5 Agustus 2014 Bismillah Sore ini, adik saya yang paling kecil meminta saya untuk menelponnya. Sebenarnya sejak saya berangkat menuju airport kemarin dia memang sudah menangis haru. Saya masih ingat dengan baik saat Winda memegang erat saya, seolah tidak ingin melepaskan kepergian saya ke tanah rantau. Dia hanya mematung sambil menangis dengan lengkingan suara yang cukup keras, sambil membiarkan saya memeluk tubuhnya yang semakin meninggi, menciumi keningnya dan membisikkan di telinga mungilnya betapa saya sangat menyayanginya. Saat saya sudah berada di dalam travel menuju airport, Winda masih menangis. Saya juga tahu, dia tidak akan berhenti sampai disitu, akan ada tangis-tangis darinya untuk beberapa hari ke depan. Dan sore ini, saya menelponnya, mendengarkan celotehnya yang menenangkan, sampai akhirnya ia berucap sambil terisak. Saya bisa mendengar dengan jelas isak tangisnya di ujung telpon. Dia tersedu-sedu sambil terbata-bata menyampaikan apa yang sedang ia rasakan....