October 01, 2020

“Datangnya Cuma Pas Butuh”

Apa yang kamu lakukan ketika mendapat pesan tiba-tiba dari orang yang kamu kenal, tapi sudah lama menghilang tidak ada kabar?

Mas, apa kabar? Ini saya Arjuna, teman kuliah dulu.”

Beberapa saat kemudian, setelah nostalgia sebentar tentang masa lalu, dia menulis;

Saya lagi butuh bantuan, Mas, saya lagi butuh uang, kamu bisa nggak pinjemin. Awal bulan nanti saya ganti.”

Jika sudah begini, bagaimana kamu merespon?

Saya selalu mengajak orang lain untuk merespon hal-hal begini dengan bijak. Karena memang kita hanya perlu merespon dengan sebaik mungkin. Jika bisa membantu, silahkan membantu, jika tidak bisa membantu, tidak perlu Arjuna menjadi topik penting obrolan dengan teman sekantor;

Itu loh, Bro, si Arjuna, teman seangkatan kita, lama ngilang, tiba-tiba chat mau pinjem duit, banyak lagi. Ih Ogah.”

Tidak perlu juga merespon dengan ucapan-ucapan yang tidak baik, yang malah bisa jadi menyinggung perasaannya, atau bahkan menyakiti. Islam tidak mengajarkan kita demikian. Ucapan baik adalah pilihan terbaik. Jika sedang tidak bisa membantu, kamu bisa merespon dengan respon sederhana;

Maaf, ya, Mas, saya belum bisa bantu kali ini, semoga Allah mudahkan semua urusanmu, ya. keep in touch.”

Sesederhana itu. Kita bahkan tidak memiliki kewajiban menjelaskan alasan ‘mengapa kita tidak bisa membantu’. itu optional. Seandainya setelah menghubungi kali ini dia kembali pergi, menghilang lagi, ikhlaskan saja. Paling tidak kita tetap menjadi baik. Demikianlah Islam mengajarkan kita.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرفَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Tugas kita adalah berusaha menjadi seseorang yang bisa memberi manfaat sebanyak mungkin kepada siapapun. Terlepas orang lain menganggap baik atau tidak, itu bukan urusan kita. Tetap saja berbuat baik meski tidak dianggap. Karena sejatinya Allah selalu akan membalas kebaikan kita dengan kebaikan pula. Pun demikian dengan keburukan, balasannya adalah keburukan.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya (7). dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula(8) (QS. Az Zalzalah: 7-8).

Jadi, mari menjadi pribadi yang lebih bijak lagi, yang paham bagaimana seharusnya bersikap dalam berbagai kondisi.



August 13, 2020

Posisi Manusia; Antara Langit dan Bumi

Allah menciptakan manusia dan memerintahkan malaikat-Nya untuk bersujud, serta memuliakannya dari makhluk Allah yang lain dengan berbagai kemampuan pada akalnya, yang membuatnya mampu mencapai makrifat kepada-Nya. Hal ini dikarenakan manusia mempunyai derajat yang tidak pernah dicapai oleh makhluk yang lain.

Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam diri manusia. Dia menciptakan bumi dan menempatkan manusia di dalamnya, serta mempersiapkannya untuk hidup di dalamnya. Dia pun menciptakan tubuh manusia dari unsur bumi.

 

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad [38]: 71-72)

 Setiap kita terdiri dari unsur jasad dan ruh. Jasad dengan segala kebutuhannya menarik manusia ke bumi. Adapun ruh, ia membawanya naik ke langit. Setiap kali mendekat ke bumi, ia semakin jauh dari langit, sehingga hubungannya dengan Allah melemah. Bahkan, terkadang ia sampai pada kondisi di mana hubungannya dengan Allah terputus sama sekali, dan ia menjadi orang yang sangat lekat dengan bumi. Inilah yang kita dapati dalam firman Allah Swt,

 Tetapi dia cenderung kepada dunia. (al-A’raf [7]: 176)

Begitu pula sebaliknya, setiap kali ruh dan hati manusia lepas dari ikatan-ikatan bumi, ia akan naik ke langit, sehingga hubungannya dengan Pencipta semakin kuat, mencapai derajat penisbatan kepada-Nya, sehingga ia pun menjadi hamba yang rabbani (orang yang dekat dengan Allah). Oleh karena itu, hanya ada satu pilihan dalam penisbatan ini; ke bumi atau ke langit.

Benar, terkadang hati kita tertarik kepada bumi dan perhiasannya, namun dalam waktu yang bersamaan, di dalamnya juga terdapat hubungan dengan Allah. Akan tetapi, dalam kondisi yang demikian, hubungannya dengan Allah terus berada dalam lingkup yang sempit dan terbatas. Sehingga pemiliknya tidak dapat berhubungan dan tidak dapat bernisbat kepada Allah, kecuali jika dia membebaskan hatinya dari kekangan hawa nafsu dan cinta dunia.

Allah menjadikan hati sebagai tempat penghambaan kepada-Nya. Di dalamnya terkumpul berbagai perasaan manusia, cinta dan benci, takut dan harap, bahagia dan sedih, senang dan ngeri, khawatir dan tenang, serta berbagai perasaan lainnya.

Allah menjadikan hati sebagai raja bagi seluruh anggota tubuh, sehingga semua aktifitas tubuh, hakikatnya adalah, pelaksanaan perintah hati. Hati juga merupakan tempat keinginan dan pengambilan keputusan, sedangkan semua anggota tubuh yang lain hanyalah menunaikan perintahnya.

Di antara tentara hati adalah akal. Salah satu tugas akal yang terpenting adalah menjadi tempat ilmu pengetahuan dan alat berpikir. Dengan akal dapat diketahui akibat dari berbagai perbuatan, dan dengannya pula, berbagai perasaan dapat dikekang.

Adapun nafs (nafsu) merupakan kata yang mencakup arti syahwat dan hawa nafsu. Nafsu selalu ingin menguasai manusia dan mendorongnya untuk melakukan semua keinginannya. Nafsu selalu ingin mempunyai peran dalam setiap perbuatan seseorang. Oleh karena itu, ia berusaha menundukkan hati dan menguasai manusia dengan berbagai bentuk perasaan, demi menuruti kehendaknya.

Allah menciptakan nafsu dengan sifat demikian, untuk menguji sejauh mana kesungguhan manusia dalam menghambakan diri kepada-Nya. Seorang hamba-sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdul Qadir al-Jailani-berada di antara Allah dan nafsunya. Jika dia membela nafsunya, dia menjadi hambanya, sedang jika dia membela Allah maka dia menjadi hamba-Nya.

Semua keputusan yang muncul dari hati, pasti menampakkan pembelaan terhadap cinta dan iman kepada Allah. Peperangan antara penyeru iman dan penyeru hawa nafsu pasti berhenti dengan kemenangan pada salah satunya, ketika keputusan ditentukan. Jika iman menang, seluruh anggota tubuh tunduk kepada perintahnya, baik dengan melakukan ketaatan maupun meninggalkan kemungkaran; tapi jika nafsu yang menang, keputusan pun ada di tangannya. Ia memerintahkan anggota tubuh untuk melakukan perbuatan yang memuaskan kehendak dan keinginannya yang bertentangan dengan perintah dan rida Allah. Dengan demikian, nafsu merupakan medan pertempuran kita, namun seandainya tidak ada nafsu, kita bagaikan malaikat.

 

March 31, 2020

Belajar Menerima

Foto di atas reruntuhan desa kuno di Puncak Jabal Akhdar-Oman

Covid-19, seolah menjadi buah bibir yang tak kunjung habis untuk dibicarakan akhir-akhir ini. Menyebarnya wabah ini ke seluruh penjuru dunia menjadikannya topic hangat yang terus diberitakan di segala macam media. Setiap orang seolah-olah berlomba untuk memberikan info paling update terkait Covid-19. Sedangkan saya, sudah beberapa hari ini memilih untuk tidak banyak membaca terkait hal ini selain pada sumber-sumber yang sudah jelas valid dan itu menenangkan, tidak seperti berbagai tulisan yang beredar di social media yang kadang menimbulkan kekhawatiran berlebih.

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari adanya wabah ini. Salah satu pelajaran besar yang bisa saya dapatkan adalah bagaimana kita bisa menerima akan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana kita dengan penuh keikhlasan. Sejak Covid-19 ini menyebar, saya memilih untuk mundur perlahan-lahan, membatalkan beberapa rencana perjalanan saya; Penerbangan ke Bengkulu, Kuala Lumpur, Qatar, Turkey dan Mesir adalah beberapa penerbangan yang akhirnya saya batalkan. Beberapa penginapan saya di Turkey juga ikut saya batalkan. Paket Tour di Doha-Qatar ikut saya batalkan. Ada penerbangan yang berhasil refund, ada juga yang sampai hari ini masih proses refund dan belum disetujui. Jangan tanya berapa kerugiannya, pasti rugi, namun saya meyakini bahwa setiap hal yang terjadi akan terasa lebih menenangkan ketika kita yakini bahwa ‘Allah adalah sebaik-baik perencana’.

Tahapan-tahapan seseorang dalam menerima sesuatu itu berbeda-beda; ada yang ikhlas melepaskan, ikhlas menerima, ikhlas untuk move on ke tahapan selanjutnya, namun tidak sedikit juga yang menggerutu, merasa Allah tidak adil, merasa diabaikan, merasa hancur dan rasa yang lain yang mungkin meruntuhkan segala rasa baik yang ada. Semakin cepat seseorang bisa menerima dengan keihklasan akan satu hal yang diluar dari rencananya, semakin cepat dia akan merasakan ketenangan. Disinilah diperlukan melatih diri untuk menjadi orang yang sedikit demi sedikit ikhlas dalam menerima sesuatu. Ikhlas, artinya mendapatkan ketenangan. Bukankah itu yang kita cari? Menjalani hidup dengan tenang, tentram, yang melahirkan kebahagiaan.

Tugas kita sebagai manusia adalah membuat rencana terbaik, namun jangan lupa bahwa ada Allah yang menentukan segala sesuatu. Bisa jadi, sesuatu yang baik menurut kita, ternyata tidak baik bagi Allah. Pun demikian, bisa jadi sesuatu yang kita anggap tidak baik, ternyata terbaik menurut Allah bagi kita. Hal ini senada dengan apa yang Allah nyatakan di dalam Al Quran:

وَعَسىٰ أَن تَكرَهوا شَيئًا وَهُوَ خَيرٌ لَكُم ۖ وَعَسىٰ أَن تُحِبّوا شَيئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُم ۗ وَاللَّهُ يَعلَمُ وَأَنتُم لا تَعلَمونَ



“...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

            Untuk semua yang sedang berjuang, mengatur ulang perjalanan, membatalkan berbagai rencana besar dalam hidup, dan rencana-rencana lain yang ikut berubah karena kondisi ini, tetaplah bersabar, tetaplah yakin bahwa Allah lah yang kuasa terhadap segala sesuatu. Maka tetaplah dengan keyakinan ini, insya Allah ridha Allah yang akan kita raih.



July 05, 2019

Syiar Islam Yang Mulai Dilupakan


Dalam Islam, kita memiliki ungkapan indah yang harus selalu kita angkat. Ia merupakan syiar paling agung. Kita harus membanggakannya di hadapan umat-umat yang lain. Kita harus mempersembahkannya sebagai risalah universal. Kita deklarasikan kalimat ini di berbagai forum internasional. Yaitu “assalaamu’alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh”. Rasul SAW mewajibkan kita untuk mengucapkannya saat kita saling bertemu. Saat kita masuk ke majelis dan tempat-tempat pertemuan yang bersifat umum. Saat salah seorang di antara kita bertemu dengan saudaranya di jalan, ia mengucap, “assalamualaikum,” Apa maknanya? Pernahkan engkau memikirkan makna assalamualaikum? Mengapa ketika mendatangi ayahmu, ibumu, saudaramu, atau saudaramu; mengapa ketika masuk ke pasar engkau disuruh untuk mengucap salam? Pada satu waktu, sayang sekali kalimat ini tidak lagi ditemukan di tengah-tengah kaum Muslimin. Mereka telah menghapusnya dari kamus mereka dan menggantikannya dengan ungkapan lain, “selamat datang, selamat pagi, apa kabar? Dst. Islam menyuruhmu untuk memberi salam, baik kepada orang yang kamu kenal maupun orang yang tidak kamu kenal. Betapa indah kalimat tersebut. Mengapa kalimat itu yang dipilih? Bukan Alhamdulillah, subhanallah, laa ilaaha illallaah, apa kabar dan kalimat-kalimat lainnya?

Makna assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh adalah salam untuk kalian dari kami; kami hadirkan salam antara kita; bergembiralah dengan rasa aman dari kami; kami tidak menyakiti kalian dan tidak membalas dendam kepada kalian; kalian berada dalam kondisi aman; serta antara kita ada ikatan perjanjian. Sungguh sangat indah. Engkau menjumpai temanmu di jalan lalu mengucap, “assalamualaikum.” Engkau menjumpai pemilik tempat, pemilik ladang, pemilik toko, dosen, mahasiswa, teman kerja di kantor, dengan mengucap “Assalamu’alaikum”. Betapa ia kalimat yang indah, namun mengapa kita tidak mengucapkannya kembali? Mengapa kita tidak mengidupkannya? Para sahabat dahulu, bahkan ketika satu dengan yang lain terhalang oleh sebuah pohon, kembali mengucapkan salam. Atau ketika dua sahabat berjalan di jalan, lalu ada sebatang pohon yang memisahkan mereka, yang satu lewat kanan pohon dan satu lagi lewat sebelah kiri. Ketika bersua kembali mereka mengucap salam. Mengapa? Sebab engkau selalu mendeklarasikan padanya bahwa ia berada dalam kondisi aman dan damai.

Salam dipersembahkan untuk orang yang kamu kenal maupun yang tidak kamu kenal. Kamu tidak boleh hanya memberi salam kepada teman yang sudah kamu kenal, namun harus kepada seluruh orang. Berikan salam kepada semua umat Islam. Di manapun kamu menjumpainya, ucapkan salam. Makna salam adalah, “salam dariku untukmu, dalam perjumpaan ini kuberikan rasa aman dariku untukmu; yang kubawa adalah cinta untukmu; yang kubawa adalah rahmat untukmu; jangan takut padaku.”.

Suatu ketika Nabi saw. duduk bersama para sahabat. Lalu seseorang datang seraya mengucap, “Assalamualaikum.” “Duduklah!” kata Nabi saw. seraya berujar, “Sepuluh.” Tidak lama kemudian orang kedua datang dan mengucap, “Assalamualaikum wa rahmatullah.” “Duduklah!” jawab beliau seraya mengucap, “Dua puluh.” Kemudian orang ketiga datang dan mengucap, “Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.” “Duduklah!” ujar beliau lagi seraya berujar, “Tiga puluh.” Ketika para sahabat menanyakan maksudnya, beliau menjelaskan, “Yang pertama mendapat sepuluh kebaikan. Yang kedua mendapatkan  dua puluh kebaikan. Sementara yang ketiga mendapat tiga puluh.”

Begitulah Sang pengajar kebaikan, Nabi SAW mengajarkan kepada kita bagaimana cara memberi salam. Beliau mengajarkan adab. Islam adalah agama yang begitu indah, bagaimana mungkin kita akan mengganti ucapan salam ini dengan redaksi lain yang tidak bisa menyamai ungkapan indah tersebut; satu syiar yang berkilau, kuat, dan tulus (Assalamualaikum)?

أَتَسۡتَبۡدِلُونَ ٱلَّذِي هُوَ أَدۡنَىٰ بِٱلَّذِي هُوَ خَيۡرٌۚ

"Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (QS. Al-Baqarah: 61)

Karena itu, kita, umat Islam, dituntut untuk menjadikan salam sebagai syiar di antara kita. Satu ketika, Nabi didatangi oleh seorang jahili. Ia berakat, “Im shabahan (selamat pagi).” Ini adalah salam orang-orang jahiliyah. Sama seperti salam masa kini dengan meninggalkan assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Ia diganti dengan redaksi, “Selamat pagi, apa kabar? Selamat datang, dst” semua itu mestinya sesudah mengucapkan assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Nah orang tersebut datang dengan mengucap ‘Im shabahan.’ Mendengar hal tersebut, Nabi saw berkata, “Allah telah menggantikan untukku sebuah salam yang lebih baik daripada salammu. Ucapkanlah, “Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.” Jadi, salam kita, umat Islam, adalah assalamualaikum.

Itulah salam di antara mereka. Entah di pasar, di pertemuan mereka, di perkumpulan mereka, di acara-acara mereka. Mereka mengucap “Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.” Mengapa kita diperintah untuk mengucapkannya? Allah berfirman, “Apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan salam,” (al-Furqaan: 63) Maksudnya keselamatan untuk kalian dari kami. Kalian benar-benar jahil. Kami tidak mau membalas dengan serupa. Namun kami balas dengan maaf dan lapang dada. Kami ucapkan, “Salam”. Oleh karena itu, para ulama besar umat ini membawa kalimat “assalamualaikum” dalam kehidupan mereka, dalam adab dan akhlak mereka.


Melalui tulisan ini, mari kita mengamalkan salam dalam kehidupan kita. Maksudnya, supaya orang-orang mengetahui bahwa kita menghadirkan rasa aman. Sebab, tidak disebut mukmin orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya; serta yang Muslim lainnya tidak aman dari tindakan buruknya. Engkau Muslim. Apakah Islam hanya rakaat yang hanya dilakukan oleh manusia dalam beberapa menit, lalu ia terlepas seperti singa yang buas? Tidak, Islam membawa syiar keselamatan dan cinta. Semoga kita menjadi orang-orang yang berkeinginan kuat untuk menyebarluaskan dan berinteraksi dengan “assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.”

June 26, 2019

Betapa Ramahnya Orang Oman


Bagi saya, berinteraksi dengan masyarakat setempat, berkenalan, bercerita banyak hal tentang budaya masing-masing dalam sebuah perjalanan selalu menjadikan perjalanan lebih bermakna. Karena hidup adalah tentang bagaimana kita memahami kehidupan itu sendiri. Semakin tahu, maka akan semakin bahagia kita menjalaninya.

Saya sering kali bertemu orang-orang luar biasa dalam perjalanan. Perjalanan terbaru yang baru saya selesaikan beberapa bulan lalu adalah menjelajah Negeri Oman, negeri kaya yang begitu ramah terhadap tamu-tamu yang datang. Saya tidak hanya berkunjung ke aneka penjuru Negeri Oman, tapi juga berkesempatan belajar Bahasa Arab di Sulthan Qaboos College, Oman. Tulisan tentang ini sudah saya tulis di sini.

Saya masih ingat, dalam waktu dua bulan saja, saya memiliki banyak sekali kenalan baru. Security di apartemen saya sampai terkagum-kagum bagaimana saya bisa mengenal sedemikian banyak orang hanya dalam waktu dua bulan.

"Saya belum pernah melihat mahasiswa yang seantusias kamu dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar," ucapnya ketika saya pamit. Iya, menjelang kepulangan saya ke Indonesia, apartment saya banyak menerima tamu, teman-teman yang baru saya kenal ketika pertama kali datang ke Oman.

Seringkali ketika saya sedang jalan kaki, banyak pemuda-pemuda Oman yang menghampiri dan dengan senang hati mengantarkan saya ke tujuan, padahal saya sengaja memilih jalan kaki di musim dingin kala itu. Saya berkenalan dengan banyak orang, mulai dari supir taksi, penjaga toko, penjaga perpustakaan kota, pegawai Bank, Dosen, pedagang di pasar dan lain-lain.

Saya tipe orang yang mudah sekali dalam bergaul, tidak aneh rasanya saya bisa berkenalan dengan banyak orang selama di Oman. Selain itu, Omani (sebutan untuk orang Oman) adalah orang-orang yang sangat ramah akan tamu. Mereka begitu luar biasa dalam menjamu setiap tamu yang datang ke rumah mereka. Mereka dengan penuh kesungguhan siap membantumu setiap kali kamu membutuhkan bantuan.


Selama di Oman, hampir setiap hari saya dijemput oleh pemuda-pemuda sekitar apartemen saya, mereka mengajak saya duduk bersama-sama, kadang hanya sekadar minum teh hangat di dinginnya malam, kadang kami barbeque rame-rame. Ketika weekend datang, kami akan pergi ke suatu tempat, bakar-bakar daging, masak, dsb. Menyenangkan. 2 bulan di Oman terasa begitu singkat, karena begitu menyenangkan bisa berinteraksi dengan orang-orang Oman.

Di Oman, ada yang mengizinkan saya tinggal di apartemennya di Muscat beberapa hari menjelang kepulangan ke tanah air. Padahal dia sedang tidak di tempat. Kami hanya bertemu sekali, tapi dia memercayai saya, memberitahu saya kode akses security boxnya dan mengizinkan saya tinggal di apartmen miliknya. 😍

Ada banyak pengalaman menarik. Misal, ketika akan ke airport, barang bawaan saya banyak, ada beberapa kardus dalam ukuran besar, ada dua koper, ada tas dan perintilan lainnya. Ketika turun ke lobby apartemen, seorang tidak dikenal menghampiri saya dan menanyakan tujuan saya. Ketika tahu saya mau ke airport, dia dengan senang hati menawarkan bantuannya.

Demikianlah, di tengah malam yang sepi, kami menembus sunyinya Kota Muscat, dia mengantarkan saya ke airport dan memastikan semu barang saya tidak ada yang tertinggal.

"Jika kamu ke Oman, hubungi saya, saya akan menjemputmu," pintanya kala itu.

***
Seringkali ketika naik taksi, saya tidak diizinkan oleh supirnya membayar. Mereka hanya bilang,

“Kamu teman saya, kamu tidak perlu membayar.”

Dan biasanya mereka dengan senang hati memberikan No handphone mereka tanpa saya pinta.

“Hubungi saya jika kamu perlu sesuatu selama di Oman.”

Kadang saya merasa tidak enak hati, tapi demikianlah keramahan mereka terhadap tamu.
Ada satu supir taksi yang paling saya ingat. Dia akan menikah esok harinya, dia pergi ke salah satu Mall di Nizwa untuk berbelanja keperluan rumah. Di perjalanan, dia bertemu saya yang sedang berjalan kaki menuju apartemen. Dia sengaja berhenti dan menawarkan tumpangan, padahal saya sengaja mau jalan kaki. Tidak hanya itu, ketika turun dari taksinya, dia memberi saya beberapa jus buah dalam ukuran cukup besar dan seplastik besar Omani Chips.

“Doakan pernikahan saya besok, semoga Allah mudahkan.” Demikian pintanya sambil berlalu pergi. Saya termenung cukup lama.

Alhamdulillah, sebuah perjalanan semakin bermakna ketika kita membersamainya dengan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga hubungannya dengan manusia. Karena demikianlah seharusnya seorang Muslim bersikap terhadap tamunya. Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk selalu memuliakan tamu. Sungguh indah ajaran Islam. 

All Muslims by default are Ambassadors of Islam. you should behave as such so that Islam is spread through your personal flawless examples.

2.5 Bulan di Oman, Belajar Bahasa Arab sambil Jalan-jalan


Beberapa waktu lalu, ketika saya menulis betapa ramahnya orang-orang Oman, banyak yang DM saya, bertanya tentang program apa yang saya ikuti selama 2.5 bulan di Oman.

Jadi begini, ketika di Oman, saya mengikuti program kursus singkat Modern Standard Arabic, lebih khususnya saya belajar penulisan dalam bahasa Arab. Karena saya memang butuhnya adalah mengasah kemampuan menulis paper. Berat, ya? Nggak, kedengarannya aja berat, tapi menyenangkan, meski setiap pekan saya harus menulis beberapa artikel dalam bahasa Arab dengan tema-tema yang berbeda. Saya pernah menulis artikel terkait politik, masalah dalam keluarga, problematika generasi muda, dan banyak lagi 😊. Nulisnya dalam bahasa ARAB, ya, bukan Jawa. J

Program ini mencakup semua level kok, dimulai dari dasar sekalipun ada kelasnya. Kalo saya waktu itu ikut kelas advance gitu. Nanti akan ada placement test kalo kita udah sampai sana. Jangan khawatir kalo level kamu masih pemula, kamu akan gabung dengan teman-teman pemula lainnya. Angkatan saya waktu itu ada dari 12 Negara; Italy, Swedia, Iran, Inggris, Amerika, Jepang, Rusia, Korea dsb. Banyak. J

Serunya program ini, setiap akhir pekan kita akan diajak keliling ke penjuru Oman. Jika jauh, kita akan menginap di daerah tujuan kita. Seru pokoknya. Saya sangat menikmati program ini. Artinya, kita tidak cuma hanya mendem di kampus, belajar saja, itu akan sangat rugi kalo tidak sekalian menjelajah, kamu harus ngemper di seluruh penjuru Oman.  Eman-eman kalo nggak sekalian jalan-jalan.


Jangan khawatir, mereka semua yang urus kok. Kita tinggal siapin badan saja untuk berangkat. Bahkan, di apartment kita ada supir yang selalu siap antarin kita, asal perginya minimal 4-5 orang. Ada bus dan mobil yang selalu siap antarin kamu kalo ada keperluan; misal mau shopping keperluan harian 😊

Berapa biayanya?

Terkait tiket pesawat, kita urus sendiri, beli sendiri. Jadi pinter-pinter kamu saja nyari tiketnya. Oman Air PP biasanya kisaran 6-7 juta.



Sedangkan biaya program ini untuk 2 bulan sudah include apartment, makan 3xsehari sepuasnya di restoran apartment (setiap hari ada cleaning service yang bersihin kamar. Udah kayak hotel J), trip setiap pekan, free masuk ke tempat-tempat wisata, olahraga (bowling, gym, tenis lapangan, volly ball, dan lain-lain), transportasi antar jemput dari dan ke airport, visa, dll. Pokoknya mereka baik banget, berusaha memberikan pelayanan semaksimal dan sekeren mungkin. Ya Allah, ini kapan nulis berapa biayanya, sih? Lama amat prolognya 😅

 Total biaya diluar tiket, saya membayar: 257 OMR. Ingat, 1 OMR itu sekitar 37rb-38rb. Sekitar 9.766.000, Kok mahal? Nggak, ini mah murah banget untuk biaya hidup 2 bulan di Oman. Apartment saja kalo kita nyewa sendiri, 1 bulan bisa 150 OMR-200 OMR, belum makan, transportasi dsb. Nggak kuat L

Sebagai tukang jalan, saya setiap hari pergi, karena sudah jauh-jauh ke Oman, masa iya mendem di apartment setelah kuliah, RUGI J. Karena setiap hari kuliahnya cuma dari jam 8 pagi sampai jam 1 siang. Selebihnya free, terserah. Makanya saya pergi setiap hari, berbaur dengan generasi muda, tua di sekitar maupun wilayah lain.  Sepekan kita cuma masuk dari Minggu sampai Kamis. Jumat Sabtu LIBUR. Saya pribadi merasa bahasa Arab saya berkembang pesat justru di luar kampus, karena bergaul dengan banyak orang Oman.

 Enaknya lagi, setiap mahasiswa dikasih 1 language partner orang Oman asli, dia yang akan membantu kita dalam belajar bahasa Arab. Biasanya mahasiswa atau fresh graduate dari Universitas. Mereka sangat membantu sekali. Selain ngajarin kita bahasa Arab, biasanya kita akan sering diajak pergi sama dia dan teman-temannya. Tergantung bagaimana kamu mengambil hati si Doi J. Pas saya disana, saya dapat language partner yang sama-sama suka jalan, saya dikenalkan dengan teman-temannya, akhirnya setiap hari ada yang jemput secara bergantian ke apartment, kemudian kami pergi ke suatu tempat, barbeque, camping di padang pasir dsb . Keren pokoknya. Orang Oman itu super banget baiknya.

Anyway, terkait Visa, pihak kampus yang akan mengurus semuanya. Kita hanya butuh mengirimkan berkas-berkas yang mereka butuhkan. Mereka akan konfirmasi via email terkait apa saja yang mereka perlukan untuk Visa. Biasanya durasi visa kita itu sisa 15 harian setelah kursus, kita bisa melanjutkan sendiri ke tempat-tempat yang belum kita kunjungi. Kita bisa juga naik bus ke Dubai kalo dirasa cukup mengeksplor Oman. Ketika saya disana, sehabis masa study, saya tinggal di apartment teman saya sampai limit visa saya mau habis. Teman yang baru saya kenal ketika di Oman. 😍

Untuk info lebih lanjut terkait program ini, silahkan baca sendiri di web kampusnya, ya. Saya jamin kamu akan betah disana, bakalan kangen mau ke Oman lagi dan lagi *seketika mewek kangen Oman* 😅


Semoga bermanfaat, ya. Semoga bisa menjawab rasa ingin tahu teman-teman yang beberapa lalu nanyain terkait program ini. 😊


Follow IG: @rayyan.zahid

October 24, 2017

Krisis Spiritual




Dalam sebuah kelas, saya bertanya ke mahasiswa “Ada yang tahu arti surat Al Fatihah dari awal sampai akhir?” suasana kelas langsung hening.

Suasana kelas mulai riuh dengan suara ketika saya membaca ayat demi ayat hingga sampai pada ayat “Iyyaka na’budu waiyya kanasta’in”, suara-suara mulau melemah, hanya sedikit yang bersuara. Ada yang seolah menerawang sambil menatap langit-langit kelas, ada yang berbisik lirih dengan teman di sebelahnya, dan ada yang hanya diam memaku. Saya melanjutkan ayat selanjutnya “Ihdinassirathal mustaqim, sirathalladzina an’amta ‘alaihim ghoiril maghduubi ‘alaihim waladhdhallin,” suasana kelas hening tanpa suara.

Beberapa hari selanjutnya, saya menanyakan pertanyaan yang sama ke beberapa kelas. Ada kurang lebih 180 lebih mahasiswa di kelas-kelas yang saya ampu, hasilnya sama. Hanya tiga ayat pertama yang mereka bisa, selebihnya mereka mulai kesulitan untuk menjawab artinya. Saya menatap mereka lekat-lekat sambil bertanya,

“Sejak kapan kalian hafal surat Al Fatihah?” tidak ada jawaban.

Untuk beberapa saat, suasana kelas masih hening tanpa suara, saya tersenyum dan mulai melanjutkan kegiatan pembelajaran hingga usai.

Ketika sampai di rumah, saya merenung cukup lama, memikirkan bagaimana kondisi mahasiswa-mahasiswa yang saya ampu di Kampus. Mereka muslim, mereka adalah generasi muda harapan bangsa ini, mereka tumbuh di lingkungan muslim, tapi mereka tidak banyak mengerti tentang makna bacaan-bacaan dari rentetan ibadah yang dilakukan. Mereka bahkan banyak yang tidak tahu arti doa-doa yang selama ini mereka haturkan pada Allah.

Jika melihat kondisi ini, kita sedang berhadapan dengan generasi muda muslim yang mengalami “krisis spiritual”. Masalah ini tidak hanya berhenti sampai disini. Selain tidak paham akan makna bacaan-bacaan ibadah yang dibaca, generasi muslim banyak yang tidak bisa membaca Al Qur’an.

Saya mengajar di sebuah perguruan tinggi Islam swasta. Setiap tahunnya, ada sekitar 2500 mahasiswa baru yang masuk. Dari jumlah tersebut, ada lebih dari 900 mahasiswa yang tidak bisa membaca Al Qur’an. Ada yang bahkan belum bisa membedakan huruf-huruf hijaiyah, padahal usia mereka sudah 17 tahunan. Jika kondisi kampus Islam saja seperti ini, bagaimana dengan kampus-kampus umum lainnya?

Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan, kita semua harus memiliki kepedulian akan hal ini. Ini bukan hanya sekedar tanggung jawab para ustadz/ustadzah, para kiyai, para santri, melainkan adalah tanggung jawab bersama. Semua harus memiliki kesadaran bahwa hal ini adalah hal yang sangat penting, baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, perguruan tinggi dll. Semua harus bersinergi. Karena jika dibiarkan, generasi ini akan menjadi generasi yang abai dengan agamanya, abai dengan Al Quran yang seharusnya menjadi petunjuk, dan tidak memiliki kesadaran untuk beribadah.

Jika Anda adalah seorang Ayah, Ibu, maka pastikan anak-anak Anda bisa membaca Al Quran dengan baik dan benar. Pastikan mereka tumbuh menjadi generasi muslim yang cinta kepada Al Quran, pastikan mereka paham dengan makna bacaan-bacaan ibadah yang mereka lakukan. Jangan biarkan mereka abai dengan Al Qur’an. Jika mereka tumbuh bersama Al Qur’an, maka mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga cerdas secara spiritual.

Jika sampai hari ini Anda belum bisa membaca Al Qur’an, belum paham dengan makna ibadah yang selama ini dilakukan, maka luangkanlah waktu untuk kembali belajar dalam rangka membenahi hubungan antara hamba dan Sang Pencipta. Luangkan waktu untuk mengkaji ayat-ayat Allah, Anda akan merasakan bahagia yang sesungguhnya ketika bencengkerama dengan Allah dan paham akan apa yang kamu baca. Karena tidak ada bahagia yang melebihi kebahagiaan ketika dekat dengan Allah SWT.

Perhatikan firman Allah yang artinya,

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah); mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”  (Q.S. Al-A’raaf: 179)

Semoga Allah memberi rahmat bagi kita semua, amin.

October 22, 2017

Syahidah Itu Bernama Sumayyah



Melalui lembaran-lembaran ini, kita akan menelusuri sebuah kisah tentang kekuatan sabar dalam menghadapi ujian hidup. Kisah yang selalu diulang-ulang setiap hari, yakni kisah pertentangan antara iman dan kekafiran.

Kita akan menjumpai wanita pertama yang meninggal sebagai syuhada dalam sejarah Islam. Dia adalah wanita suci yang telah menorehkan catatan keabadian dalam lembaran sejarah dan Islam telah menetapkannya pada kedudukan yang sangat tinggi.

Dia adalah Sumayyah binti Khabat ra. yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah Saw akan masuk surga. Sungguh, itu merupakan kabar gembira yang membuat segala bentuk penderitaan dan siksaaan terasa manis dan menyenangkan.

Kisah ini diawali dengan kedatangan Yasir, ayah ‘Ammar, dari Yaman bersama dua saudaranya Al-Harits dan Malik ke Kota Makkah untuk mencari saudara mereka yang menghilang dalam beberapa tahun terakhir. Sejak itu, mereka terus mencari ke berbagai pelosok negeri hingga sampai di Kota Makkah. Tapi, di Kota ini pun mereka tidak menemukannya. Karena itu, Al-Harits dan Malik memutuskan pulang ke Yaman, sedangkan Yasir tetap tinggal di Makkah, karena merasakan suasana bahagia dan gairah yang aneh, sehingga dia memilih untuk tinggal di Makkah. Yasir tidak tahu bahwa dengan keputusannya itu, dia telah masuk gerbang sejarah baru yang terang benderang.

Ada tradisi yang berlaku di masyarakat Arab, apabila orang asing ingin tinggal di suatu negeri, maka ia harus mengikat perjanjian dengan salah seorang tokoh terkenal di kota tersebut untuk melindungi dirinya dari segala bentuk gangguan masyarakat dan dapat hidup dengan tenang dan nyaman di kota tersebut.

Yasir mengikat perjanjian dengan Abu Hudzaifah bil Al-Mughirah Al-Makhzumi. Tokoh terkemuka Makkah ini sangat menyukai Yasir karena sifat-sifatnya yang baik dan tindak tanduknya yang menyenangkan, serta latar belakang keluarganya yang terhormat. Abu Hudzaifah ingin memperkuat hubungannya dengan Yasir, sehingga dia menikahkan seorang budak perempuannya yang bernama Sumayyah binti Khabat ra.

Dari pernikahannya dengan Sumayyah binti Khabat, Yasir dikaruniai seorang putra yang penuh berkah bernama ‘Ammar bin Yasir. Kebahagiaan mereka semakin sempurna, ketika Abu Hudzaifah memutuskan untuk memerdekakan ‘Ammar dari statusnya sebagai budak. Tidak lama kemudian, Abu Hudzaifah meninggal dunia.

Suatu ketika, ‘Ammar ra. mendengar keberadaan risalah Muhammad saw., maka ia segera membuka hatinya untuk menerima seruan iman. ‘Ammar bergegas ke rumah Al-Arqam dengan langkah-langkah ringan dan cepat seakan-akan sedang mengejar detak jarum jam. Setibanya di rumah Al-Arqam dan melihat Nabi saw., serta mendengarkan wahyu yang disampaikan olehnya, maka hatinya seperti terbang melayang-layang di angkasa karena merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

‘Ammar pulang ke rumahnya dengan langkah yang cepat untuk merangkul tangan kedua orangtuanya dan membawa mereka menuju surga dunia yang akan membuahkan kenikmatan abadi di surga akhirat. Setibanya di rumah, ‘Ammar ra. mengucapkan salam kepada kedua orangtuanya dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak perlu menunggu waktu lama, hati-hati yang bersih dan suci itu langsung terbuka dan sangat senang mendengar firman Allah swt. Yasir dan Sumayyah merasakan keberadaan cahaya yang menyinari seluruh penjuru jagat raya, sehingga saat itu juga keduanya masuk ke dalam Islam.

Tidak lama berselang, berita keislaman keluarga Yasir tersebar dan sampai di telinga bani Makhzum. Mereka marah besar dengan kejadian itu sehingga langsung mendatangi keluarga yasir dan menyiksa mereka sekeras-kerasnya.

Ketika terik matahari memuncak, mereka menyeret keluarga Yasir ke tengah lapang yang panas dan menyuruh mereka memakai baju besi. Mereka tidak diberi minum dan tetap dibiarkan terpanggang oleh sinar matahari. Mereka menerima penyiksaan yang bermacam-macam dari bani Makhzum. Ketika benar-benar telah kepayahan, mereka dibawa pulang ke rumah, kemudian disiksa kembali pada hari berikutnya.

Sumayyah ra. adalah salah satu orang pertama yang menyatakan keislamannya secara terbuka dan menerima penyiksaan dengan tabah demi tetap bertahan di Jalan Allah ‘azza wajalla. Dia berada di garis depan wanita-wanita mukmin yang tulus dan segera menerima Islam, sehingga meraih kehormatan sebagai orang-orang pertama yang masuk Islam dan mendapat kabar gembira yang sangat mulia, yakni masuk surga.

Orang-orang musyrik terus menyiksa Sumayya, suaminya (Yasir) dan putranya (‘Ammar). Tapi, mereka menerimanya dengan tabah dan tegar karena yakin bahwa siksaan itu diterima karena mereka bertahan di jalan Allah swt.

Pada suatu hari, Rasulullah saw. Lewat dan melihat mereka sedang disiksa. Beliau bersabda yang artinya, “Berbahagialah, wahai keluarga ‘Ammar, karena sesungguhnya kalian telah dijanjikan masuk surga.” Allahu Akbar! Semilir angin surga telah menerpa hati mereka hingga menyejukkan bara penyiksaan yang sedang mereka rasakan.

Saat itulah, mereka mulai merasa lebih tenang dan nyaman ketimbang rasa payah karena siksaan yang mereka terima. Mereka menikmati penyiksaan karena bertahan di jalan Allah swt. dan terus merindukan kenikmatan surga sepanjang siang dan malam.

Sahabat wanita agung, Sumayyah ra., tetap tegar dalam menerima siksaan yang bermacam-macam. Tekadnya tidak pernah surut dan iman yang telah mengangkatnya kepada derajat wanita-wanita agung dan sabar tidak pernah melemah.

Sumayyah menjadi orang pertama yang meraih syahadah (mati syahid) dalam sejarah Islam. Tombak pendek dihujamkan pada tempat kehormatannya hingga meregang nyawa. Peristiwa pembunuhan ini terjadi pada tahun 7 Hijrah. Andaikan wanita-wanita saat ini menjadikan perjalanan hidup sabahat wanita yang agung ini sebagai contoh teladan yang diikutinya dalam hal pengorbanan, kesabaran dan ketabahan, tentulah mereka akan menjadi wanita-wanita yang tegar dalam menjalani kehidupan dan memiliki semangat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah swt dalam kondisi apapun.

Semoga Allah meridhai Sumayyah ra. dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat persinggahan terakhirnya.