Skip to main content

Posts

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia Itu Sederhana (2) Bukan permata yang kupinta darimu Bukan juga mobil mewah seperti milik tetangga Namun, senyum bahagia itu yang selalu kunanti darimu . Seperti biasa, pagi ini Bang Ucup mendorong gerobak sayurnya keliling komplek Bancar Kembar, membawa beraneka ragam sayur mayur bagi warga komplek. Kangkung segar, bayam, sawi, semuanya masih terlihat segar dan sedap dipandang mata. Sebagian dari sayuran yang dia jual adalah hasil tanamannya sendiri. Dia menanam sendiri berbagai macam sayur itu di belakang rumahnya. Ibu-ibu menghampirinya dan membeli kebutuhan hari ini. Hampir semua warga komplek mengenalnya. Suaranya sudah dihapal dengan baik oleh warga komplek. Sehari saja dia tidak datang dengan gerobak sayurnya, maka seluruh komplek pasti tahu akan hal itu. Pagi hari akan terasa berbeda tanpa suara khasnya yang serak-serak basah. Anak-anak kecil sangat senang menyapa Bang Ucup, sebagian kadang menunggunya hanya sekedar ingin mendengarkan cerita-cerita lucu yang...

Senyum Bidadariku

Senyum Bidadariku (1) Bidadariku, Engkau jadikanku belahan jiwamu Kita berjanji akan menjalani hidup ini dengan penuh cinta Selayaknya Adam dan Hawa yang hidup penuh dengan Cinta Bidadariku, menjadi pendamping hidupmu adalah impian terbesarku. Semesta tersenyum bahagia, melihat dua anak manusia sedang bahagia merayakan cinta. Dua anak manusia yang sedang dilanda cinta, dan menyatukan cinta mereka di atas pelaminan. Evan menatap wajah wanita yang ada di sampingnya. Wajah itu memesonannya, ingin rasanya ia mencubit pipi wanitanya yang sekarang sudah sah menjadi pendamping hidupnya. Keduanya berjanji akan menjalani hidup bersama, berbagi suka maupun duka. Sebuah janji yang diucapkan setelah ijab kabul disahkan oleh Pak Penghulu dan saksi dari pihak kedua mempelai. Winda, ia adalah bidadari yang sedang mengenakan kebaya berwarna putih, bergaris-garis hitam dan duduk di samping laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya. Senyum tak henti-hentinya merekah dari bibirnya...

Koloni Milanisti (a novel)

Judul : Koloni Milanisti  -Sebuah Hidup di Atas Mimpi- Penulis : Siwi Mars Wijayanti Penerbit : Leutika Prio Jml Hal : 317 halaman Harga : 55 ribu (sudah termasuk ongkir Indonesia) Pemesanan bisa dilakukan melalui email :  mars_manuel@yahoo.com -Kuberitahu satu hal, bila engkau mempunyai impian, maka agar impian itu menjadi nyata engkau harus membelinya dengan kredit sampai lunas dibayar. Karena Tuhan selalu pintar melabel harga setiap ”barang-barang” yang kita inginkan.  Aku selalu berpikir bahwa Ia tidak akan memberikan hal yang kita inginkan dengan cuma-cuma, bukan karena Ia pelit tapi karena ada banyak hal yang jauh lebih bermakna pada proses perjalanan mencapainya, bahkan terkadang lebih penting dari hasil akhir itu sendiri - (Koloni Milanisti) Mars, seorang perempuan dari kampung kecil ini merasa bersyukur karena pernah terserang penyakit gila, yap, penyakit gila bola. Karena sepakbola itulah yang membuatnya bertemu dengan tiga lelaki rahasia dal...

Tentang Tato

Bermula dari tweets saya yang membahas tentang tato, sekarang saya ingin menjadikannya sebuah artikel. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui, atau menghakimi orang-orang yang mempunyai tato. Tulisan ini dari sudut pandang agama (Islam) dan medis. Tentunya ini hanya sebatas pengetahun saya saja. Saya pernah menanyakan alasan bertato kepada teman-teman yang mempunyai tato. Sebagian besar jawabannya adalah “seni, keren, punya makna tersendiri, laki banget, dan sebagainya” . Tato tidak hanya digemari Kaum Adam, namun Kaum Hawa pun juga menggemari tato. Saya pernah membaca, tato berasal dari bahasa Tahiti “tatu” yang berarti “tanda”. Para ahli menyimpulkan bahwa tato sudah ada sejak tahun 12.000 Sebelum Masehi.  Lantas bagaimana Islam memandang tato?  Sumber hukum utama dalam Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Keduanya sebagai landasan utama umat Islam hidup. Allah swt. memberikan kita pedoman dalam menjalani hidup. Di dalam Al-Qur’an, surat An-Nisa ayat...

Keabadian

  “Sudah berapa kali khatam Al-Qur’an?” tanya Pak Ihsan pada Rahman, putranya yang baru pulang dari pesantren. “Hampir setiap bulan Rahman mengkhatamkan Al-Qur’an” jawabnya. “Alhamdulillah, berarti Rahman harus mengajarkan ilmu yang sudah didapat di pondok ke bapak. Bacaan Al-Qur’an bapak masih jauh dari kata sempurna.” “Insya Allah, Pak”   “Selama di pesantren, kami diajarkan bagaimana cara membaca Al-Qur’an dengan baik oleh ustadz. Setiap ba’da maghrib, kami membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang terdiri dari sepuluh orang santri. Di setiap lingkaran tadi, ada seorang ustadz atau santri senior yang membimbing kami membaca Al-Qur’an. Para ustadz dan kakak tingkat membimbing kami dengan penuh kesabaran. Rahman bahagia bisa masuk pesantren.”  Pak Ihsan tersenyum bahagia mendengar cerita putranya. Tidak sia-sia dia menyekolahkannya ke pondok pesantren. Baru satu tahun Rahman menjadi santri, sudah banyak kemajuan yang dia dapatkan. Disela-sela waktu b...