb. Beri kami anak-anak yang shalih-shalihah,”. Satu tahun lebih doa itu melangit di tanah haram dan hingga kini tetap saya
jadikan bagian dari doa dalam setiap ibadah kepadaNya.
Adakalanya kehidupan orang lain terlihat begitu bahagia, padahal setiap
kehidupan pasti memiliki cobaan-cobaan tersendiri. Ada yang hingga belasan
tahun belum dikaruniai keturunan, tapi Allah beri kemudahan di urusan yang
lain. Ada yang Allah beri kemudahan dalam meniti karir, tapi Allah beri ujian
kesabaran dengan belum diberi keturunan, dan masih banyak lagi ujian-ujian lain
yang Allah berikan kepada hambaNya. Jangan pernah membanding-bandingkan
kehidupan kita dengan orang lain. Syukuri, jalani dengan sabar. Karena syukur
dan sabar adalah sebuah keharusan seorang hamba. Jangan lelah untuk berdoa,
jangan lelah untuk mendekatkan diri kepadaNya.
Ya rabb, bila nanti waktu telah hadir, beri kami kesabaran dalam mendidik
putra-putri kami dalam ketaatan kepadaMu. Karena bahagia sesungguhnya adalah
ketika hidup dalam taat kepadaMu. Tidak ada jalan lain yang lebih bahagia
selain jalanMu, ya Rabb.

Semoga cepat dikaruniai momongan :)
ReplyDeleteamin
Deletesemoga cepat di beri om hehe
ReplyDeleteWWW YUKGAS ID
amin
DeleteAllah mboten sare :)
ReplyDeleteiya :)
DeleteGreat post.
ReplyDelete