Skip to main content

Anggia

Dalam kegelapan malam, ia menyendiri di sebuah kamar bekas gudang, matanya merah, bengkak karena terlalu banyak meneteskan air mata, pipi sebelah kanannya terlihat biru bekas pukulan, sambil menahan sakit bagian kakinya yang disiram air panas oleh ayah kandungnya sendiri, ia mengadukan semua keluh kesahnya kepada Allah Tuhannya. Suara anak itu terdengar lirih, ia khusu’ bermunajat kepada Allah, seperti yang diajarkan oleh Guru Agamanya di sekolah, tiada tempat mengadu selain kepadaNya.

Anggia, ia seorang anak yang berbakti kepada Orang Tuanya, ia tidak pernah membantah perintah kedua Orang Tuanya, akan tetapi meski demikian, Ayahnya terlalu sering menyakiti hatinya, terlalu sering membuat goresan demi goresan di tubuh mungilnya. Diusianya yang masih sembilan tahun, entah sudah berapa kali tangan Ayahnya mengenai pipinya, entah sudah berapa kali kaki Ayahnya menendang tubuh kurus miliknya, sudah tidak terhitung lagi rasanya. Kerap kali hanya karena perkara sepele, Ayahnya menghadiahinya dengan sebuh pukulan. Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa, tiap kali Ibundanya mencoba untuk menghentikan kekerasan yang dilakukan Ayahnya, tiap kali itu pula Ibunya akan mendapatkan perlakuan yang sama dari Ayahnya.

Ya Allah, dengarlah do’aku, Anggia sangat mencintai Ayah dan Bunda
Jangan Engkau jadikan keluarga ini keluarga yang jauh dari cahayaMu
Aku ingin melihat Ayah bahagia dan tersenyum setiap hari
Ya Allah, Anggia belum bisa membuat Ayah tersenyum
Izinkan aku melihat senyum itu

Sebuah do’a yang ia akhiri dengan tetesan air mata, setiap malam, ia bangun dan mengadu kepadaNya. Ia tidak pernah meninggalkan Shalat, ia sering berpuasa. Akan tetapi tidak dengan Ayahnya, jangankan untuk berpuasa, shalat pun Ayahnya tidak tahu bagaimana caranya.

Matahari kembali bersinar menerangi bumi, pepohonan nan hijau menghiasi sebuah lapangan yang ada di depan rumah Anggia, burung-burung terbang kesana-kemari mencari makan, kupu-kupu terlihat sedang asik menikmati sari madu bunga di halaman rumahnya. 

Seperti biasa, setiap hari Anggia pergi ke sekolah berjalan kaki, Ia melangkahkan kakinya meski dalam keadaan sakit karena disiram air panas oleh Ayahnya, ia berusaha tersenyum meski menahan sakit pipinya yang membiru karena tamparan Ayahnya. Diperjalanan menuju sekolah, banyak teman yang bertanya kepadanya.

Kakimu kenapa Anggia? Tanya seorang anak ketika melihatnya berjalan pincang
Nggak apa-apa, hanya keseleo sedikit, ntar juga sembuh.

Terus seperti itu, ia tidak pernah menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada siapapun, tidak kepada teman sekelasnya, tetangga, ataupun Guru di sekolah. Di sekolah, Anggia bukanlah anak yang cerdas, dia memang susah dalam memahami pelajaran, dan kerap kali karena dia tidak pernah mendapat juara kelas, menjadi alasan Ayahnya untuk memberinya hadiah dengan caci maki, bahkan memukul.

Ayah, Anggia bukan tidak berusaha untuk jadi lebih baik
Anggia juga bukan tidak berusaha untuk jadi seperti yang ayah inginkan
Anggia sedang mencoba untuk jadi lebih baik
Menjadi anak yang ayah dambakan
Tapi, beri Anggia waktu untuk mewujudkan itu

Anggia menuliskannya dibuku diary miliknya. Setiap pulang sekolah, ia membantu Ibunya membersihkan rumah, dimulai dari menyapu halaman, cuci piring berdua dengan Ibundanya, memasak, ia bahagia bisa melakukan semua itu bersama Bundanya. Akan tetapi kebahagiaan itu akan berubah jika Ayahnya sudah kembali ke rumah.

Suara klakson mobil terdengar dari luar rumah. Ayah pulang, ia berlari ke luar rumah dan membukakan pintu gerbang, karena badannya yang kecil, ia lamban membukakan pintu.

Kamu bisa buka pintu nggak? Lambat sekali, Ayahnya memakinya.
Maaf Yah

Setelah pintu terbuka, dan Ayahnya keluar dari mobil, Anggia menghampiri mobil Ayahnya untuk menyambut tangannya, akan tetapi bukan senyuman, bukan juga uluran tangan yang ia dapatkan, hanya sebuah senyum kecut sebuah kebencian yang ia dapatkan. Ayahnya berlalu begitu saja tanpa memperdulikannya yang berdiri menyambut kedatangan sang Ayah. Air matanya kembali menetes

Ya Allah, apa salah Anggia sehingga Ayah begitu membenciku
Ampuni Anggia ya Allah

Do’a itu ia ucapkan setelah selesai melaksanakan shalat Ashar bersama dengan Bundanya, sedangkan Ayahnya duduk di ruang kerja pribadinya, sedang serius mengerjakan tugas kantor yang mungkin belum selesai. Anggia masuk dan membawakan segelas air putih dan meletakkannya di meja kerja sang Ayah. Kembali, ayahnya acuh kepadanya, seolah-olah tidak melihat kehadirannya.

Malam kembali menjelang, bintang-bintang kembali menghiasi malam, rembulan kembali menyinari gelapnya malam, putri kecil itu duduk di dekat jendela, memandang ke luar jendela, melihat kerlap-kerlip bintang di langit, menghirup udara yang semilir memasuki kamarnya. Sebuah buku diary ada di tangannya. Ia menuliskan beberapa bait kalimat untuk Ayah.

Pagiku tidak akan sempurna jika tanpamu Ayah
Malamku juga tidak akan indah bila aku tidak melihatmu
Ayah, aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku sangat mencintaimu
Aku hanya berharap, suatu hari nanti, Ayah akan tersenyum melihatku
Terimakasih atas goresan cinta yang engkau berikan kepadaku.
Anggia

Comments

  1. hooo critana hampirrrr... boleh g crita ini gw posting di fb gw... ??

    ReplyDelete
  2. dengan senang hati. silahkan di posting :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan

Popular posts from this blog

Memilih Antara Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri: Pertimbangan Orangtua dalam Pendidikan Anak

Pendidikan adalah salah satu aspek paling penting dalam perkembangan anak-anak kita. Sejak dini, kita sebagai orangtua dihadapkan dengan pilihan yang signifikan: memilih antara sekolah swasta dan sekolah negeri untuk anak-anak kita. Keputusan ini seringkali tidak mudah, karena melibatkan banyak faktor yang harus dipertimbangkan secara cermat. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi berbagai pertimbangan yang sering menjadi dasar pilihan orangtua, serta analisis mendalam mengenai perbedaan, kelebihan, dan kelemahan dari kedua jenis pendidikan ini. Perbedaan Antara Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri Sebelum kita memasuki pembahasan lebih mendalam, ada baiknya untuk memahami secara jelas perbedaan mendasar antara sekolah swasta dan sekolah negeri. 1. Pendanaan dan Kepemilikan: Sekolah Negeri: Didanai dan dioperasikan oleh pemerintah setempat atau pemerintah pusat. Mereka biasanya tidak mengenakan biaya pendidikan (atau mengenakan biaya yang sangat terjangkau) dan didirikan untuk memastik...

Navigating the Uncharted Waters: Unique Mental Health Challenges Faced by Young Muslims

Mental health awareness has gained prominence in recent years, shedding light on the diverse challenges faced by different communities. For young Muslims, there are distinctive mental health hurdles that often go unnoticed. As they balance their faith, cultural backgrounds, and the demands of modern society, young Muslims encounter a unique set of challenges that impact their mental well-being. This article explores some of these challenges and offers insights into addressing them. Islamophobia and Discrimination One of the prominent challenges young Muslims face is Islamophobia and discrimination. The rise of hate crimes, negative media portrayals, and cultural bias can lead to feelings of isolation and anxiety among young Muslims. Experiencing discrimination can undermine their self-esteem and contribute to heightened stress levels. Identity Confusion Navigating the complexities of identity is a common struggle for young Muslims. They often grapple with questions about their...

Kepemimpinan Perempuan dalam Sejarah Peradaban Islam: Inspirasi dari Para Pahlawan

Sejarah peradaban Islam yang kaya tidak hanya melibatkan figur-figur laki-laki yang terkenal, tetapi juga banyak wanita yang memainkan peran penting dalam menginspirasi dan membentuk masa depan umat Islam. Kepemimpinan perempuan dalam sejarah Islam tidak hanya mencakup peran sebagai ibu, istri, atau sahabat, tetapi juga sebagai pemimpin politik, ilmuwan, filosof, dan aktivis sosial yang berpengaruh. Berikut beberapa contoh nyata dari kepemimpinan perempuan dalam sejarah peradaban Islam: 1. Aisyah binti Abu Bakar Aisyah binti Abu Bakar adalah istri Nabi Muhammad SAW yang memiliki peran penting dalam menyebarkan dan mengajarkan hadis-hadis Nabi. Dilahirkan sekitar tahun 614 Masehi, Aisyah dikenal karena kecerdasannya dalam memahami ajaran Islam dan berbagai aspek kehidupan pada masa itu. Dia menikah dengan Nabi Muhammad pada usia muda dan menjadi salah satu istri yang paling dekat dengannya. Selain sebagai istri dan teman setia Nabi, Aisyah juga dikenal sebagai seorang pendidik dan cende...