Skip to main content

Posts

Lika-liku Hidup

“Kak, aku mau berhenti kuliah” Dahiku berkerut saat membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh adikku. Apa yang sebenarnya terjadi? Sehingga tiba-tiba dia mengirimkan pesan singkat itu. Kopi yang tinggal setengah lagi kuletakkan di atas mejaku. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama lagi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mengucapkan salam, aku mendengar suara isak tangis di ujung sana. Aku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. “Dek, kenapa kok tiba-tiba mau berhenti kuliah?” tanyaku pelan, aku tidak ingin membuat dia semakin menangis mendengar pertanyaanku. Karena aku tahu betapa besar keinginannya untuk kuliah. Masih belum ada jawaban. Khansa hanya diam, membiarkan aku mematung di ujung telpon. “Dek, coba cerita, siapa tahu kakak bisa bantu.” Khansa masih dengan diamnya. “Ya, sudah kalo emang belum mau cerita. Ibu mana? Kakak mau ngomong ama Ibu.” Beberapa detik kemudian, aku mendengar suara Ibu yang sedang batuk. “Ibu, ini Giffa...

Bersujud di BumiMu

Malam masih gelap, sang fajar baru menampakkan diri pertanda waktu subuh sudah tiba. Suara adzan mendayu-dayu, menyeru umat muslim untuk segera bangun dari lelap tidur, mengajak mereka untuk membasuh anggota badan mereka dengan aliran air wudhu, kemudian shalat subuh. Melaksanakan shalat subuh tepat waktu sungguh begitu berat bagi mereka yang masih belum terbiasa untuk bangun. Banyak di antara umat muslim enggan untuk melaksanakan seruan Tuhan, dan terus lelap dalam tidur. Bapak itu sudah bangun sejak tadi, dia sudah bersimpuh di hadapan Tuhannya, memuji Tuhan, mengucapkan syukur atas segala karunia yang telah Tuhan berikan padanya. Air matanya menitik di atas sajadah, dia menangis. Dia menangis karena begitu banyak dosa yang telah ia perbuat. Begitu banyak dosa yang telah ia lakukan selama hidupnya. Dan di umurnya yang sudah senja ini, barulah dia menyadari begitu banyak karunia yang telah Tuhan berikan padanya. Bapak itu menangis. Menyesali segala perbuatannya di mas...

Guru Menulis

Saya mendukung Kepala Sekolah tempat saya mengajar untuk mengajak rekan Guru untuk bisa menulis artikel yang berkaitan dengan pendidikan. Banyak Guru yang bisa mengajar dengan baik, akan tetapi tidak bisa menuangkan pemikirannya dalam tulisan. Banyak Guru yang bisa membahas sesuatu dengan baik dan rinci, akan tetapi tidak mencoba untuk menjadikan semua itu dalam bentuk tulisan. Iya, saya betul-betul mendukung keinginan Pihak Manajemen Sekolah untuk mengajak rekan-rekan Guru untuk bisa menulis. Saya memang suka dunia tulis menulis, meski kebanyakan yang saya tulis adalah cerita-cerita pendek, catatan harian, dan novel. Sekarang saya sedang belajar menulis artikel-artikel pendidikan. Sekarang memang baru belajar menulis artikel yang berkaitan dengan dunia pendidikan, dan tentu saya juga mempunyai impian untuk bisa memiliki karya tulis sesuai dengan bidang akademik yang saya ampu. Karena dengan menulis berarti kita sudah mengukir sejarah diri, membiarkan orang lain membaca hasil pe...

Satu Tahun Berlalu

                     7 Juni 2012 Waktu memang berlalu begitu cepat, saya hampir lupa bahwa hari ini tepat satu tahun saya mengabdikan diri menjadi seorang Guru. Guru adalah cita-cita saya sejak dulu. Saya ingin mengabdikan diri saya untuk mendidik putra-putri bangsa menjadi pribadi-pribadi yang unggul. Satu tahun berlalu, sudah banyak cerita-cerita indah kebersamaan saya dengan murid dan rekan sesama Guru. Cerita-cerita itu menjadi sejarah dalam pengabdian saya sebagai seorang Guru dan sejarah dalam hidup saya. Saya masih mengingat baik saat pertama saya mengajar, saya menjelaskan materi kemudian murid mengatakan bahwa mereka tidak mengerti apa yang saya jelaskan karena saya menjelaskan terlalu cepat dan dengan Bahasa Indonesia yang pas-pasan. Mengapa saya bilang pas-pasan? Karena memang kenyataannya saya belum bisa berbicara Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Saya masih berbicara dengan gaya Bahasa Melayu yang kadang ...

Tuhan, Damaikah Ibu di SisiMu?

“Ibuuuuuu” Aku tersentak, terbangun dari tidur. Kepalaku terasa nyeri seperti ada luka. Kedua kaki dan tanganku dipenuhi perban yang sudah memerah karena bekas darah. Kugerakkan kedua kakiku, namun aku tidak bisa merasakan gerakan kakiku. Kucoba untuk menggerakkan kedua tanganku, namun kedua tanganku hanya diam menetap. Kucoba untuk memiringkan badanku, namun hanya bagian kepalaku yang mampu untuk bergerak, menoleh ke arah kiri dan kanan. Aku panik, aku berteriak sekuat tenaga memanggil ibu. Aku mencari-cari sosok itu, namun aku tidak bisa menemukan sosok ibu di dalam ruangan yang sekarang menjadi tempatku terbaring. Hanya ada beberapa kotak obat-obatan yang membuatku mual ingin muntah. Aku masih berteriak memanggil ibu, namun ibu tak kunjung datang menghampiriku. Seorang suster masuk ke ruanganku, mungkin karena mendengar teriakanku yang memenuhi seluruh penjuru ruangan. “Ada yang bisa saya bantu, Mas?” tanya suster berbasa-basi. Aku mengacuhkan suster yang tersenyum ...

Air Mata Emak

Mobil yang akan membawaku pergi perlahan meninggalkan kampung halaman. Emak melepas kepergianku dengan air mata. Entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi, aku pun tidak tahu akan hal itu. Rasanya kali ini adalah pertemuan terakhirku dengan Emak. Perpisahanku dengan orang yang telah melahirkanku ke dunia ini, membesarkanku, dan mendidikku adalah bagian dari kesalahanku. Iya, salahku. Aku yang telah membuat perpisahan ini terjadi. Aku yang telah membuat mata Emak mengeluarkan bola-bola kristal, kemudian membasahi pipinya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis kehidupan. Aku menoleh ke belakang, melihat kembali Emak yang masih mematung di pinggir jalan, melambaikan tangannya padaku, kemudian mengusap air matanya dengan tangannya yang sudah lelah menggenggam derita hidup. Lambaian itu seakan-akan mengajakku kembali bersamanya, tidak ingin berpisah denganku, memintaku turun dari mobil dan berlari memeluk tubuhnya yang sudah ringkih. Emak, maafkan aku yang telah menyakitimu, tapi E...

Pendidikan Karakter

Pukul tujuah pagi, anak-anak sudah berada di dalam kelas, duduk rapih di bangku masing-masing dan bersiap untuk membaca doa. Saya duduk di bangku belakang (tempat wali kelas). Setelah anak-anak selesai berdoa, mereka langsung berdiri mengambil Al-Qur’an masing-masing di rak khusus tempat Al-Qur’an. Kemudian mereka kembali duduk di bangku masing-masing, membuka Al-Qur’an dan mereka pun mulai membaca Al-Qur’an secara bersama-sama. Membaca Al-Qur’an di pagi hari secara bersama-sama di kelas adalah bagian dari pendidikan karakter. Pendidikan yang diawali dengan membiasakan kebiasaan baik pada anak. Seperti contohnya “mengawali kelas dengan berdoa, kemudian dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an bersama-sama selama kurang lebih 10 menit atau shalat dhuha sebelum masuk kelas”. Kebiasaan itu akan membekas pada anak. Saya sengaja mengajak mereka untuk mencintai Al-Qur’an dengan cara rajin membacanya. Lidah akan kelu saat kita jarang berinteraksi dengan Al-Qur’an. Kemudian mengajak mereka ...