Skip to main content

Posts

Jeritan Seorang Insomnia

Perlahan pelan kupejamkan mata menuju peristirahatan. Mencoba memangku mimpi di atas keterlelapan. Lantunan do’a pun mengantarkan perjalanan meninggalkan alam nyata. Rembulan masih setia bercokol di cakrawala, ditemani bintang-bintang, seperti pasangan kekasih yang merajut cinta dibalik keheningan malam. Orang-orang pun dengan tenang terlelap dibawah kaki rembulan. Aku disini menghela nafas menantikan rasa kantuk yang tak jua tiba. Menantikannya dibalik lamunan perjalanan. Malamku tak seindah dulu yang selalu dihiasi oleh mimpi-mimpi indah. Aku mencoba tetap menantikannya, berharap ia datang dalam redupnya lampu kamarku. Aku bagai Majnun yang merindukan Laila, yang peralahan-lahan seperti orang yang gila karena cintanya. Aku bagai hamba sahaya yang tak pernah merdeka, karena tuanku enggan membebaskanku. Aku disini berteriak memanggil-manggil yang kunantikan. Oh rasa kantuk kemanakah engkau? Aku hanya meratapi keberadaanmu dibalik dinding kamarku. Rasa ...

Hargai Apa Yang Kita Miliki

seorang sahabat onlineku pernah mengirimkan sebuah renungan untukku: Arian, Pernahkah Arian mendengar kisah Helen Kehler? Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan dalam kondisi buta dan tuli. Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa membaca, melihat, dan mendengar. Nah, dlm kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan. Tidak ada seorangpun yang menginginkan lahir dalam kondisi seperti itu. Seandainya Helen Kehler diberi pilihan, pasti dia akan memilih untuk lahir dalam keadaan normal. Namun siapa sangka, dengan segala kekurangannya, dia memiliki semangat hidup yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang legendaris. Dengan segala keterbatasannya, ia mampu memberikan motivasi dan semangat hidup kepada mereka yang memiliki keterbatasan pula, seperti cacat, buta dan tuli. Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti dirinya mampu menjalani kehidupan seperti manusia normal lainnya, meski itu teramat sulit dilakukan. Ada sebuah kalimat fantastis yang p...