Skip to main content

I am (not) Ustadz


Apa yang ada di dalam benak kalian ketika mendengar kata “Ustadz”?

Mungkin apa yang ada di dalam benak kalian juga sama dengan apa yang ada di dalam benak saya. Ketika mendengar itu, saya langsung berimajinasi bahwa sosok Ustadz adalah seseorang yang alim, yang rajin mengisi berbagai kajian, dengan penampilan baju koko, lengkap dengan peci (mungkin hehe).

Saya adalah salah satu yang mendapat sapaan “Ustadz” dari orang-orang yang ada di sekitar saya. Biar saya jelaskan awal mula saya mendapatkan panggilan ini.

Bermula dari aturan sekolah, dimana anak-anak harus memanggil dengan panggilan Ustadz/Ustadzah kepada guru-gurunya, saya pun akhirnya dipanggil Ustadz. Bagaimana perasaan saya saat pertama kali dipanggil Ustadz? Deg-degan serius kemudian ada beban yang seolah-olah berat sekali untuk dipikul. 

Percaya atau tidak, saya pun akhirnya berusaha untuk memantaskan diri dengan panggilan itu; saya berusaha untuk memperbaiki perilaku saya, berusaha beribadah dengan baik, berusaha berpenampilan sesuai syariat dan berusaha untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Ada malu yang begitu besar di dalam diri, jika saya tidak bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak didik saya. dan panggilan Ustadz juga mengambil peran akan motivasi diri untuk berubah menjadi lebih baik.

Saya berbincang dengan bagian bersih-bersih di sekolah, bagaimana perasaan mereka ketika dipanggil “Ustadz”, dan ternyata mereka juga merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan. Mereka juga mendapatkan sebuah motivasi untuk terus menjadi lebih baik lagi. Mungkin inilah salah satu cara Tuhan untuk menjaga diri saya dengan baik, dengan cara dipanggil “Ustadz” oleh orang-orang yang ada di sekeliling saya.

Awalnya hanya di sekolah panggilan “Ustadz” saya dapatkan, selanjutnya oleh orang-orang yang ada di sekeliling saya, ditambah lagi saya menjadi imam di masjid besar. Lengkap sudah panggilan itu melekat pada diri saya.

Lantas bagaimana perasaan saya saat hampir semua orang yang ada di sekeliling saya memanggil saya Ustadz? Padahal pengetahuan saya akan Agama masih jauh dari kata baik. Bahkan sampai hari ini saya tidak mempunyai keberanian untuk mengisi kajian-kajian, bahkan sampai hari ini saya tidak pernah khutbah di masjid yang saya Imami, bahkan sampai hari ini saya tidak banyak hafal hadits dan dalil-dalil Al Quran. Semua masih jauh dari kata baik.

Akan tetapi, saya menyadari satu hal, bahwa kita tidak bisa membeli panggilan “Ustadz”, itu adalah sebuah penghormatan orang-orang yang ada di sekitar kita, bukan? Dan saya selalu berusaha untuk memantaskan diri menjadi hamba yang baik di hadapan Allah SWT. Allah menjaga saya dengan panggilan ini, Allah menjadikan saya semakin taat dengan panggilan ini. 

Saya akan berkata jujur pada kalian, kadang untuk melakukan suatu kebaikan kita perlu dipaksa terlebih dahulu.
“Bagaimana agar bisa shalat tahajud rutin, Ustadz?” Tanya salah seorang mahasiswa yang ada di sekeliling saya.
Saya tersenyum, kemudian menjawab “Just do it,” kemudian diikuti dengan kerutan di wajah pemuda tersebut. Saya lanjut menjelaskan.

“Caranya, ya, lakukan saja. Paksain aja. Terus demikian, semakin lama kita akan terbiasa bangun malam untuk shalat, kemudian mulai merasakan itu adalah bagian dari diri kita dan akhirnya bisa ikhlas menjalankannya karena Allah SWT. Berawal dari paksaan, terbiasa, kemudian menjadi cinta. Perlu perjuangan, memang,” jawab saya sok puitis, dan pemuda tersebut ikut tersenyum.
Maksud saya begini, mungkin saja karena panggilan Ustadz yang melekat pada diri saya, saya berusaha untuk taat hanya karena tidak ingin malu di hadapan orang-orang yang ada di sekeliling saya.

Masa Ustadz kok pacaran.
Masa Ustadz nggak shalat jamaah ke masjid
Masa Ustadz shalatnya terlambat
Masa Ustadz bla bla blab la bla

Dan serentet komentar miring yang mungkin akan saya dapatkan jika saya melakukan itu semua. Akan tetapi, berawal dari malu yang ada pada diri karena sudah terlanjur dipanggil “Ustadz”, saya berusaha untuk menjaga diri dengan baik, dan lagi-lagi ini adalah cara Tuhan menjaga diri saya dengan baik.

Pernah, nggak kamu bayangkan, di sebuah restoran saya dipanggil oleh seorang anak kecil “Ustadz Ariannnnn” dengan teriakannya yang lantang dan berhasil membuat orang-orang yang ada di restoran menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah anak kecil yang sedang berlari ke arah saya dengan penuh senyuman dan saya menjabat tangan anak kecil tersebut sambil tersenyum. Awalnya saya canggung dipanggil demikian di muka umum, tapi lagi-lagi inilah cara Tuhan menjaga diri saya dengan baik. Saya selalu meyakini itu seraya terus berusaha menjadi lebih baik lagi di hadapan-Nya.

Saya selalu berusaha memantaskan diri di hadapan Allah SWT., karena saya sadar bahwa saya adalah manusia lemah yang tak punya kuasa, melainkan kehendak-Nya. Dan saya selalu percaya, Tuhan menjaga saya dengan berbagai macam cara-Nya yang kadang sulit untuk saya mengerti. Dan ketika hati sudah mulai merasai cinta akan Ia yang Mahacinta, disanalah letak bahagia sesungguhnya, bahagia karena selalu percaya akan Tuhan.

Satu hal yang harus terus kita usahakan adalah “Menjalankan semua perintah Allah SWT dengan ikhlas, bukan karena mengharapkan pujian dari manusia. Karena kualitas perbuatan seseorang juga dinilai dari keikhlasannya dalam berbuat. Ketika kita melakukan semuanya karena Allah SWT, maka disanalah letak kemulian kita, sebagai hamba yang ikhlas dalam beramal. Namun jika hanya karena manusia, mungkin saja kita akan berpaling dari-Nya disaat tidak ada yang melihat kita beramal baik. Kita hanya beramal baik ketika dilihat oleh manusia semata, selebihnya tak ubahnya seperti orang munafik yang bermuka dua. Na’udzubillah.”

Kebahagiaan hidup sesungguhnya adalah ketika kita selalu berusaha memupuk cinta kepada Tuhan, dan Kesengsaraan sesungguhnya adalah ketika kita jauh dari Tuhan.

Kemana kita akan berpinjak andai Tuhan murka dan mengusir kita dari dunia ini? Tidak ada tempat kita untuk berlindung selain kepada-Nya.
Dipanggil Ustadz ataupun tidak, saya selalu berdoa kepada Allah SWT., semoga saya bisa menjadi salah satu dari hamba-hamba-Nya yang mencintai-Nya dengan tulus. Amin.

Comments

Popular posts from this blog

Memilih Antara Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri: Pertimbangan Orangtua dalam Pendidikan Anak

Pendidikan adalah salah satu aspek paling penting dalam perkembangan anak-anak kita. Sejak dini, kita sebagai orangtua dihadapkan dengan pilihan yang signifikan: memilih antara sekolah swasta dan sekolah negeri untuk anak-anak kita. Keputusan ini seringkali tidak mudah, karena melibatkan banyak faktor yang harus dipertimbangkan secara cermat. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi berbagai pertimbangan yang sering menjadi dasar pilihan orangtua, serta analisis mendalam mengenai perbedaan, kelebihan, dan kelemahan dari kedua jenis pendidikan ini. Perbedaan Antara Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri Sebelum kita memasuki pembahasan lebih mendalam, ada baiknya untuk memahami secara jelas perbedaan mendasar antara sekolah swasta dan sekolah negeri. 1. Pendanaan dan Kepemilikan: Sekolah Negeri: Didanai dan dioperasikan oleh pemerintah setempat atau pemerintah pusat. Mereka biasanya tidak mengenakan biaya pendidikan (atau mengenakan biaya yang sangat terjangkau) dan didirikan untuk memastik...

Navigating the Uncharted Waters: Unique Mental Health Challenges Faced by Young Muslims

Mental health awareness has gained prominence in recent years, shedding light on the diverse challenges faced by different communities. For young Muslims, there are distinctive mental health hurdles that often go unnoticed. As they balance their faith, cultural backgrounds, and the demands of modern society, young Muslims encounter a unique set of challenges that impact their mental well-being. This article explores some of these challenges and offers insights into addressing them. Islamophobia and Discrimination One of the prominent challenges young Muslims face is Islamophobia and discrimination. The rise of hate crimes, negative media portrayals, and cultural bias can lead to feelings of isolation and anxiety among young Muslims. Experiencing discrimination can undermine their self-esteem and contribute to heightened stress levels. Identity Confusion Navigating the complexities of identity is a common struggle for young Muslims. They often grapple with questions about their...

Kepemimpinan Perempuan dalam Sejarah Peradaban Islam: Inspirasi dari Para Pahlawan

Sejarah peradaban Islam yang kaya tidak hanya melibatkan figur-figur laki-laki yang terkenal, tetapi juga banyak wanita yang memainkan peran penting dalam menginspirasi dan membentuk masa depan umat Islam. Kepemimpinan perempuan dalam sejarah Islam tidak hanya mencakup peran sebagai ibu, istri, atau sahabat, tetapi juga sebagai pemimpin politik, ilmuwan, filosof, dan aktivis sosial yang berpengaruh. Berikut beberapa contoh nyata dari kepemimpinan perempuan dalam sejarah peradaban Islam: 1. Aisyah binti Abu Bakar Aisyah binti Abu Bakar adalah istri Nabi Muhammad SAW yang memiliki peran penting dalam menyebarkan dan mengajarkan hadis-hadis Nabi. Dilahirkan sekitar tahun 614 Masehi, Aisyah dikenal karena kecerdasannya dalam memahami ajaran Islam dan berbagai aspek kehidupan pada masa itu. Dia menikah dengan Nabi Muhammad pada usia muda dan menjadi salah satu istri yang paling dekat dengannya. Selain sebagai istri dan teman setia Nabi, Aisyah juga dikenal sebagai seorang pendidik dan cende...