Skip to main content

Posts

Mengeja Kenangan di Pesantren

Setiap kali mudik ke bengkulu, dari airport saya selalu berusaha untuk mampir ke pondok pesantren tempat saya menuntut ilmu waktu masih SMP dan SMA. Mudik kali ini saya bermalam satu malam di pondok, bertemu dengan beberapa kawan yang masih setia mengabdi di pondok meski santrinya hanya tersisa 5 orang saja, berbeda jauh dengan kondisi 7  tahun yang lalu saat saya masih berada di pondok. Kala itu, pesantren ini merupakan pesantren terbesar dan terbaik di Bengkulu dan tentu saja termegah. Dan kini, semua tinggal cerita yang entah kapan akan kembali terulang masa kejayaannya. Saat menunaikan shalat subuh di masjid pesantren yang juha sudah lapuk dan semakin tak terawat, saya menangis, teringat akan almarhum Buya dan Papi yang sudah berjuang sedemikian hebatnya demi membangun sebuah lembaga pendidikan bagi mereka yang kurang mampu dan kini pesantren sudah berada di ujung tanduk karena tidak adanya sumber dana untuk mengembangkannya kembali. Sejak Papi meninggal, keadaan memang beru...

Keluar Dari Zona Nyaman

Kadang kita memang harus pergi dari zona nyaman yang kita punya, untuk menggapai impian yang lebih tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas diri. Mungkin inilah sebenarnya yang sedang saya lakukan, meninggalkan zona nyaman demi sebuah mimpi yang sudah saya persiapkan dalam satu tahun terakhir. Mulai dari belajar soal-soal bahasa inggris yang sempat membuat saya down parah karena merasa kesusahan dalam mencerna soal-soal yang dipenuhi dengan tata bahasa, belajar soal-soal Tes Potensi Akademik yang merupakan hal baru buat saya, psikotes, berulang kali merubah tujuan Universitas, sampai harus menghemat biaya hidup demi melanjutkan study , dan itu semua cukup menguras tenaga, waktu dan juga pikiran. Meski demikian, saya menikmati kesempatan yang Allah berikan pada saya, meski saya juga tahu, ada orang-orang yang tidak suka melihat saya berusaha menjadi lebih baik lagi, tapi bukankah Tuhan punya rencana yang indah bagi hamba-Nya? Selagi apa yang kita usahakan itu baik, Insha A...

Mafaza

26 Juni Tadi pagi, saya dan santri Mafaza duduk bareng, kemudian mencoba untuk menganalisa kembali apa yang sudah kami lakukan dalam satu semester ini. Menjelang Ramadhan, kegiatan kajian rutin akan diganti dengan kegiatan-kegiatan Ramadhan yang sudah disusun sedemikian baik oleh mereka. Saya bangga bisa mengenal mereka semua. Sehari sebelumnya, saya sudah memberi mereka kesempatan untuk menulis kritik dan saran yang ditujukan untuk diri saya pribadi. Kritik dan saran ini dalam rangka introspeksi diri pribadi, agar bisa menjadi lebih baik lagi dalam membimbing mereka semua. Mereka bukan hanya sekadar santri bagi saya, tapi juga adik dan juga sahabat yang baik yang bisa menjadi teman berbagi suka dan duka. Mungkin perbedaan umur yang tidak terlalu jauh membuat kami lebih dekat satu sama lain meski memang belum sepenuhnya saya mengenal mereka satu persatu karena memang belum lama saya membina mereka secara penuh. Saya memang suka memberikan kesempatan anak-anak di sekol...

Kesadaran Beragama

  Seseorang yang terlahir sebagai seorang muslim tidak bisa menjadi jaminan bahwa dia akan memiliki kesadaran beragama yang baik. Seseorang yang memiliki pemahaman agama yang mapan bukan berarti dia adalah orang yang memiliki kesadaran beragama. Sekadar lahir sebagai seorang muslim saja tidak lah cukup jika tidak diiringi dengan belajar tentang agama yang kita yakini. Sekadar paham saja tidaklah cukup jika tidak disertai dengan pengamalan akan ilmu yang kita miliki. Sederhananya begini, sekadar tahu tata cara shalat yang baik dan benar saja tidaklah cukup, jika tidak disertai dengan mendirikan shalat dengan baik dan benar. Sekadar tahu halal dan haram saja tidaklah cukup, jika tidak disertai dengan pengamalan untuk menjauhi yang haram dan melakukan sesuatu yang halal. Saat ini, kita bisa menyaksikan ada banyak orang yang memiliki ilmu Agama yang baik, tapi hanya sekadar paham agama, tapi tidak memiliki kesadaran beragama yang baik. Inilah sebenarnya yang menjadi masalah ...

Motivation Day

31 Mei 2014 Hari ini, saya dan anak-anak mengadakan kegiatan “Motivation Day” setelah sebelumnya mengikuti kegiatan sahabat asuh di desa. Saya memang sedang mengajarkan anak-anak untuk berempati pada sekitar mereka, untuk mulai membuka mata bahwa ada banyak orang-orang yang membutuhkan uluran tangan mereka. Kemarin kami sudah praktik berbagi kepada anak-anak TPA di Karanggintung, dan hari ini kami belajar tentang empati dari seseorang yang memang memiliki pengalaman berharga dalam berbagai macam kegiatan sosial, beliau adalah Mas Hidayat, S.Sos, Direktur Lazis Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto. Dengan berbagai macam pengalaman dalam lingkung sosial, saya merasa beliau adalah orang yang tepat untuk menggugah anak-anak agar mau peduli pada sesama. Kegiatan kami dimulai pukul 07.30 pagi di Libero Café. Saat anak-anak datang, saya memutar sebuah video yang berisi foto-foto kebersamaan kami selama kurang lebih satu tahun terakhir. Selain kegiatan motivasi, hari ini merupakan...