Skip to main content

See You Again

Salam. Sudah lama saya tidak mampir di rumah ini, biasalah, ya, orang sibuk makan jadi susah meluangkan waktu untuk sekadar mampir dan bersih-bersih di blog ini (kali aja ada sarang laba-laba yang bergelantungan di tembok blog ini) hehe. Postingan kali rada random, ya, karena bakalan campur aduk deh ini tulisan. haha
Dalam satu bulan terakhir, kesibukan seperti biasa, setelah liburan selama kurang lebih dua bulan sejak awal Januari sampai akhir Ferbruari, saatnya kembali ke bangku kuliah, kembali bolak-balik ke perpustakaan, kembali rusuh sama jurnal yang kadang cocok untuk dijadikan bantal kalo ngantuk. Nggak jauh-jauh layaknya mahasiswa Pasca pada umumnya. Meski demikian, setiap akhir pekan saya selalu berusaha untuk melepas lelah dengan bepergian bersama teman, entah itu ke tempat wisata, renang, makan bareng di luar, mencoba aneka resep meski kebanyakannya gagal alias nggak enak dimakan, atau hanya sekadar ngobrol santai di kosan. Saya berusaha sesantai mungkin dan memastikan akhir pekan berjalan dengan baik. Saya jarang berada di rumah kalo akhir pekan, lebih sering diluar.
Satu dari sahabat saya, Miratoullah sudah selesai dan sudah resmi mendapat gelar Master, rencananya akhir bulan ini dia akan kembali ke negaranya, Rusia. Pekan lalu, kami pergi ke Taman Bunga Selecta. Biasa, kalo pergi biasanya kami selalu rame-rame. Saya, Renat, Farkhad beserta istri, Miratoulloh dan Muhammad. Taman Selecta memang terkenal dengan bunganya yang cantik ketika sedang mekar. Tapi sayang, waktu kesana, bunga-bunganya baru saja tumbuh, belum semuanya mekar, baru beberapa macam bunga saja yang sudah mekar dan terlihat cantik. Meski demikian, tidak mengurangi kebersamaan kami. Setelah cukup puas berkeliling, saya, Renat dan Miratoullah memutuskan untuk renang, sedangkan tiga orang sahabat saya yang lain memutuskan untuk makan sambil menunggu kami selesai berenang. Airnya cukup dingin, karena berada di perbukitan. Daerah Batu memang dikenal dengan udaranya yang sejuk.
Setelah berenang, dilanjutkan dengan makan siang, kemudian pergi ke pasar burung. Malam harinya, saya, Renat dan Miratuollah kembali ke Batu untuk menikmati sajian sedap di Rumah Makan Mesir. Jangan sering-sering makan di rumah makan Arab, ya, kantong bisa jebol kalo nggak hati-hati. Kantong mahasiswa kayak saya ini bahaya kalo sampe keterusan. *malah curhat*
Gagal Selfie haha
Keesokan harinya, kami bertiga memutuskan untuk nonton film Fast and Furious 7. Disinilah kemudian perbincangan kami rada galau. Karena begini, Miratoullah akan segera kembali ke negaranya, Rusia. Kami tidak akan pernah tahu kapan lagi kami akan bisa bertemu. Saya merenung sejenak, kemudian menyadari bahwa tidak mudah mencari orang-orang yang bisa membuat kita nyaman berada di dekat mereka. Mencari sahabat tidak semudah itu. Sebenarnya perbincangan tentang perpisahan dan kapan bisa bertemu lagi ini sudah cukup sering menjadi topic pembahasan kami kalo sedang kumpul bareng. Dimulai dari bikin rencana jalan bareng sebelum kembali ke Negara mereka, sampai rencana nyariin pasangan buat yang jomblo juga pernah dibahas haha.
Renat sedang menyusun Tesis, Farkhad sedang menyusun skripsi. Kadang, di tengah perbincangan kami, kami berbicara tentang masa depan, tentang kehidupan yang akan kami jalani masing-masing di tempat yang berbeda. Setelah semua selesai Study, tentu mereka akan kembali ke Negara masing-masing. Mirotullah akan ke Rusia akhir bulan ini, Farkhad dan Renat kalo tidak ada halangan akan kembali ke negaranya bulan September. Hanya beberapa bulan lagi kebersamaan kami. Suatu ketika, Farkhad pernah bilang gini, “You know, sometimes I feel sad about my graduation. After a while I have to go back to my country and nobody knows when I could come to Indonesia again.”
Well, perasaan itu tidak hanya mereka yang merasakan, saya juga merasakan itu. Memang berbeda antara bertemu langsung bila dibandingkan hanya dengan mengandalkan teknologi dalam hal menjalin komunikasi. Meski tetap bisa menjalin komunikasi dengan baik dengan adanya perkembangan teknologi, akan jauh berbeda rasanya ketika bisa langsung bertemu. Akan ada masanya dimana masing-masing dari kita ingin mengulang kembali kebersamaan yang pernah ada. Mungkin saja sekian tahun yang akan datang, kami akan kembali bertemu lengkap dengan pasangan masing-masing. Amin.
Saya dan Farkhad paling suka berkhayal, membayangkan sekian tahun yang akan datang kami akan kembali bertemu, lengkap dengan istri dan anak masing-masing haha. Kalo Renat sering iseng, andai saja bisa bertemu lagi setelah lulus kuliah, dia mau pura-pura nggak kenal lagi *dijitak.
Malam Minggu kemarin, Farkhad mengajak saya dan Renat ke rumahnya, makan malam bareng, kemudian dilanjutkan dengan ngobrol santai. Pagi Minggu kami ke pasar Minggu, menikmati akhir pekan dengan santai. Berhubung sedang santai, karena setelah dari pasar, Renat melanjutkan tidurnya yang belum usai,  akhirnya kemarin saya berusaha membuka file-file foto, kemudian menemukan beberapa video yang pernah saya rekam waktu sedang berada di Lombok. Jadilah saya iseng, edit sana-sini ala kadarnya, kemudian ketika Renat bangun, saya putarkan video yang sudah saya edit. Saya upload di youtube kemudian memberitahu Farkhad untuk membuka video itu di channel saya di youtube. Ini semacam pengingat kebersamaan.
Saya selalu percaya bahwa kebaikan akan selalu dikenang, meski jarak memisahkan. Kebersamaan yang pernah ada setidaknya mengajarkan kami banyak hal. Kami melalui waktu dengan melakukan banyak hal secara bersama-sama. Tentunya, meski jarak memisahkan, ada doa yang bisa terus dipanjatkan kepada Tuhan, semoga kebaikan selalu menyertai, dan semoga akan ada pertemuan di lain waktu setelah adanya perpisahan. See you again. Videonya bisa dilihat di toko sebelah, ya *dipentung*
Sengaja dengan backsound lagu yang menjadi soundtrack film Fast and Furious 7

Comments

  1. :'( kebersamaan yang indah mas. semoga pasca kelulusan, waktu mempertemukan sampean dengan kawan kawan kembali. ^__^

    ReplyDelete
  2. ah, so sad. tapi ya begitulah hidup ya, mas. tapi bisa jadi perpisahan itu tidak semenakutkan bayangan kita. semoga setelah ini dipertemukan dengan kawan yang tak kalah baiknya dengan kawan lama.

    ReplyDelete

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan

Popular posts from this blog

Memilih Antara Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri: Pertimbangan Orangtua dalam Pendidikan Anak

Pendidikan adalah salah satu aspek paling penting dalam perkembangan anak-anak kita. Sejak dini, kita sebagai orangtua dihadapkan dengan pilihan yang signifikan: memilih antara sekolah swasta dan sekolah negeri untuk anak-anak kita. Keputusan ini seringkali tidak mudah, karena melibatkan banyak faktor yang harus dipertimbangkan secara cermat. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi berbagai pertimbangan yang sering menjadi dasar pilihan orangtua, serta analisis mendalam mengenai perbedaan, kelebihan, dan kelemahan dari kedua jenis pendidikan ini. Perbedaan Antara Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri Sebelum kita memasuki pembahasan lebih mendalam, ada baiknya untuk memahami secara jelas perbedaan mendasar antara sekolah swasta dan sekolah negeri. 1. Pendanaan dan Kepemilikan: Sekolah Negeri: Didanai dan dioperasikan oleh pemerintah setempat atau pemerintah pusat. Mereka biasanya tidak mengenakan biaya pendidikan (atau mengenakan biaya yang sangat terjangkau) dan didirikan untuk memastik...

Navigating the Uncharted Waters: Unique Mental Health Challenges Faced by Young Muslims

Mental health awareness has gained prominence in recent years, shedding light on the diverse challenges faced by different communities. For young Muslims, there are distinctive mental health hurdles that often go unnoticed. As they balance their faith, cultural backgrounds, and the demands of modern society, young Muslims encounter a unique set of challenges that impact their mental well-being. This article explores some of these challenges and offers insights into addressing them. Islamophobia and Discrimination One of the prominent challenges young Muslims face is Islamophobia and discrimination. The rise of hate crimes, negative media portrayals, and cultural bias can lead to feelings of isolation and anxiety among young Muslims. Experiencing discrimination can undermine their self-esteem and contribute to heightened stress levels. Identity Confusion Navigating the complexities of identity is a common struggle for young Muslims. They often grapple with questions about their...

Kepemimpinan Perempuan dalam Sejarah Peradaban Islam: Inspirasi dari Para Pahlawan

Sejarah peradaban Islam yang kaya tidak hanya melibatkan figur-figur laki-laki yang terkenal, tetapi juga banyak wanita yang memainkan peran penting dalam menginspirasi dan membentuk masa depan umat Islam. Kepemimpinan perempuan dalam sejarah Islam tidak hanya mencakup peran sebagai ibu, istri, atau sahabat, tetapi juga sebagai pemimpin politik, ilmuwan, filosof, dan aktivis sosial yang berpengaruh. Berikut beberapa contoh nyata dari kepemimpinan perempuan dalam sejarah peradaban Islam: 1. Aisyah binti Abu Bakar Aisyah binti Abu Bakar adalah istri Nabi Muhammad SAW yang memiliki peran penting dalam menyebarkan dan mengajarkan hadis-hadis Nabi. Dilahirkan sekitar tahun 614 Masehi, Aisyah dikenal karena kecerdasannya dalam memahami ajaran Islam dan berbagai aspek kehidupan pada masa itu. Dia menikah dengan Nabi Muhammad pada usia muda dan menjadi salah satu istri yang paling dekat dengannya. Selain sebagai istri dan teman setia Nabi, Aisyah juga dikenal sebagai seorang pendidik dan cende...