Skip to main content

Posts

Pelarian

Aku berdiri di tepian jalan, mengenakan gaun berwarna merah, dengan rambut yang tergerai panjang. Sesekali aku masih melihat ke selembar kertas yang ada di tanganku, kertas yang tempo hari aku temukan terselip di bawah pintu rumahku. Surat itu aku temukan dengan beberapa benda yang mengejutkanku. Liontin berbentuk hati, sepatu hak tinggi berwarna merah, dan gaun yang juga berwarna merah yang kukenakan sekarang ini. "Merry, tunggu aku di tepian jalan depan rumahmu. Dari penggemar rahasiamu, Mr. G" pesan di akhir kalimat dalam surat yang aku temukan itu. Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sore sudah tenggelam. Sebentar lagi malam datang dan biasanya jalanan ini selalu sepi setiap malamnya. Hatiku mulai gelisah, benarkah Mr. G si pengirim pesan misterius itu akan datang? Atau sebaiknya aku pulang saja dan menunggu pesan selanjutnya? Toh kalau ia memang ingin bertemu, ia akan mengirimkan pesan lagi untuk menemuiku. Jangan, tunggu saja sebenta...

Laila

Fauzan dan Zakiyah, adalah pasangan suami istri yang sedang merayakan cinta. Zakiyah, sedang mengandung anak pertama mereka. Setelah hampir tujuh tahun lamanya menanti kehadiran si buah hati, akhirnya Allah mengabulkan keinginan keduanya. Keduanya Ingin menyempurnakan keluarga kecil mereka dengan kehadiran seorang bayi mungil nan lucu. Sudah terbayang di dalam benak perempuan berumur tiga puluh tahun tersebut akan kabahagiaan yang akan ia dapatkan saat si buah hati lahir ke dunia ini. Terbayang bagaimana dia menyusui malaikat kecilnya, terbayang bagaimana ia dan Fauzan suaminya mengurus segala keperluan permata hati mereka. “Umi pengennya anak kita ini laki-laki atau perempuan?”,  Fauzan mengusap perut istrinya kemudian mendekatkan telinganya ke perut sang istri. “Apapun jenis kelaminnya Umi akan menerima dengan senyuman, karena semua itu adalah karunia dari-Nya, iya kan Abi?”  Zakiyah berucap sambil tersenyum melihat suaminya yang seolah-olah sedang mendengarkan bayi yang ad...

Adam

Kabut masih menyelimuti kota Purwokerto, udara dingin menusuk ke tulang, memaksa Adam untuk mengenakan jaket tebal. Ini kali pertama dia melihat kabut tebal sementara sudah hampir pukul tujuh pagi. Adam belum berani berangkat ke kampus. Jarak pandang terhalang oleh tebalnya kabut. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan diperjalanan.  Pukul 07.15, kabut sedikit demi sedikit menghilang. Meninggalkan terangnya mentari pagi bersama dengan keriuhan jalanan. Adam menghidupkan motor kharismanya, kemudian menuju ke kampus. Ia meletakkan motornya di tempat parkir yang berada di samping bangunan berwarna cream. Ia memasuki bangunan Fakultas MIPA dengan tergesa-gesa. Sudah telat pikirnya. Ia mempercepat langkah menaiki tangga menuju lantai tiga. Adam menggerutu di dalam hati. Huh, setiap hari saya harus menaiki tangga, cukup menguras energi dan membuat saya berkeringat . Adam sudah di depan ruangan, kemudian membuka pintu perlahan. Beberapa mahasiswa sudah berada di dalam kelas, namun ...

Anan

2002-2006 Sebut saja namaku Anan, aku seorang santri di Pondok Pesantren di Bengkulu. Tidak ada kebahagian lain yang bisa kugambarkan selain kebahagiaanku bisa belajar di Pondok ini. Setiap hari, selain belajar Ilmu Agama, kami juga belajar pelajaran-pelajaran umum, seperti matematika, biologi, kimia, fisika dan lain-lain. Jangan Tanya apakah aku bahagia mondok di sini, karena jawabannya sudah pasti iya, aku bahagia. Aku anak tunggal, Bapak dan Emak sangat menyayangiku, kalian tentu sudah mendengar banyak kisah tentang anak semata wayang yang dimanja oleh kedua orang tuanya dan aku adalah salah satu dari sekian banyak anak-anak yang begitu dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Hampir setiap minggu, orang tuaku datang menjengukku di Ponpes. Emak biasanya memasak dan membawakan makanan-makanan kesukaanku. Selama di pondok pesantren, aku hanya diizinkan untuk pulang ke rumah satu kali dalam satu bulan. Dan aku sangat memanfaatkan waktu itu untuk bisa berkumpul dengan kedua orang tuaku. Ba...

Mimpi

Malam ini hujan. Malam ini mendung. Dan aku meringis, terpojok dalam sudut kamar berdebu yang penuh dengan tumpukan kardus usang. Dinding kamar sudah tidak lagi berwarna. Coklat, putih atau apa pun itu, sangat tidak jelas. Seperti diriku? Huh, aku hanya bisa mendengus kesal membayangkan perumpamaan yang aneh. Dan anehnya itu nyata. Hei, kamu ingin berlari? Berjalan? Merangkak? Hya! Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Seperti sekarang? Duduk terdiam tanpa kata dan keputusan? Aku akan menentukan langkahku sendiri. Kapan? Saat semua pintu sudah tidak ada yang terbuka? Saat jalan-jalan telah menjadi buntu? Saat aku telah memutuskannya. Sebuah keputusan tidak akan ada jika aku tidak memulai untuk memutuskan, dan setiap keputusan tentunya akan ada pertanggung jawaban atau pun resikonya. Baik atau pun buruk, aku harus siap menerima semua itu. Itulah gunanya hidup bukan?, berani menantang badai. Aku adalah perahu yang terbuat dari kayu terbaik, dengan layar gagah menantang badai. aku har...

Kala Senja

Diusiaku yang menjelang senja ini, tidak banyak yang bisa kulakukan, kadang hari-hariku hanya diisi dengan bermain bersama dengan cucu kesayanganku, meski  tidak kuat lagi membiarkan mereka bergelayutan manja di pundakku, meski kadang mereka jarang berkunjung ke rumahku ini, kadang mereka hanya berkunjung satu kali dalam satu minggu, namun aku masih bisa merasakan kebahagiaan hariku bersama dengan sebuah semangat yang kubangun dalam diri. Sudah beberapa kali anak-anakku memaksa untuk tinggal bersama mereka, tidak tega katanya melihatku yang sudah uzur ini menempati rumah sendirian, hanya ditemani seorang pembantu. “Kita bisa menjual rumah ini Abi, dan Abi bisa tinggal bersama kami, atau kalo memang nggak mau dijual, kita bisa sewakan, jadi kapan-kapan Abi bisa kembali berkunjung ke sini”,  begitulah yang sering diucapkan oleh anak-anakku. Akan tetapi, berat rasanya untuk meninggalkan dan menjual rumah ini, terlalu banyak kenangan yang telah aku ukir di rumah ini, dan aku tida...