Skip to main content

Posts

Senja

Senja, aku masih duduk di tempat yang sama, tempat di mana kita pertama kali bertemu. Masih kuingat masa-masa itu, engkau menaiki sepeda ontel tua milikmu, menggunakan jilbab putih bermotif bunga matahari. Engkau terjatuh di depan gerbang perpustakaan saat menghindar dari seekor kucing yang tiba-tiba menyeberang jalan, kemudian aku datang dan membantumu berdiri, dan engkau mengucapkan kata-kata yang masih kuingat hingga saat ini. ‘Syukron, Jazaakumullah’ Aku memintamu untuk mengulangi kalimat itu, karena untuk pertama kalinya ada orang yang mengucapkan kalimat itu kepadaku, dan setelah tiga kali mengulangi, barulah engkau menjelaskan bahwa kalimat itu adalah ucapan terimakasih dan semoga Allah membalasnya. Aku tersenyum mendengar kalimat itu, singkat dan penuh makna. Setelah kejadian itu, kita sering bertemu meski tidak pernah berjanji untuk bertemu, kita bertemu di tempat di mana sekarang aku sedang duduk, di depan perpustakaan umum daerah. Sebelum bertemu denganmu, aku memang suda...

Cinta Damar

Bangunan itu terlihat begitu megah, dengan dekorasi yang indah menawan, berbagai macam lukisan menghiasi dinding-dinding yang ada di ruang utama, berbagai macam tulisan kaligrafi juga menambah kesejukan mata memandangnya, lampu hias yang warna-warni menerangi seluruh penjuru ruangan, di pintu masuk ruang utama, ada tulisan yang berwarna hijau daun dan keemasan. “Ucaplah salam sebelum masuk” ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ Tepat di gagang pintu, ada tulisan kaligrafi berukuran kecil berwarna biru langit, ‘ Bismillahirrahmanirrohim’ Siapapun akan merasa tenang jika memasuki ruang utama itu, ruangan itu cukup luas, ruang utama tersebut merupakan bagian dari bangunan asrama mahasiswa, di ruangan ini lah biasanya mahasiswa melakukan kegiatan bersama, diskusi ilmiah, bedah  buku, rapat dan sebagainya. Namun, sudah beberapa malam ini, ruangan utama itu berubah fungsi, bukan kegiatan diskusi ilmiah yang dilakukan, bukan juga bedah buku. Akan tetapi ruangan utama sudah di...

Bunga Cinta Patrem

Sore itu, saat semua orang menyibukkan diri dengan hasil jaring ikan yang mereka pasang di lautan, mereka melepaskan satu persatu ikan-ikan yang terjebak di jaring, seorang pemudi duduk santai di ujung perahu kecil yang sudah rapuh yang terletak di pinggir pantai, kakinya berayun-ayun, jilbab ungu yang ia kenakan serasi dengan warna perahu yang juga berwarna ungu. Ia sedang membaca sebuah buku “Taman Orang Jatuh Cinta dan Tamasya Orang Yang Terbakar Rindu” yang merupakan terjemahan dari kitab “ Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin ” karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Dia membaca lembar demi lembar buku itu, ia berhenti lama pada bait-bait syair yang meneduhkan hatinya, sekaligus menggambarkan isi hatinya saat ini. Aku tidak mengerti mengapa cinta harus dicaci Entah mata yang telah buta atau hati yang telah mati Mengapa harus aku caci hati yang tidak melihat? Tapi, jika kucerca mata, justru hati yang berdosa Mata dan hati membuatku terbagi Ya Rabbi, berilah perlindungan untuk mata dan ...

Faiz

Malam semakin gelap, hujan rintik-rintik membasahi bumi, pemuda itu masih duduk di bagian pojok masjid memegang Kitab suci yang berisikan firman-firmanNya, sementara anak muda lain sedang asik bermain gitar, bernyanyi, seolah-olah tidak mendengar kumandang adzan yang dikumandangkan begitu merdu oleh seorang ‘muadzin’ yang menyeru mereka untuk lekas ke masjid dan melaksanakan shalat maghrib berjama’ah. Iya terus membaca ayat demi ayatNya dengan khusu’, sesekali ia terlihat menghapus air matanya yang jatuh ketika membaca ayat-ayat yang bermaknakan tentang ‘adzab, kemudian dia tersenyum ketika membaca ayat-ayat yang menceritakan balasan bagi orang-orang yang beramal sholih. Lantunan ayat suci yang ia baca terdengar sampai ke rumah tetangga, membuat anak-anak muda yang sedang bermain gitar dan bernyanyi merasa tertanggu. “Mas, kalo mau ngaji jangan keras-keras lah, ucap salah seorang pemuda dari depan masjid”. Mendengar teguran itu, pemuda yang ada di masjid mengucapkan maaf dan langsun...

Farrel

Gemuruh suara angin disertai hujan saling bersahutan, angin kencang  memporak porandakan bangunan-bangunan yang ada di depannya, pohon-pohon pun ikut tumbang. Sementara angin dan hujan bergemuruh, terdengar suara orang-orang meminta tolong, entah kepada siapa mereka meminta tolong, beberapa anak kecil terlihat sedang terbawa arus air, mereka berteriak meminta tolong, namun tidak ada satu pun yang menolong, semua orang sedang sibuk dengan nasib masing-masing, semua orang sedang sibuk mencari cara untuk bertahan, mencari tempat untuk berlindung agar terhindar dari amukan angin dan hujan. Sementara Farrel, yang tadinya sedang bercocok tanam di lereng bukit, sekarang terpaksa menghentikan kegiatannya, ia berlari menjauh dari pepohonan, ia menundukkan badannya serata tanah, dan menyebut asmaNya, mengharapkan pertolongan kepada yang maha memberi pertolongan, beberapa kali kalimat “Tasbih” ia ucapkan , “istighfar” , serta membaca ayat-ayat yang mampu untuk ia baca. Dalam keadaan ini ia ...

Anggia

Dalam kegelapan malam, ia menyendiri di sebuah kamar bekas gudang, matanya merah, bengkak karena terlalu banyak meneteskan air mata, pipi sebelah kanannya terlihat biru bekas pukulan, sambil menahan sakit bagian kakinya yang disiram air panas oleh ayah kandungnya sendiri, ia mengadukan semua keluh kesahnya kepada Allah Tuhannya. Suara anak itu terdengar lirih, ia khusu’ bermunajat kepada Allah, seperti yang diajarkan oleh Guru Agamanya di sekolah, tiada tempat mengadu selain kepadaNya. Anggia, ia seorang anak yang berbakti kepada Orang Tuanya, ia tidak pernah membantah perintah kedua Orang Tuanya, akan tetapi meski demikian, Ayahnya terlalu sering menyakiti hatinya, terlalu sering membuat goresan demi goresan di tubuh mungilnya. Diusianya yang masih sembilan tahun, entah sudah berapa kali tangan Ayahnya mengenai pipinya, entah sudah berapa kali kaki Ayahnya menendang tubuh kurus miliknya, sudah tidak terhitung lagi rasanya. Kerap kali hanya karena perkara sepele, Ayahnya menghadiahiny...

Sulma

Ada  yang berpendapat bahwa cinta itu tumbuh karena sudah ditetapkan untuk tumbuh dan bukan pilihan. Mereka mengatakan hal ini serupa dengan keinginan manusia untuk minum air ketika merasakan haus, atau keinginan makan ketika merasakan lapar. Keadaan ini tidak dapat disangkal ataupun dibendung oleh manusia. Lantas bagaimana dengan cintaku pada Sulma?, kami memiliki keyakinan yang berbeda, aku memeluk Islam sebagai Agamaku, sementara dirinya berkeyakinan Kristen.  Apakah ini sudah takdirku untuk mencintainya yang berbeda keyakinan denganku? Ataukah hanya aku yang telah salah memilih hati yang ingin kujadikan belahan jiwaku? Aku berdiam diri merenungi cinta yang sedikit demi sedikit tumbuh dilubuk hatiku, aku juga sudah mulai terbiasa dengan cibiran tetangga, celaan teman-teman satu kantor tentang cintaku kepadanya. Mereka mencibirku karena aku mencintainya yang non muslim, mereka membacakan dalil-dalil untuk meyakinkanku bahwa aku sedang di jalan yang salah. Aku tidak m...