Skip to main content

Posts

Air Mata Cinta Hanisah

Menikah, perempuan mana yang tidak ingin menikah? Menjalani hidup dengan seseorang yang disebut Suami, berbagi suka maupun duka, saling melengkapi kekurangan masing-masing, dan menjadi seorang Ibu. Begitu pun dengan diriku, diumurku yang sudah tidak muda lagi, aku menanti hadirnya seseorang yang akan meminangku, menjadikanku tambatan hatinya, menjadikanku permaisuri dalam bahtera rumah tangganya. Tidak bisa kupungkiri, kadang aku bertanya kepada Tuhan, siapa jodohku Tuhan? Mengapa begitu lama hati ini Engkau biarkan kosong ?  Izinkan aku mengetahui siapa kelak yang akan menjadi suamiku, agar aku tidak perlu risau. Aku tidak ingin menjadi tuna cinta Tuhan. Tapi, kembali aku menyadari bahwa Tuhan sudah memilihkan seseorang yang akan menjadi suamiku, dan aku mempercayai itu. Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan. (QS. An-Naba’ [78] : 8) * Bapak memanggilku, mengajakku berbicara tentang seseorang yang ingin datang ke rumah. Seseorang yang ingin mengenalku ...

Taman Surga

Buku-buku itu kini mulai usang dan berdebu. Satu persatu kubuka, kubaca, dan kukenang kembali. Semua itu adalah buku pribadiku, tidak ada seorang pun kuizinkan untuk membacanya. Dia menyimpan begitu banyak cerita tentangku. Tentang malam yang dingin kala hujan membasahi bumi, tentang kepingan rindu yang tak sanggup kusatukan kembali, tentang air mata yang menemani hari-hariku, tentang tekad yang menguatkanku, tentang mimpi-mimpi yang ingin kuraih, tentang sahabat yang membuat hidupku lebih berwarna, dan tentangnya yang kusebut dengan cinta. 7 Mei 2001 Hari ini aku duduk di pematang sawah, memberi makan bebek-bebek peliharaan Ayah. Menunggu siang berganti malam, menunggu matahari bergantikan  redupnya sinar rembulan. Ditemani rumput-rumput yang mulai meninggi, dan suara gemuruh air yang mengalir di siring sawah. Teman-temanku sudah sibuk kesana-kemari mendaftar ke sekolah impian mereka. Melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, masuk ke sekolah menengah pertama fa...

Mengarus Senja

Aku duduk di pinggiran sungai, menjentikkan jari-jariku di atas air, melemparkan batu-batu kecil ke tengah sungai. Melihat betapa besar kuasa-Nya, betapa indah ciptaan-Nya. Batu-batu besar yang tersebar di sepanjang sungai, pepohonan rindang yang berjejer rapi di pinggir sungai, burung-burung yang berkicau merdu, semua hanyalah bagian kecil dari keindahan yang telah Ia berikan kepada makhluk-Nya. Di bagian hilir, beberapa warga sedang menikmati kejernihan air sungai, mandi, mencuci baju, dan mengangkut air ke rumah dengan ember-ember berukuran sedang. Suasana yang sejuk, indah, dan menenangkan. Rasa syukur tak henti-hentinya kupanjatkan atas segala yang telah Ia berikan. Ibu menghampiriku, duduk di sampingku, dan mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. Kami hanya diam melihat keagungan Tuhan, hanyut dalam pikiran masing-masing. Ibu membawa segelas air putih, kemudian memberikannya kepadaku. “Kamu merindukan Bapak?” tanya Ibu, sambil melihat ke arahku. Siapa yang t...

Happiness

Percaya atau tidak, tertawa adalah sebuah keajaiban. Bahkan dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa kesedihan dan stres dapat mengakibatkan seseorang terkena penyakit mematikan, dan tertawa merupakan salah satu solusi terbaik mencegah keadaan itu. Tertawa juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh hingga 40 persen. Hidup tidak semanis yang kita kira. Ada hal-hal pahit yang mengintai dan siap terjadi. sering kali kita gigit jari melihat keberhasilan orang lain, dan membandingkan keadaan orang lain dengan keadaan kita sendiri. Selalu saja ada masa dimana kita menganggap bahwa kita adalah satu-satunya orang yang menderita di dunia ini. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa segala kesedihan yang kita miliki, segala permasalahan yang ada tidak bisa kita jadikan sebagai alasan untuk membuat hidup kita menjadi suram. Saya pernah mempunyai seorang Dosen yang sangat mudah tersenyum, dengan senyumnya itu dia terlihat sangat awet muda. Pernah saya menanyakan hal ini, “Di Umur se...

Terima Kasih Tuhan

Lelah, mungkin itu yang ada dibenak Kakek itu. dia berjalan membawa sebuah karung berukuran besar. Mencari sesuatu dari tumpukan sampah, sesuatu yg bisa dia jual kembali. Botol aqua gelas, kertas-kertas, semuanya bak mutiara di tengah lautan sampah. Dia mengumpulkan satu demi satu bekas botol minuman, menumpuk lembar demi lembar kertas bekas, kemudian dijual ke tempat penampungan barang bekas yang akan menggantinya dengan jumlah uang tertentu. Kakek itu duduk di samping tong sampah besar di depan sebuah rumah makan, dia menghisap sebatang rokok pelepas penat. Dia menunggu orang-orang membuang botol bekas minuman ke dalam tempat sampah, dia menunggu makanan-makanan sisa yang masih mungkin untuk dia makan. Satu persatu botol bekas minuman ringan, bekas mie gelas ia dapatkan. Botol-botol bekas itu dia masukkan ke dalam karung berwarna putih, lusuh, dan kotor. * Aku duduk di depan sebuah rumah makan, bus yang kutumpangi sedang beristirahat. Kurang lebih tiga puluh menit kami...

Rindu Yang Membeku

Winda menari sambil bernyanyi di depan teman-temannya. Dia menyanyikan lagu “Balonku ada lima” sambil memegang balon yang berwarna-warni. Suaranya lantang terdengar jelas. Segurat senyum menghiasi wajahnya yang lugu, yang membuat siapa pun gemas melihatnya. Winda, umurnya baru lima tahun, dia sedang menikmati indahnya masa kanak-kanak di sekolah bersama dengan teman-temannya. Dia dikenal sebagai anak yang pintar, dan baik hati. Ahh…siapa yang tidak kenal dengannya di sekolah ini? “Ma, Kak Yahya jadi pulang kan hari ini?”  Winda kecil bergelayut manja di pelukan Ibunya. “Iya, hari ini Kak Yahya baru berangkat dari Jakarta ke Riau menggunakan jalur darat. Jadi, dua hari lagi baru sampai rumah. Winda mandi dulu ya, udah sore” Bu Ria mencium kening putrinya. Putri kecil itu melepaskan pelukan Ibunya, berlari ke belakang sambil membawa selembar handuk, bergambarkan balon yang berwarna merah hati. * Yahya duduk di bawah sebuah pohon besar yang ada di taman terminal...

Ayah, Kami rela melepasmu

Bangunan itu berwarna putih bersih, terdiri dari lima lantai. Aku berdiri di pintu gerbang, melihat ke sekeliling bangunan, memberanikan diri untuk menyapa siapa saja yang lewat di pintu gerbang. Menyapa mereka dengan sebuah senyuman. Setelah sempat bertanya dengan beberapa mahasiswa, aku menuju bagian informasi dan menanyakan kamar nomor berapa yang akan jadi tempat tinggalku selama di sini. Asrama, bangunan lima tingkat itu adalah asrama yang akan menjadi tempat tinggalku selama menuntut ilmu di sini. Jakarta adalah kota pertama yang kukunjungi, selama ini aku hanya tinggal di sebuah desa terpencil di pulau Sumatera, desa yang berdekatan dengan perbatasan antara Bengkulu dan Lampung. Sebelumnya aku belum pernah bepergian ke kota lain. * Delapan tahun yang lalu, aku adalah anak kecil yang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, akan tetapi cita-cita itu langsung berubah setelah melihat Paman yang mengenakan seragam tentara. “Pak, ari mau jadi seperti Paman” ucapku pa...