Skip to main content

Posts

Adam

Kabut masih menyelimuti kota Purwokerto, udara dingin menusuk ke tulang, memaksa Adam untuk mengenakan jaket tebal. Ini kali pertama dia melihat kabut tebal sementara sudah hampir pukul tujuh pagi. Adam belum berani berangkat ke kampus. Jarak pandang terhalang oleh tebalnya kabut. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan diperjalanan.  Pukul 07.15, kabut sedikit demi sedikit menghilang. Meninggalkan terangnya mentari pagi bersama dengan keriuhan jalanan. Adam menghidupkan motor kharismanya, kemudian menuju ke kampus. Ia meletakkan motornya di tempat parkir yang berada di samping bangunan berwarna cream. Ia memasuki bangunan Fakultas MIPA dengan tergesa-gesa. Sudah telat pikirnya. Ia mempercepat langkah menaiki tangga menuju lantai tiga. Adam menggerutu di dalam hati. Huh, setiap hari saya harus menaiki tangga, cukup menguras energi dan membuat saya berkeringat . Adam sudah di depan ruangan, kemudian membuka pintu perlahan. Beberapa mahasiswa sudah berada di dalam kelas, namun ...

Anan

2002-2006 Sebut saja namaku Anan, aku seorang santri di Pondok Pesantren di Bengkulu. Tidak ada kebahagian lain yang bisa kugambarkan selain kebahagiaanku bisa belajar di Pondok ini. Setiap hari, selain belajar Ilmu Agama, kami juga belajar pelajaran-pelajaran umum, seperti matematika, biologi, kimia, fisika dan lain-lain. Jangan Tanya apakah aku bahagia mondok di sini, karena jawabannya sudah pasti iya, aku bahagia. Aku anak tunggal, Bapak dan Emak sangat menyayangiku, kalian tentu sudah mendengar banyak kisah tentang anak semata wayang yang dimanja oleh kedua orang tuanya dan aku adalah salah satu dari sekian banyak anak-anak yang begitu dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Hampir setiap minggu, orang tuaku datang menjengukku di Ponpes. Emak biasanya memasak dan membawakan makanan-makanan kesukaanku. Selama di pondok pesantren, aku hanya diizinkan untuk pulang ke rumah satu kali dalam satu bulan. Dan aku sangat memanfaatkan waktu itu untuk bisa berkumpul dengan kedua orang tuaku. Ba...

Mimpi

Malam ini hujan. Malam ini mendung. Dan aku meringis, terpojok dalam sudut kamar berdebu yang penuh dengan tumpukan kardus usang. Dinding kamar sudah tidak lagi berwarna. Coklat, putih atau apa pun itu, sangat tidak jelas. Seperti diriku? Huh, aku hanya bisa mendengus kesal membayangkan perumpamaan yang aneh. Dan anehnya itu nyata. Hei, kamu ingin berlari? Berjalan? Merangkak? Hya! Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Seperti sekarang? Duduk terdiam tanpa kata dan keputusan? Aku akan menentukan langkahku sendiri. Kapan? Saat semua pintu sudah tidak ada yang terbuka? Saat jalan-jalan telah menjadi buntu? Saat aku telah memutuskannya. Sebuah keputusan tidak akan ada jika aku tidak memulai untuk memutuskan, dan setiap keputusan tentunya akan ada pertanggung jawaban atau pun resikonya. Baik atau pun buruk, aku harus siap menerima semua itu. Itulah gunanya hidup bukan?, berani menantang badai. Aku adalah perahu yang terbuat dari kayu terbaik, dengan layar gagah menantang badai. aku har...

Kala Senja

Diusiaku yang menjelang senja ini, tidak banyak yang bisa kulakukan, kadang hari-hariku hanya diisi dengan bermain bersama dengan cucu kesayanganku, meski  tidak kuat lagi membiarkan mereka bergelayutan manja di pundakku, meski kadang mereka jarang berkunjung ke rumahku ini, kadang mereka hanya berkunjung satu kali dalam satu minggu, namun aku masih bisa merasakan kebahagiaan hariku bersama dengan sebuah semangat yang kubangun dalam diri. Sudah beberapa kali anak-anakku memaksa untuk tinggal bersama mereka, tidak tega katanya melihatku yang sudah uzur ini menempati rumah sendirian, hanya ditemani seorang pembantu. “Kita bisa menjual rumah ini Abi, dan Abi bisa tinggal bersama kami, atau kalo memang nggak mau dijual, kita bisa sewakan, jadi kapan-kapan Abi bisa kembali berkunjung ke sini”,  begitulah yang sering diucapkan oleh anak-anakku. Akan tetapi, berat rasanya untuk meninggalkan dan menjual rumah ini, terlalu banyak kenangan yang telah aku ukir di rumah ini, dan aku tida...

Sepenggal kisah di metro mini

Prakiraan cuaca kemarin mengatakan bahwa Jakarta akan diguyur hujan hari ini. Sang pewarta juga sempat mengatakan bahwa sebaiknya warga yang hendak bepergian bersiap-siap akan angin kencang dan yang sedang marak pula, pohon tumbang. Airin menyeka keringatnya. Hari ini panas. Ia mendengus sebal. Merasa bahwa seharusnya ia sadar, yang dikatakan hanyalah prakiraan, yang berarti itu adalah sebuah ketidakpastian. Jarum jam menunjukkan jam 9 pagi tapi panasnya terasa seperti tengah hari. Kendaraan masih merayap lambat. Mendenguskan asap-asap penuh racun yang dalam kenyataannya harus dihisap oleh makhluk bernama manusia. Airin merogoh tasnya, mengambil masker dan menggantungkannya di telinganya. Ia melihat ke arah kanan, menanti Metro Mini yang akan membawanya ke kampus tersayang. Jarum panjang menuju ke angka 2, sebuah bus melaju lambat. “ Yak, kosong-kosong mbak, kosong duduk, duduk ”, ujar seorang pria. Airin melangkahkan kaki kanannya, memilih tempat duduk yang dirasa tidak terlalu terk...

Mendoan Glasgow

Dear Rifaldi, Apa kabar? Dunia ini terasa sepi saat aku jauh dari kalian semua, Aku sendirian di tempat baru ini, Mengejar mimpi bersama dinginnya salju Glasgow. Hari pertama aku disini, aku bak orang yang tidak tahu jalan pulang, benar-benar sendirian, belum lagi tugas risetku yang harus segera kuselesaikan. Tapi aku akan selalu berusaha jadi sebaik mungkin. Sama sepertimu, semangat mengejar ilmu, dan takut menjadi mati ketika berhenti mencari tahu. Meski kesepian memang kerap memeluk kita dalam pengetahuan-pengetahuan baru yang tak tersentuh khalayak ramai. Tetap ada serunya; pikiran-pikiran kita yang tak selalu selaras namun sebanding, kerap saling serang. Beberapa tahun ke depan kita akan kembali jumpa, membandingkan penemuan-penemuan baru kita. Siapa yang lebih baik? Aku berdoa semoga bukan kamu. Tapi semoga kehangatan selalu ada di tiap temu dan diskusi kita. Kawanmu, Taffani * Aku tersenyum membaca surat elektronik yang ia kirimkan. Taffani, wanita matang yang selalu haus ak...

Senja

Senja, aku masih duduk di tempat yang sama, tempat di mana kita pertama kali bertemu. Masih kuingat masa-masa itu, engkau menaiki sepeda ontel tua milikmu, menggunakan jilbab putih bermotif bunga matahari. Engkau terjatuh di depan gerbang perpustakaan saat menghindar dari seekor kucing yang tiba-tiba menyeberang jalan, kemudian aku datang dan membantumu berdiri, dan engkau mengucapkan kata-kata yang masih kuingat hingga saat ini. ‘Syukron, Jazaakumullah’ Aku memintamu untuk mengulangi kalimat itu, karena untuk pertama kalinya ada orang yang mengucapkan kalimat itu kepadaku, dan setelah tiga kali mengulangi, barulah engkau menjelaskan bahwa kalimat itu adalah ucapan terimakasih dan semoga Allah membalasnya. Aku tersenyum mendengar kalimat itu, singkat dan penuh makna. Setelah kejadian itu, kita sering bertemu meski tidak pernah berjanji untuk bertemu, kita bertemu di tempat di mana sekarang aku sedang duduk, di depan perpustakaan umum daerah. Sebelum bertemu denganmu, aku memang suda...