Skip to main content

Posts

Tuhan, Damaikah Ibu di SisiMu?

“Ibuuuuuu” Aku tersentak, terbangun dari tidur. Kepalaku terasa nyeri seperti ada luka. Kedua kaki dan tanganku dipenuhi perban yang sudah memerah karena bekas darah. Kugerakkan kedua kakiku, namun aku tidak bisa merasakan gerakan kakiku. Kucoba untuk menggerakkan kedua tanganku, namun kedua tanganku hanya diam menetap. Kucoba untuk memiringkan badanku, namun hanya bagian kepalaku yang mampu untuk bergerak, menoleh ke arah kiri dan kanan. Aku panik, aku berteriak sekuat tenaga memanggil ibu. Aku mencari-cari sosok itu, namun aku tidak bisa menemukan sosok ibu di dalam ruangan yang sekarang menjadi tempatku terbaring. Hanya ada beberapa kotak obat-obatan yang membuatku mual ingin muntah. Aku masih berteriak memanggil ibu, namun ibu tak kunjung datang menghampiriku. Seorang suster masuk ke ruanganku, mungkin karena mendengar teriakanku yang memenuhi seluruh penjuru ruangan. “Ada yang bisa saya bantu, Mas?” tanya suster berbasa-basi. Aku mengacuhkan suster yang tersenyum ...

Air Mata Emak

Mobil yang akan membawaku pergi perlahan meninggalkan kampung halaman. Emak melepas kepergianku dengan air mata. Entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi, aku pun tidak tahu akan hal itu. Rasanya kali ini adalah pertemuan terakhirku dengan Emak. Perpisahanku dengan orang yang telah melahirkanku ke dunia ini, membesarkanku, dan mendidikku adalah bagian dari kesalahanku. Iya, salahku. Aku yang telah membuat perpisahan ini terjadi. Aku yang telah membuat mata Emak mengeluarkan bola-bola kristal, kemudian membasahi pipinya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis kehidupan. Aku menoleh ke belakang, melihat kembali Emak yang masih mematung di pinggir jalan, melambaikan tangannya padaku, kemudian mengusap air matanya dengan tangannya yang sudah lelah menggenggam derita hidup. Lambaian itu seakan-akan mengajakku kembali bersamanya, tidak ingin berpisah denganku, memintaku turun dari mobil dan berlari memeluk tubuhnya yang sudah ringkih. Emak, maafkan aku yang telah menyakitimu, tapi E...

Pendidikan Karakter

Pukul tujuah pagi, anak-anak sudah berada di dalam kelas, duduk rapih di bangku masing-masing dan bersiap untuk membaca doa. Saya duduk di bangku belakang (tempat wali kelas). Setelah anak-anak selesai berdoa, mereka langsung berdiri mengambil Al-Qur’an masing-masing di rak khusus tempat Al-Qur’an. Kemudian mereka kembali duduk di bangku masing-masing, membuka Al-Qur’an dan mereka pun mulai membaca Al-Qur’an secara bersama-sama. Membaca Al-Qur’an di pagi hari secara bersama-sama di kelas adalah bagian dari pendidikan karakter. Pendidikan yang diawali dengan membiasakan kebiasaan baik pada anak. Seperti contohnya “mengawali kelas dengan berdoa, kemudian dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an bersama-sama selama kurang lebih 10 menit atau shalat dhuha sebelum masuk kelas”. Kebiasaan itu akan membekas pada anak. Saya sengaja mengajak mereka untuk mencintai Al-Qur’an dengan cara rajin membacanya. Lidah akan kelu saat kita jarang berinteraksi dengan Al-Qur’an. Kemudian mengajak mereka ...

Kuis Dadakan (puisi)

                    “Ini akhir bulan kan?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu kalian jawab J Ini memang akhir bulan, dan akhir bulan identik dengan menipisnya uang yang ada di dalam dompet. Atau bahkan sudah kosong (sebuah pengakuan). Malam ini, entah apa yang terjadi, saya tiba-tiba ingin membuat sebuah tantangan pada follower saya yang ada di twitter (follower saya sedikit, ndak banyak J Saya meminta mereka membuat sebuah puisi, kemudian mention ke saya. Mereka bisa mention sesuai kebutuhan, sesuai dengan panjang tidaknya puisi yang mereka buat. Saya tidak menjanjikan hadiah yang berupa gadget mahal, atau jalan-jalan ke luar negeri. Saya hanya menjanjikan hadiah berupa pulsa (lumayan kan dapat pulsa di akhir bulan? ). Meski nominalnya tidak seberapa, namun pulsa itu akan bermanfaat kan? Untuk nelpon suami/istri (bagi yang sudah mempunyai suami/istri). Untuk sms calon suami/istri (bagi yang seda...

Budayakan Membaca dan Menulis

Kalo di sekolah, di kelas yang saya ampu, setiap bulannya akan ada 1 buah buku yang saya berikan ke satu anak yang bisa menjawab kuis dari saya. Kuisnya bisa berbentuk hafalan surat pendek dalam Al-Qur’an, melanjutkan ayat yang saya baca (juz 30), dan lain-lain. Biasanya, saya meminta mereka membaca salah satu surat yang ada di dalam juz 30 (an-Naba - an-Nas). Saya suka melihat murid-murid yang suka membaca. Membaca tidak mesti harus di perpustakaan sekolah, saya membuat gerakan gemar membaca di kelas, saya dan murid-murid membuat perpustakaan mini di kelas. Setiap anak membawa 1 buah buku setiap bulannya, buku-buku itulah yang akan dibaca oleh murid. Jadi, mereka tidak harus keluar dari kelas untuk membaca buku. Setelah satu bulan, buku-buku itu akan diganti dengan buku-buku yang baru. Dengan demikian, murid bisa membaca buku yang berbeda. Di kelas yang saya ampu ada 37 siswa. Jadi, setiap bulannya akan ada 37 buku baru yang siap untuk dibaca. Saya juga menambah koleksi bacaa...

Titipan Mimpi

Kutatap foto yang ada di dinding kamarku, foto aku sedang mengenakan toga saat wisuda. Ada ibu yang berdiri di sampingku, menemaniku saat wisuda. Hanya ibu yang bisa datang di hari bahagia itu, ayah tidak bisa datang karena kendala biaya. Tapi, aku bahagia karena ada ibu di sampingku. Masih kuingat air mata ibu yang menitik ke jilbab yang ia kenakan, air mata bahagia melihat anaknya mencapai mimpi yang dulu pernah ayah dan ibu rajut bersama. Ibu dan ayah memang tidak sekolah tinggi, bahkan sekolah dasar pun tidak lulus. Tapi, meski demikian ibu dan ayah punya mimpi. Iya, mimpi. Mimpi-mimpi yang mereka titipkan pada kami anak-anaknya. Selepas shalat isya berjama’ah, ayah dan ibu pernah mengumpulkan kami di ruang tamu, dan berbicara tentang mimpi-mimpi yang dulu pernah mereka lukis saat keduanya masih anak-anak. Mimpi-mimpi itu masih ada, dan mereka menitipkan semua mimpi itu pada kami anak-anaknya. “Anak-anakku, ayah dan ibu mempunyai mimpi. Ayah dan ibu ingin menitipkan mimpi-mimpi in...

Review " Air Mata Cinta Hanisah"

"Air Mata Cinta Hanisah" adalah sebuah buku berisi kumpulan cerpen. Ada 23 cerpen yang mewakili pesan-pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Dalam mempertegas pesan-pesannya tersebut, penulis kerap memasukkan ayat suci Al-Qur'an dalam cerpennya, dan tak jarang ayat itulah yang menjadi jawaban dan penutup yang manis di akhir cerita. Buku ini mampu mengalirkan cerita yang rumit dengan penyampaian yang sederhana, mengajak para pembaca untuk melihat hakikat dari sebuah kejadian, terutama tentang realita yang tidak selalu sesuai harapan. Kelebihan dan nilai positif buku ini adalah; 1.     Penulis mampu menyampaikan nafas religius dalam tulisannya, rangkaian kata jadi terasa begitu santun dan menenangkan; 2.     Buku ini mampu mengajak pembaca untuk menghadapai kegalauan dengan cara yang lebih elegan, lembut, sarat akan ajaran pengendalian diri; 3.     Sederhana dan mudah dimengerti, lugas, sehingga tiap pesan bisa sampai...