Skip to main content

Posts

Ibu, izinkan aku kembali

Ibu, sudah lama aku tidak melihat senyum terlukis indah di wajahmu. Senyum yang dulunya selalu menguatkan di saat aku sedang terpuruk, lemah, dan tak berdaya. Senyum yang dulunya mengantarkanku meraih cita-cita. Senyum yang dulu senantiasa menghiasi hari-hariku. Ibu, di manakah letak senyum itu?, mengapa engkau biarkan wajah sendu, tak bercahaya itu menatapku?, izinkan aku melihatmu tersenyum dan izinkan aku untuk kembali dalam pelukanmu. Izinkan aku merawatmu di usia senjamu. Dan jangan engkau biarkan air mata menetes dari kedua bola matamu.  Aku sadar, semua itu adalah kesalahanku. Senyum itu hilang sejak aku memutuskan semua ini sendirian tanpa peduli dengan kehendakmu Ibu. Akan tetapi, aku juga tidak bisa terus hadir dalam anganmu, terus berkata iya akan semua keinginanmu. Ada jalan di mana aku dan Ibu tidak bisa terus satu jalan. Ada kalanya aku harus berbelok arah sementara Ibu ingin terus berjalan lurus. Aku manusia yang tidak luput dari kesalahan. * Kota ini...

Butir-Butir Cinta

‘Jangan engkau tanya mengapa aku seperti ini, karena memang aku baru kenal dengan yang namanya cinta. Jangan juga engkau tanya seberapa besar cintaku padamu, karena aku sendiri tidak tahu berapa besar cintaku kepadamu. Dan jangan engkau tanya ke mana cinta ini akan kubawa, karena engkau sendiri sudah tahu jawaban apa yang akan engkau dapat. Aku akan membawa cinta ini ke jenjang pernikahan. Yang perlu engkau lakukan adalah menunggu waktunya tiba. Akan tetapi, jangan engkau cemburu, karena cintaku kepadamu tidak melebihi cintaku kepada yang Maha Cinta.’ Aku masih ingat kalimat-kalimat itu mengalir jelas, pelan dan menenangkan hatiku saat itu. Saat di mana engkau mengutarakan cintamu kepadaku. Saat di mana engkau mengukir janji untuk melamarku jika memang Tuhan sudah mengizinkan kita untuk bersama. ‘Aku bukan penganut pacaran, jika memang aku sudah menyukai seseorang, maka aku akan langsung melakukan ta’aruf, dan jika memang kita berdua berniat untuk membangun cinta, maka ...

Pelarian

Aku berdiri di tepian jalan, mengenakan gaun berwarna merah, dengan rambut yang tergerai panjang. Sesekali aku masih melihat ke selembar kertas yang ada di tanganku, kertas yang tempo hari aku temukan terselip di bawah pintu rumahku. Surat itu aku temukan dengan beberapa benda yang mengejutkanku. Liontin berbentuk hati, sepatu hak tinggi berwarna merah, dan gaun yang juga berwarna merah yang kukenakan sekarang ini. "Merry, tunggu aku di tepian jalan depan rumahmu. Dari penggemar rahasiamu, Mr. G" pesan di akhir kalimat dalam surat yang aku temukan itu. Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sore sudah tenggelam. Sebentar lagi malam datang dan biasanya jalanan ini selalu sepi setiap malamnya. Hatiku mulai gelisah, benarkah Mr. G si pengirim pesan misterius itu akan datang? Atau sebaiknya aku pulang saja dan menunggu pesan selanjutnya? Toh kalau ia memang ingin bertemu, ia akan mengirimkan pesan lagi untuk menemuiku. Jangan, tunggu saja sebenta...

Laila

Fauzan dan Zakiyah, adalah pasangan suami istri yang sedang merayakan cinta. Zakiyah, sedang mengandung anak pertama mereka. Setelah hampir tujuh tahun lamanya menanti kehadiran si buah hati, akhirnya Allah mengabulkan keinginan keduanya. Keduanya Ingin menyempurnakan keluarga kecil mereka dengan kehadiran seorang bayi mungil nan lucu. Sudah terbayang di dalam benak perempuan berumur tiga puluh tahun tersebut akan kabahagiaan yang akan ia dapatkan saat si buah hati lahir ke dunia ini. Terbayang bagaimana dia menyusui malaikat kecilnya, terbayang bagaimana ia dan Fauzan suaminya mengurus segala keperluan permata hati mereka. “Umi pengennya anak kita ini laki-laki atau perempuan?”,  Fauzan mengusap perut istrinya kemudian mendekatkan telinganya ke perut sang istri. “Apapun jenis kelaminnya Umi akan menerima dengan senyuman, karena semua itu adalah karunia dari-Nya, iya kan Abi?”  Zakiyah berucap sambil tersenyum melihat suaminya yang seolah-olah sedang mendengarkan bayi yang ad...

Adam

Kabut masih menyelimuti kota Purwokerto, udara dingin menusuk ke tulang, memaksa Adam untuk mengenakan jaket tebal. Ini kali pertama dia melihat kabut tebal sementara sudah hampir pukul tujuh pagi. Adam belum berani berangkat ke kampus. Jarak pandang terhalang oleh tebalnya kabut. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan diperjalanan.  Pukul 07.15, kabut sedikit demi sedikit menghilang. Meninggalkan terangnya mentari pagi bersama dengan keriuhan jalanan. Adam menghidupkan motor kharismanya, kemudian menuju ke kampus. Ia meletakkan motornya di tempat parkir yang berada di samping bangunan berwarna cream. Ia memasuki bangunan Fakultas MIPA dengan tergesa-gesa. Sudah telat pikirnya. Ia mempercepat langkah menaiki tangga menuju lantai tiga. Adam menggerutu di dalam hati. Huh, setiap hari saya harus menaiki tangga, cukup menguras energi dan membuat saya berkeringat . Adam sudah di depan ruangan, kemudian membuka pintu perlahan. Beberapa mahasiswa sudah berada di dalam kelas, namun ...