Skip to main content

Posts

Belajar Menerima

Foto di atas reruntuhan desa kuno di Puncak Jabal Akhdar-Oman Covid-19, seolah menjadi buah bibir yang tak kunjung habis untuk dibicarakan akhir-akhir ini. Menyebarnya wabah ini ke seluruh penjuru dunia menjadikannya topic hangat yang terus diberitakan di segala macam media. Setiap orang seolah-olah berlomba untuk memberikan info paling update terkait Covid-19. Sedangkan saya, sudah beberapa hari ini memilih untuk tidak banyak membaca terkait hal ini selain pada sumber-sumber yang sudah jelas valid dan itu menenangkan, tidak seperti berbagai tulisan yang beredar di social media yang kadang menimbulkan kekhawatiran berlebih. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari adanya wabah ini. Salah satu pelajaran besar yang bisa saya dapatkan adalah bagaimana kita bisa menerima akan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana kita dengan penuh keikhlasan. Sejak Covid-19 ini menyebar, saya memilih untuk mundur perlahan-lahan, membatalkan beberapa rencana perjalanan saya; Penerbangan ...

Syiar Islam Yang Mulai Dilupakan

Dalam Islam, kita memiliki ungkapan indah yang harus selalu kita angkat. Ia merupakan syiar paling agung. Kita harus membanggakannya di hadapan umat-umat yang lain. Kita harus mempersembahkannya sebagai risalah universal. Kita deklarasikan kalimat ini di berbagai forum internasional. Yaitu “assalaamu’alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh”. Rasul SAW mewajibkan kita untuk mengucapkannya saat kita saling bertemu. Saat kita masuk ke majelis dan tempat-tempat pertemuan yang bersifat umum. Saat salah seorang di antara kita bertemu dengan saudaranya di jalan, ia mengucap, “assalamualaikum,” Apa maknanya? Pernahkan engkau memikirkan makna assalamualaikum ? Mengapa ketika mendatangi ayahmu, ibumu, saudaramu, atau saudaramu; mengapa ketika masuk ke pasar engkau disuruh untuk mengucap salam? Pada satu waktu, sayang sekali kalimat ini tidak lagi ditemukan di tengah-tengah kaum Muslimin. Mereka telah menghapusnya dari kamus mereka dan menggantikannya dengan ungkapan lain, “selamat datang,...

Betapa Ramahnya Orang Oman

Bagi saya, berinteraksi dengan masyarakat setempat, berkenalan, bercerita banyak hal tentang budaya masing-masing dalam sebuah perjalanan selalu menjadikan perjalanan lebih bermakna. Karena hidup adalah tentang bagaimana kita memahami kehidupan itu sendiri. Semakin tahu, maka akan semakin bahagia kita menjalaninya. Saya sering kali bertemu orang-orang luar biasa dalam perjalanan. Perjalanan terbaru yang baru saya selesaikan beberapa bulan lalu adalah menjelajah Negeri Oman, negeri kaya yang begitu ramah terhadap tamu-tamu yang datang. Saya tidak hanya berkunjung ke aneka penjuru Negeri Oman, tapi juga berkesempatan belajar Bahasa Arab di Sulthan Qaboos College, Oman. Tulisan tentang ini sudah saya tulis di sini . Saya masih ingat, dalam waktu dua bulan saja, saya memiliki banyak sekali kenalan baru. Security di apartemen saya sampai terkagum-kagum bagaimana saya bisa mengenal sedemikian banyak orang hanya dalam waktu dua bulan. "Saya belum pernah melihat mahasi...

2.5 Bulan di Oman, Belajar Bahasa Arab sambil Jalan-jalan

Beberapa waktu lalu, ketika saya menulis betapa ramahnya orang-orang Oman, banyak yang DM saya, bertanya tentang program apa yang saya ikuti selama 2.5 bulan di Oman. Jadi begini, ketika di Oman, saya mengikuti program kursus singkat Modern Standard Arabic, lebih khususnya saya belajar penulisan dalam bahasa Arab. Karena saya memang butuhnya adalah mengasah kemampuan menulis paper. Berat, ya? Nggak, kedengarannya aja berat, tapi menyenangkan, meski setiap pekan saya harus menulis beberapa artikel dalam bahasa Arab dengan tema-tema yang berbeda. Saya pernah menulis artikel terkait politik, masalah dalam keluarga, problematika generasi muda, dan banyak lagi 😊 . Nulisnya dalam bahasa ARAB, ya, bukan Jawa. J Program ini mencakup semua level kok, dimulai dari dasar sekalipun ada kelasnya. Kalo saya waktu itu ikut kelas advance gitu. Nanti akan ada placement test kalo kita udah sampai sana. Jangan khawatir kalo level kamu masih pemula, kamu akan gabung dengan teman-teman pemula...

Krisis Spiritual

Dalam sebuah kelas, saya bertanya ke mahasiswa “Ada yang tahu arti surat Al Fatihah dari awal sampai akhir?” suasana kelas langsung hening. Suasana kelas mulai riuh dengan suara ketika saya membaca ayat demi ayat hingga sampai pada ayat “ Iyyaka na’budu waiyya kanasta’in ”, suara-suara mulau melemah, hanya sedikit yang bersuara. Ada yang seolah menerawang sambil menatap langit-langit kelas, ada yang berbisik lirih dengan teman di sebelahnya, dan ada yang hanya diam memaku. Saya melanjutkan ayat selanjutnya “ Ihdinassirathal mustaqim, sirathalladzina an’amta ‘alaihim ghoiril maghduubi ‘alaihim waladhdhallin, ” suasana kelas hening tanpa suara. Beberapa hari selanjutnya, saya menanyakan pertanyaan yang sama ke beberapa kelas. Ada kurang lebih 180 lebih mahasiswa di kelas-kelas yang saya ampu, hasilnya sama. Hanya tiga ayat pertama yang mereka bisa, selebihnya mereka mulai kesulitan untuk menjawab artinya. Saya menatap mereka lekat-lekat sambil bertanya, “Sejak kapan kalia...

Syahidah Itu Bernama Sumayyah

Melalui lembaran-lembaran ini, kita akan menelusuri sebuah kisah tentang kekuatan sabar dalam menghadapi ujian hidup. Kisah yang selalu diulang-ulang setiap hari, yakni kisah pertentangan antara iman dan kekafiran. Kita akan menjumpai wanita pertama yang meninggal sebagai syuhada dalam sejarah Islam. Dia adalah wanita suci yang telah menorehkan catatan keabadian dalam lembaran sejarah dan Islam telah menetapkannya pada kedudukan yang sangat tinggi. Dia adalah Sumayyah binti Khabat ra. yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah Saw akan masuk surga. Sungguh, itu merupakan kabar gembira yang membuat segala bentuk penderitaan dan siksaaan terasa manis dan menyenangkan. Kisah ini diawali dengan kedatangan Yasir, ayah ‘Ammar, dari Yaman bersama dua saudaranya Al-Harits dan Malik ke Kota Makkah untuk mencari saudara mereka yang menghilang dalam beberapa tahun terakhir. Sejak itu, mereka terus mencari ke berbagai pelosok negeri hingga sampai di Kota Makkah. Tapi, di Kota ini...

Mewujudkan Generasi Qur'ani

Mengajarkan cinta kepada Al Qur’an bagi anak-anak adalah salah satu tanggung jawab terbesar bagi orang tua. Tidak sedikit generasi muslim yang tidak bisa membaca Al Qur’an. Jika ini dibiarkan, kita akan berhadapan dengan generasi yang asing dengan Al Qur’an. Bagaimana Al Qur’an bisa menjadi panduan hidup jika membacanya saja tidak bisa. Al Qur’an adalah firman Allah swt, yang jika dibaca akan bernilai ibadah, yang jika dikaji dengan saksama, di dalamnya penuh dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Menamamkan cinta pada Al Quran sejak dini akan memotivasi mereka untuk menghafal dan belajar bagaimana membaca Al Quran dengan baik dan benar. Mereka yang menjadikan Al Qur’an sebagai panduan hidup akan mendapatkan syafaat di hari akhir nanti. Nabi Muhammad saw bersabda: “Bacalah Al-Quran, kelak ia akan datang di Hari Kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim). Salah satu keistimewaan Al Quran adalah diberikan pahala bagi orang yang membacanya. Ibnu Mas'u...