Skip to main content

Posts

Catatan Hati di Awal Oktober

Dulu, saya memang sudah bercita-cita ingin mengabdikan diri di dunia pendidikan. Mendidik putra-putri bangsa ini menjadi putra-putri yang memiliki akhlak yang mulia. Rasanya akan sangat bangga melihat mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang unggul. Bagiku, bisa berinteraksi dengan berbagai macam karakter anak adalah satu anugerah yang sangat luar bisaa. Dari mereka, saya banyak belajar tentang berbagai macam hal; Tentang ketulusan, tentang kepedulian, dan banyak hal lain. Pagi hari, senyum mereka adalah hal yang paling saya tunggu. Ucapan salam yang mereka sampaikan saat menjabat tangan ini adalah penambah energi positif bagi diri untuk bisa menjadi guru yang baik bagi mereka. Murid saya bermacam-macam; ada yang pendiam, aktif, dan sebagainya. Mereka menjadikan hidup saya lebih berwarna. Perhatian mereka, kepedulian mereka akan saya, dan ketulusan mereka merupakan anugerah yang luar bisaa. Senin, 1 Oktober 2012 Hari ini, kami kedatangan beberapa Guru baru, guna mend...

Sunday Morning di Alun-Alun Kota

Akmal Minggu, 30 September di Alun-Alun Kota Purwokerto. Seperti biasa, hari ini saya memacu sepeda dengan penuh semangat. Jalanan masih lengang, hanya beberapa kendaraan roda dua yang sesekali melintas. Namun saya sudah terlanjur janji dengan murid saya untuk bertemu pukul 5.30 tidak jauh dari alun-alun. Hari ini memang lebih pagi dari biasanya. Biasanya saya dan murid mulai bersepeda pada pukul 6 pagi. Namun pagi ini lebih awal karena kami tidak ingin seperti minggu lalu. Minggu lalu kami tidak berhasil menikmati gudeg asli yang ada di Pasar Wage Purwokerto. Pukul 5.20 saya sudah berada di tempat janji bertemu. Faraj dan Akmal masih belum datang. Tidak perlu menunggu terlalu lama, Faraj pun menampakkan batang hidungnya. Namun si Akmal masih belum hadir. Saya dan Faraj memutuskan untuk menunggu Akmal terlebih dahulu. Dan tepat pukul 5.50, Akmal masih belum ada tanda-tanda akan hadir. Saya dan Faraj memutuskan untuk pergi tanpa Akmal. Yupz…berbeda dari biasanya, hari ini h...

Pelabuhan Hatiku Yang Hilang

Sore ini, menjelang berbuka puasa, aku pergi ke kedai nasi yang ada di depan Masjid Fatimatuzzahra. Aku memesan menu favorit kesukaanku, yaitu “ayam selasih”. Pesananku sedang disiapkan, pandanganku tertuju pada seorang muslimah yang mengenakan jilbab berwarna biru muda, dipadu padan dengan gamis panjang hingga mata kakinya. Mataku seolah tidak ingin berhenti untuk menatapnya. Ada rasa yang secara tiba-tiba menyeruak di dalam dada, sebuah rasa yang aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hatiku. Inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama? Saat lamunan sedang menggunung di dalam benakku, kemudian aku dikejutkan oleh sapaan seorang anak kecil, “Ustadz Adam,” “Astaghfirullah,” aku mengucapkan istighfar atas apa yang baru saja kulakukan. Tidak seharusnya aku menatap muslimah yang ada di depanku dengan pandangan seperti itu. Tuhan sangat tidak menyukai apa yang baru saja kulakukan. Aku tidak menjaga pandanganku. Seharusnya aku bisa menjaga panda...

Kritik dan Saran itu "Perlu"

“Tidak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan itu hanya milik Allah.” Mungkin itu kata yang tepat untuk saya ungkapkan di depan mereka. Iya, tidak ada manusia yang sempurna dan bukan berarti dengan ketidak sempurnaan itu seseorang lantas tidak bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, kan? Pun dengan saya. Bukan berarti karena saya seorang “Guru”, lantas apa yang saya lakukan adalah “benar”. Mungkin pernah ada murid yang tersakiti dengan ucapan saya, tingkah laku saya, dan lain sebagainya. Saya sengaja menyebarkan angket kepada murid-murid tentang “Kesalahan” apa yang pernah saya lakukan pada mereka?, “Kritik dan Saran” yang mungkin selama ini mereka tidak berani untuk mengungkapkan, maka kali ini saya beri mereka kesempatan untuk mengungkapkannya dalam selembar kertas. Selembar kertas yang mana isinya nanti akan jadi perbaikan diri, agar saya bisa menjadi Guru yang baik bagi mereka, bisa menjadi teladan yang baik. Karena “Guru yang baik adalah guru yang...

Ketika Maaf Menjadi Akhir

Laki-laki berusia senja itu terus menangis, mendengar ocehan menantunya yang terus menusuk ke dalam hatinya. Kata-kata yang diucapkan oleh menantunya itu begitu memilukan hatinya. Ia terus menangis. Sementara laki-laki tua renta itu menangis, wanita yang sedari tadi sibuk dengan amarahnya membalut semua pakaian mertuanya dengan sehelai kain kemudian melemparkannya ke hadapan laki-laki paruh baya di hadapannya. “Pergi dari sini, dan silahkan cari tempat tinggal lain. Bapak bisa tinggal di rumah anak Bapak yang lain. Mala tidak ingin melihat Bapak di rumah ini lagi.” Mendengar ucapan menantunya, sang kakek hanya bisa diam sambil menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti. Anak laki-laki sang kakek tidak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya melihat istrinya yang kerasukan memarahi ayahnya yang sudah renta, dan itu sudah menjadi kejadian biasa di hadapannya. Ia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghentikan amarah istrinya yang kerap kali meledak hanya karena masalah-...

Senjaku Yang Hilang

“Nak, kamu mau kan menemui ayahmu?” Aku tidak ingin menjawab pertanyaan Ibu, aku masih enggan untuk memberikan maaf pada laki-laki yang dulu pernah kupanggil “Ayah”. Aku sudah pernah berjanji pada diriku bahwa aku tidak akan pernah mau menerima kehadirannya kembali dalam hidupku setelah apa yang dia lakukan pada Ibu. Aku tidak pernah berharap dia kembali dalam kehidupanku. Aku bahkan tidak pernah ingin menyambut kedua tangannya yang sudah dipenuhi garis-garis kehidupan. Dia sudah tua renta dan aku berharap dia segera pergi meninggalkan dunia ini, agar aku tidak lagi bertemu dengannya. “Tara….” Aku tersentak dari lamunan kebencianku, kemudian melihat Ibu yang tersenyum menahan sakit yang ia derita. “Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?” Aku hanya menggelengkan kepalaku tanpa menjawab pertanyaan Ibu. Aku tidak ingin jika Ibu tahu tentang apa yang sedang ada dalam benakku. Karena aku tahu Ibu tidak akan pernah suka jika kebencian ini terus bersarang dalam hatiku. I...