Skip to main content

Posts

Nilai-Nilai Akhlak Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 159

Asbabun Nuzul “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan memohonlah ampunan untuk mereka, dan bersmusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. [1] Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” [QS. Ali Imran: 159] Muatan ayat ini bisa diterapkan sebagai perintah umum tertentu, namun sebab turunnya ayat ini adalah tentang perang Uhud. Umat Islam yang melarikan diri dari perang Uhud dan kalah, dilanda penyesalan yang dalam, rasa bersalah, dan penderitaan. Mereka berkumpul di sekeliling Nabi SAW. dan memohon maaf. Lantas, Allah memberikan perintah untuk memberikan maaf secara umum bagi mereka, melalui ayat ini. Tafsir Pada ayat ini, Allah SWT. berfirman kepada Rasulullah SAW., mengingatkan beliau dan juga-juga orang-or
Recent posts

Mengukur Bahagia

Sebagai tukang jalan amatir, saya kadang mendapatkan berbagai komentar dari teman-teman, baik ketika bertemu langsung ataupun via daring.   “Enak banget hidupmu, bisa kemana-mana dengan mudah.”   “Iri gue sama lo.”   “Lo jalan-jalan mulu, ngabisin duit, kapan bisa nabungnya?   “Jalan-jalan mulu, pengen banget bisa kayak lo, tapi dompet tipis, nggak tebal kayak lo,” dan komentar-komentar lain, yang intinya adalah membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan saya.   Alhamdulillah. ❤ ️ Padahal isi dompet saya biasa saja :)  banyakan kosongnya dari pada berisi 😁 . Maklum, bukan anak Sultan 🥰 Pernah nggak sih kalian merasa hal yang sama? Seolah merasa bahwa hidup orang lain lebih fun, lebih seru, lebih bahagia? Pokoknya serba lebih aja dibandingkan kita. Apalagi di zaman social media sekarang ini. 😢 Kalo tidak pintar-pintar memilah informasi apa yang mau dikonsumsi, kita akan selalu merasa insecure sama diri sendiri. Padahal, bisa jadi hidup yang kita jalani adal

Insecure, harus bagaimana?

Tangan kiri yg pernah bikin Insecure :p Pernah merasa insecure nggak sama diri sendiri? Insecure adalah sebuah kondisi mental yang menyebabkan seseorang merasa “ tidak aman ”, dan hal ini bisa berlaku pada banyak hal. Contoh, kita insecure dengan kondisi fisik kita; kita merasa tidak cantik, tidak ganteng, kulit kok kusam amat, kok nggak cerah seperti warna kulit si A dan akhirnya kita menjadi orang yang tidak percaya diri dengan kondisi fisik kita. Bicara masalah ‘ Body Image ’ ini, saya pernah tidak insecure dengan warna kulit di bagian tangan saya sebelah kiri yang hitam, ada bercak warna putih, bercak hitam, pokoknya nggak enak dilihat. Waktu kecil, tangan saya bagian kiri pernah saya celupin di air yang baru mateng alias baru mendidih karena ingin minum. Semacam uji nyali hehe. Al hasil, kulit tangan saya melepuh dari ujung jari sampai ke atas siku. Ketika remaja, ketika zaman-zaman galau, saya menjadi tidak percaya diri kalo memakai baju lengan pendek, tidak ingin oran

Why should you accept yourself?

“Kenapa saya tidak sesukses dia?” “Kenapa saya tidak sepintar dia? “Kapan saya akan bisa menjadi kaya seperti dia?” “Kenapa dia bisa lebih bahagia dari saya?” “Kenapa hidupnya lebih damai dari saya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering   muncul dalam kehidupan kita. Tidak harus semua, paling tidak ada salah satu yang muncul dalam benak kita. Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali akan muncul ketika kita merasa orang lain lebih beruntung dari kita dalam banyak hal. Seringkali, berawal dari pertanyaan-pertanyaan tersebut hingga akhirnya muncul cemas, insecure , tidak percaya diri, merasa gagal atau bahkan merasa diri tidak bernilai sama sekali. Jika sudah begini, ada dua kemungkinan yang akan terjadi; menjadi orang yang ambisius atau malah menjadi orang yang berhenti di tempat ( staying on the spot ). Seseorang yang tidak bisa menerima diri sendiri ( self acceptance ) akan menjadi orang yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Hal ini yang akan menjadikanny

“Datangnya Cuma Pas Butuh”

Apa yang kamu lakukan ketika mendapat pesan tiba-tiba dari orang yang kamu kenal, tapi sudah lama menghilang tidak ada kabar? “ Mas, apa kabar? Ini saya Arjuna, teman kuliah dulu .” Beberapa saat kemudian, setelah nostalgia sebentar tentang masa lalu, dia menulis; “ Saya lagi butuh bantuan, Mas, saya lagi butuh uang, kamu bisa nggak pinjemin. Awal bulan nanti saya ganti .” Jika sudah begini, bagaimana kamu merespon? Saya selalu mengajak orang lain untuk merespon hal-hal begini dengan bijak. Karena memang kita hanya perlu merespon dengan sebaik mungkin. Jika bisa membantu, silahkan membantu, jika tidak bisa membantu, tidak perlu Arjuna menjadi topik penting obrolan dengan teman sekantor; “ Itu loh, Bro, si Arjuna, teman seangkatan kita, lama ngilang, tiba-tiba chat mau pinjem duit, banyak lagi. Ih Ogah .” Tidak perlu juga merespon dengan ucapan-ucapan yang tidak baik, yang malah bisa jadi menyinggung perasaannya, atau bahkan menyakiti. Islam tidak mengajarkan kita demik

Posisi Manusia; Antara Langit dan Bumi

Allah menciptakan manusia dan memerintahkan malaikat-Nya untuk bersujud, serta memuliakannya dari makhluk Allah yang lain dengan berbagai kemampuan pada akalnya, yang membuatnya mampu mencapai makrifat kepada-Nya. Hal ini dikarenakan manusia mempunyai derajat yang tidak pernah dicapai oleh makhluk yang lain. Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam diri manusia. Dia menciptakan bumi dan menempatkan manusia di dalamnya, serta mempersiapkannya untuk hidup di dalamnya. Dia pun menciptakan tubuh manusia dari unsur bumi.   (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad [38]: 71-72)   Setiap kita terdiri dari unsur jasad dan ruh. Jasad dengan segala kebutuhannya menarik manusia ke bumi. Adapun ruh, ia membawanya naik ke langit. Setiap kali mendekat ke bumi, ia semakin jauh dari langit, sehingga hubungannya dengan Allah melemah. Bahkan, terkadang ia sampai pada kondisi di mana hubungannya dengan Allah terputus sama sekali, dan ia m

Belajar Menerima

Foto di atas reruntuhan desa kuno di Puncak Jabal Akhdar-Oman Covid-19, seolah menjadi buah bibir yang tak kunjung habis untuk dibicarakan akhir-akhir ini. Menyebarnya wabah ini ke seluruh penjuru dunia menjadikannya topic hangat yang terus diberitakan di segala macam media. Setiap orang seolah-olah berlomba untuk memberikan info paling update terkait Covid-19. Sedangkan saya, sudah beberapa hari ini memilih untuk tidak banyak membaca terkait hal ini selain pada sumber-sumber yang sudah jelas valid dan itu menenangkan, tidak seperti berbagai tulisan yang beredar di social media yang kadang menimbulkan kekhawatiran berlebih. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari adanya wabah ini. Salah satu pelajaran besar yang bisa saya dapatkan adalah bagaimana kita bisa menerima akan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana kita dengan penuh keikhlasan. Sejak Covid-19 ini menyebar, saya memilih untuk mundur perlahan-lahan, membatalkan beberapa rencana perjalanan saya; Penerbangan