Skip to main content

Posts

Pergilah, Nak

Malam ini rintik hujan mengantarkan kepergian salah satu murid saya "Nida", semoga Engkau diterima di sisi-Nya.   # nida Rintik hujan masih menitik perlahan, jatuh bersama tetesan air mata orang-orang yang mencintaimu, Nak. Pergilah, kami rela melepasmu # Nida Pergilah, Nak. Jangan Engkau menoleh ke belakang, berbaringlah dengan damai di alam sana. doa kami akan selalu menyertaimu. # Nida "Aku tidak percaya" teriakku pada malam yang dingin, belum sempat kuucapkan kata perpisahan padamu, namun Takdir memisahkan # Nida "Ini Hanya Mimpi" ucapku lirih pada angin yang berhembus. Nak, langkahmu memang berhenti sampai disini, namun kebaikanmu abadi # Nida Kucoba untuk mengingat kembali raut wajahmu, wajah penuh semangat, berjuang menahan sakit yang diderita. Engkau sudah berusaha, Nak   # Nida Kucoba untuk merapal namamu di tengah malam yang gemerlap, "Nida", semua tentangmu akan selalu ada di langit hati kami   # Nida Pelan...

Untaian Doa Nak Qois

Selasa, 2 Oktober 2012 Tepat pukul 13.40, saya sedang duduk di teras masjid, menemani anak-anak kelas 7 Al Ikhlas menghafal Al Qur’an. Ada yang sedang menghafal surat Al- Mursalat, ada juga yang sedang menghafal surat Al-Insaan. Saya bersandar pada tangga yang ada di teras masjid, sambil memerhatikan murid-murid secara bergantian. Mataku terhenti pada sosok Qois, nama lengkapnya adalah Muhammad Qois Ruslan. Dia adalah ABK (anak berkebutuhan khusus). Namun bagi saya dia sama seperti yang lain. Dia bahkan istimewa di mata saya. Dia begitu baik dan sopan. Sedikit saja kekeliruan yang dia buat, maka kata “maaf” akan mengalir tulus dari dirinya. Dia tidak pernah malu untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya. Itulah Qois, murid yang baru saja kukenal satu bulan terakhir. Saya sering memanggilnya dengan panggilan “Qois”, ia lahir pada tanggal 12 Mei 1997. Sekarang umurnya sudah 15 tahun. Dia anak pertama dari 3 bersaudara. Dia sangat suka melukis, bahkan dia bercita-...

Senyum Hannan

Hannan Hunafa (yang nyandang kamera) Ia berjalan perlahan memasuki gerbang sekolah, menyambut tangan-tangan kami selaku gurunya. Ucapan salam yang ia ucapkan diiringi dengan senyumnya yang khas. Saya hafal dengan baik bagaimana dia tersenyum. Senyum yang selalu ia berikan pada siapa pun. Saya menikmati pemandangan ini, menikmati senyumnya yang menghiasi pagi meski kadang mendung menjelma.             Kadang, aku sengaja mengajaknya untuk bercerita banyak hal. Tentang dia dan cita-cita yang dulu pernah ia rajut selagi masih kecil, tentang dia dan penyakit yang menggerogoti tubuhnya dan masih banyak lagi pembicaraan-pembicaraan yang pernah kami lakukan. Senyum tulus itu tidak pernah hilang dari wajahnya meski penyakit yang ia derita kerap kali datang di saat yang tidak tepat. Hannan, begitu aku memanggilnya. Dia anak kedua dari 2 bersaudara. Dia memiliki seorang kakak. Makanan kesukaannya adalah telor dadar. Minuman ...

Jihan

Namanya Jihan, dia sangat pendiam, dan cenderung pasif. Dia adalah anak yang berkebutuhan khusus. Di SMP Al Irsyad Purwokerto, tempat dimana saya mengabdikan diri pada dunia pendidikan adalah sekolah inklusi, dimana terdapat anak-anak yang istimewa yang belajar bersama dengan anak-anak yang lainnya. Mereka adalah anak-anak yang diberi Tuhan karunia yang istimewa. Saya pertama kali kenal dengan Jihan pada tahun ajaran baru 2011/2012. Tepatnya pada tanggal 23 Juli 2011. Sudah hampir satu bulan saya mengajar, namun saya baru kenal dengan yanga namanya “Jihan”. Saat pertama kali melihat dia, saya betul-betul ingin tahu lebih banyak tentang dia. Saya masih ingat bagaimana dia duduk di pojok kelas, memainkan sepatunya, menggoyangkan sepatunya ke kanan dan ke kiri, sambil matanya mengikuti arah sepatunya mengayun. Saat itu, dia masih belum bisa berinteraksi dengan teman-temannya yang lain. Dia masih asyik dengan dunianya sendiri. Saking saya pengen tahu lebih banyak tentang Jihan...

Catatan Hati di Awal Oktober

Dulu, saya memang sudah bercita-cita ingin mengabdikan diri di dunia pendidikan. Mendidik putra-putri bangsa ini menjadi putra-putri yang memiliki akhlak yang mulia. Rasanya akan sangat bangga melihat mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang unggul. Bagiku, bisa berinteraksi dengan berbagai macam karakter anak adalah satu anugerah yang sangat luar bisaa. Dari mereka, saya banyak belajar tentang berbagai macam hal; Tentang ketulusan, tentang kepedulian, dan banyak hal lain. Pagi hari, senyum mereka adalah hal yang paling saya tunggu. Ucapan salam yang mereka sampaikan saat menjabat tangan ini adalah penambah energi positif bagi diri untuk bisa menjadi guru yang baik bagi mereka. Murid saya bermacam-macam; ada yang pendiam, aktif, dan sebagainya. Mereka menjadikan hidup saya lebih berwarna. Perhatian mereka, kepedulian mereka akan saya, dan ketulusan mereka merupakan anugerah yang luar bisaa. Senin, 1 Oktober 2012 Hari ini, kami kedatangan beberapa Guru baru, guna mend...

Sunday Morning di Alun-Alun Kota

Akmal Minggu, 30 September di Alun-Alun Kota Purwokerto. Seperti biasa, hari ini saya memacu sepeda dengan penuh semangat. Jalanan masih lengang, hanya beberapa kendaraan roda dua yang sesekali melintas. Namun saya sudah terlanjur janji dengan murid saya untuk bertemu pukul 5.30 tidak jauh dari alun-alun. Hari ini memang lebih pagi dari biasanya. Biasanya saya dan murid mulai bersepeda pada pukul 6 pagi. Namun pagi ini lebih awal karena kami tidak ingin seperti minggu lalu. Minggu lalu kami tidak berhasil menikmati gudeg asli yang ada di Pasar Wage Purwokerto. Pukul 5.20 saya sudah berada di tempat janji bertemu. Faraj dan Akmal masih belum datang. Tidak perlu menunggu terlalu lama, Faraj pun menampakkan batang hidungnya. Namun si Akmal masih belum hadir. Saya dan Faraj memutuskan untuk menunggu Akmal terlebih dahulu. Dan tepat pukul 5.50, Akmal masih belum ada tanda-tanda akan hadir. Saya dan Faraj memutuskan untuk pergi tanpa Akmal. Yupz…berbeda dari biasanya, hari ini h...

Pelabuhan Hatiku Yang Hilang

Sore ini, menjelang berbuka puasa, aku pergi ke kedai nasi yang ada di depan Masjid Fatimatuzzahra. Aku memesan menu favorit kesukaanku, yaitu “ayam selasih”. Pesananku sedang disiapkan, pandanganku tertuju pada seorang muslimah yang mengenakan jilbab berwarna biru muda, dipadu padan dengan gamis panjang hingga mata kakinya. Mataku seolah tidak ingin berhenti untuk menatapnya. Ada rasa yang secara tiba-tiba menyeruak di dalam dada, sebuah rasa yang aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hatiku. Inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama? Saat lamunan sedang menggunung di dalam benakku, kemudian aku dikejutkan oleh sapaan seorang anak kecil, “Ustadz Adam,” “Astaghfirullah,” aku mengucapkan istighfar atas apa yang baru saja kulakukan. Tidak seharusnya aku menatap muslimah yang ada di depanku dengan pandangan seperti itu. Tuhan sangat tidak menyukai apa yang baru saja kulakukan. Aku tidak menjaga pandanganku. Seharusnya aku bisa menjaga panda...