Skip to main content

Posts

Ayah

Ayah tipe orang yang sangat hemat dalam berucap. Setiap kali mudik pas lebaran, beliau tidak akan banyak berbincang dengan saya. Dalam diamnya, saya tahu, Ayah sangat menyayangi kami anak-anaknya. Saya tahu bagaimana ia bekerja sedemikian keras demi kami anak-anaknya yang terkasih. Biasanya, saya dan Ayah berbincang selepas maghrib di ruang tamu, ditemani Ibu dan juga adik-adik yang sudah semakin besar. Jangan harap akan banyak basa-basi dari Ayah, beliau hanya akan bertanya pertanyaan standar setelah lama tidak bertemu, misal, “Bagaimana perjalanan dari Jawa ke Bengkulu?” “Bagaimana pekerjaan dan rencana studi S2-mu?” Dan lain-lain, setelah itu biasanya Ibu yang lebih banyak berbicara, sedangkan Ayah hanya menjadi pendengar yang baik, dan tentu saja ucapan beliau selalu saya dengarkan dengan baik. Ayah dan Ibu memang dua orang yang berbeda dalam hal bagaimana berkomunikasi dengan anak-anaknya. Ibu paling aktif berbicara, sedangkan Ayah tipe yang sangat hemat dal...

Dear Winda

5 Agustus 2014 Bismillah Sore ini, adik saya yang paling kecil meminta saya untuk menelponnya. Sebenarnya sejak saya berangkat menuju airport kemarin dia memang sudah menangis haru. Saya masih ingat dengan baik saat Winda memegang erat saya, seolah tidak ingin melepaskan kepergian saya ke tanah rantau. Dia hanya mematung sambil menangis dengan lengkingan suara yang cukup keras, sambil membiarkan saya memeluk tubuhnya yang semakin meninggi, menciumi keningnya dan membisikkan di telinga mungilnya betapa saya sangat menyayanginya. Saat saya sudah berada di dalam travel menuju airport, Winda masih menangis. Saya juga tahu, dia tidak akan berhenti sampai disitu, akan ada tangis-tangis darinya untuk beberapa hari ke depan. Dan sore ini, saya menelponnya, mendengarkan celotehnya yang menenangkan, sampai akhirnya ia berucap sambil terisak. Saya bisa mendengar dengan jelas isak tangisnya di ujung telpon. Dia tersedu-sedu sambil terbata-bata menyampaikan apa yang sedang ia rasakan....

Mengeja Kenangan di Pesantren

Setiap kali mudik ke bengkulu, dari airport saya selalu berusaha untuk mampir ke pondok pesantren tempat saya menuntut ilmu waktu masih SMP dan SMA. Mudik kali ini saya bermalam satu malam di pondok, bertemu dengan beberapa kawan yang masih setia mengabdi di pondok meski santrinya hanya tersisa 5 orang saja, berbeda jauh dengan kondisi 7  tahun yang lalu saat saya masih berada di pondok. Kala itu, pesantren ini merupakan pesantren terbesar dan terbaik di Bengkulu dan tentu saja termegah. Dan kini, semua tinggal cerita yang entah kapan akan kembali terulang masa kejayaannya. Saat menunaikan shalat subuh di masjid pesantren yang juha sudah lapuk dan semakin tak terawat, saya menangis, teringat akan almarhum Buya dan Papi yang sudah berjuang sedemikian hebatnya demi membangun sebuah lembaga pendidikan bagi mereka yang kurang mampu dan kini pesantren sudah berada di ujung tanduk karena tidak adanya sumber dana untuk mengembangkannya kembali. Sejak Papi meninggal, keadaan memang beru...

Keluar Dari Zona Nyaman

Kadang kita memang harus pergi dari zona nyaman yang kita punya, untuk menggapai impian yang lebih tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas diri. Mungkin inilah sebenarnya yang sedang saya lakukan, meninggalkan zona nyaman demi sebuah mimpi yang sudah saya persiapkan dalam satu tahun terakhir. Mulai dari belajar soal-soal bahasa inggris yang sempat membuat saya down parah karena merasa kesusahan dalam mencerna soal-soal yang dipenuhi dengan tata bahasa, belajar soal-soal Tes Potensi Akademik yang merupakan hal baru buat saya, psikotes, berulang kali merubah tujuan Universitas, sampai harus menghemat biaya hidup demi melanjutkan study , dan itu semua cukup menguras tenaga, waktu dan juga pikiran. Meski demikian, saya menikmati kesempatan yang Allah berikan pada saya, meski saya juga tahu, ada orang-orang yang tidak suka melihat saya berusaha menjadi lebih baik lagi, tapi bukankah Tuhan punya rencana yang indah bagi hamba-Nya? Selagi apa yang kita usahakan itu baik, Insha A...

Mafaza

26 Juni Tadi pagi, saya dan santri Mafaza duduk bareng, kemudian mencoba untuk menganalisa kembali apa yang sudah kami lakukan dalam satu semester ini. Menjelang Ramadhan, kegiatan kajian rutin akan diganti dengan kegiatan-kegiatan Ramadhan yang sudah disusun sedemikian baik oleh mereka. Saya bangga bisa mengenal mereka semua. Sehari sebelumnya, saya sudah memberi mereka kesempatan untuk menulis kritik dan saran yang ditujukan untuk diri saya pribadi. Kritik dan saran ini dalam rangka introspeksi diri pribadi, agar bisa menjadi lebih baik lagi dalam membimbing mereka semua. Mereka bukan hanya sekadar santri bagi saya, tapi juga adik dan juga sahabat yang baik yang bisa menjadi teman berbagi suka dan duka. Mungkin perbedaan umur yang tidak terlalu jauh membuat kami lebih dekat satu sama lain meski memang belum sepenuhnya saya mengenal mereka satu persatu karena memang belum lama saya membina mereka secara penuh. Saya memang suka memberikan kesempatan anak-anak di sekol...