Skip to main content

Mendoan Glasgow

Dear Rifaldi,

Apa kabar? Dunia ini terasa sepi saat aku jauh dari kalian semua, Aku sendirian di tempat baru ini, Mengejar mimpi bersama dinginnya salju Glasgow. Hari pertama aku disini, aku bak orang yang tidak tahu jalan pulang, benar-benar sendirian, belum lagi tugas risetku yang harus segera kuselesaikan. Tapi aku akan selalu berusaha jadi sebaik mungkin. Sama sepertimu, semangat mengejar ilmu, dan takut menjadi mati ketika berhenti mencari tahu.

Meski kesepian memang kerap memeluk kita dalam pengetahuan-pengetahuan baru yang tak tersentuh khalayak ramai. Tetap ada serunya; pikiran-pikiran kita yang tak selalu selaras namun sebanding, kerap saling serang. Beberapa tahun ke depan kita akan kembali jumpa, membandingkan penemuan-penemuan baru kita. Siapa yang lebih baik? Aku berdoa semoga bukan kamu.
Tapi semoga kehangatan selalu ada di tiap temu dan diskusi kita.
Kawanmu,
Taffani
*
Aku tersenyum membaca surat elektronik yang ia kirimkan. Taffani, wanita matang yang selalu haus akan ilmu, semangatnya selalu membuatku iri. Aku tahu persis bagaimana ia berjuang menggapai mimpi, hingga ia bisa terbang menyeberangi lautan dan sampai ke Glasgow untuk menyelesaikan program P.hd-nya. Kadang ada iri dalam hati melihat semangatnya yang tidak pernah luntur, kegigihannya dalam memperjuangkan mimpi dan mulai berlayar sedikit demi sedikit ke pantai harapan. Badai, angin, selalu ia hadang dengan senyuman dan ketekunan.

Aku senang berteman dengannya sedari kecil, meski berkali-kali bertengkar, kami selalu punya cara untuk kembali menemukan kenyamanan. Bahkan bisa kukatakan, pertengkaran sudah menjadi rutinitas yang justru akhirnya mempererat kami. Satu hal yang kini membuatku khawatir, Ibu Taffani memintaku untuk segera melegalkan hubungan kami. Entahlah, aku merasa masih banyak kurangku. Dan aku masih belum mampu menghasilkan karya tulis yang lebih baik dari dia. Rasanya ada yang kurang. Persahabatan ini juga masih kunikmati. Aku takut jika kami menjadi pasangan, maka rivalitas kami terhenti, dan kami tak lagi punya semangat untuk saling mengalahkan. Dan ilmu pengetahuan pun habis untuk kami.

Persaingan diantara kami berdua selalu terjadi, sedari masih dibangku sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi, kalau dia yang mendapatkan nilai tertinggi di kelas, maka aku berada persis dibawah nilainya, begitu juga sebaliknya, jika aku yang memperoleh nilai tertinggi, maka Fanni lah yang menduduki posisi kedua nilai tertinggi. Persaingan itu sudah seperti mendarah daging.
*
Jum'at malam, cuaca di Purwokerto dingin menusuk ke tulang.
"Aku kangen mendoan," katanya memulai chat.
“Aku kangen salju," jawabku.
"Di sini susah nyari makanan yang enak," katanya lagi.
"Haha... Lucu ya. Satu sisi kita kerap meneliti perilaku orang, padahal kita sendiri bagian dari perilaku-perilaku itu. Contohnya kebenaran tentang rasa mendoan yang enak, bisa jadi tertolak ketika dikecap lidah seorang Skotland," balasku memancing diskusi.
“Contoh lain, persepsi orang tentang cinta dan persahabatan. Terminologinya tidak pernah bisa benar-benar jelas,” lanjutku.
"Yang penting jangan terlampau banyak memasukkan persepsi pribadi dalam menyimpulkan sebuah penelitian terhadap persepsi," balasnya.
"Bagaimana persepsimu tentang hubungan kita?" tanyaku.
"Maksudmu?”
“Ya, hubungan kita. Apakah kita hanya sebatas sahabat yang melengkapi satu sama lain, atau ada keinginan lain yang mungkin ada di dalam hatimu. Aku hanya ingin tahu lebih dalam agar hatiku tidak terlalu sering menduga-duga."

Cukup lama Fanni tidak membalas chatku, dan aku hanya terdiam menatap monitor menunggu jawab atas tanyaku.

"Aku berharap, totalitas cinta menyatu dalam diriku, merasuk dan bertahta dalam jiwaku," balasnya.

Dari jawabannya, aku menyimpulkan bahwa dia tengah menunggu. Bukan menunggu cinta menjadi benar-benar bertahta seperti apa yang dikatakannya barusan.
Dia menungguku untuk berani memutuskan.
 *
Aku gugup ketika menginjakkan kakiku di tempat ini. Aku belum memberi kabar tentang kedatanganku ke Glasgow, dan berharap rencanaku ini akan berhasil memukaunya. Namun belum saja berjumpa, hujan salju malah menahanku di bandara. Tubuh ini terkejut dengan cuaca yang begitu ekstrim. Baju hangat yang sudah kukenakan rasanya masih kurang untuk membuat tubuhku tetap hangat. Entah apa yang ada di dalam benakku, aku membuka koper dan mengambil sehelai kain, kemudian kugunakan untuk menutup bagian leher, persis seperti tukang jaga pos kemanan di desaku. Beberapa bule melihatku, arghh, aku tidak mempedulikan mereka.
*
Taffani menatapku cukup lama, sedang aku pura-pura tak sadar akan perhatiannya.
"Rifaldi?" sapanya kemudian.
"Apa kabar?" tanyaku justru mengejutkannya.
"Ngapain kamu di sini?"

Kami berdiri di tempat yang sama, menanti kereta tiba. Aku sendiri memang sengaja mengikutinya dari tadi. Dia makin cantik.
"Aku mau menghilangkan keraguan, dengan cara membuktikan bahwa cinta tidak relatif."
"Maksudmu?" tanyanya makin heran.
"Aku mau kamu jadi pendamping hidupku."

Matanya berkaca-kaca, kemudian aku mendekatinya dan mencoba untuk mengusap air mata yang mulai menetes dari kedua matanya.
"Jangan, kita belum muhrim,” ucapnya.
Aku tersenyum mendengar kalimat itu, ternyata Taffani benar-benar sedang berusaha menjadi seorang Muslimah yang ta'at akan aturan-Nya. Dan aku bahagia dengan semua itu.
“Kamu mau kan jadi pendamping hidupku?”

Dia mengangguk pelan tanda setuju. Ah, entah kata apa yang bisa mewakili perasaanku saat ini. Seketika Glasgow menjadi hangat ditemani senyum calon pengantinku.

#20HariNulisDuet 
Tulisan kolaborasi Arian Sahidi dan Reza Nufa

Comments

  1. waaw, fotonya dipajang! :))
    Jadi namanya siapa? #jderr

    ReplyDelete
  2. pura2 nggak baca komentar Reza :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan

Popular posts from this blog

Memilih Antara Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri: Pertimbangan Orangtua dalam Pendidikan Anak

Pendidikan adalah salah satu aspek paling penting dalam perkembangan anak-anak kita. Sejak dini, kita sebagai orangtua dihadapkan dengan pilihan yang signifikan: memilih antara sekolah swasta dan sekolah negeri untuk anak-anak kita. Keputusan ini seringkali tidak mudah, karena melibatkan banyak faktor yang harus dipertimbangkan secara cermat. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi berbagai pertimbangan yang sering menjadi dasar pilihan orangtua, serta analisis mendalam mengenai perbedaan, kelebihan, dan kelemahan dari kedua jenis pendidikan ini. Perbedaan Antara Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri Sebelum kita memasuki pembahasan lebih mendalam, ada baiknya untuk memahami secara jelas perbedaan mendasar antara sekolah swasta dan sekolah negeri. 1. Pendanaan dan Kepemilikan: Sekolah Negeri: Didanai dan dioperasikan oleh pemerintah setempat atau pemerintah pusat. Mereka biasanya tidak mengenakan biaya pendidikan (atau mengenakan biaya yang sangat terjangkau) dan didirikan untuk memastik...

Navigating the Uncharted Waters: Unique Mental Health Challenges Faced by Young Muslims

Mental health awareness has gained prominence in recent years, shedding light on the diverse challenges faced by different communities. For young Muslims, there are distinctive mental health hurdles that often go unnoticed. As they balance their faith, cultural backgrounds, and the demands of modern society, young Muslims encounter a unique set of challenges that impact their mental well-being. This article explores some of these challenges and offers insights into addressing them. Islamophobia and Discrimination One of the prominent challenges young Muslims face is Islamophobia and discrimination. The rise of hate crimes, negative media portrayals, and cultural bias can lead to feelings of isolation and anxiety among young Muslims. Experiencing discrimination can undermine their self-esteem and contribute to heightened stress levels. Identity Confusion Navigating the complexities of identity is a common struggle for young Muslims. They often grapple with questions about their...

Kepemimpinan Perempuan dalam Sejarah Peradaban Islam: Inspirasi dari Para Pahlawan

Sejarah peradaban Islam yang kaya tidak hanya melibatkan figur-figur laki-laki yang terkenal, tetapi juga banyak wanita yang memainkan peran penting dalam menginspirasi dan membentuk masa depan umat Islam. Kepemimpinan perempuan dalam sejarah Islam tidak hanya mencakup peran sebagai ibu, istri, atau sahabat, tetapi juga sebagai pemimpin politik, ilmuwan, filosof, dan aktivis sosial yang berpengaruh. Berikut beberapa contoh nyata dari kepemimpinan perempuan dalam sejarah peradaban Islam: 1. Aisyah binti Abu Bakar Aisyah binti Abu Bakar adalah istri Nabi Muhammad SAW yang memiliki peran penting dalam menyebarkan dan mengajarkan hadis-hadis Nabi. Dilahirkan sekitar tahun 614 Masehi, Aisyah dikenal karena kecerdasannya dalam memahami ajaran Islam dan berbagai aspek kehidupan pada masa itu. Dia menikah dengan Nabi Muhammad pada usia muda dan menjadi salah satu istri yang paling dekat dengannya. Selain sebagai istri dan teman setia Nabi, Aisyah juga dikenal sebagai seorang pendidik dan cende...