Skip to main content

Posts

Catatan Hati Sang Guru

 Penulis : Arian Sahidi  Penyunting : Ridwan K. Firmansyah Tata Letak : Indie-Publishing.com Cover : Eka Pinsi Dintha ISBN : 978-602-7770-29-4 Harga : 32.500 Order via sms : 085773518074 Alhamdulillah, akhirnya buku saya yang ketiga ini bisa terbit juga, berikut beberapa testimoni dari pembaca buku CHSG; " Sort of a very honest feeling " Setiap pendidik (guru) pasti memiliki rangkaian kisah kebanggaan, kebahagiaan, keharuan, kesedihan dan kekecewaan, serta rangkaian do'a dalam perjalanannya mengantarkan putra-putri didiknya menuju kebaikan dunia dan akhirat. Dan kejujuran Ustadz. Arian Sahidi dalam kisahnya yang lugas dan apik sewajarnya secara kesadaran hati dan pikiran mampu membangun semangat para pendidik untuk sanggup menggoreskan penanya sebagai wujud tulisan hatinya.  Jazakallah atas kesempatan yang diberikan untuk berselancar memahami kisah dalam buku ini, semoga kemanfaatannya abadi selalu. Amin.”( Sri Sustantri Widiyowati , ...

Mupeng di Jogja

Seharusnya saya menulis catatan harian ini beberapa hari yang lalu waktu masih di Jogja, tapi berhubung saya super sibuk #ngeles, jadinya baru sempat sekarang menuliskannya disini hehe. Ini pun nulisnya sesempatnya aja di dalam bus menuju Jakarta. Jadi begini ceritanya, tanggal 15 sampai 17 Desember saya kembali mengunjungi kota Jogja, kota yang sudah menjadi salah satu kota yang saya kangenin itu hehe, yupz saya selalu betah berlama-lama di Jogja, menghabiskan masa liburan sambil berkeliling sepuasnya, menikmati berbagai macam makanan khas kota Jogja, membeli berbagai macam pernak-pernik yang berkaitan dengan Jogja dan masih banyak lagi hal yang bisa saya lakukan saat berada di Jogja. Saya berangkat dari Purwokerto bersama dengan beberapa murid, nginap di rumahnya Adhiffa di Jogja. Saya memang berangkat bersama mereka, namun saat jalan-jalan, saya memilih untuk sendiri, ditemani oleh dua orang teman dari Belgium, Thomas dan Mikey. Pagi harinya, saya dan anak-anak ...

Lintang

Matahari masih setia dengan teriknya, memancarkan sinar yang menusuk kulit. Panas. Namun sang kakek tetap dengan kotak kayu yang berukuran sedang miliknya, duduk di bawah terik matahari yang ganas. Keringat bercucuran, membasahi kaos lusuh berwarna abu-abu yang ia pakai. Sang kakek melihat kesana-kemari, namun tidak ada satu pun orang yang menghampirinya. Matanya tetap mencari, berharap ada salah satu dari orang-orang yang berada di alun-alun kota menghampirinya, kemudian memberikan kesempatan baginya untuk berkerja, dan membawa pulang hasil jerih payahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 14.57, ia bergegas menutup kotak kayu yang ada di sampingnya, kemudian ia beranjak perlahan menuju masjid yang ada di dekat alun-alun kota. Langkahnya sudah tidak lagi kuat, tubuhnya sudah tidak lagi mampu berjalan tegap dan tegas, ia sedikit bungkuk. Rambutnya yang ditutupi oleh topi bercorak batik Banyumasan sudah memutih. Garis-garis kehidupan terukir indah di wajahnya. Dia sudah ringkih. S...