Skip to main content

Posts

Pergilah, Nak

Jum’at, 19 Oktober 2012 Kematian memang misteri, tidak ada yang bisa memastikan kapan seseorang akan kembali ke sisi Allah SWT, Tuhan yang telah menciptakan semua yang ada. Kematian juga menghadirkan sungai yang dipenuhi oleh linangan air mata duka, duka karena kehilangan orang yang dicintai. “Lantas, jika memang kematian sudah pasti terjadi, siapkah kita menghadapinya?” Saya sendiri kerap terdiam jika ada yang mengajukan pertanyaan tentang itu. Saya masih merasa belum siap jika harus kembali ke sisi-Nya, sementara noda hitam memenuhi relung hati ini. Tapi, satu doa yang selalu saya panjatkan, semoga saya kembali ke sisi-Nya dalam keadaan husnul khotimah . Amin. Kali ini, saya ingin menuliskan tentang salah satu murid saya, namanya “Nida Hasna Zain”. Saya memang tidak terlalu banyak tahu tentangnya. Saya juga tidak pernah mengajar di kelasnya. Saya juga tidak pernah berbicara langsung dengannya. Nida menderita penyakit thalasemia sejak masih kecil. Jika m...

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” Saya yakin kalian juga pernah membaca kalimat di atas, entah itu di buku-buku pelajaran, artikel-artikel pendidikan, atau mungkin kalian sering mengucapkan kalimat itu. Saya adalah seorang guru, meski baru seumur jagung masa kerja saya sebagai seorang guru. Akan tetapi, lamanya masa mengajar tentu bukan menjadi tolak ukur profesionalitas seorang guru. Guru itu memiliki tanggung jawab yang sangat besar, dimana ia selalu dijadikan panutan oleh anak didiknya. Guru itu memiliki kewajiban untuk merubah anak didiknya “dari tidak tahu menjadi tahu”. Itulah sebuah proses panjang perjuangan seorang guru. Juli 2011 Kali pertama saya menjadi seorang guru, saya sempat merasakan betapa berat amanah yang ada di pundak saya. Sebuah amanah yang merupakan titipan dari masing-masing wali murid, untuk mendidik anak-anak mereka menjadi putra-putri yang memilik kepribadian unggul. Namun, saya yakin bahwa saya bisa mengemban amanah ini, meski jalan ...

Guruku Adalah Pahlawanku

Dulu, saya adalah seorang anak yang sangat pemalu, tidak berani mengemukakan pendapat saat di kelas, tidak berani maju menjawab soal-soal yang dibuat oleh guru, tidak banyak bicara. Saya hanya suka dengan kesendirian, diam dan melakukan berbagai macam hal sendiri. Saya tidak banyak berinteraksi dengan teman-teman. “Guruku adalah pahlawanku.” Saya menyebutnya demikian, saya mempunyai seorang guru perempuan, beliau adalah guru yang mengajar tauhid, nama beliau adalah Ustadzah. Sulastri, S.Ag. Beliau begitu perhatian, selalu memberi kesempatan pada saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang beliau ajukan, dan tidak pernah bosan, meski saya sangat susah untuk menjawab semua pertanyaan itu. Bukan karena saya tidak bisa menjawab, akan tetapi karena malu yang sangat berlebihan yang masih belum bisa saya kurangi. Pada satu kesempatan, saya dipanggil oleh Ustadzah. Sulastri, beliau mengajarkan kepada saya bahwa “malu memang sebagian dari iman.”, Akan tetapi malu yang dima...

Bait-bait Rasa

30 Oktober 2012 Sore ini, hujan rintik-rintik membasahi semesta, membiarkan angin berhembus bersamaan dengan jatuhnya air hujan ke bumi. Aku berdiri di depan kelas, menjabat satu persatu tangan murid-muridku, menghantarkan mereka pulang dengan senyum yang tak henti-hentinya terukir di bibirku. Aku memang berusaha mengakhiri pertemuan kami dengan menjabat tangan mereka. Setelah menjabat tangan mereka, suara adzan ashar berkumandang, aku langsung shalat ashar berjama’ah bersama dengan murid-murid. Lepas shalat ashar, hujan masih setia dengan rintiknya, sementara anak-anak kelas VII sudah siap dengan pakaian taekwondo. Mereka masih menunggu pelatih taekwondo datang. Aku menghampiri mereka, bercanda bersama mereka, berbagi cerita, dan ikut berlari-lari kecil bersama mereka. Sudah satu tahun lebih aku menjadi seorang guru, mengabdikan diri guna mendidik putra-putri bangsa ini menjadi putra-putri yang sholeh dan sholehah. Kerap kali berbagai macam komentar dari kawan-kawanku ten...

Pergilah, Nak

Malam ini rintik hujan mengantarkan kepergian salah satu murid saya "Nida", semoga Engkau diterima di sisi-Nya.   # nida Rintik hujan masih menitik perlahan, jatuh bersama tetesan air mata orang-orang yang mencintaimu, Nak. Pergilah, kami rela melepasmu # Nida Pergilah, Nak. Jangan Engkau menoleh ke belakang, berbaringlah dengan damai di alam sana. doa kami akan selalu menyertaimu. # Nida "Aku tidak percaya" teriakku pada malam yang dingin, belum sempat kuucapkan kata perpisahan padamu, namun Takdir memisahkan # Nida "Ini Hanya Mimpi" ucapku lirih pada angin yang berhembus. Nak, langkahmu memang berhenti sampai disini, namun kebaikanmu abadi # Nida Kucoba untuk mengingat kembali raut wajahmu, wajah penuh semangat, berjuang menahan sakit yang diderita. Engkau sudah berusaha, Nak   # Nida Kucoba untuk merapal namamu di tengah malam yang gemerlap, "Nida", semua tentangmu akan selalu ada di langit hati kami   # Nida Pelan...

Untaian Doa Nak Qois

Selasa, 2 Oktober 2012 Tepat pukul 13.40, saya sedang duduk di teras masjid, menemani anak-anak kelas 7 Al Ikhlas menghafal Al Qur’an. Ada yang sedang menghafal surat Al- Mursalat, ada juga yang sedang menghafal surat Al-Insaan. Saya bersandar pada tangga yang ada di teras masjid, sambil memerhatikan murid-murid secara bergantian. Mataku terhenti pada sosok Qois, nama lengkapnya adalah Muhammad Qois Ruslan. Dia adalah ABK (anak berkebutuhan khusus). Namun bagi saya dia sama seperti yang lain. Dia bahkan istimewa di mata saya. Dia begitu baik dan sopan. Sedikit saja kekeliruan yang dia buat, maka kata “maaf” akan mengalir tulus dari dirinya. Dia tidak pernah malu untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya. Itulah Qois, murid yang baru saja kukenal satu bulan terakhir. Saya sering memanggilnya dengan panggilan “Qois”, ia lahir pada tanggal 12 Mei 1997. Sekarang umurnya sudah 15 tahun. Dia anak pertama dari 3 bersaudara. Dia sangat suka melukis, bahkan dia bercita-...