Skip to main content

Posts

Rindu Yang Membeku

Winda menari sambil bernyanyi di depan teman-temannya. Dia menyanyikan lagu “Balonku ada lima” sambil memegang balon yang berwarna-warni. Suaranya lantang terdengar jelas. Segurat senyum menghiasi wajahnya yang lugu, yang membuat siapa pun gemas melihatnya. Winda, umurnya baru lima tahun, dia sedang menikmati indahnya masa kanak-kanak di sekolah bersama dengan teman-temannya. Dia dikenal sebagai anak yang pintar, dan baik hati. Ahh…siapa yang tidak kenal dengannya di sekolah ini? “Ma, Kak Yahya jadi pulang kan hari ini?”  Winda kecil bergelayut manja di pelukan Ibunya. “Iya, hari ini Kak Yahya baru berangkat dari Jakarta ke Riau menggunakan jalur darat. Jadi, dua hari lagi baru sampai rumah. Winda mandi dulu ya, udah sore” Bu Ria mencium kening putrinya. Putri kecil itu melepaskan pelukan Ibunya, berlari ke belakang sambil membawa selembar handuk, bergambarkan balon yang berwarna merah hati. * Yahya duduk di bawah sebuah pohon besar yang ada di taman terminal...

Ayah, Kami rela melepasmu

Bangunan itu berwarna putih bersih, terdiri dari lima lantai. Aku berdiri di pintu gerbang, melihat ke sekeliling bangunan, memberanikan diri untuk menyapa siapa saja yang lewat di pintu gerbang. Menyapa mereka dengan sebuah senyuman. Setelah sempat bertanya dengan beberapa mahasiswa, aku menuju bagian informasi dan menanyakan kamar nomor berapa yang akan jadi tempat tinggalku selama di sini. Asrama, bangunan lima tingkat itu adalah asrama yang akan menjadi tempat tinggalku selama menuntut ilmu di sini. Jakarta adalah kota pertama yang kukunjungi, selama ini aku hanya tinggal di sebuah desa terpencil di pulau Sumatera, desa yang berdekatan dengan perbatasan antara Bengkulu dan Lampung. Sebelumnya aku belum pernah bepergian ke kota lain. * Delapan tahun yang lalu, aku adalah anak kecil yang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, akan tetapi cita-cita itu langsung berubah setelah melihat Paman yang mengenakan seragam tentara. “Pak, ari mau jadi seperti Paman” ucapku pa...

Kegagalan

Bulan Januari lalu adik saya yang perempuan, yang sekarang sedang kuliah, mengikuti tes untuk tenaga honorer di salah satu Instansi Pemerintahan. Setelah melengkapi semua persyaratan yang dibutuhkan, mengikuti proses seleksi dari awal sampai selesai, adik saya dan beberapa orang lainnya dinyatakan lulus. Setelah dinyatakan lulus, beberapa hari kemudian, pihak Instansti terkait sudah memerintahkan semua yang lulus tes untuk mulai masuk kerja. Karena ini adalah pengalaman pertama adik saya kerja, maklum dia baru semester 2 kuliah di Fakultas Ekonomi di salah satu Universitas Swasta di Bengkulu. Dia cukup bahagia tentunya, pagi kerja, sorenya dia kuliah. Itung-itung meringankan beban orang tua. Dia sudah menjahit baju seragam kerja sesuai yang ditentukan pihak kantor. Setelah satu bulan kerja, barulah Surat Keputusan turun, dan anehnya, dia tidak mendapatkan SK. Mungkin keliru pikirnya, dia mencoba untuk memberitahu pihak kantor bahwa SK dia belum turun. Dan tahukah kalian apa yang dika...

Yang Terlupakan

Aku duduk di bagian ujung masjid, bersender ke dinding masjid sambil membaca sebuah buku. Melepas lelah setelah seharian berkutat dengan tugas-tugas yang membuatku lupa untuk meluangkan waktu membaca buku-buku yang kubeli. Buku-buku itu tersusun rapi di lemari kamarku. Hanya tersusun dan belum sempat untuk kubaca. Tidak apa, nanti kalau sudah ada waktu luang baru akan kubaca satu persatu. Aku membaca lembar demi lembar buku yang berjudul “Notes From Qatar” karya Muhammad Assad. Sebuah buku yang sangat inspiratif, menarik dan bersahaja. Sebuah buku yang memotivasi tanpa maksud untuk menggurui. Aku sedang membaca bagian “My Spiritual Journey” , tiba-tiba seseorang menghampiriku, dia duduk di depanku sambil memegang selembar kertas dan sebuah bolpoint berwarna hitam. Penampilannya lusuh, sepertinya dia baru selesai bekerja. Ada debu yang menempel di keningnya, serta butiran-butiran keringat membasahi mukanya. Aku masih terus membaca, dan membiarkan dia duduk di depanku. Hening, ...

Pesona Sang Adam

Gelapnya malam menyelimuti Jakarta. Lalu lalang kendaraan sudah mulai berkurang, hanya ada beberapa kendaraan yang masih melaju dengan kencang, memanfaatkan jalanan yang lengang agar bisa sampai tujuan dengan cepat dan segera beristirahat. Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 23:45. Aku masih berdiri di pinggir jalan, menunggu angkutan umum yang akan membawaku ke Bundaran Hotel Indonesia, siapa tahu masih ada angkutan yang beroperasi meski malam hanya tinggal separuh. Sudah hampir lima belas menit aku berdiri di sini, sambil menghisap sebatang rokok, namun tidak ada lagi angkutan yang beroperasi, ahh…sepertinya taxi adalah pilihan terakhir menuju ke sana. Aku menghentikan sebuah taxi , kusenderkan kepalaku, mataku mulai terpejam perlahan. Aku mengantuk. “Nanti kalo sudah sampai Bundaran Hotel Indonesia, tolong bangunkan saya ya, Pak” Ucapku sebelum hanyut dalam mimpi. * Aku sudah duduk di Bundaran Hotel Indonesia, menatap bangunan-bangunan tinggi menjulang. Dingi...

Bagaimana anakmu engkau perlakukan?

Ummu Qais binti Mihsan berkata, “Suatu hari aku datang menemui Rasulullah saw dengan membawa seorang bayi yang belum makan kecuali air susu Ibunya. Beliau menggendong bayi itu, dan bayi itu kencing di tubuh Beliau. Maka aku pun merenggut bayi itu dari Beliau. Ternyata Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kencing ini dapat hilang hanya dengan mengguyurkan air padanya. Tetapi betapa sulitnya menghilangkan renggutanmu yang kasar itu dari benaknya!” Beliau lalu meminta diambilkan air dan memercikkannya ke tubuh Beliau yang terkena air kencing.” ( HR Al Bukhari [516] dan Muslim [346] ) Beberapa murid saya sering cerita tentang perilaku orang tua yang mudah sekali mengeluarkan kata-kata kasar ketika anak-anak mereka melakukan sesuatu yang kurang berkenan di hati mereka. Bahkan ada yang dengan mudahnya bermain tangan dalam menasihati mereka. Ada juga yang ketika dia minta izin untuk pergi bermain bersama teman-temannya di hari Minggu, kemudian tidak diperbolehkan oleh orang tua...

5 CM and new me...

5 CM and New Me... Itulah judul tulisan Mbok Venus di Cover bagian belakang buku 5 CM. Seperti  biasa, saya menghabiskan akhir pekan dengan mengunjungi toko-toko buku. Kadang kalo pas kebetulan sedang ada uang ya saya beli buku. Tapi kalo pas sedang nggak ada uang untuk beli, biasanya saya duduk manis di bagian pojok sambil membaca. (malah curhat)  Kebetulan kemarin hari Sabtu sore, saya ke Gramedia. Dari rumah memang saya belum menentukan mau beli buku apa, pokoknya ke sana, ntar kalo ada yang tertarik ya beli. Kalo nggak ya palingan ntar saya cuma makan di tempat makan favorit saya. Pas masuk Gramedia, mata saya langsung tertuju ke tumpukan buku-buku yang baru saya lihat. Saya sudah sering datang ke Gramedia, biasanya di bagian dekat pintu nggak ada tumpukan buku. Saya lihat ada buku 5 CM, saya memang sudah tahu dari dulu buku itu, tapi entah kenapa tidak ada niat untuk beli. Namun berbeda dengan kejadian kemarin, saya lihat buku 5 CM, di cover bagian bela...