Skip to main content

Posts

Perbedaan Itu Indah

Jogja suatu Waktu 10 Desember 2014 Saya lahir di daerah yang dekat dengan pantai, dengan volume suara yang seolah berusaha mengalahkan kerasnya deru ombak di lautan, memekakkan telinga. Acap kali ketika berada di suatu tempat, saya dikira sedang meluapkan kemarahan yang telah lama terbendung. Ketika sampai di Jawa, ada banyak orang yang mengira saya sedang emosi, jengkel, padahal saya hanya berbicara dengan gaya bicara yang biasa saya pakai sehari-hari selama di Bengkulu. Kemudian sedikit demi sedikit saya berusaha menyesuaikan diri, mulai berbicara dengan nada yang lebih rendah dari biasanya, meski cukup susah di awalnya. Pernah berbicara dengan orang Inggris asli? Coba perhatikan, mereka berbicara dengan suara yang kadang nyaris tidak terdengar menurut saya, lembut, sedangkan saya berbicara bak seseorang yang marah karena kekasih hatinya diambil orang lain (ok ini mulai lost focus ). Saya sering dikira lagi marah, bahkan pernah hampir cekcok hanya karena nada bicara saya...

Perpisahan Dengan Sahabat

 Hamzah dan saya 8 Desember 2014 Sepekan terakhir saya cukup sibuk dengan seabrek tugas yang nggak berhenti-berhenti, ditambah ada kesalahan dalam salah satu makalah saya karena ternyata makalah yang saya buat salah judul dan tentu saja salah isi. Rencana untuk santai akhir pekan kali ini gagal, karena saya harus menulis dari awal lagi. Jadi untuk meluangkan waktu menemani sahabat saya, Hamzah yang akan kembali ke Libia cukup susah. Karena dia sudah menyelesaikan studi masternya di UIN Malang, jadi dia akan kembali ke negaranya. Sedih? Aih jangan ditanya, ya. Kadang kita merasa betapa berartinya orang-orang yang ada di sekitar kita justru saat perpisahan di depan mata, meski sebenarnya masih tetap bisa komunikasi dengan skype dan berbagai macam aplikasi lainnya. Hari Kamis yang lalu, saya dan Hamzah pergi ke kantor imigrasi, perpanjang masa tinggal dia selama 14 hari sebelum kembali ke Libia. Pas menuju Kantor Imigrasi, hujan lebat, untung sudah dekat, jadi masih aman d...

Etika Perokok

Sabtu, 29 November 2014 Rasanya weekend atau tidak sama saja bagi saya. Nyatanya, hari ini saya tetap ke kampus, bawa buku seabrek-abrek gitu, masuk ke perpustakaan, melanjutkan penulisan makalah yang belum selesai. Minggu ini saya menulis tiga makalah, maju presentasi dua makalah, revisi satu makalah dan hari Sabtu yang seharusnya buat santai alias bermalas-malasan, itu hanya mitos belaka. Yupz, I have to finish my papers. Setelah dirasa cukup, otak saya sudah mumet alias pusing, saya mengirim pesan ke renat. “Salam. Apa kabar? Apa yang kamu lakukan akhir pekan kali ini?” “Salam. Saya sedang istirahat seperti biasa, apa yang kamu lakukan?” jawab Renat kemudian. “Saya baru pulang dari perpustakaan seperti biasa.” Akhir-akhir ini memang sebisa mungkin saya menggunakan Bahasa Indonesia dengan Renat, karena dia juga sedang berusaha belajar Bahasa Indonesia, lagi rajin-rajinnya belajar. Habis ashar, saya pergi ke kampus satu, saya lihat Renat di masjid, sedang membaca bu...

Bahasa Indonesia Bagi Mahasiswa Asing

Sejak awal saya di UIN Malang, saya merasakan butuh dengan bahasa Arab, akhirnya saya sengaja mengambil les private dengan salah satu mahasiswa asal Libia, namanya Ahmad. Dia mengajari saya bahasa Arab di kampus pada hari Senin dan Rabu. Sebagai imbalannya, saya mengajarinya percakapan sederhana dalam bahasa Inggris, karena sebagian besar mahasiswa-mahasiswa dari Timur Tengah tidak bisa berbahasa Inggris. Saya merasakan perubahan yang cukup signifikan dalam berbahasa Arab. Awalnya, saya sama sekali tidak berani berbicara, kini sudah mulai berani berbicara dan sedikit demi sedikit mulai merasakan perubahan dalam kemampuan memahami literatur berbahasa Arab. Setelah hampir 3 bulan bergaul dengan international students dari berbagai macam Negara, terutama yang di pasca sarjana, meski tidak sedikit juga yang saya kenal di tingkat bachelor , ada satu pertanyaan yang kemudian mengusik hati saya, apakah tidak ada persiapan bahasa Indonesia bagi mahasiswa internasional? Saya merasakan ...

Teruntuk Faris

Faris Ersan Arizona Kalian tentu masih ingat dengan Faris Ersan Arizona, bukan? Salah satu murid saya yang pernah saya tulis di dalam buku yang berjudul “Dear Faris – Catatan Inspirasi si Pahlawan Kecil-”. Hari ini saya dikagetkan oleh sebuah komentar salah satu rekan di salah satu status saya di Facebook. “Minta doanya, Faris bulan depan mau operasi di Bandung. Kakinya pasca kecelakaan infeksi keluar nanah terus dan mengalami pengeroposan.” Seketika saya kaget, sudah beberapa hari saya tidak berkomunikasi dengan Faris, terakhir kayaknya satu pekan yang lalu, sempat lama ngobrol, ketawa bareng, dia pun masih suka usil sama saya, dan saya mengakui, karena jarak dan juga kesibukan, saya jarang berkomunikasi dengan Faris. Dari perbincangan saya dengannya, saya tahu dia masih kuat menjalani semua ini. Dalam hidup, kita memang dihadapkan pada pilihan-pilihan yang kadang tidak mudah untuk dilalui, namun satu hal yang perlu dipercayai bahwa tugas kita adalah berusaha sebaik mungk...

Merinduimu

Jarak memang membentang jauh di antara hatiku dan hatimu. Derap langkah kita tak lagi beringingan seperti dahulu, ada batas-batas yang membuat langkah kita semakin menjauh, menuju jalan masing-masing dengan cara dan aneka ragam warna jalan yang dilalui. Tapi hati kita tetap bersama meski ada jarak yang memisah. Aku disini, dengan rangkaian doa-doa suci yang kurajut untukmu, seseorang yang telah berhasil menggenggam erat cinta yang dulu berterbangan bersama waktu. Engkau hadir mewarnai gelapnya malam yang dulu seakan menjadi akhir dari perjalanan hati yang tak kunjung berlabuh, aku jatuh cinta ketika tegur sapa pertama denganmu meski tanpa suara. “Cinta, setialah pada hatiku sebagaimana kesetiaan hatiku menyebut namamu dalam doaku.” Cinta, merinduimu adalah caraku membagi rasa yang kadang lelah merayu hati. Aku mencintaimu dalam tiap rindu-rindu yang terucap di kalbu nan disana. Ada namamu yang selalu kusebut di dalam sujud panjangku, ada wajahmu yang hadir kala tangisku tump...

Pantai Goa Cina

17 November 2014 Halo, selamat pagi semuanya, Ini sudah hari Senin lagi, bro, bangunnn, saatnya kuliah pagi (kucek-kucek mata yang masih mengantuk). Well, pagi ini saya mau cerita tentang kegiatan saya dan beberapa teman sekelas di hari Minggu kemarin. Baiklah, ini semacam tulisan tukang rusuh yang sengaja mengajak orang biar merasakan bahagianya kebersamaan yang saya rasakan kemarin. Entahlah, selalu ada bahagia yang menyeruak tiap kali berada di tengah-tengah sahabat-sahabat terkasih. Kemarin, setelah sebelumnya sibuk dengan tugas (lagi-lagi tugas, bro, kapan berakhirnya ini #drama), saya dan 10 orang teman akhirnya memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Sebenarnya ide ini sudah lama, tapi nggak kunjung direalisasikan dengan alasan kesibukan. Jalan-jalan ini juga lebih tepatnya karena saya yang menjadi virus alias tukang provokasi karena pekan sebelumnya saya pergi jalan-jalan dan mereka melihat foto-foto yang saya share di jejaring sosial, jadilah semangat untuk jalan-jalan ...