Skip to main content

Posts

Sepenggal kisah di metro mini

Prakiraan cuaca kemarin mengatakan bahwa Jakarta akan diguyur hujan hari ini. Sang pewarta juga sempat mengatakan bahwa sebaiknya warga yang hendak bepergian bersiap-siap akan angin kencang dan yang sedang marak pula, pohon tumbang. Airin menyeka keringatnya. Hari ini panas. Ia mendengus sebal. Merasa bahwa seharusnya ia sadar, yang dikatakan hanyalah prakiraan, yang berarti itu adalah sebuah ketidakpastian. Jarum jam menunjukkan jam 9 pagi tapi panasnya terasa seperti tengah hari. Kendaraan masih merayap lambat. Mendenguskan asap-asap penuh racun yang dalam kenyataannya harus dihisap oleh makhluk bernama manusia. Airin merogoh tasnya, mengambil masker dan menggantungkannya di telinganya. Ia melihat ke arah kanan, menanti Metro Mini yang akan membawanya ke kampus tersayang. Jarum panjang menuju ke angka 2, sebuah bus melaju lambat. “ Yak, kosong-kosong mbak, kosong duduk, duduk ”, ujar seorang pria. Airin melangkahkan kaki kanannya, memilih tempat duduk yang dirasa tidak terlalu terk...

Mendoan Glasgow

Dear Rifaldi, Apa kabar? Dunia ini terasa sepi saat aku jauh dari kalian semua, Aku sendirian di tempat baru ini, Mengejar mimpi bersama dinginnya salju Glasgow. Hari pertama aku disini, aku bak orang yang tidak tahu jalan pulang, benar-benar sendirian, belum lagi tugas risetku yang harus segera kuselesaikan. Tapi aku akan selalu berusaha jadi sebaik mungkin. Sama sepertimu, semangat mengejar ilmu, dan takut menjadi mati ketika berhenti mencari tahu. Meski kesepian memang kerap memeluk kita dalam pengetahuan-pengetahuan baru yang tak tersentuh khalayak ramai. Tetap ada serunya; pikiran-pikiran kita yang tak selalu selaras namun sebanding, kerap saling serang. Beberapa tahun ke depan kita akan kembali jumpa, membandingkan penemuan-penemuan baru kita. Siapa yang lebih baik? Aku berdoa semoga bukan kamu. Tapi semoga kehangatan selalu ada di tiap temu dan diskusi kita. Kawanmu, Taffani * Aku tersenyum membaca surat elektronik yang ia kirimkan. Taffani, wanita matang yang selalu haus ak...

Senja

Senja, aku masih duduk di tempat yang sama, tempat di mana kita pertama kali bertemu. Masih kuingat masa-masa itu, engkau menaiki sepeda ontel tua milikmu, menggunakan jilbab putih bermotif bunga matahari. Engkau terjatuh di depan gerbang perpustakaan saat menghindar dari seekor kucing yang tiba-tiba menyeberang jalan, kemudian aku datang dan membantumu berdiri, dan engkau mengucapkan kata-kata yang masih kuingat hingga saat ini. ‘Syukron, Jazaakumullah’ Aku memintamu untuk mengulangi kalimat itu, karena untuk pertama kalinya ada orang yang mengucapkan kalimat itu kepadaku, dan setelah tiga kali mengulangi, barulah engkau menjelaskan bahwa kalimat itu adalah ucapan terimakasih dan semoga Allah membalasnya. Aku tersenyum mendengar kalimat itu, singkat dan penuh makna. Setelah kejadian itu, kita sering bertemu meski tidak pernah berjanji untuk bertemu, kita bertemu di tempat di mana sekarang aku sedang duduk, di depan perpustakaan umum daerah. Sebelum bertemu denganmu, aku memang suda...

Cinta Damar

Bangunan itu terlihat begitu megah, dengan dekorasi yang indah menawan, berbagai macam lukisan menghiasi dinding-dinding yang ada di ruang utama, berbagai macam tulisan kaligrafi juga menambah kesejukan mata memandangnya, lampu hias yang warna-warni menerangi seluruh penjuru ruangan, di pintu masuk ruang utama, ada tulisan yang berwarna hijau daun dan keemasan. “Ucaplah salam sebelum masuk” ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ Tepat di gagang pintu, ada tulisan kaligrafi berukuran kecil berwarna biru langit, ‘ Bismillahirrahmanirrohim’ Siapapun akan merasa tenang jika memasuki ruang utama itu, ruangan itu cukup luas, ruang utama tersebut merupakan bagian dari bangunan asrama mahasiswa, di ruangan ini lah biasanya mahasiswa melakukan kegiatan bersama, diskusi ilmiah, bedah  buku, rapat dan sebagainya. Namun, sudah beberapa malam ini, ruangan utama itu berubah fungsi, bukan kegiatan diskusi ilmiah yang dilakukan, bukan juga bedah buku. Akan tetapi ruangan utama sudah di...

Bunga Cinta Patrem

Sore itu, saat semua orang menyibukkan diri dengan hasil jaring ikan yang mereka pasang di lautan, mereka melepaskan satu persatu ikan-ikan yang terjebak di jaring, seorang pemudi duduk santai di ujung perahu kecil yang sudah rapuh yang terletak di pinggir pantai, kakinya berayun-ayun, jilbab ungu yang ia kenakan serasi dengan warna perahu yang juga berwarna ungu. Ia sedang membaca sebuah buku “Taman Orang Jatuh Cinta dan Tamasya Orang Yang Terbakar Rindu” yang merupakan terjemahan dari kitab “ Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin ” karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Dia membaca lembar demi lembar buku itu, ia berhenti lama pada bait-bait syair yang meneduhkan hatinya, sekaligus menggambarkan isi hatinya saat ini. Aku tidak mengerti mengapa cinta harus dicaci Entah mata yang telah buta atau hati yang telah mati Mengapa harus aku caci hati yang tidak melihat? Tapi, jika kucerca mata, justru hati yang berdosa Mata dan hati membuatku terbagi Ya Rabbi, berilah perlindungan untuk mata dan ...

Faiz

Malam semakin gelap, hujan rintik-rintik membasahi bumi, pemuda itu masih duduk di bagian pojok masjid memegang Kitab suci yang berisikan firman-firmanNya, sementara anak muda lain sedang asik bermain gitar, bernyanyi, seolah-olah tidak mendengar kumandang adzan yang dikumandangkan begitu merdu oleh seorang ‘muadzin’ yang menyeru mereka untuk lekas ke masjid dan melaksanakan shalat maghrib berjama’ah. Iya terus membaca ayat demi ayatNya dengan khusu’, sesekali ia terlihat menghapus air matanya yang jatuh ketika membaca ayat-ayat yang bermaknakan tentang ‘adzab, kemudian dia tersenyum ketika membaca ayat-ayat yang menceritakan balasan bagi orang-orang yang beramal sholih. Lantunan ayat suci yang ia baca terdengar sampai ke rumah tetangga, membuat anak-anak muda yang sedang bermain gitar dan bernyanyi merasa tertanggu. “Mas, kalo mau ngaji jangan keras-keras lah, ucap salah seorang pemuda dari depan masjid”. Mendengar teguran itu, pemuda yang ada di masjid mengucapkan maaf dan langsun...

Farrel

Gemuruh suara angin disertai hujan saling bersahutan, angin kencang  memporak porandakan bangunan-bangunan yang ada di depannya, pohon-pohon pun ikut tumbang. Sementara angin dan hujan bergemuruh, terdengar suara orang-orang meminta tolong, entah kepada siapa mereka meminta tolong, beberapa anak kecil terlihat sedang terbawa arus air, mereka berteriak meminta tolong, namun tidak ada satu pun yang menolong, semua orang sedang sibuk dengan nasib masing-masing, semua orang sedang sibuk mencari cara untuk bertahan, mencari tempat untuk berlindung agar terhindar dari amukan angin dan hujan. Sementara Farrel, yang tadinya sedang bercocok tanam di lereng bukit, sekarang terpaksa menghentikan kegiatannya, ia berlari menjauh dari pepohonan, ia menundukkan badannya serata tanah, dan menyebut asmaNya, mengharapkan pertolongan kepada yang maha memberi pertolongan, beberapa kali kalimat “Tasbih” ia ucapkan , “istighfar” , serta membaca ayat-ayat yang mampu untuk ia baca. Dalam keadaan ini ia ...