Skip to main content

Posts

Insecure, harus bagaimana?

Tangan kiri yg pernah bikin Insecure :p Pernah merasa insecure nggak sama diri sendiri? Insecure adalah sebuah kondisi mental yang menyebabkan seseorang merasa “ tidak aman ”, dan hal ini bisa berlaku pada banyak hal. Contoh, kita insecure dengan kondisi fisik kita; kita merasa tidak cantik, tidak ganteng, kulit kok kusam amat, kok nggak cerah seperti warna kulit si A dan akhirnya kita menjadi orang yang tidak percaya diri dengan kondisi fisik kita. Bicara masalah ‘ Body Image ’ ini, saya pernah tidak insecure dengan warna kulit di bagian tangan saya sebelah kiri yang hitam, ada bercak warna putih, bercak hitam, pokoknya nggak enak dilihat. Waktu kecil, tangan saya bagian kiri pernah saya celupin di air yang baru mateng alias baru mendidih karena ingin minum. Semacam uji nyali hehe. Al hasil, kulit tangan saya melepuh dari ujung jari sampai ke atas siku. Ketika remaja, ketika zaman-zaman galau, saya menjadi tidak percaya diri kalo memakai baju lengan pendek, tidak ingin oran...

Why should you accept yourself?

“Kenapa saya tidak sesukses dia?” “Kenapa saya tidak sepintar dia? “Kapan saya akan bisa menjadi kaya seperti dia?” “Kenapa dia bisa lebih bahagia dari saya?” “Kenapa hidupnya lebih damai dari saya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering   muncul dalam kehidupan kita. Tidak harus semua, paling tidak ada salah satu yang muncul dalam benak kita. Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali akan muncul ketika kita merasa orang lain lebih beruntung dari kita dalam banyak hal. Seringkali, berawal dari pertanyaan-pertanyaan tersebut hingga akhirnya muncul cemas, insecure , tidak percaya diri, merasa gagal atau bahkan merasa diri tidak bernilai sama sekali. Jika sudah begini, ada dua kemungkinan yang akan terjadi; menjadi orang yang ambisius atau malah menjadi orang yang berhenti di tempat ( staying on the spot ). Seseorang yang tidak bisa menerima diri sendiri ( self acceptance ) akan menjadi orang yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Hal ini yang akan menjadik...

“Datangnya Cuma Pas Butuh”

Apa yang kamu lakukan ketika mendapat pesan tiba-tiba dari orang yang kamu kenal, tapi sudah lama menghilang tidak ada kabar? “ Mas, apa kabar? Ini saya Arjuna, teman kuliah dulu .” Beberapa saat kemudian, setelah nostalgia sebentar tentang masa lalu, dia menulis; “ Saya lagi butuh bantuan, Mas, saya lagi butuh uang, kamu bisa nggak pinjemin. Awal bulan nanti saya ganti .” Jika sudah begini, bagaimana kamu merespon? Saya selalu mengajak orang lain untuk merespon hal-hal begini dengan bijak. Karena memang kita hanya perlu merespon dengan sebaik mungkin. Jika bisa membantu, silahkan membantu, jika tidak bisa membantu, tidak perlu Arjuna menjadi topik penting obrolan dengan teman sekantor; “ Itu loh, Bro, si Arjuna, teman seangkatan kita, lama ngilang, tiba-tiba chat mau pinjem duit, banyak lagi. Ih Ogah .” Tidak perlu juga merespon dengan ucapan-ucapan yang tidak baik, yang malah bisa jadi menyinggung perasaannya, atau bahkan menyakiti. Islam tidak mengajarkan kita demik...

Posisi Manusia; Antara Langit dan Bumi

Allah menciptakan manusia dan memerintahkan malaikat-Nya untuk bersujud, serta memuliakannya dari makhluk Allah yang lain dengan berbagai kemampuan pada akalnya, yang membuatnya mampu mencapai makrifat kepada-Nya. Hal ini dikarenakan manusia mempunyai derajat yang tidak pernah dicapai oleh makhluk yang lain. Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam diri manusia. Dia menciptakan bumi dan menempatkan manusia di dalamnya, serta mempersiapkannya untuk hidup di dalamnya. Dia pun menciptakan tubuh manusia dari unsur bumi.   (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad [38]: 71-72)   Setiap kita terdiri dari unsur jasad dan ruh. Jasad dengan segala kebutuhannya menarik manusia ke bumi. Adapun ruh, ia membawanya naik ke langit. Setiap kali mendekat ke bumi, ia semakin jauh dari langit, sehingga hubungannya dengan Allah melemah. Bahkan, terkadang ia sampai pada kondisi di mana hubungannya dengan Allah terputus sama sekali,...

Belajar Menerima

Foto di atas reruntuhan desa kuno di Puncak Jabal Akhdar-Oman Covid-19, seolah menjadi buah bibir yang tak kunjung habis untuk dibicarakan akhir-akhir ini. Menyebarnya wabah ini ke seluruh penjuru dunia menjadikannya topic hangat yang terus diberitakan di segala macam media. Setiap orang seolah-olah berlomba untuk memberikan info paling update terkait Covid-19. Sedangkan saya, sudah beberapa hari ini memilih untuk tidak banyak membaca terkait hal ini selain pada sumber-sumber yang sudah jelas valid dan itu menenangkan, tidak seperti berbagai tulisan yang beredar di social media yang kadang menimbulkan kekhawatiran berlebih. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari adanya wabah ini. Salah satu pelajaran besar yang bisa saya dapatkan adalah bagaimana kita bisa menerima akan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana kita dengan penuh keikhlasan. Sejak Covid-19 ini menyebar, saya memilih untuk mundur perlahan-lahan, membatalkan beberapa rencana perjalanan saya; Penerbangan ...

Syiar Islam Yang Mulai Dilupakan

Dalam Islam, kita memiliki ungkapan indah yang harus selalu kita angkat. Ia merupakan syiar paling agung. Kita harus membanggakannya di hadapan umat-umat yang lain. Kita harus mempersembahkannya sebagai risalah universal. Kita deklarasikan kalimat ini di berbagai forum internasional. Yaitu “assalaamu’alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh”. Rasul SAW mewajibkan kita untuk mengucapkannya saat kita saling bertemu. Saat kita masuk ke majelis dan tempat-tempat pertemuan yang bersifat umum. Saat salah seorang di antara kita bertemu dengan saudaranya di jalan, ia mengucap, “assalamualaikum,” Apa maknanya? Pernahkan engkau memikirkan makna assalamualaikum ? Mengapa ketika mendatangi ayahmu, ibumu, saudaramu, atau saudaramu; mengapa ketika masuk ke pasar engkau disuruh untuk mengucap salam? Pada satu waktu, sayang sekali kalimat ini tidak lagi ditemukan di tengah-tengah kaum Muslimin. Mereka telah menghapusnya dari kamus mereka dan menggantikannya dengan ungkapan lain, “selamat datang,...

Betapa Ramahnya Orang Oman

Bagi saya, berinteraksi dengan masyarakat setempat, berkenalan, bercerita banyak hal tentang budaya masing-masing dalam sebuah perjalanan selalu menjadikan perjalanan lebih bermakna. Karena hidup adalah tentang bagaimana kita memahami kehidupan itu sendiri. Semakin tahu, maka akan semakin bahagia kita menjalaninya. Saya sering kali bertemu orang-orang luar biasa dalam perjalanan. Perjalanan terbaru yang baru saya selesaikan beberapa bulan lalu adalah menjelajah Negeri Oman, negeri kaya yang begitu ramah terhadap tamu-tamu yang datang. Saya tidak hanya berkunjung ke aneka penjuru Negeri Oman, tapi juga berkesempatan belajar Bahasa Arab di Sulthan Qaboos College, Oman. Tulisan tentang ini sudah saya tulis di sini . Saya masih ingat, dalam waktu dua bulan saja, saya memiliki banyak sekali kenalan baru. Security di apartemen saya sampai terkagum-kagum bagaimana saya bisa mengenal sedemikian banyak orang hanya dalam waktu dua bulan. "Saya belum pernah melihat mahasi...