Skip to main content

Posts

Malaikat Kecil Itu Bernama Faris

saya dan Faris Ersan Arizona Kenal dengan anak kecil yang ada di foto di atas? Dia adalah Faris, saya yakin, bagi pembaca setia blog saya sudah tidak asing lagi dengan sosok Faris, ada banyak kisahnya yang saya tulis di blog ini. Foto ini adalah satu-satunya foto selfie bareng dia, namun memiliki kesan yang begitu dalam bagi saya. Foto ini diambil sehari sebelum Faris menjalani operasi yang keempat kalinya. Saya tidak bisa menemaninya seperti saat operasi pertama dan kedua. Maaf, ya, fotonya rada burem, maklum, saya belum bisa membeli windows phone ascend W1 dari Smartfren untuk bisa menghasilkan foto selfie yang lebih keren dari ini. Faris adalah satu dari sekian anak yang memiliki hubungan yang begitu erat dengan saya, dimulai dari perkenalan kami ketika saya menjadi wali kelasnya, sampai musibah itu terjadi, saat dimana Faris mengalami kecelakaan, kehilangan sosok Ayah dari hidupnya dan harus mengalami operasi yang berulang kali. Kebersamaan yang tidak pernah kami renc...

How much do you earn?

Launching buku Catatan Hati Sang Guru 28 Februari 2015 Akhir-akhir ini pertanyaan ini sering diajukan pada saya, dan berhubung saya tidak punya pekerjaan tetap, tentu saja saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Bagi saya, pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan yang seharusnya tidak perlu menjadi pertanyaan penting yang harus diajukan dalam perbincangan keseharian. Untuk mereka yang memang sudah menjadi teman dekat mungkin saja saya tidak keberatan menjawab terus terang tentang ini, namun bagi mereka yang hanya sekadar kenal biasa saja, kemudian menyinggung pertanyaan how much do you earn ? Saya kadang lebih suka tersenyum dan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban sesederhana mungkin. Hidup saya saat ini hanya mengandalkan uang tabungan yang berhasil saya simpan selama kurang lebih tiga tahun bekerja menjadi guru dan royalti buku-buku yang saya terbitkan secara indie. Tentu saja yang paling besar mengisi tabungan saya adalah uang dari hasil penjualan buku-buku yang saya te...

Berhenti Menghakimi

Sadar atau tidak, kadang kita sangat mudah menghakimi orang lain, seolah-olah mereka bukanlah orang yang pantas kita jadikan sahabat, kawan, atau hanya sekadar menebar senyum. Iya, kadang kita menjadi seseorang yang angkuh, yang kemudian menjadi seseorang yang tak ubahnya bak hakim yang berhak menghakimi seseorang karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam benak kita. Sering kali, kita menganggap remeh orang yang melakukan hal yang menurut sudut pandang kita adalah sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, tanpa terlebih dahulu berusaha untuk memahami kondisi seseorang yang sudah kita hakimi tersebut. Sering kali kita merasa bahwa kita adalah orang yang lebih baik dari orang lain, hanya karena mereka tidak memiliki pemahaman yang sama dengan kita. Iya, kadang kita seolah menjadi tukang komentar ulung, yang seolah semua bisa diselesaikan dengan hanya menebar komentar sinis kepada orang-orang yang menurut kita telah gagal menunaikan amanah yang telah ...

Pantai Menganti

18-19 Februari Pernah mendengar nama pantai ini? Mereka yang lahir dan besar di daerah Kebumen saya yakin sudah tidak asing lagi dengan pantai ini, sebuah pantai cantik dan menawan yang memerlukan perjuangan ekstra untuk bisa sampai kesini. Tapi jangan ciut dulu, Bro, meski perjalanan menuju pantai ini cukup serem karena jalannya super berliku, curam, kiri-kanan lembah, namun akan terbayar dengan keindahan pantainya nan cantik. Pasir putih yang berpadu dengan birunya laut rasanya cukup menjadi pengobat dag-dig-dug selama perjalanan menuju pantai ini. Duh, sampai lupa memberitahu dimana letak pantai ini. Pantai Menganti terletak di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Kurang lebih 40 KM dari Gombong. Untuk menuju pantai ini, saya sarankan dengan menggunakan sepeda motor saja, deh, dan pastikan sepeda motor yang digunakan dalam keadaan prima. Jika ingin menggunakan mobil, pastikan juga kamu sudah lihai menaklukkan jalanan yang berliku dan tebing yang curam, karen...

Memahami Perbedaan

Tadi pagi, habis subuh, saya mendapat pesan singkat dari sahabat saya di Switzerland via WhatsApp. Sudah 9 bulan saya tidak mendengar kabar darinya, dia tiba-tiba menghilang begitu saja, tidak pernah menghubungi baik melalui Skype, Facebook, maupun WhatsApp. Saya beranggapan mungkin dia sedang sibuk. Pernah beberapa kali saya coba hubungi, tapi tidak bisa. Terakhir kali dia menghubungi saya 9 bulan yang lalu, dia bercerita tentang rencananya memanjangkan jenggotnya. “Salam, Akhi, I’m sorry, I never responded your messages, chats, or calls. I was in jail for 8 months. I had internet connection only twice a week. I’m sorry. All my chats, messages, and calls were controlled by the police. I was in jail because somebody in the bus said to me in german language, “Fuck you immigrant, go back to your homeplace.” This person said this to me because of my beard and I told him that he should shut up. He stand up and walked really near to me and pushed me against the bus window. I hit him,...

Friendship

after cooking class Sometimes you meet a person and you just click – you are comfortable with them, like you’ve known them your whole life, and you don’t have to pretend to be anyone or anything. Finding a loyal friends is as hard as finding a tear drop in the ocean, if you make them, cherish them. I always though loving someone is the greatest feeling, but I realized that loving a friend is even better. We lose people we love, but we never lose true friends. True friends are the ones who have nice things to say about you behind your back. Abaikan tentang tata bahasa di tulisan di atas, ya, anggap saja sudah benar semua #krik. Berbicara tentang persahabatan, saya jadi teringat tentang obrolan sambil menunggu waktu maghrib kemarin. Jadi ceritanya kemarin saya dan teman-teman saya, lagi pada iseng masak gitu, tahu sendirilah, ya, saya, kan emang lagi suka banget kuliner akhir-akhir ini, jadi nggak usah heran kalo berat badan saya itu naik drastis dalam satu bulan terakhir ini #c...

Lombok: Gili Terawangan

sunrise di Gili Terawangan Hari Pertama Pukul delapan pagi kami sudah dijemput oleh travel yang akan membawa kami ke Gili Terawangan. Sarapan rada buru-buru karena habis subuh kami kembali molor karena lelah, meski sempat baca Qur’an ½ juz baru molor. Dalam perjalanan menuju Pelabuhan Bangsal, kami kembali menikmati keindahan alam raya. Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan. Inilah kenapa saya cinta mati sama Indonesia. Keindahan alamnya itu luar biasa. Di Senggigih, saya berasa lagi nggak berada di Indonesia, karena saking banyaknya orang asing yang memenuhi jalan-jalan dan pantai. Ini belum di Gili Terawangan, loh, ya, baru Senggigih doang. Setelah sampai di Pelabuhan Bangsal, kami langsung menuju tempat penukaran tiket, kemudian naik Boat dan langsung menuju Gili Terawangan. Perjalanan kurang lebih 15-20 menitan sampai ke Gili Terawangan. Air lautnya muncrat-muncrat ke wajah. Renat nutupin kepala pake handuk, saya nutupin wajah pake topi, sedangkan istrinya Farkhad bersandar d...