Skip to main content

Posts

Mencintai Rutinitas

Sesaat setelah seminar nasional 5 November 2014 Rasanya, baru saja beberapa hari yang lalu tahun ini saya lalui, sekarang sudah hampir sampai pada ujung perjalanan di tahun ini. Begitulah kehidupan, kadang kita lupa bahwa semakin lama, semakin mendekatkan kita pada sebuah akhir, ya, perjalanan ini akan sampai pada titik akhir. Siapapun, dimanapun, dan sejauh apapun perjalanan yang telah ia lakukan, semua akan memiliki akhir. Berbicara tentang rutinitas, hari ini saya mencoba untuk berdamai dengan kacaunya jadwal kuliah. Saya mencoba untuk menebar senyum meski sebenarnya saya kecewa. Sejak pagi saya sudah bersiap diri, pergi ke kampus pusat karena menurut informasi di grouf WA, perkuliahan hari ini akan dilakukan di kampus satu. Setelah sampai kampus satu, informasi yang berbeda saya dapat dari seorang teman, kuliah jam pertama di kampus Pasca sarjana, sedangkan kuliah jam kedua di kampus pusat. Itu artinya saya harus kembali ke kampus pasca sarjana. Setelah sampai di kampus pa...

A Sensitive Guy

Dalam sebuah tabloid, saya pernah membaca tentang “Pria sensitif”, disana dijelaskan bahwa A “Sensitive” Guy adalah seorang pria yang memiliki perasaan yang sangat halus, emosinya mudah terkuras, selalu menghindari tontonan yang berbau kekerasan, hal-hal kecil bisa membuatnya berempati sedemikian tinggi, lebih peka terhadap kejujuran lawan bicaranya (memiliki intuisi yang bagus untuk menilai kejujuran lawan bicaranya), memiliki apresiasi yang tinggi terhadap alam, musik, dan lain sebagainya. Sejak awal, saya menyadari, bahwa saya tipe laki-laki yang sangat sensitif. Ada banyak hal yang membuat emosi saya terkuras, saya mudah menitikkan air mata, saya sangat mudah tersentuh dengan suatu kondisi tertentu meski bagi laki-laki lain itu adalah hal biasa, saya kadang mudah tersinggung meski sebenarnya teman sedang bercanda, saya kadang tidak menerima sesuatu yang orang lakukan yang tidak sesuai dengan harapan saya pada mereka dan kadang menyalahkan diri sendiri. Ustadz Toha pernah ...

What is your name?

Biasanya di tempat yang baru, pertanyaan ini tentu sering ditanyakan kepada rekan kerja, teman satu kampus, tetangga, dan lain sebagainya. Pertanyaan “siapa nama kamu?” seolah menjadi sebuah pertanyaan wajib diajukan demi mengakrabkan satu sama lain, demi sebuah harmoni keakraban yang bisa dirasakan ketika kita saling mengenal satu sama lain. Ini juga yang saya alami sejak pertama kuliah S2 bahkan sampai hari ini, berusaha untuk mengenal satu sama lain, tidak hanya sebatas teman sekelas, tidak hanya sekadar teman satu fakultas yang jumlahnya sudah cukup banyak, tapi saya berusaha untuk berbaur satu sama lain, saling berbagi pengalaman, dan berusaha semaksimal mungkin bisa mengenal mereka lebih jauh, tidak hanya sekadar tahu nama saja, setelah itu sudah. Inilah sebenarnya yang sedang saya pelajari, bagaimana bisa berkomunikasi dengan berbagai macam orang yang tentu saja memiliki keunikan tersendiri. Saya yang awalnya tidak terlalu banyak berbincang dengan selain teman di kelas, k...

Sindrom Inferioritas Orang Indonesia Terhadap Bule

Inferioritas merupakan kebalikan dari superioritas (rasa percaya diri yang terlalu tinggi). Inferioritas itu adalah minder atau rasa rendah diri. Inferioritas adalah perasaan yang relatif tetap (persistent) tentang ketidakmampuan diri atau munculnya kecenderungan untuk merasa kurang atau menjadi kurang sehingga tidak bisa menunjukkan kebolehan secara optimal. Baiklah, tulisan ini tidak akan menggunakan bahasa ilmiah layaknya tugas paper akhir semester yang sebentar lagi akan saya hadapi. Fiuhh.. Bukan rahasia lagi, betapa banyak wanita yang mengidamkan memiliki seorang suami yang punya tampang bule bak artis Hollywood di layar kaca. Rasanya, memiliki seorang suami yang punya tampang bule sudah menjadi semacam keinginan yang demikian hebat dan menjamur di kalangan wanita Indonesia, meski tidak semuanya demikian. Saya sebenarnya tidak pernah ada niat menulis semua ini. Kalo tidak karena perbincangan antara saya, Renat dan ‘Athoullah di asrama kemarin malam, mungkin saja sa...

Menikah Muda

Berbicara tentang fenomena menikah muda rasanya sudah bukan hal baru lagi, ada sekian banyak artikel bahkan buku yang menjelaskan tentang keutamaan menikah di usia muda, bahkan ada buku-buku yang terkesan mengompori kaula muda yang masih bertahan dengan kesendirian mereka agar segera menikah. Tidak sedikit yang akhirnya memilih untuk segera menikah setelah mendengar tausiah dari seorang Ustadz tentang keutamaan menikah, tidak sedikit juga yang segera mencari pasangan hidup setelah membaca buku yang isinya tentang hal-hal yang berkaitan dengan menikah muda. Bagaimana dengan saya? Mengapa di usia yang sudah seperempat abad ini saya masih bertahan dengan kesendirian? Bukankah sudah seharusnya saya menikah di usia yang sekarang? Bagi saya pribadi, saya tidak pernah mempermasalahkan seseorang menikah di usia berapa pun. Saya percaya masing-masing orang memiliki target hidup dan rencana tersendiri di dalam hidup mereka, maka saya tidak suka mempertanyakan pertanyaan yang berkaitan d...

Seluas Bahasamu, Seluas Itu Pula Duniamu

Bagi yang pernah berpergian ke suatu tempat, dimana bahasa yang digunakan adalah bahasa yang tidak bisa dipahami, tentu akan menyadari betapa pentingnya bahasa sebagai alat untuk komunikasi antara satu sama lain. Inilah sebuah keajaiban, dimana masing-masing Negara bahkan daerah memiliki aneka ragam bahasa yang memiliki ciri khas tersendiri. Di Bengkulu terdapat berbagai macam bahasa yang digunakan, masing-masing Kabupaten bahkan memiliki ragam bahasa tersendiri yang tidak semuanya saya pahami. Berbicara di ruang lingkup yang lebih besar, saat pertama kali belajar di tanah Jawa, saya seperti orang asing yang datang dari dunia antah berantah, yang sama sekali tidak paham tentang bahasa yang mereka gunakan, yakni bahasa Jawa. Lantas bagaimana akhirnya saya bisa sedikit mengerti tentang bahasa Jawa? Meski sampai hari ini saya hanya sebatas paham dan tidak bisa mengucapkannya. Adanya kebiasaan mendengar tentu memiliki peran penting di dalam perkembangan kemampuan seseorang di dalam ...

Islam dan Generasi Muda Muslim

Islam adalah agama Rahmatan Lil’alamin , di dalamnya telah diatur sedemikian rupa agar seseorang yang memeluk Agama Islam bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Ketika seseorang mengaku sebagai seorang “Muslim” maka hendaknya ia memiliki kesadaran untuk melakukan ajaran-ajaran Allah SWT. ke dalam kehidupan sehari-hari. Dalam artian tidak hanya sekadar menjadi seorang “Muslim” yang hanya menjadikannya sebagai sebuah identitas. Ada banyak teman-teman saya yang dari belahan dunia Barat yang masuk ke dalam Islam hanya karena ingin menikah dengan seorang perempuan yang Muslimah, setelah menikah, perilaku beragama tidak berubah, hanya identitas keagaamaan saja yang berubah. Ada banyak teman saya yang dari Barat yang mencoba untuk membandingkan Indonesia yang negaranya mayoritas Muslim dengan Negara mereka yang muslimnya minoritas. Menurut mereka menjadi Muslim mayoritas nyatanya tidak menjadikan sebuah Negara itu baik dan berkembang. Contohnya sudah jelas, Indonesia dan Negara-nega...