Skip to main content

Posts

Tuhan, Aku Kembali

Kadang aku berpikir, Tuhan tidak adil. Ia tidak pernah mendengar untaian do’a yang sering kupanjatkan kepada-Nya. Kerap kali aku menangis di atas sajadah panjang menghadap dan mengharap rahmat dari-Nya. Akan tetapi, untaian doa yang sering kuucapkan, air mata yang kukorbankan tidak kunjung membuat Ia tahu betapa aku menahan sakit yang begitu kuat. Doa-doa yang kurangkai dengan indah, tidak pernah Dia dengar. Kadang aku meyakini semua itu. Dalam firman-Nya: “Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya..” (QS. Al Baqarah : 286) Aku mulai meragukan keagungan-Nya. Aku mulai tidak percaya dengan janji-janji yang ada di dalam kitab-Nya. Aku mulai beralih arah. Aku tidak lagi berjalan menapaki jalan yang Ia tentukan. Kadang aku berbelok, bersembunyi, dan berhenti dari menuju-Nya. “Tuhan, aku lelah..” * Andi sedang tidur lelap. Menjelang pagi, dia baru bisa memejamkan kedua matanya, masuk ke dalam dunia mimpi. Aku berharap dia bermimpi tentang in...

Wasiat Cinta

Aku sedang duduk di ruang tamu, menikmati sore dengan segelas teh hangat dan sepiring kecil mendoan. Seseorang mengetuk pintu rumahku. Suara salam itu bisa kudengar dengan baik. Suara itu mengingatkanku pada seseorang. Aku berjalan menuju pintu depan sambil mencoba  untuk mengingat siapa pemilik suara itu. Suara yang sudah sering kudengar, sepertinya aku tahu pemilik suara itu. Kubuka pintu secara perlahan, kulihat seseorang sedang memegang tangan putri kecilnya, sambil memegang tas berwarna putih berukuran sedang. Ia memakai baju gamis panjang berwarna orange, memakai jilbab yang senada dengan warna gamisnya. Andita, dialah wanita yang dulu pernah mengisi relung hatiku. Kemudian dia pergi membina rumah tangga dengan Raka Sahabatku. Aku menjawab salam darinya, kemudian mempersilahkan dia dan putri kecilnya masuk ke ruang tamu. “Dita, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku masih tidak percaya yang ada di depanku ini adalah kamu, Andita” ucapku. Dia...

Air Mata Cinta Hanisah

Menikah, perempuan mana yang tidak ingin menikah? Menjalani hidup dengan seseorang yang disebut Suami, berbagi suka maupun duka, saling melengkapi kekurangan masing-masing, dan menjadi seorang Ibu. Begitu pun dengan diriku, diumurku yang sudah tidak muda lagi, aku menanti hadirnya seseorang yang akan meminangku, menjadikanku tambatan hatinya, menjadikanku permaisuri dalam bahtera rumah tangganya. Tidak bisa kupungkiri, kadang aku bertanya kepada Tuhan, siapa jodohku Tuhan? Mengapa begitu lama hati ini Engkau biarkan kosong ?  Izinkan aku mengetahui siapa kelak yang akan menjadi suamiku, agar aku tidak perlu risau. Aku tidak ingin menjadi tuna cinta Tuhan. Tapi, kembali aku menyadari bahwa Tuhan sudah memilihkan seseorang yang akan menjadi suamiku, dan aku mempercayai itu. Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan. (QS. An-Naba’ [78] : 8) * Bapak memanggilku, mengajakku berbicara tentang seseorang yang ingin datang ke rumah. Seseorang yang ingin mengenalku ...

Taman Surga

Buku-buku itu kini mulai usang dan berdebu. Satu persatu kubuka, kubaca, dan kukenang kembali. Semua itu adalah buku pribadiku, tidak ada seorang pun kuizinkan untuk membacanya. Dia menyimpan begitu banyak cerita tentangku. Tentang malam yang dingin kala hujan membasahi bumi, tentang kepingan rindu yang tak sanggup kusatukan kembali, tentang air mata yang menemani hari-hariku, tentang tekad yang menguatkanku, tentang mimpi-mimpi yang ingin kuraih, tentang sahabat yang membuat hidupku lebih berwarna, dan tentangnya yang kusebut dengan cinta. 7 Mei 2001 Hari ini aku duduk di pematang sawah, memberi makan bebek-bebek peliharaan Ayah. Menunggu siang berganti malam, menunggu matahari bergantikan  redupnya sinar rembulan. Ditemani rumput-rumput yang mulai meninggi, dan suara gemuruh air yang mengalir di siring sawah. Teman-temanku sudah sibuk kesana-kemari mendaftar ke sekolah impian mereka. Melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, masuk ke sekolah menengah pertama fa...