Skip to main content

Mundur Untuk Melangkah Maju

di depan gedung pascasarjana UIN Malang
11 Agustus 2014
“Apa lagi yang kamu cari, bukankah kamu sudah berada di tempat yang baik, rekan kerja yang baik dan juga anak-anak yang selalu kamu banggakan? Bukankah itu adalah karunia yang seharusnya kamu syukuri, bukan malah pergi meninggalkan kenyaman yang sudah ada.” Ucap seorang sahabat saat saya mudik Idul Fitri kemarin.
“Bukan saya tidak mensyukuri nikmat yang selama ini telah Tuhan berikan, bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin kembali mengenyam pendidikan tinggi di jenjang selanjutnya, melanjutkan mimpi-mimpi yang sejak lama saya rajut dengan cinta. Saya telah menyiapkan ini sejak lama. Saya pergi bukan karena tidak nyaman dengan apa yang selama ini saya dapatkan, Saya hanya ingin belajar di tempat yang lebih baik, menyiapkan diri untuk pengabdian selanjutnya dengan baik.”
Untuk beberapa saat, kami sama-sama diam, kemudian menatap langit malam yang semakin kelam. Saya menghirup dinginnya udara malam yang berembus, sementara ia beranjak pergi meninggalkan tanda tanya dan kebingungannya akan keputusan yang saya ambil.
Tepat satu bulan yang lalu, saya memutuskan untuk mengajukan pengunduran diri dari tempat kerja. Bergetar kedua tangan, saat memasuki ruang kepala sekolah. Saya mengucap salam, menjabat tangan Ustadz Nandi, kemudian menjelaskan maksud dan tujuan saya menemuinya. Saya telah menyiapkan selembar surat dalam sebuah amplop berwarna putih yang berisi surat pengunduran diri.
Ustadz Nandi dengan bijak menerima kehadiran saya, kemudian berbincang sejenak tentang alasan demi alasan yang sejak lama telah ia dengar dari saya.
“Insha Allah, saya akan melanjutkan kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ustadz, sebagaimana yang pernah saya sampaikan dulu. Sekarang sudah saatnya saya kembali belajar di bangku kuliah.”
“Antum sudah yakin?”
“Insha Allah, Ustadz. Semoga ini yang terbaik. Saya sama sekali tidak ada masalah di sekolah. Saya mengundurkan diri demi mengejar mimpi yang sudah lama saya perjuangkan.”
Perbincangan sederhana terus berlanjut. Kemudian saya pamit. Ada bulir-bulir hangat di ujung sana. Saya memantapkan hati, bahwa ini adalah jalan yang telah saya pilih, maka saya harus siap dengan segala konsekuensi yang ada.
Hari ini, saya akan berangkat ke Malang, Saya melihat wajah-wajah pelangi hati yang selama ini hadir menemani. Anak-anak berlarian ke halaman sekolah untuk mengikuti apel pagi di hari Senin. Seperti biasa, Saya menyiapkan barisan anak-anak, sambil tersenyum dan memastikan mereka berbaris dengan baik. Mereka belum tahu bahwa hari ini saya akan pergi meninggalkan mereka demi sebuah mimpi.
Setelah apel pagi, saya dan anak-anak masuk ke dalam kelas, kelas kami adalah kelas VIII Bilal bin Rabah. Saya sengaja memilih nama itu, mengambil pelajaran dari sosok Bilal yang begitu kokoh keyakinannya meski siksaan bertubi-tubi ia rasakan. Anak-anak sudah siap berdoa, kemudian mengucapkan salam. Saya ingin anak-anak mencontoh Bilal, menjadi sosok yang begitu yakin akan kebenaran Islam. Saya selalu mendoakan mereka, agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cinta akan Tuhannya.
Saya menatap lekat-lekat wajah mereka, hening. Mereka begitu baik dan sangat menghormati saya sebagai guru sekaligus wali kelas mereka. Kelas semakin hening saat saya menyampaikan keinginan saya untuk meraih mimpi dan terpaksa harus meninggalkan mereka semua.
“Ada ustadz ataupun tidak, kalian harus tetap belajar dan berusaha menjadi anak-anak yang shaleh. Jadilah anak yang berbakti.”
Suasana kelas sedikit ramai oleh ucapan-ucapan mereka.
“Berarti ustadz nggak ngajar disini lagi?”
Saya menggeleng.
“Terus siapa yang akan menjadi wali kelas kami nanti kalo ustadz pergi?”
“Siapa yang akan mengajari kami membaca Al Quran? Bukankah Ustadz sudah janji akan mengajari kami membaca Al Quran dengan baik dan benar?”
Saya terdiam sejenak, kemudian meyakinkan mereka semua bahwa mereka akan baik-baik saja meski tanpa kehadiran saya di dekat mereka.
“Insha Allah akan diganti dengan ustadz yang lain, yang lebih baik dan bisa menyayangi kalian dengan penuh cinta.”
Suasana kembali hening. Kulihat wajah-wajah itu mulai menunduk. Entahlah, mungkin saja mereka berat melepaskan kepergian saya. Saya tidak mengerti itu.
Tidak mudah memang, ada banyak perdebatan tentang keinginan saya untuk belajar di Kota Malang. Pihak yayasan sebenarnya siap menyekolahkan saya dengan biaya penuh, asal tetap di dalam kota. Akan tetapi, saya memilih untuk belajar di Malang. Itu artinya, pengunduran diri saya sudah mantap dan semoga ini adalah pilihan terbaik dan diridhai oleh Allah SWT. Saya percaya, dimanapun saya berada kelak, Allah akan menempatkan saya pada ladang dakwah baru, meski harus memulai semuanya sedari awal lagi. Tidak mengapa, kadang memang demikianlah adanya. Kadang kita harus keluar dari zona nyaman kita untuk meraih cita yang lebih tinggi.
**
Bus yang membawa saya menuju Kota Malang sudah berangkat sejak beberapa jam yang lalu. Saya masih belum bisa tidur nyenyak. Bayang-bayang anak-anak di sekolah tadi masih terus terngiang di dalam benak. Beberapa anak sedang chat dengan saya di blackberry messenger.
“Hati-hati di jalan, ya, ustadz, semoga apa yang ustadz impikan bisa terwujud.” tulis seorang murid, namanya Nabil.
“Amin, terimakasih, ya, Nak.”
Kami pun melanjutkan saling berbalas pesan. Kedekatan kami memang begitu terasa. Itulah mengapa begitu berat rasanya untuk pergi meninggalkan mereka semua. Namun sekali lagi saya teguhkan hati, bahwa ini demi sebuah impian, saya harus siap dengan berbagai macam konsekuensinya.
Pilihan demi pilihan telah banyak saya lalui dalam hidup ini. Ada banyak tawa dan tangis yang menemani pilihan demi pilihan yang telah saya buat. Seberat apapun pilihan itu, sebesar apapun konsekuensi atas pilihan yang telah saya buat, nyatanya Tuhan tidak pernah pergi. Ia selalu mendekap erat diri ini dalam kasih-Nya. Selalu ada tempat untuk bersujud di hadapan-Nya, mengadukan segala keluh kesah di dalam hidup.
Bus terus melaju, saya terdiam dan mencoba untuk lelap dalam tidur. Saya percaya, esok saya akan terbangun dan lebih tegar dalam menghadapi semua ini.
Ya Allah
Jika memang ini yang terbaik untuk kujalani, kuatkan hati hamba
Aku berserah diri sepenuhnya pada-Mu             
Semoga cintaku tetap utuh pada-Mu

Semoga pilihanku ini membawku ke jalan yang lebih dekat pada rahmat-Mu. 

Comments

Popular posts from this blog

Memilih Antara Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri: Pertimbangan Orangtua dalam Pendidikan Anak

Pendidikan adalah salah satu aspek paling penting dalam perkembangan anak-anak kita. Sejak dini, kita sebagai orangtua dihadapkan dengan pilihan yang signifikan: memilih antara sekolah swasta dan sekolah negeri untuk anak-anak kita. Keputusan ini seringkali tidak mudah, karena melibatkan banyak faktor yang harus dipertimbangkan secara cermat. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi berbagai pertimbangan yang sering menjadi dasar pilihan orangtua, serta analisis mendalam mengenai perbedaan, kelebihan, dan kelemahan dari kedua jenis pendidikan ini. Perbedaan Antara Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri Sebelum kita memasuki pembahasan lebih mendalam, ada baiknya untuk memahami secara jelas perbedaan mendasar antara sekolah swasta dan sekolah negeri. 1. Pendanaan dan Kepemilikan: Sekolah Negeri: Didanai dan dioperasikan oleh pemerintah setempat atau pemerintah pusat. Mereka biasanya tidak mengenakan biaya pendidikan (atau mengenakan biaya yang sangat terjangkau) dan didirikan untuk memastik...

Navigating the Uncharted Waters: Unique Mental Health Challenges Faced by Young Muslims

Mental health awareness has gained prominence in recent years, shedding light on the diverse challenges faced by different communities. For young Muslims, there are distinctive mental health hurdles that often go unnoticed. As they balance their faith, cultural backgrounds, and the demands of modern society, young Muslims encounter a unique set of challenges that impact their mental well-being. This article explores some of these challenges and offers insights into addressing them. Islamophobia and Discrimination One of the prominent challenges young Muslims face is Islamophobia and discrimination. The rise of hate crimes, negative media portrayals, and cultural bias can lead to feelings of isolation and anxiety among young Muslims. Experiencing discrimination can undermine their self-esteem and contribute to heightened stress levels. Identity Confusion Navigating the complexities of identity is a common struggle for young Muslims. They often grapple with questions about their...

Kepemimpinan Perempuan dalam Sejarah Peradaban Islam: Inspirasi dari Para Pahlawan

Sejarah peradaban Islam yang kaya tidak hanya melibatkan figur-figur laki-laki yang terkenal, tetapi juga banyak wanita yang memainkan peran penting dalam menginspirasi dan membentuk masa depan umat Islam. Kepemimpinan perempuan dalam sejarah Islam tidak hanya mencakup peran sebagai ibu, istri, atau sahabat, tetapi juga sebagai pemimpin politik, ilmuwan, filosof, dan aktivis sosial yang berpengaruh. Berikut beberapa contoh nyata dari kepemimpinan perempuan dalam sejarah peradaban Islam: 1. Aisyah binti Abu Bakar Aisyah binti Abu Bakar adalah istri Nabi Muhammad SAW yang memiliki peran penting dalam menyebarkan dan mengajarkan hadis-hadis Nabi. Dilahirkan sekitar tahun 614 Masehi, Aisyah dikenal karena kecerdasannya dalam memahami ajaran Islam dan berbagai aspek kehidupan pada masa itu. Dia menikah dengan Nabi Muhammad pada usia muda dan menjadi salah satu istri yang paling dekat dengannya. Selain sebagai istri dan teman setia Nabi, Aisyah juga dikenal sebagai seorang pendidik dan cende...