Skip to main content

Posts

Senyum Bidadariku

Senyum Bidadariku (1) Bidadariku, Engkau jadikanku belahan jiwamu Kita berjanji akan menjalani hidup ini dengan penuh cinta Selayaknya Adam dan Hawa yang hidup penuh dengan Cinta Bidadariku, menjadi pendamping hidupmu adalah impian terbesarku. Semesta tersenyum bahagia, melihat dua anak manusia sedang bahagia merayakan cinta. Dua anak manusia yang sedang dilanda cinta, dan menyatukan cinta mereka di atas pelaminan. Evan menatap wajah wanita yang ada di sampingnya. Wajah itu memesonannya, ingin rasanya ia mencubit pipi wanitanya yang sekarang sudah sah menjadi pendamping hidupnya. Keduanya berjanji akan menjalani hidup bersama, berbagi suka maupun duka. Sebuah janji yang diucapkan setelah ijab kabul disahkan oleh Pak Penghulu dan saksi dari pihak kedua mempelai. Winda, ia adalah bidadari yang sedang mengenakan kebaya berwarna putih, bergaris-garis hitam dan duduk di samping laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya. Senyum tak henti-hentinya merekah dari bibirnya...

Koloni Milanisti (a novel)

Judul : Koloni Milanisti  -Sebuah Hidup di Atas Mimpi- Penulis : Siwi Mars Wijayanti Penerbit : Leutika Prio Jml Hal : 317 halaman Harga : 55 ribu (sudah termasuk ongkir Indonesia) Pemesanan bisa dilakukan melalui email :  mars_manuel@yahoo.com -Kuberitahu satu hal, bila engkau mempunyai impian, maka agar impian itu menjadi nyata engkau harus membelinya dengan kredit sampai lunas dibayar. Karena Tuhan selalu pintar melabel harga setiap ”barang-barang” yang kita inginkan.  Aku selalu berpikir bahwa Ia tidak akan memberikan hal yang kita inginkan dengan cuma-cuma, bukan karena Ia pelit tapi karena ada banyak hal yang jauh lebih bermakna pada proses perjalanan mencapainya, bahkan terkadang lebih penting dari hasil akhir itu sendiri - (Koloni Milanisti) Mars, seorang perempuan dari kampung kecil ini merasa bersyukur karena pernah terserang penyakit gila, yap, penyakit gila bola. Karena sepakbola itulah yang membuatnya bertemu dengan tiga lelaki rahasia dal...

Tentang Tato

Bermula dari tweets saya yang membahas tentang tato, sekarang saya ingin menjadikannya sebuah artikel. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui, atau menghakimi orang-orang yang mempunyai tato. Tulisan ini dari sudut pandang agama (Islam) dan medis. Tentunya ini hanya sebatas pengetahun saya saja. Saya pernah menanyakan alasan bertato kepada teman-teman yang mempunyai tato. Sebagian besar jawabannya adalah “seni, keren, punya makna tersendiri, laki banget, dan sebagainya” . Tato tidak hanya digemari Kaum Adam, namun Kaum Hawa pun juga menggemari tato. Saya pernah membaca, tato berasal dari bahasa Tahiti “tatu” yang berarti “tanda”. Para ahli menyimpulkan bahwa tato sudah ada sejak tahun 12.000 Sebelum Masehi.  Lantas bagaimana Islam memandang tato?  Sumber hukum utama dalam Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Keduanya sebagai landasan utama umat Islam hidup. Allah swt. memberikan kita pedoman dalam menjalani hidup. Di dalam Al-Qur’an, surat An-Nisa ayat...

Keabadian

  “Sudah berapa kali khatam Al-Qur’an?” tanya Pak Ihsan pada Rahman, putranya yang baru pulang dari pesantren. “Hampir setiap bulan Rahman mengkhatamkan Al-Qur’an” jawabnya. “Alhamdulillah, berarti Rahman harus mengajarkan ilmu yang sudah didapat di pondok ke bapak. Bacaan Al-Qur’an bapak masih jauh dari kata sempurna.” “Insya Allah, Pak”   “Selama di pesantren, kami diajarkan bagaimana cara membaca Al-Qur’an dengan baik oleh ustadz. Setiap ba’da maghrib, kami membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang terdiri dari sepuluh orang santri. Di setiap lingkaran tadi, ada seorang ustadz atau santri senior yang membimbing kami membaca Al-Qur’an. Para ustadz dan kakak tingkat membimbing kami dengan penuh kesabaran. Rahman bahagia bisa masuk pesantren.”  Pak Ihsan tersenyum bahagia mendengar cerita putranya. Tidak sia-sia dia menyekolahkannya ke pondok pesantren. Baru satu tahun Rahman menjadi santri, sudah banyak kemajuan yang dia dapatkan. Disela-sela waktu b...

Roudlotul Ulum

Juni 2007 Hari ini suasana pesantren berbeda dari biasanya. Banyak tamu undangan yang datang ke pesantren; wali santri, pejabat pemerintahan, tetua desa, dan masyarakat yang ada di sekitar pesantren. Sebuah panggung berukuran sedang berada di dalam gedung pesantren. Sebagian santri sedang berjalan menuju ke depan panggung, sebagian sudah duduk rapi di kursi yang sudah disediakan. Wisuda kelulusan, hari ini adalah hari kelulusanku. Aku dan teman-teman satu angkatan sudah memakai seragam batik berwarna kuning dan sarung berwarna hijau. Ibu sengaja datang ke pesantren untuk menghadiri wisuda kelulusanku. Tidak terasa, enam tahun sudah aku menuntut ilmu di pesantren ini. Aku menyebutnya “Taman Surga”. Di sinilah aku menuntut ilmu. Masih kuingat pertama kali aku datang ke pesantren ini, aku menangis karena tidak bisa jauh dari ayah dan ibu. Selimut berwarna putih, bergaris-garis warna hitam itu menjadi saksi perjuanganku menahan rindu. Selimut putih itu yang kugunakan untuk...