Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

Bidadari Surgaku

“Aku ingin menikah, Bu,” ucapku sambil menatap wajah ibu yang ada di hadapanku. Teknologi membuatku bisa menghabiskan beberapa jam waktu luangku untuk berbincang dengan ibu dengan aplikasi skype. “Dengan siapa? Apa dia orang Indonesia juga?” selidiknya ingin tahu. Aku mengangguk. “Tapi dia keturunan Arab, Bu. Kami sama-sama sedang menempuh pendidikan Doktoral disini. Aku sama sekali tidak pernah berbincang dengannya, aku hanya pernah bertemu di kajian minggu dua atau tiga kali. Seorang sahabatku yang mencoba untuk mengenalinya lebih jauh, keluarga, latar belakang pendidikan agamanya dan juga budi pekertinya. Aku yakin akan segera menemuinya, dan menyatakan keinginanku untuk menikah dengannya.” “Jadi, dia belum tahu apa yang kamu rasakan?” Aku menggeleng, sambil tersenyum. “Kamu itu sama saja dengan bapakmu. Dulu, waktu bapakmu melamar ibu, karena pernah melihat ibu mengisi kegiatan remaja di salah satu sekolah. Hanya satu kali melihat dan entah dari mana ia tahu banyak...

DUNIA DALAM SUNYI

  Sudah menjadi rutinitas tahunan, aku kembali ke kampung halaman menjelang hari raya idul fitri. Rutinitas tahunan juga, merasakan hiruk pikuk perjalanan mudik yang entah kapan bisa berubah menjadi kenyamanan. Tak pernah kurasakan nyamannya suasana mudik ke tempat dimana aku dilahirkan, baik melalui udara, darat apalagi laut. Sesak, dan berbagai macam kendala yang seolah tak pernah habis.             “Berapa lama lagi kami harus menunggu di sini, Pak?” suara bapak berkepala botak itu kudengar untuk yang kesekian kalinya. Dia sudah menanyakan pertanyaan itu berulang kali, karena kesal dengan pihak maskapai yang tidak profesional. Lelah rasanya terus menunggu sesuatu yang tidak bisa dipastikan kapan kedatangannya. Tiga jam yang lalu, pihak maskapai mengatakan pesawat delay satu jam. Satu jam kemudian mereka mengatakan hal yang sama, dan satu jam yang baru saja kulalui pun tetap dengan ucapan yang sama. Sampai kapan ...

Kejutan Ramadhan

“Hidayah ibarat cahaya; ia tak menyapa kamar yang tidak dibuka jendelanya.” (Faisal Tehrani) Bus yang membawaku melaju dengan pesat, melewati jalanan yang mulai berlubang; batu-batu kecil berserakan di sepanjang jalan, debu yang berterbangan, dan air yang tergenang. “Yuk ajak warga menanam padi di tengah jalan sana,” celetuk Dona, sahabat yang duduk di sampingku sambil menunjuk ke jalanan berlubang yang digenangi air. Aku dan beberapa penumpang yang ada di bus serentak terkekeh dengan celetuknya. “Bagaimana kalo kita bikin ternak ikan saja disana,” ujar salah seorang penumpang yang ada di kursi belakangku. Kami kembali tertawa, menertawakan kondisi jalan yang ada di negeri ini. Aku sama sekali tidak bisa mengingat kapan terakhir kali jalanan ini asri. Seingatku, setiap tahun aku mudik dan selalu melewati jalan yang sama, tiap tahun pula lah aku harus menyaksikan kondisi jalanan yang jauh dari kata layak. Entahlah, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tertidur lelap, ...